Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Runtuhnya Istana Pasir
Tujuh hari telah berlalu sejak Arjuna Wijaya mencoret namanya sendiri dari Kartu Keluarga. Di kediaman mewah keluarga Wijaya, suasana yang biasanya penuh kesombongan kini berubah menjadi kuburan yang mencekam.
.
Pak Wijaya duduk di kursi kerjanya dengan wajah pucat pasi. Di depannya, tumpukan surat tagihan dan pembatalan kontrak proyek menumpuk setinggi gunung. "Ora mungkin... (Tidak mungkin...)" gumamnya dengan tangan gemetar. "Kenapa kabeh proyekku macet bareng-bareng?! (Kenapa semua proyekku macet bersamaan?!)"
.
Tiba-tiba, Guntur masuk ke ruangan dengan wajah babak belur dan pakaian yang berantakan. Ia baru saja diusir dari kantor cabangnya karena tuduhan korupsi yang entah datang dari mana.
.
"Pak! Guntur dipecat! (Pak! Guntur dipecat!)" teriak Guntur sambil membanting tasnya. "Kabeh wong neng kantor dadakan sengit karo aku! (Semua orang di kantor mendadak benci padaku!)"
.
Pak Wijaya mendongak, matanya merah karena kurang tidur. Ia teringat kata-kata terakhir Arjuna: 'Drajat mboten saged dituku.' Sejak putra sulungnya itu melangkah keluar dari rumah, seolah-olah seluruh keberuntungan keluarga Wijaya ikut terbawa pergi dalam tas ransel kusam Arjuna.
.
"Opo bener... Juna kuwi sing njogo rejekine omah iki? (Apa benar... Juna itu yang menjaga rezeki rumah ini?)" bisik Pak Wijaya lirih, sebuah penyesalan mulai merayap di hatinya yang keras.
.
Sementara itu, jauh di lereng gunung, suasana di gubuk Mbah Surip justru berbanding terbalik. Pagi itu, halaman gubuk yang tadinya gersang mendadak ditumbuhi oleh tanaman hijau yang segar. Sumur tua yang sudah kering selama puluhan tahun, tiba-tiba memancarkan air yang sangat jernih.
.
Arjuna sedang duduk di lincak (kursi bambu) depan gubuk, tangannya sibuk mengetik di laptop bututnya. Zikir sirri-nya terus mengalir, menciptakan aura ketenangan yang membuat siapa pun yang lewat di depan gubuk itu merasa damai.
.
"Le Juna, niki wonten sarapan sekedik saking tonggo-tonggo. (Nak Juna, ini ada sarapan sedikit dari tetangga-tetangga,)" ucap Mbah Surip sambil membawa nampan berisi nasi tiwul dan sayur lodeh yang harum.
.
Sejak kejadian Pak Darmawan lari ketakutan, warga desa yang tadinya menghina Mbah Surip kini berubah drastis. Mereka datang silih berganti membawa makanan, seolah-olah ingin menebus dosa masa lalu mereka.
.
"Matur nuwun, Mbah. Niki kagem Simbah mawon. (Terima kasih, Mbah. Ini buat Nenek saja,)" jawab Arjuna sopan tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
.
Tiba-tiba, sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan gubuk. Beberapa orang turun dengan membawa bibit tanaman dan alat-alat pertukangan. "Mas Juna, kulo badhe nyumbang tenaga nggo dandani omah iki. (Mas Juna, saya mau menyumbang tenaga untuk memperbaiki rumah ini,)" ucap salah satu warga dengan tulus.
.
Arjuna tersenyum tipis. Ia tahu, ini bukan karena kekuatannya, tapi karena Gusti Allah mulai menggerakkan hati manusia lewat perantara zikirnya. "Nggih, monggo. Tapi ampun disanjung nggih, kulo niki mboten nggadhahi menopo-menopo. (Iya, silakan. Tapi jangan disanjung ya, saya ini tidak punya apa-apa.)"
.
Saat para warga mulai bekerja, Arjuna merasakan hawa dingin yang familiar di belakang punggungnya. Grrr...
.
Kyai Loreng memberikan isyarat. Dari kejauhan, Arjuna melihat seorang pria tua dengan pakaian compang-camping berjalan mendekat. Pria itu tampak sangat lemah, kakinya terseret-seret di atas tanah.
.
Begitu pria tua itu sampai di depan Arjuna, ia langsung tersungkur pingsan. Warga desa menjerit kaget, namun Arjuna dengan tenang mendekati pria itu. Ia meraba nadi pria tersebut, lalu membisikkan sesuatu di telinganya.
.
"Tangio, Pak. Dosamu sampun diampuni. (Bangunlah, Pak. Dosamu sudah diampuni.)"
.
Seketika, pria tua itu membuka mata. Ajaibnya, luka-luka di kakinya yang tadi bernanah mendadak kering seketika. "Kowe... kowe muridte Sang Mursyid ya, Le? (Kamu... kamu muridnya Sang Mursyid ya, Nak?)" tanya pria itu dengan suara bergetar.
.
Arjuna hanya mengangguk. "Wonten menopo, Pak? (Ada apa, Pak?)"
.
"Kulo diutus nyampeke kabar... (Saya diutus menyampaikan kabar...)" pria itu terengah-engah. "Keluarga Wijaya... omahmu biyen... lagi kena azab sing abot. Bapakmu arep dadi gembel yen kowe mboten tulung. (Keluarga Wijaya... rumahmu dulu... lagi kena azab yang berat. Bapakmu mau jadi gembel kalau kamu tidak tolong.)"
.
Mendengar hal itu, Arjuna terdiam. Wajah ibunya yang menangis saat ia pergi terbayang kembali. Namun, di saat yang sama, ia teringat coretan hitam di Kartu Keluarga.
.
Apakah ia harus kembali sebagai pahlawan, atau membiarkan hukum alam bekerja membersihkan kesombongan ayahnya?
.
"Zikirku nggo Gusti, dudu nggo dunya. (Zikirku buat Tuhan, bukan buat dunia,)" gumam Arjuna pelan. Ia kembali duduk dan melanjutkan mengetik naskah novelnya yang berjudul: Sang Pewaris Rahasia.
Arjuna tetap bergeming di kursi bambunya, jemarinya kembali menari lincah di atas keyboard laptop yang huruf-hurufnya sudah memudar. Meskipun hatinya sedikit bergetar mendengar kabar kehancuran keluarganya, ia tahu bahwa campur tangan manusia hanya akan merusak skenario Tuhan yang sedang berjalan untuk menyucikan hati ayahnya.
.
"Le, kowe mboten pengen tilik Ibu? (Nak, kamu tidak ingin menjenguk Ibu?)" tanya Mbah Surip sambil mengusap pundak Arjuna dengan lembut.
.
Arjuna menghentikan ketikannya sejenak. "Mbah, wit-witan niku mboten saged milih pundi godhong sing arep garing. (Mbah, pepohonan itu tidak bisa memilih mana daun yang akan kering.)" ucap Arjuna dengan kiasan yang dalam. "Ibu insyaallah aman, nanging Bapak nembe ngunduh wohing pakarti piyambak. (Ibu insyaallah aman, tapi Bapak baru saja memanen buah dari perbuatannya sendiri.)"
.
Mbah Surip mengangguk paham. Ia tahu Arjuna bukan dendam, tapi sedang menjaga amanah Gurunya untuk tidak terikat pada urusan duniawi yang sudah ia lepaskan.
.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang halus terdengar dari kejauhan. Bukan mobil bak terbuka, tapi sebuah sedan mewah berwarna putih mutiara yang tampak sangat kontras dengan jalanan desa yang berdebu.
.
Mobil itu berhenti tepat di depan gubuk. Seorang wanita muda turun dari kursi kemudi. Wajahnya cantik dengan sentuhan oriental yang lembut, rambutnya hitam lurus, dan matanya teduh namun memancarkan kecerdasan. Dialah Hinata, editor eksekutif yang selama ini mengelola naskah-naskah rahasia Arjuna.
.
"Mas Arjuna... akhirnya saya menemukan tempat ini," ucap Hinata dengan bahasa Indonesia yang sangat halus. Ia menatap gubuk reot itu dengan rasa hormat, bukan hinaan.
.
Arjuna mendongak dan tersenyum tipis. "Mbak Hinata, teko mrene adoh-adoh mung arep nggoleki penulis gembel nggih? (Mbak Hinata, datang ke sini jauh-jauh cuma mau mencari penulis gembel ya?)"
.
Hinata menggeleng cepat. Ia mengeluarkan sebuah map kulit berwarna hitam. "Mas, novel Sang Pewaris Rahasia yang Mas kirim bab demi bab itu meledak di pasar. Royalti bulan ini sudah masuk, jumlahnya lebih dari lima miliar rupiah. Perusahaan ingin memberikan kontrak eksklusif seumur hidup."
.
Warga desa yang sedang memperbaiki atap gubuk Mbah Surip langsung berhenti bekerja. Mereka saling pandang dengan mulut ternganga. "Lima miliar?! Mas Juna niku juragan dhuwit?!" (Lima miliar?! Mas Juna itu juragan uang?!) bisik mereka tak percaya.
.
"Mbak Hinata, dhuwit niku mung titipan. Tulung, sebagian ageng paringaken teng panti asuhan lan dhuafa. (Mbak Hinata, uang itu cuma titipan. Tolong, sebagian besar berikan ke panti asuhan dan kaum dhuafa.)" jawab Arjuna tenang.
.
Hinata mengangguk, ia sudah terbiasa dengan kedermawanan Arjuna yang aneh ini. "Saya mengerti. Tapi Mas... ada satu berita lagi. Saya dengar keluarga Wijaya di kota sudah benar-benar hancur. Rumah mereka disita hari ini."
.
Arjuna terdiam. Kyai Loreng di dalam batinnya memberikan geraman rendah, seolah memberi isyarat bahwa saatnya "permainan" sesungguhnya dimulai untuk menyelamatkan harga diri ibunya tanpa harus terlihat sombong di depan ayahnya.
.
"Mbak Hinata, kulo nyuwun tulung. (Mbak Hinata, saya minta tolong.)" Arjuna mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu. "Tuku omah niku atas nama Ibu kulo, Siti Aminah. Nanging, ampun ngantos Bapak lan Guntur ngerti yen niku dhuwit saking kulo. (Beli rumah itu atas nama Ibu saya, Siti Aminah. Tapi, jangan sampai Bapak dan Guntur tahu kalau itu uang dari saya.)"
.
Hinata menatap Arjuna dengan penuh kekaguman. "Kenapa Mas? Bukankah ini saatnya Mas menunjukkan kalau Mas sukses?"
.
"Drajat mboten saged dipamerke, Mbak. Drajat niku Gusti sing nentuke. (Derajat tidak bisa dipamerkan, Mbak. Derajat itu Tuhan yang menentukan.)" jawab Arjuna mantap.
.
Hinata tersenyum, ia merasa beruntung bisa mengenal sosok seperti Arjuna. "Baik, Mas. Saya akan segera kembali ke kota untuk mengurusnya. Tapi Mas Juna harus janji, jangan menghilang lagi setelah ini."
.
Arjuna hanya membalas dengan anggukan misterius. Begitu mobil Hinata pergi, kabut tebal kembali turun menutupi lereng gunung, seolah menyembunyikan sang raksasa yang sedang mengatur strategi dari balik kesunyiannya.
Sore itu, langit di atas Jakarta tampak mendung, seolah ikut berduka melihat kehancuran keluarga Wijaya. Di depan gerbang rumah mewah yang dulu megah itu, beberapa petugas bank mulai memasang rantai besar dan stiker penyegelan.
.
"Pak, kulo kudu neng pundi? (Pak, saya harus ke mana?)" Guntur merengek seperti anak kecil di trotoar. Semua mobil sport-nya sudah diangkut paksa. "Kabeh konco-koncoku mboten wonten sing gelem nulungi! (Semua teman-temanku tidak ada yang mau menolong!)"
.
Pak Wijaya tidak menjawab. Ia terduduk lemas di atas koper tuanya, wajahnya menua sepuluh tahun hanya dalam semalam. Bunda hanya bisa memeluk tasbih kayu pemberian Arjuna, bibirnya gemetar merapalkan doa yang diajarkan putra sulungnya itu.
.
Tiba-tiba, sebuah sedan mewah putih mutiara berhenti tepat di depan mereka. Pintu terbuka, dan Hinata turun dengan anggun. Rambut hitamnya tertiup angin, matanya yang teduh menatap keluarga yang hancur itu dengan tatapan profesional namun tegas.
.
"Apakah benar ini keluarga Pak Wijaya?" tanya Hinata dengan nada datar.
.
Pak Wijaya mendongak perlahan, matanya yang merah menatap Hinata dengan heran. "Nggih, Mbak. Kulo piyambak. Wonten menopo malih? (Iya, Mbak. Saya sendiri. Ada apa lagi?)"
.
Hinata menyerahkan sebuah map kulit hitam yang berisi dokumen pelunasan bank dan sertifikat kepemilikan baru. "Seseorang telah melunasi semua utang perusahaan Anda. Beliau juga membeli kembali rumah ini atas nama Ibu Siti Aminah."
.
Seketika, Pak Wijaya dan Guntur terlonjak kaget. Mereka seolah tidak percaya dengan pendengarannya. "Sopo?! Sopo sing gelem nulungi wong bangkrut koyo aku?! (Siapa?! Siapa yang mau menolong orang bangkrut seperti aku?!)" tanya Pak Wijaya dengan suara parau.
.
Hinata tersenyum penuh arti, teringat pesan Arjuna di gubuk lereng gunung tadi. "Beliau berpesan: 'Harta saged ilang, nanging drajat menungso mboten saged dituku ngangge sombong.' (Harta bisa hilang, tapi derajat manusia tidak bisa dibeli dengan kesombongan.)"
.
Mendengar kalimat itu, jantung Pak Wijaya seolah berhenti berdetak. Ia sangat mengenali gaya bahasa itu. Itu adalah kalimat yang sama yang diucapkan Arjuna sebelum ia mencoret namanya di Kartu Keluarga.
.
"Juna... dadi Juna sing nulungi?" bisik Bunda sambil menangis bahagia, memeluk tasbihnya erat-erat. "Gusti... anakku mulyo... (Tuhan... anakku mulia...)"
.
Pak Wijaya tertunduk dalam-dalam. Air matanya jatuh membasahi aspal. Ia merasa sangat hina. Anak yang ia usir, anak yang ia sebut sampah dan beban, ternyata adalah tangan Tuhan yang menyelamatkan nyawa dan kehormatannya tanpa meminta imbalan satu sen pun.
.
"Guntur, deloken... (Guntur, lihatlah...)" Pak Wijaya menunjuk ke arah jalanan yang kosong. "Masmu sing mbok geguyu, jebule luwih dhuwur drajate tinimbang awake dhewe. (Kakakmu yang kamu tertawakan, ternyata lebih tinggi derajatnya dibanding kita berdua.)"
.
Guntur hanya bisa terdiam seribu bahasa, wajahnya memerah karena malu yang luar biasa. Semua kesombongannya luluh lantak oleh kebaikan kakaknya yang misterius.
.
Sementara itu, jauh di lereng gunung, Arjuna menutup laptopnya tepat saat matahari tenggelam di balik awan. Cahaya jingga menyinari wajahnya yang tenang. Kyai Loreng tampak duduk diam di sampingnya, menjaga sang tuan dengan setia.
.
"Mbah, tugas kulo neng mriki sampun rampung. (Mbah, tugas saya di sini sudah selesai,)" ucap Arjuna kepada Mbah Surip.
.
"Kowe arep neng pundi, Le? (Kamu mau ke mana, Nak?)" tanya Mbah Surip sedih.
.
Arjuna bangkit, menyampirkan sarung hijaunya ke bahu. "Guru Mursyid sampun nunggu. Waktune macan bali menyang hakekat kesunyian. (Guru Mursyid sudah menunggu. Waktunya macan kembali ke hakikat kesunyian.)"
.
Arjuna melangkah pergi menembus kabut malam, meninggalkan kemasyhuran dan kekayaan yang ia miliki lewat bantuan Hinata. Ia tidak butuh pengakuan manusia, karena baginya, cukup Allah yang tahu siapa dirinya yang sebenarnya.