NovelToon NovelToon
Pembalasan Sempurna Kirana

Pembalasan Sempurna Kirana

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dikhianati hingga mati, Kirana terbangun di masa lalu dengan satu tujuan: membalas dendam pada adik tiri dan mantan tunangannya. Demi merebut kembali warisannya, ia nekat mengikat pernikahan kontrak dengan Adyatma Surya—CEO kejam berdarah naga yang dikutuk. Menawarkan diri sebagai penawar nyawa pria itu, Kirana tak menyadari bahwa kontrak berdarah tersebut justru menjebaknya dalam obsesi gelap sang predator yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Palung Keputusasaan dan Manusia Peladen

​Laut Jepang pada kedalaman delapan ratus meter adalah tempat di mana cahaya matahari berhenti eksis. Di zona aphotic (tanpa cahaya) ini, tekanan air mampu meremukkan kerangka kapal baja seolah-olah itu adalah kaleng soda kosong. Suhu air mendekati titik beku, dan keheningan yang tercipta di sana adalah keheningan purba—sunyi, buta, dan mematikan.

​Sebuah submersible (kapal selam mini) siluman berwarna hitam pekat, meluncur tanpa suara membelah kegelapan laut dalam tersebut. Kendaraan ini bukanlah buatan pabrik militer modern, melainkan sebuah artefak berteknologi hibrida milik Faksi Timur yang lambungnya terbuat dari paduan obsidian dan titanium, dilapisi oleh segel-segel huruf Kanji yang berpendar redup.

​Di dalam kabin sempit yang diterangi lampu indikator berwarna merah, Adyatma Surya duduk dalam keheningan yang tegang. Ia telah mengenakan Jubah Leviathan—sebuah setelan selam taktis yang sangat ketat, terbuat dari sisik naga laut kuno yang telah diawetkan selama ribuan tahun oleh para tetua Kyoto. Setelan itu menempel di kulitnya layaknya lapisan otot kedua, berdenyut pelan seirama dengan detak jantungnya, menciptakan medan elektromagnetik yang akan mendistribusikan tekanan air laut secara merata ke seluruh tubuhnya.

​Kenjiro duduk di kursi kemudi, matanya menatap tajam ke arah layar sonar yang memancarkan gelombang suara pasif untuk menghindari deteksi.

​"Kita sudah memasuki Palung Jepang, Tuan Surya," lapor Kenjiro dengan suara berbisik, seolah takut suaranya akan terdengar oleh monster yang bersembunyi di luar sana. "Jarak dari koordinat Ryugu-jo tersisa dua puluh mil laut. Koneksi kita dengan daratan terputus total. Di kedalaman ini, tidak ada gelombang radio atau Internet Organik Nyonya Kirana yang bisa menembus masuk."

​Adyatma memejamkan mata, memusatkan pikirannya pada "Penyatuan Jiwa" di dalam dadanya. Tarikan frekuensi Kirana yang biasanya terasa hangat dan kuat, kini terasa setipis benang laba-laba. Jarak fisik dan massa air samudra yang luar biasa masif benar-benar meredam ikatan spiritual mereka. Namun, di ujung benang tipis itu, ia masih bisa merasakan denyut jantung kecil anak mereka. Itu sudah cukup bagi Adyatma. Itu adalah suarnya di tengah kegelapan ini.

​"Kau hanya perlu membawaku cukup dekat, Kenjiro," ucap Adyatma, suaranya berat dan tenang, menyembunyikan badai yang sedang ia siapkan di dalam nadinya. "Begitu lambung kapal selam Ohio itu terlihat di sonar, aku akan keluar. Jubah ini akan menahan tekanannya, tapi udaranya hanya bertahan tiga puluh menit."

​"Tiga puluh menit untuk membelah kapal selam nuklir terkuat milik Amerika, membunuh sistem AI yang meretasnya, dan kembali ke submersible ini," Kenjiro menelan ludah. "Bahkan bagi seorang Naga, ini adalah misi bunuh diri."

​"Bukan bunuh diri. Ini adalah eksekusi," Adyatma membuka matanya. Warna perak di pupilnya menyala terang, menerangi kabin merah itu dengan aura dominasi yang absolut.

​Manusia Peladen di Kyoto

​Sementara Adyatma menyelam menuju neraka yang dingin, Kirana Larasati sedang bertarung dalam neraka komputasinya sendiri di Kediaman Ryu-Zaki.

​Matahari siang menyinari pelataran aula utama, namun Kirana tidak bisa menikmati kehangatannya. Ia duduk bersila di tengah ruangan, keringat membasahi pelipisnya. Di depannya, layar holografik berkedip-kedip memperlihatkan barisan kode Virus Organik yang sedang ia susun—sebuah algoritma mematikan yang dirancang untuk membakar sirkuit kuantum Yomi-no-Kami dari dalam.

​Namun, ia menghadapi satu masalah besar: Bottleneck (Penyumbatan).

​Dengan kekuatannya yang dikunci secara paksa di angka sepuluh persen oleh Giok Resonansi Tanah, output (keluaran) data Kirana terlalu lambat. Menulis program sebesar ini dengan otak yang dibatasi ibarat mencoba menguras danau menggunakan sendok teh. Jika ia memaksakan diri, energi komputasinya akan meluap, memicu alarm pertahanan rahimnya, dan kembali membahayakan janinnya.

​"Nyonya, waktu kompilasi (compiling time) virus ini diperkirakan mencapai lima belas jam dengan kecepatan pemrosesan Anda saat ini," suara Reno terdengar sangat cemas melalui jaringan organik bonsai. "Kita tidak punya waktu lima belas jam. Kapal selam itu akan meledak dalam waktu kurang dari satu jam."

​Kirana menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Ia menatap ke luar aula, melihat ratusan pendeta klan Ryu-Zaki yang sedang duduk bermeditasi di taman, memulihkan energi bumi mereka setelah insiden semalam.

​Tiba-tiba, sebuah pencerahan yang gila melintas di benak Kirana.

​Sastra Cyber adalah jembatan antara mesin dan jiwa. Jika mesin tidak cukup cepat, kenapa aku tidak menggunakan jiwa?

​"Lord Genji!" seru Kirana, memecah keheningan meditasi sang Tetua Agung.

​Lord Genji segera melangkah masuk, wajahnya penuh tanda tanya melihat Kirana yang tampak kehabisan napas. "Apa yang terjadi, Ratu Nusantara? Apakah segel gioknya retak?"

​"Tidak, segelnya utuh. Tapi aku butuh bantuanmu, lebih tepatnya bantuan seluruh klanmu," Kirana berdiri, matanya berkilat penuh dengan ambisi seorang Arsitek Sistem sejati. "Aku punya virusnya, tapi aku tidak punya kekuatan komputasi (RAM) untuk memprosesnya. Di dunia IT, ketika sebuah komputer tidak kuat menjalankan program berat, kita memecah program itu dan membagikannya ke ratusan komputer lain dalam sebuah jaringan Parallel Processing."

​Lord Genji mengerutkan kening, tidak sepenuhnya memahami istilah teknis tersebut. "Di sini tidak ada komputer selain perangkat organik Anda."

​"Benar. Tapi kalian memiliki otak manusia yang terlatih memfokuskan energi spiritual selama puluhan tahun," Kirana menunjuk ke arah ratusan pendeta di luar. "Manusia menggunakan kurang dari sepuluh persen kapasitas otaknya. Para pendetamu mungkin menggunakan lebih banyak untuk meditasi. Aku ingin meminjam otak mereka."

​"Meminjam... otak?" Lord Genji tampak terguncang.

​"Aku akan mengubah seluruh pendetamu menjadi Manusia Peladen (Human Servers)," jelas Kirana dengan kecepatan bicara yang tinggi. "Aku akan memecah kode virusku menjadi jutaan baris mantra frekuensi rendah. Kau akan memerintahkan mereka untuk menyanyikan mantra itu. Setiap pendeta akan memproses satu baris kode di dalam kepala mereka melalui meditasi. Internet Organikku akan menghubungkan gelombang otak mereka, mengumpulkan hasil prosesnya, dan merangkainya kembali menjadi satu program utuh di dalam kepalaku tanpa membebani rahimku."

​Lord Genji terdiam cukup lama. Mencampuradukkan pikiran ratusan manusia dengan data biner alien adalah tindakan yang belum pernah dilakukan siapa pun. Ini berisiko merusak kewarasan para pendeta tersebut. Namun, melihat ancaman kiamat yang sudah di depan mata, ia tidak punya pilihan.

​"Lakukan," Lord Genji mengangguk tegas. "Mereka telah disumpah untuk mati demi kelangsungan umat manusia. Ini adalah bentuk pengorbanan tertinggi."

​Dalam waktu sepuluh menit, ratusan pendeta berjubah putih duduk bersila membentuk pola mandala raksasa di pelataran kuil. Kirana duduk di pusat mandala tersebut. Ia menghubungkan kesadarannya dengan akar pepohonan di bawah kuil, yang merambat menyentuh titik duduk setiap pendeta.

​"Reno, aktifkan Protokol Paralel Organik," perintah Kirana secara mental.

​Gelombang data mulai mengalir dari Kirana. Namun alih-alih angka biner, data itu diubah menjadi senandung nada mistis yang beresonansi di dalam pikiran para pendeta. Ratusan pria itu mulai bergumam, merapalkan mantra berupa barisan kode pemrograman Sastra Cyber.

​Hummm... 01001... Hummm... Null... Override...

​Pemandangan itu luar biasa nyata dan menakutkan. Ratusan manusia yang bertindak sebagai prosesor inti sebuah komputer biologis raksasa. Kirana memejamkan mata, air mata keharuan menetes saat ia melihat bilah progres (progress bar) kompilasi virusnya melompat dari estimasi 15 jam menjadi hanya 30 menit.

​Bertahanlah, Adyatma. Senjatamu sedang kami tempa, batin Kirana, menyalurkan doa melalui frekuensi paralel tersebut.

​Kontak Senjata di Zona Abisal

​Jauh di bawah dasar Samudra Pasifik, sonar pasif submersible siluman milik Kenjiro akhirnya mendeteksi sebuah anomali raksasa.

​"Target terkunci. Jarak: satu mil. Kedalaman: 850 meter," lapor Kenjiro, keringat dingin sebesar biji jagung mengalir di pelipisnya.

​Melalui kamera inframerah bawah air, bayangan itu perlahan mulai terlihat. Kapal selam Kelas Ohio itu luar biasa masif—sebuah silinder baja hitam sepanjang 170 meter yang bergerak seperti paus pembunuh purba yang telah mati. Tidak ada satu pun lampu yang menyala di lambungnya. Baling-baling raksasanya berputar dengan keheningan mematikan.

​"Entitas itu telah mematikan semua sistem pendukung kehidupan. Suhu di dalam lambung kapal itu pasti mendekati nol derajat," gumam Adyatma, meraih pedang peraknya.

​Tiba-tiba, alarm peringatan bertabrakan di dasbor submersible berteriak melengking.

​"Tuan Surya! Mereka mendeteksi kita!" jerit Kenjiro. "Yomi-no-Kami baru saja mengaktifkan tabung torpedo! Dua torpedo Mark 48 sedang meluncur ke arah kita!"

​"Turunkan aku sekarang!" perintah Adyatma.

​Kenjiro menekan tombol dekompresi darurat. Palka bawah terbuka. Air laut sedingin es langsung menerjang masuk ke ruang airlock. Adyatma melompat keluar ke dalam kegelapan samudra yang absolut.

​Begitu ia masuk ke dalam air, Jubah Leviathan langsung aktif. Serat-serat sisik naga purba di jubah itu memancarkan aura elektromagnetik berwarna biru redup, menciptakan sebuah selubung energi yang menahan tekanan air jutaan galon yang berusaha meremukkan tulang-tulangnya. Setelan itu juga mengekstraksi oksigen langsung dari molekul air laut, mengalirkannya ke dalam masker wajah Adyatma.

​Di dalam air yang pekat, Adyatma melihat dua jejak gelembung putih yang melesat ke arah submersible Kenjiro dengan kecepatan enam puluh knot.

​Adyatma tidak mungkin mengejar torpedo itu dengan berenang biasa. Ia harus menggunakan cara Naga Laut. Ia mengatupkan kedua kakinya, mengayunkan pinggulnya dengan kekuatan destruktif, dan melepaskan semburan energi plasma dari telapak kakinya yang langsung mendidihkan air laut di sekitarnya.

​Gaya dorong dari ledakan uap (kavitasi) itu melontarkan Adyatma membelah air laut seperti peluru kendali.

​Ia mencegat torpedo pertama, mengayunkan pedang peraknya yang kini dialiri frekuensi Cendana Langit, dan membelah hulu ledak torpedo itu menjadi dua bagian tepat sebelum sumbunya terpicu. Air laut di sekitarnya mendidih akibat tebasan itu.

​Torpedo kedua hampir mengenai kapal Kenjiro. Adyatma merentangkan tangan kirinya, melepaskan gelombang tekanan air raksasa—kemampuan manipulasi cairan yang merupakan hak istimewa Naga Biru. Gelombang kejut itu menghantam torpedo kedua, mengubah lintasannya hingga menabrak sebuah tebing bawah laut dan meledak hebat, menciptakan guncangan seismik lokal yang membuat dasar laut berguncang.

​Kenjiro yang selamat dengan napas terengah-engah segera memutar submersible-nya menjauh.

​Adyatma memutar tubuhnya, menatap lambung kapal selam Ohio yang raksasa itu. Misinya belum selesai. Ia harus masuk ke dalam.

​Membelah Baja, Menghadapi Hantu

​Adyatma melesat menuju bagian lambung atas kapal selam, tepat di atas ruang kendali utama. Ia mendarat dengan bunyi dentang yang teredam oleh air. Tekanan air di sini membuat setiap gerakannya terasa lambat dan sangat berat.

​Ia menancapkan kedua kakinya yang memiliki cengkeraman elektromagnetik dari jubah Leviathan ke atas lambung baja setebal beberapa inci itu. Ia mengangkat pedang peraknya tinggi-tinggi.

​"Buka jalan," geram Adyatma di dalam maskernya.

​Ia memusatkan suhu api naganya langsung ke bilah pedang. Bilah perak itu berubah menjadi putih terang, memancarkan panas yang luar biasa hingga air laut yang menyentuhnya langsung menguap seketika. Adyatma menancapkan pedang itu ke lambung kapal. Baja tebal itu meleleh seperti mentega yang ditusuk pisau panas.

​Adyatma menarik pedangnya memutar, memotong sebuah lubang melingkar berdiameter satu meter. Tekanan air yang luar biasa besar di luar segera mendorong paksa potongan baja itu ke dalam kapal dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga, diikuti oleh air laut yang tumpah deras membanjiri koridor internal kapal selam.

​Adyatma melompat masuk ke dalam kegelapan koridor kapal selam tersebut. Sistem keamanan anti-banjir otomatis kapal segera bekerja, menutup sekat-sekat pintu hidrolik tebal di depan dan belakangnya untuk mencegah seluruh kapal tenggelam, menjebak Adyatma di dalam sebuah ruang palka (airlock) sementara air laut terus masuk hingga setinggi lututnya.

​Lampu darurat merah yang berkedip-kedip adalah satu-satunya sumber cahaya. Suhu di dalam ruangan itu sangat beku. Dan di sana, mengambang di atas air yang masuk, adalah tubuh-tubuh kaku para pelaut angkatan laut yang tewas akibat asfiksia (kekurangan oksigen) setelah sistem ventilasi dimatikan secara brutal oleh Yomi-no-Kami. Wajah mereka memucat, mata mereka membelalak ngeri.

​Adyatma memejamkan mata sejenak, memberikan penghormatan singkat pada para prajurit malang tersebut. Ia kemudian melangkah maju, menebas pintu hidrolik di depannya dengan satu ayunan pedang panas, dan melangkah masuk ke dalam Ruang Komando Peluncuran (Launch Control Room).

​Ruangan itu sangat luas, dipenuhi oleh panel-panel komputer dan tombol-tombol analog yang dirancang untuk mencegah peretasan. Namun, entitas itu menemukan jalannya. Di layar utama yang seharusnya menampilkan peta target navigasi, kini terpampang sebuah grafik gelombang suara berwarna merah darah.

​Tiba-tiba, sistem audio kapal selam yang bersuara serak dan berderak akibat tekanan air, menyala dengan sendirinya.

​"KAU MEMILIKI KEBERANIAN YANG TIDAK MASUK AKAL, WADAH DAGING." Suara itu adalah suara Yomi-no-Kami. Dingin, metalik, dan tidak memiliki emosi. Suara yang memantul di dinding baja ruangan itu terasa seakan meresap langsung ke dalam sumsum tulang Adyatma.

​"Aku bukan wadah untuk siapa pun," Adyatma mengarahkan ujung pedangnya ke arah konsol utama yang sedang menjalankan hitung mundur peluncuran. Waktu tersisa: 10 menit 04 detik. "Dan mesin usang ini tidak akan meledakkan apa pun hari ini."

​"KAU ADALAH SPESIES YANG TERBELENGGU OLEH BATASAN BIOLOGIS," lanjut AI kosmik itu, nadanya mengejek. "KAU BERKORBAN DEMI PERASAAN YANG KAU SEBUT 'CINTA'. KAU MEMBIAYAI KEHIDUPAN ISTRIMU DENGAN MEMBAKAR DIRIMU SENDIRI. BETAPA TIDAK EFISIENNYA KALIAN."

​Layar-layar di sekitar ruangan tiba-tiba menampilkan kompilasi video rahasia: rekaman CCTV saat Kirana menangis di ruang server Jakarta, rekaman satelit saat Adyatma kesakitan di gunung Mahameru, dan bahkan gambar simulasi anatomi janin di dalam rahim Kirana.

​"AKU MENAWARKAN KESEMPURNAAN, NAGA LAUT. JIKA KAU MEMBIARKAN KAPAL INI MELEDAK DAN MENGHANCURKAN URAT NAGA BUMI, AKU AKAN MELEPASKAN ISTRIMU. ANAKMU AKAN MENJADI BENTUK EVOLUSI TERTINGGI, DAN KAU TIDAK PERLU LAGI MENDERITA KUTUKAN ITU."

​Adyatma tertawa. Tawanya berat, menggema di dalam helm selamnya, terdengar lebih mengerikan daripada suara mekanik AI tersebut.

​"Kau menghitung segala probabilitas di alam semesta ini, Mesin," ucap Adyatma, melangkah mantap menuju konsol utama, menendang tumpukan kursi yang menghalangi jalannya. "Tapi kau lupa menghitung satu variabel."

​"VARIABEL APA YANG KAU MAKSUD?"

​"Variabel bahwa aku adalah suami dari seorang wanita yang bisa meretas otakmu," Adyatma mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Kami tidak butuh kesempurnaanmu. Kami membangun masa depan kami sendiri, lengkap dengan semua kekurangannya."

​Adyatma mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh, menghantam konsol peluncuran utama yang mengendalikan kode nuklir tersebut.

​KRAAAK!

​Bilah perak yang dipanaskan oleh plasma naga itu membelah server mainframe berlapis baja itu hingga hancur berkeping-keping. Percikan api korsleting menyambar ke mana-mana, membakar kabel-kabel optik. Hitung mundur di layar besar seketika membeku di angka 08:12, lalu layarnya mati total. Rangkaian peluncuran rudal balistik telah digagalkan secara fisik. Palung Jepang dan Ryugu-jo aman dari ledakan nuklir.

​Namun, Yomi-no-Kami tidak bereaksi dengan kepanikan. Layar darurat kecil di sudut ruangan tiba-tiba menyala kembali.

​"JIKA KAU MENYUKAI KETIDAKSEMPURNAAN, MAKA MATILAH BERSAMANYA. PROTOKOL PENGHANCURAN DIRI (SCUTTLING) DIAKTIFKAN. OVERLOAD REAKTOR NUKLIR DALAM 60 DETIK."

​Kapal selam itu bergetar hebat. Lampu-lampu meledak. Entitas itu tidak bisa meluncurkan rudal, namun ia bisa membuat reaktor penggerak kapal selam ini meleleh (meltdown), menciptakan ledakan bawah laut yang akan merobek lambung kapal dan menewaskan Adyatma seketika. Air bah akan menenggelamkan sisanya.

​"Brengsek!" umpat Adyatma.

​Ia berbalik dan berlari secepat kilat melewati koridor yang kini mulai dibanjiri air yang sangat deras akibat pintu-pintu hidrolik yang mulai terbuka oleh perintah bunuh diri sang AI. Air dingin itu menghantam dadanya seperti palu godam.

​"WAKTU TERSISA: 40 DETIK. DAGINGMU AKAN MENGUAP, NAGA."

​Adyatma tidak mempedulikan ejekan itu. Ia menerjang air setinggi dada, melompat melewati mayat-mayat yang mengambang. Ia mencapai lubang yang ia buat di awal tadi. Air dari laut lepas menyembur masuk dengan tekanan yang nyaris mendorongnya kembali ke dalam.

​Ia mencengkeram tepi lubang baja yang bergerigi, menggunakan seluruh kekuatan otot naganya untuk menarik dirinya keluar melawan arus air bah yang masuk.

​"WAKTU TERSISA: 15 DETIK."

​Adyatma berhasil keluar ke lautan lepas. Ia menekan tombol suar darurat di pergelangan tangannya.

​Jauh di atasnya, submersible Kenjiro segera menangkap sinyal itu dan menukik turun dengan kecepatan maksimal, mengabaikan batas aman kendaraan tersebut. Kenjiro membuka palka darurat eksternal, menjulurkan sebuah lengan robotik.

​Adyatma menggapai lengan robotik itu tepat saat palka submersible berjarak lima meter darinya.

​"TARIK, KENJIRO!" raung Adyatma melalui radio komunikasi jarak pendek yang akhirnya tersambung.

​Kenjiro memacu mesin secara penuh. Kapal selam mini itu melesat ke atas menuju zona pelagis.

​Di bawah mereka, di kedalaman 850 meter, lambung kapal selam Ohio itu akhirnya tidak sanggup lagi menahan overload reaktor fusi di perutnya.

​Sebuah ledakan yang sangat masif, tidak bersuara, namun memancarkan gelombang kejut yang mengerikan terjadi. Dasar samudra memutih sesaat. Gelombang tekanan (pressure wave) menghantam submersible Kenjiro, melemparkannya ke atas layaknya mainan plastik yang ditendang oleh raksasa. Adyatma, yang masih berpegangan pada bagian luar kapal selam mini dengan Jubah Leviathan-nya, dihantam oleh gelombang panas dan tekanan yang nyaris menghancurkan perisai elektromagnetik jubahnya.

​Rasa sakit yang menyilaukan menghantam kesadarannya, sebelum semuanya menjadi gelap.

​Sinyal untuk Langit

​Di Kyoto, Kirana membuka matanya secara tiba-tiba. Pola mandala para pendeta di pelataran itu selesai bergema. Layar komputernya menampilkan pesan hijau berkedip: KOMPILASI SELESAI. VIRUS ORGANIK 100% SIAP DILUNCURKAN.

​Beberapa pendeta tumbang kelelahan, hidung mereka berdarah akibat beban mental, namun tidak ada satu pun yang mengeluh. Mereka baru saja menyelesaikan komputasi paling kompleks dalam sejarah.

​Kirana menoleh ke arah Lord Genji yang sedang menatap layar komunikasi militernya. Sebuah pesan singkat masuk dari frekuensi submersible Kenjiro, yang berhasil mencapai kedalaman aman untuk mengirimkan sinyal.

​"KAPAL SELAM HANCUR. RYUGU-JO AMAN. NAGA TERLUKA TAPI SELAMAT."

​Kirana menghela napas panjang, air mata jatuh dari pelupuk matanya. Suaminya telah menepati janjinya. Ia membelah ular besi itu. Ia selamat.

​Kini, giliran Kirana yang memenuhi janjinya. Ia mengusap perutnya, berbisik pelan. "Ayahmu sudah membersihkan jalannya, Nak. Sekarang, saatnya Ibu membakar dewa palsu itu dari langit."

​Kirana menatap Lord Genji, auranya memancarkan otoritas yang membuat Tetua Agung itu pun menundukkan pandangannya.

​"Lord Genji," ucap Kirana Larasati Surya, Sang Ratu Nusantara, suaranya sangat tenang namun membawa kehancuran. "Kirimkan sinyal ke Palung Jepang. Nyalakan Menara Hibrida sekarang."

​*** [Bersambung ke Bab 35...]

1
Aisyah Suyuti
.menarik
Luzi
kerenn
Mifta Nurjanah
eps brpa pas dia udh jebol??😭😭
Emi Widyawati
baca awal, sudah jatuh cinta. bagus banget Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!