Sequel Novel "The End Of Before"
"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."
Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.
Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.
Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Kegelapan di ruang bawah tanah itu terasa semakin padat, seolah-olah oksigen telah habis digantikan oleh rasa putus asa.
Ini adalah hari kelima Jeff Feel-Lizzie terkurung dalam sangkar beton tanpa jendela. Pikirannya sudah mulai pecah menjadi kepingan-kepingan delusi. Ia tidak lagi tahu apakah ia sedang bermimpi atau sedang berada di neraka yang sesungguhnya.
Keheningan yang memuakkan itu tiba-tiba pecah oleh suara langkah kaki sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai semen. Suaranya berirama, tenang, namun membawa aura kematian yang begitu nyata.
"Siram dia," sebuah suara wanita terdengar. Dingin, tajam, dan tanpa emosi, seperti bilah es yang mengiris kulit.
BYUURR!
Satu ember air es menghantam tubuh Jeff yang sudah sangat lemah. Ia tersentak, paru-parunya seolah mengecil karena suhu dingin yang ekstrem menabrak kulitnya yang kini hanya tinggal tulang berbalut kulit.
"Uhuk! Uhuk!" Jeff terbatuk-batuk hebat. Air merembes masuk ke tenggorokannya yang sangat kering, namun insting bertahannya jauh lebih kuat daripada rasa malu.
Dalam kondisi setengah sadar, ia mulai menjilati tetesan air yang jatuh di lengannya sendiri, bertindak persis seperti seekor anjing yang kehausan di tengah padang pasir.
"Air... air..." rintihnya dengan suara yang nyaris hilang.
Sebuah tawa sinis bergema di ruangan itu. Tawa yang sangat elegan, namun penuh dengan racun.
Jeff mendongak dengan sisa tenaganya, matanya yang pedih mencoba fokus pada sosok yang berdiri di depannya. Cahaya lampu kuning kecil di atas mereka seolah hanya menerangi separuh wajah wanita itu.
Deg.
Jantung Jeff rasanya berhenti berdetak saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
"Tan-Tante...?" bisiknya dengan nada tidak percaya.
Di hadapannya, berdiri Isabella Velasquez. Sang nyonya besar keluarga Velasquez yang selama ini dikenal Jeff sebagai wanita sosialita yang lembut, hangat, dan selalu tampak santai dengan segelas sampanye di tangannya.
Namun kini, Isabella berdiri dengan aura yang sangat berbeda. Ia mengenakan jubah sutra hitam panjang, tangannya terlipat di depan dada, dan matanya menatap Jeff seolah pria itu adalah kotoran yang tidak sengaja terinjak oleh sepatunya yang mahal.
"Kaget, Jeff? Kenapa kau harus kaget?" Isabella melangkah maju, membiarkan cahaya lampu menerangi wajahnya yang sempurna tanpa cela. Ia tersenyum, namun senyum itu tidak mencapai matanya yang sedingin kutub utara.
"Kau ingin menghancurkan putraku, bukan?" tanya Isabella dengan nada santai, seolah sedang menanyakan cuaca. "Kau ingin mengirim Ezzra-ku ke penjara dengan tuduhan sampah itu. Kau pikir aku akan membiarkannya?"
"Tante... lepaskan aku... aku tidak tahu apa-apa..." rintih Jeff, air matanya mulai mengalir.
Tiba-tiba, ekspresi Isabella berubah drastis. Nada suaranya berubah menjadi hangat dan penuh keibuan—nada yang biasa didengar Jeff saat ia berkunjung ke mansion Ezzra dulu.
"Oh Tuhan, putraku yang malang... Ezzra-ku tersayang. Kau ingin menjebaknya dengan barang haram itu? Oh, itu benar-benar jahat, Jeff! Tidak, tidak boleh!" teriaknya dengan drama yang sangat teatrikal, seolah-olah ia sedang bersimpati pada putranya sendiri di atas panggung sandiwara.
Namun, dalam sekejap mata, keramahan itu menguap. Wajah Isabella kembali menjadi topeng kematian yang kaku. Ia mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil dari saku jubahnya. Bilah peraknya berkilat tajam di bawah cahaya lampu kuning.
"Lalu bagaimana dengan cucuku yang malang?" bisik Isabella, suaranya kini turun menjadi desisan yang sangat rendah dan mematikan. "Kau telah membunuhnya, Jeff. Kau membunuh penerus keluarga Velasquez. Darah yang mengalir di rahim Elowen adalah darahku. Darah keturunanku."
Isabella berlutut di depan Jeff, mencengkeram rahang pria itu dengan tangannya yang mengenakan sarung tangan kulit hitam. "Ezzra mungkin berandalan, tapi dia adalah darah dagingku. Dan kau... kau baru saja menghancurkan masa depannya dengan tangan kotor mu."
"Tante, kumohon—"
"Kematian adalah hadiah yang terlalu indah untukmu, Jeff," Isabella memotong ucapan Jeff. Ia menatap dada Jeff, tepat di mana detak jantung pria itu terasa tidak teratur.
"Ini untuk setiap tetes air mata putraku," ucapnya dingin.
JLEB!
Tanpa ragu sedikit pun, Isabella menancapkan pisau kecil itu tepat di dada Jeff. Tidak cukup dalam untuk membunuhnya seketika, namun cukup untuk menembus jaringan otot dan membuat rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh sistem saraf Jeff.
"AAAGGGHHHH!!!" Jeff menjerit gila, tubuhnya mengejang di kursi besi itu. Darah segar mulai merembes keluar, membasahi kemejanya yang sudah compang-camping.
Isabella berdiri dengan tenang. Ia mengambil sapu tangan dari sakunya, mengusap setitik noda darah yang terpercik ke jarinya, lalu membuang sapu tangan itu ke lantai begitu saja. Ia menatap Jeff yang kini megap-megap seperti ikan yang dikeluarkan dari air, matanya mulai memutih karena rasa sakit yang tak terperikan.
"Bereskan sampah ini," ucap Isabella dingin saat ia berbalik menuju pintu keluar.
"Siap, Madam!" suara seorang pria bertubuh besar terdengar dari balik bayang-bayang. Ia adalah orang kepercayaan keluarga Velasquez yang telah menjaga Jeff selama lima hari ini.
Isabella melangkah keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi. Pintu besi berat itu tertutup dengan bantingan keras, meninggalkan Jeff dalam kegelapan yang kini berbau darah segar.
Di luar ruangan, Isabella menarik napas panjang, menghirup udara malam yang segar. Ia mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan singkat untuk putranya: 'Jangan khawatir tentang Jeff, Sayang. Ibu sudah mengurusnya. Fokuslah pada istrimu.'
Bagi dunia, Isabella Velasquez hanyalah istri seorang konglomerat yang manja. Namun bagi siapa pun yang berani menyentuh miliknya, mereka akan belajar bahwa ibu dari seorang predator seperti Ezzra adalah predator yang jauh lebih mematikan. Isabella tidak membutuhkan polisi atau pengadilan untuk memberikan keadilan. Ia memiliki caranya sendiri—cara yang jauh lebih gelap dan abadi.
Jeff Feel-Lizzie mungkin mengira ia adalah sosiopat paling cerdik di universitas, namun malam ini ia menyadari bahwa ia hanyalah seekor kelinci yang mencoba bermain-main di kandang naga. Dan naga itu tidak akan membiarkannya pergi sebelum setiap jengkal tulang Jeff hancur menjadi abu.
biasanya si laki yg dibikin babak belur di ceritamu kak....
poor elowen...