Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
_Asrama_
Sedari tadi Rara menatap Asya yang tengah melamun. Ia heran karena sejak kejadian tadi setelah hafalan, Asya lebih memilih diam tanpa berkata apapun kepada Rara. Entah apa yang sudah dibicarakannya dengan gus Kafka, Rara pun tak tahu.
"Kamu kenapa Sya?," tanya Rara mengawali pembicaraan
"Memangnya kenapa?," tanya Asya balik sambil menatap lurus ke depan
"Dari tadi kamu kayak lagi mikir sesuatu gitu," ucap Rara
"Kamu bener banget Ra," ucap Asya pelan
"Memang tadi gus Kafka ngomong apa sama kamu?," tanya Rara kepo
Asya pun menceritakan apa yang diucapkan gus Kafka tanpa terlewat sedikitpun. Rara yang mendengarnya sangat bahagia. Karena menurut Rara, mereka berdua itu pasangan ideal.
"Wah bagus dong kalo gus Kafka sudah mengungkapkan perasaannya sama kamu. Aku jadi ikut seneng dengernya," ucap Rara sambil tersenyum
"Tapi aku takut, Ra," ucap Asya pelan
"Apalagi yang kamu takutkan Sya? Dia itu bener-bener tulus sama kamu. Buktinya dia dengan sabar menunggu apapun keputusan kamu nantinya," ucap Rara
"Cinta itu rumit, Ra. Semua orang pasti ingin berakhir bahagia tapi gimana kalo sebaliknya? Rencana Allah nggak ada yang tahu," ucap Asya
"Kamu berfikir terlalu jauh Sya. Nggak semua cinta itu akan berakhir menyedihkan," ucap Rara menjelaskan
"Terus aku harus gimana?," tanya Asya bingung
"Coba deh, kamu buka hati buat gus Kafka. Lihat ketulusan cintanya. Entah kenapa aku yakin kalo kalian memang berjodoh. Tapi semua keputusan ada di tangan kamu Sya," ucap Rara menasehati
"Apa dia mau menunggu?," ucap Asya pelan
"Nah itu yang dinamakan perjuangan. Kalo dia beneran cinta sama kamu, selama apapun itu pasti mau menunggu," ucap Rara meyakinkan
"Oke, akan aku coba," ucap Asya sedikit ragu
"Nah gitu dong, sahabatku," ucap Rara sambil memeluk erat Asya
"Jangan kenceng-kenceng dong peluknya. Bisa sesek nafas aku ini," protes Asya
"Oh iya maaf," ucap Rara cengengesan setelah melepas pelukannya
"Udah malem nih, sebaiknya tidur soalnya besok kan harus sekolah," ucap Asya menasehati
"Oke, good night sahabatku," ucap Rara sambil tersenyum
"Good night juga," balas Asya yang juga tersenyum
Lalu mereka pun merebahkan dirinya di kasur. Tidur untuk melepas penat setelah beraktifitas seharian penuh. Menunggu esok hari yang penuh kejutan pastinya.
Di sisi lain, seorang pemuda tampan sedang berdiri memandangi indahnya langit dari balkon kamarnya. Dia adalah gus Kafka yang masih terjaga dan belum tidur.
Entah kenapa ia tak bisa berhenti untuk memikirkan Asya. Pesonanya begitu kuat hingga membuat gus Kafka merasa kagum kepadanya.
Gus Kafka masih kepikiran omongan Ustadz Malik tadi saat tanpa sengaja mereka bertemu.
Flashback On
_Masjid pesantren_
"Kenapa senyum-senyum sendiri Gus?," tanya Ustadz Malik
"Siapa yang senyum?," ucap gus Kafka gugup
Ustadz Malik terkekeh mendengar penuturan gus Kafka
"Tidak perlu berbohong lagi Gus. Saya sudah tau semuanya," ucap Ustadz Malik terkekeh
"Tau apa nih maksudnya?," ucap gus Kafka bingung
"Saya dan Rara tau waktu obrolan kalian berdua di samping masjid malam itu," jelas Ustadz Malik
"Jadi kalian berdua tau pembicaraan saya dan Asya?," tanya gus Kafka kaget
"Iya Gus, santai saja. Malahan saya mendukung banget kok," ucap Ustadz Malik sambil tersenyum
"Tapi tidak semudah itu mendapatkan hatinya. Terlihat sekali jika dia masih ragu sama saya," ucap gus Kafka lesu
"Perjuangkan Gus. Wanita itu butuh lelaki yang mau memperjuangkannya. Tapi jangan lupa untuk berdoa juga kepada Allah. Karena Allah yang tau apa yang terbaik untuk hamba-Nya," ucap Ustadz Malik menasehati
Flashback Off
"Ini adalah awal dari perjuangan cinta. Semoga Allah memberi jalan terbaik," ucap gus Kafka sambil tersenyum
Pukul 03.00
Setelah selesai sholat tahajud, Asya duduk sendirian di teras masjid. Hembusan angin menerpa wajah cantiknya. Ia masih mencoba mencerna setiap perkataan dari gus Kafka. Asya ragu, ia hanya tak ingin jika nantinya berakhir kecewa. Tapi di sisi lain, seperti ada yang memberontak dalam hatinya.
Cukup lama Asya terbenam dalam pikirannya. Hingga akhirnya suara salam dari seseorang menyadarkan lamunannya. Seseorang yang sempat menjadi objek dalam pikirannya.
"Assalamualaikum," salam gus Kafka
Ia langsung duduk di samping Asya dengan jarak sekitar satu meter. Dipisahkan oleh tiang masjid.
"Waalaikumsalam," jawab Asya sambil menatap lurus ke depan
"Kamu kenapa Sya?," tanya gus Kafka mengawali pembicaraan
"Saya baik-baik saja kok, Gus," ucap Asya
"Yakin? Sepertinya kamu lagi banyak pikiran kayak gitu," ucap gus Kafka
"Hanya sedang rindu dengan keluarga," ucap Asya
"Sebentar lagi kamu akan disibukkan dengan berbagai ujian. Fokuslah pada satu titik itu dulu. Lagian nanti ada jeda beberapa hari untuk liburan sebelum pengumuman kelulusan dan wisuda," ucap gus Kafka
"Iya Gus," jawab Asya singkat
"Setelah lulus kamu mau lanjut kemana?," tanya gus Kafka
"Kayaknya dalam negeri saja," jawab Asya
"Kenapa?," tanya gus Kafka kepo
"Saya tidak bisa jauh dari keluarga," ucap Asya terkekeh
"Kamu bukan dari kota ini ya?," ucap gus Kafka penasaran
"Saya dari Bandung," ucap Asya singkat
Hening
Tanpa mereka sadari bahwa ada seseorang yang tengah menatap mereka dari kejauhan. Ustadz Malik tersenyum penuh arti melihat interaksi keduanya. Lalu ia berjalan menghampiri Asya dan gus Kafka.
"Hayo ngapain berduaan mulu. Awas yang ketiganya setan loh," ucap Ustadz Malik cekikikan
"Iya, yang ketiganya orang yang baru datang ini," ucap gus Kafka santai
"Astagfirullah Gus, tega sekali mengatai saya setan," ucap Ustadz Malik dramatis
"Waalaikumsalam Ustadz," sindir Asya membuat gus Kafka terkekeh
"Eh astagfirullah maaf. Assalamualaikum," ucap Ustadz Malik meringis
"Waalaikumsalam," jawab Asya dan gus Kafka kompak
"Ustadz ngapain ke sini?," tanya gus Kafka heran
"Sebentar lagi adzan subuh loh, Gus. Jangan karena berdekatan dengan Asya jadi lupa waktu kayak gini," ucap Ustadz Malik terkekeh
Asya yang malu hanya menunduk dengan pipinya yang merona karena ucapan Ustadz Malik. Mungkin Asya sudah mulai luluh dengan gus Kafka hingga tersipu seperti itu.
Gus Kafka melirik sekilas jam di pergelangan tangannya. Benar kata Ustadz Malik jika sebentar lagi masuk waktu subuh.
"Ya sudah kita siap-siap. Sebentar lagi mau adzan ini," ucap gus Kafka yang mendapat anggukan dari Ustadz Malik dan Asya