Cakrawala Dirga Samudra adalah seorang Pangeran kerjaan Nirlata yang dibuang kedalam jurang saat umurnya baru menginjak 6 tahun. namun bukannya mati, di dalam sana ia justru bertemu sosok misterius yang membuat dirinnya menjadi penyihir gila. 7 tahun berlalu ia kembali dengan kekuatan baru untuk menuntut balas, merebut takhta yang seharusnya menjadi miliknya, dan mengungkap rahasia di balik tembok istana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AbdulRizqi60, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Villain
Di suatu tempat... tepatnya kompleks bawah tanah, dengan desain canggih dan suram.
Desainnya adalah labirin bawah tanah yang membingungkan untuk penyusup. Terdapat ruang operasi yang di penuhi kertas mantra sihir, pola sihir, lilin lilin di setiap sudut ruangan dan alat alat aneh.
Terdapat penjara besi kombinasi dinding sihir, dan di dalam setiap penjara itu ada manusia manusia yang bentuknya sangat aneh, ada manusia yang memiliki telinga panjang, memiliki ekor kanguru, ada yang tangannya sangat besar, ada yang memiliki taring sangat panjang hingga mirip seperti gading dan sebagainya.
Tingkah mereka semua tidak normal, seolah mereka adalah manusia yang kehilangan jiwanya.
Tak hanya itu terdapat laboratorium dengan pemandangan puluhan robot robot setinggi 3 meter dengan punggung yang terhubung dengan kabel kabel hitam besar.
Seorang pria dengan rambut panjang, berwajah pucat dan bola matanya membentuk celah sempit tampak duduk menyender di kursi besar dengan kepala yang di topang tangan kanannya yang ia tekuk di pinggiran kursi.
Ia tampak memperhatikan pemandangan di depannya. Seorang wanita dengan pakaian hitam ketat dan seksi dengan potongan rambut pixie cut panjangnya hanya setelinga, tak hanya itu tangan kiri wanita itu bukan tangan manusia melainkan tangan robot, wanita itu tampak sedang memperhatikan tabung kaca silinder besar setinggi 2 meter di depannya yang berisi cairan pucat biru bening.
Di dalam tabung itu terdapat seorang wanita cantik yang tak lain adalah Niskala, tubuh Niskala terhubung dengan selang medis dan kabel sensor yang menempel di punggung, dada dan kepala.
Mata Niskala terpejam, wajahnya terlihat damai, tetapi menyimpan kesan tragis, kulitnya pucat pasi seolah koma panjang.
Wanita dengan tangan robot itu tampak sedang memantau aktivitas sel dan memberikan asupan kimia kepada Niskala.
Bluk... bluk... bluk...
Suara gelembung gelembung yang berada di dalam tabung itu terdengar jelas di tempat ini.
Suasana di ruangan laboratorium ini sangat gelap, hanya cahaya remang dari dalam cairan tabung membuat suasana di sini terkesan sangat dingin.
"Rencananya, kau mau menjadikan Niskala apa, Wen?" Tanya Seorang pria yang duduk di kursi besar itu.
Hssttt!
Ular besar merayap keluar dari balik baju pria itu. Pria itu mengelus kepala ular itu, "apakah kau mau menjadikannya Cyborg? Penyihir setengah robot?" Tanya Pria itu kembali.
Wen menggeleng, "aku rasa begitu Tuan Ananta, tapi... akan aku buat dia jauh lebih mengerikan! Akan aku buat dia menjadi mesin pembunuh tanpa ampun, akan aku jadikan dia sebagai pemimpin para robot titan buatanku!" Jawab Wen dengan seringai lebar menatap wajah Niskala.
"Apapun yang terjadi Negara Garuda harus hancur! Mereka... mereka... telah meremehkan bakatku! Akan aku tunjukan kepada mereka sesuatu yang mereka remehkan adalah sesuatu yang dapat menghancurkan mereka!"
"Menarik.... hanya tinggal 8 tahun lagi sihirku akan selesai, ketika sihirku sudah selesai kita berangkat dan hancurkan negara Garuda.... hahaha..." ucap Tuan Ananta.
"Kau selalu membanggakan tentang sihirmu itu Tuan, sebenarnya sihir apa yang hendak kau gunakan sampai sampai membutuhkan waktu hingga bertahun tahun lamanya?" Tanya Wen seraya melirik sekilas Tuan Ananta.
"Kau akan sangat tekejut, tidak semua orang akan sangat terkejut ketika melihat sihirku ini Wen bahkan Raja Kala Dewangga."
"Terserah kau saja Tuan, jujur aku tidak terlalu penasaran dengan sihirmu itu. Aku tidak terlalu tertarik untuk membunuh Raja Kala Dewangga... aku lebih berambisi untuk menghancurkan semuanya dengan robot titan buatanku, akan aku ratakan Negara Garuda... hahahaha..."
"Ambisimu benar benar mengerikan Wen... ayahmu pasti bangga denganmu." Ucap Tuan Ananta tersenyum tipis.
"Ayahku..." Mengingat ayahnya membuat dendam dalam diri Wen semakin membara, ia mengepalkan kedua tangannya erat erat.
"Aku juga pasti akan membalaskan dendam ayah terhadap Negara Garuda." Batin Wen.
"Lalu bagaimana dengan Senja, Tuan Ananta? Bukankah dia juga merupakan ancaman? Dia menguasai sihir kegelapan, entah siapa yang mengajarinya."
"Tenang saja, aku memiliki sekutu yang tepat untuk melawan Senja, kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun... kau cukup lakukan tugasmu di sini, buatlah semua keinginanmu, tunjukan pada Negara Garuda bahwa karyamu yang di remehkan mampu menghancurkan mereka."
***
Di sebuah ruangan sempit 3×4 meter. Duduk dua orang di sana sambil mengopi memandangi pemandangan kota Garuda lewat jendela.
Mereka berdua adalah Raja Kala Dewangga dan Penasetnya bernama Jambulana, Jambulana juga merupakan sahabat masa kecil Raja Kala Dewangga yang sangat ia percaya lebih dari siapapun.
"Bagaimana ini Jambulana? Siapa penyihir yang cocok untuk mengemban misi yang sangat rahasia ini?" Ucap Raja Kala Dewangga.
"Tenangkan dirimu Dewangga, aku akan mencari Penyihir yang dapat di percaya."
Ketika hanya berdua seperti ini Jambulana memang sering memanggil Raja Kala Dewangga tanpa gelar, namun Jambulana tau batasannya ketika bersama orang orang dia akan memanggilnya dengan gelar agar menjaga formalitas seorang Raja.
"Huff.... sangat sulit mencari penyihir yang dapat di percaya, di kerajaan ini aku tidak mempercayai siapapun kecuali dirimu Jambu, bahkan aku tidak mempercayai istriku."
"Samudra, entah dimanapun kamu saat ini ayah rasa kamu masih hidup, mungkin ini yang di namakan ikatan batin ayah dan anak." Ucap Raja Kala Dewangga dalam hatinya..
"Elang pengantar pesan itu, apakah kah kau benar mengirimnya kepada Karna, Dewangga?"
"Tentu saja tidak Jambu, bagaimana pun juga sangat sulit membentuk kedamaian dengan Negara Harimau. Aku tidak mungkin berperang begitu saja melawan mereka tanpa alasan yang jelas... penyihir yang menyerang Niskala, Kerta Sena belum tentu dari Negara Harimau itu bisa saja teknik adu domba."
"Masuk akal, jadi di ruangan rapat itu kau sengaja mengatakan ingin mengirim surat pembatalan perdamaian hanya untuk mengecoh mata mata."
"Benar, instingku mengatakan ada yang tidak beres dengan semua ini. Aku rasa ada pihak yang sengaja mengadu domba kita dan negara Harimau, oleh karena itu aku mengatakan hal itu faktanya aku tidak mengirim pesan apapun pada Karna. Aku yakin sekali, di wilayah Negara Garuda ada penghinat, oleh karena itu kita membutuhkan Penyihir yang jujur untuk menjalankan misi ini!"
"Menurutmu, siapa pihak yang berniat mengadu domba kita dengan Negara Harimau?" Tanya Jambulana.
"Ananta, teman seperguruanku itu.... dia sangat berambisi untuk membunuhku setelah kejadian 20 tahun yang lalu."
"Ananta? Entah mengapa aku merasa pengadu domba itu bukan dia, melainkan seseorang yang berada di istana ini, namun siapa?" Batin Jambulana.
***
Di sebuah goa lembab dan gelap, tubuh Samudra terbaring di batu altar dengan tubuh yang di penuhi dedaunan yang di ramu menjadi obat. Di tempat itu asap tipis beraroma kayu menyelimuti tempat itu hingga menyesakan dada Samudra.
"Hah!" tiba tiba mata kanan Samudra terbuka lebar, sementara mata kirinya masih tertutup, "hufff... cuma mimpi ternyata." Batin Samudra.