Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28--Jatuhnya Kekuasan Senior Sombong
"Mending kita panggil Pak Manajer saja," potong Siska tegas. Ia tidak memedulikan bantahan Andre dan langsung menuju ruang manajer. Ia juga tahu pasti ini akal-akalan senior licik itu.
Andre jadi gemetaran, lalu dia menatap Naufal. Anehnya pria itu terlihat baik-baik saja meski memiliki luka di pipi.
Malahan dia tersenyum. “Mari kita lihat, kak. Kalau kakak main di luar, aku bakal main di dalam.” Dia melepas perbannya dan seketika Andre terkejut.
Gak ada luka sama sekali! Jangan bilang orang ini cuma akting! Sebentar itu artinya kedua bawahan itu dia kalahkan dengan mudah dong, kok bisa. Tidak! Itu gak mungkin! Andre cuma berhalusinasi dan berpikir berlebihan.
Tak butuh waktu lama, Pak Manajer turun dengan wajah serius. "Naufal, Siska bilang kamu kena begal semalam? Kamu tidak apa-apa?"
"Secara fisik lumayan kaget, Pak. Tapi saya punya bukti kuat tentang siapa yang sebenarnya ada di balik kejadian ini," Naufal mengubah auranya. Ketenangan yang mematikan mulai terpancar.
Andre mulai berkeringat dingin. 'Nggak mungkin, mereka pasti nggak seceroboh itu,' pikirnya menenangkan diri.
"Bukti apa?" tanya Pak Manajer heran.
Naufal merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya, dan menekan tombol putar pada sebuah file audio.
## [Suara Rekaman Dimulai]
"Nggak usah banyak gaya, Bocah. Bos kami bilang lo terlalu sombong di toko..."
"Iya Andre yang nyuruh!"
"Bos Andre muak sama kelakuanmu!"
Suara itu bergema jelas di seluruh sudut toko yang mendadak hening seperti kuburan. Siska menutup mulutnya dengan tangan, matanya melotot menatap Andre.
Rengga yang biasanya netral kini mengepalkan tinju. Dia gak terima temannya dibuat kaya gitu.
"A-itu... itu suara palsu! Pak, jangan percaya! Naufal pake aplikasi AI buat tiru suara orang! Dia mau fitnah saya!" Andre berteriak histeris, suaranya melengking karena panik.
Pak Manajer tidak bergeming. Ia menatap Andre dengan pandangan yang sangat dingin, jenis pandangan yang bisa membuat orang kehilangan nafsu makan. "Andre, diam! Naufal, apa ada bukti lain?"
"Ada, Pak," jawab Naufal tenang. Ia melakukan swipe di layar ponselnya. "Saya sudah melakukan peretasan kecil pada history panggilan di sistem internal toko jika Bapak mengizinkan. Tapi, rasanya rekaman ini sudah cukup jika disinkronkan dengan jam absen Kak Andre yang kemarin sore keluar lebih awal tanpa izin."
Naufal maju selangkah ke arah Andre, suaranya merendah namun tajam. "Kak Andre, semalam preman kakak itu saya kasih pelajaran sedikit. Kalau kakak mau tahu, mereka sekarang mungkin lagi sibuk ngumpet karena takut saya lapor polisi. Apa kakak mau saya putar rekaman video saat mereka sujud minta ampun?"
Mendengar kata 'Polisi', lutut Andre lemas. Ia tersungkur menabrak meja etalase Veva hingga menimbulkan suara dentuman keras.
"Andre..." suara Pak Manajer terdengar sangat rendah, pertanda amarah yang memuncak. "Kamu adalah sales senior disini. Tapi kamu mencoba mencederai rekan kerja kamu sendiri hanya karena masalah penjualan? Ini bukan cuma pelanggaran kode etik, ini tindakan kriminal!"
"Pak... tolong, Pak... saya khilaf..." Andre mulai merengek, wajah angkuhnya kini hancur total.
"Aku kecewa sama kamu! Naufal kuambil bukti barusan, aku akan melaporkan ini ke atasan brand HPmu samsa, biar kamu mendapatkan ganjarannya, mereka pasti akan membuat surat PHK.”
Mendengar kata PHK pertahanan Andre jadi runtuh seketika.
"Jangan, Pak! Tolong! Cicilan saya masih banyak, kalau saya kena PHK tidak hormat, saya mau makan apa?!" Andre meraung, nyaris bersimpuh di kaki Pak Manajer. Hilang sudah wibawa senioritas yang selama ini ia bangga-banggakan.
Pak Manajer hanya menepis tangan Andre dengan jijik. "Kamu seharusnya pikirkan itu sebelum mengirim preman untuk mencelakai rekan kerjamu sendiri. Kelakuanmu sudah mencoreng nama baik toko ini!"
Siska yang berdiri di samping Naufal hanya bisa menggelengkan kepala. "Ternyata benar-benar pengecut. Beraninya main belakang, tapi pas ketahuan langsung nangis-nangis."
Naufal menatap Andre yang kini terduduk lemas di lantai marmer toko. Di mata Naufal, panel sistem menunjukkan status mental Andre yang benar-benar hancur.
[Ding!]
[Target: Andre]
[Status: Hancur Total / Mental Breakdown]**
[Reputasi di Industri Gadget: -500 (Ter-blacklist dari seluruh jaringan retail Yogyakarta)]
"Kak Andre," Naufal bicara dengan nada tenang yang justru terasa lebih menyakitkan daripada bentakan.
"Sejak awal aku udah sabar. Aku nggak pernah berniat ganggu posisi kakak. Tapi kakak yang terus-menerus mendorongku ke pojok. Ini bukan soal penjualan lagi, ini soal bagaimana kakak menghargai sesama manusia. Ku Harap setelah ini kakak belajar lagi untuk menghargai sesama manusia.”
Pak Manajer menoleh ke arah Naufal, raut wajahnya melembut. "Naufal, saya minta maaf atas kejadian ini. Saya berjanji akan mengawal kasus ini sampai tuntas. Untuk sementara, karena posisi sales Samsa kosong, saya akan menjadikanmu untuk sementara waktu, kalau kamu bisa menjual Samsa saya kasih bonus tambahan … tapi cuma berlaku sebelum sales Samsa baru masuk ya!”
Rengga langsung menepuk bahu Naufal. "Mantap, Fal! Gue dukung 100%! Lu sekarang megang dua brand! Gacor itu!”
"Terima kasih, Pak. Saya hanya ingin lingkungan kerja yang sehat," jawab Naufal diplomatis.
Andre hanya bisa menunduk, memunguti tasnya dengan tangan gemetar. Ia berjalan keluar pintu toko tanpa berani menatap siapa pun.
Saat ia melewati ambang pintu, langkahnya terhenti sejenak melihat motor Ducati Naufal yang terparkir gagah di depan.
Ia menyadari satu hal pahit: sejak awal, Naufal memang berada di level yang tidak akan pernah bisa ia jangkau.
[Ding!]
[Misi Tersembunyi: 'Keadilan Sang Penguasa Bisnis' Selesai!]
[Hadiah: Saldo +Rp 10.000.000 & Hubungan dengan Pak Manajer Meningkat!]
[Saldo Anda saat ini: Rp 182.000.000]
Setelah suasana toko kembali kondusif, Siska mendekat ke arah Naufal. "Fal, jujur ya... tadi itu akting lo ngeri banget. Pake perban segala, gue beneran panik tahu!"
Naufal tertawa kecil, auranya kembali menjadi Naufal yang ramah. Gila ini cewek. “Aku gak tahu kalau kamu sadar, sejak kapan?”
“Sejak awal dong! Kamu kira kita kenal sejak kapan.”
“Baru tiga bulan sih.”
“Itu sudah lebih cukup buat gue kenal prilaku lo!” Ucapnya sombong. “Dengan begini lo gak diganggu lagi, selamat ya naufal.”
"Kalau nggak gitu, si ular nggak bakal keluar dari sarangnya, Sis. Anggap aja hiburan siang hari."
"Hee... dasar! Tapi serius, lo beneran nggak apa-apa kan lawan dua orang kekar gitu?" tanya Siska sambil memastikan sekali lagi wajah Naufal tidak ada lecet sedikit pun.
"Aman. Mereka cuma besar badan, tapi teknik nol," jawab Naufal santai.
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN