NovelToon NovelToon
CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Langit di atas pemakaman umum itu nampak abu-abu, seolah semesta turut merasakan duka yang menghujam jantung keluarga kecil yang kini tersisa dua orang saja. Wangi kembang kamboja dan tanah basah menyengat indra penciuman Dinda yang sejak tadi tak henti-hentinya luruh dalam tangis. Di depannya, gundukan tanah merah yang masih segar menjadi tempat peristirahatan terakhir Dita, tepat di samping nisan Ayah dan Ibu mereka.

Dinda kembali limbung. Kesadarannya seolah ditarik paksa dari kenyataan pahit ini. "Dita... maafkan Kakak... Kakak gagal menjaga kamu..." rintihnya sebelum matanya memutar ke atas dan tubuhnya ambruk.

Alan, yang sejak tadi berdiri tak jauh di belakang, dengan sigap menangkap tubuh Dinda. Wajahnya nampak kusam, penuh penyesalan yang mendalam. Dialah yang mengurus seluruh proses pemakaman ini, dari biaya ambulans, liang lahat, hingga tenda dan kursi-kursi di pemakaman. Ia mencoba melakukan segala hal yang bisa dibeli dengan uang, berharap itu bisa menebus sedikit saja rasa bersalahnya.

Namun, Dika hanya diam. Remaja itu berdiri mematung di ujung makam, matanya merah namun tak ada air mata yang jatuh—seolah air matanya sudah mengering sejak Dita mengembuskan napas terakhir semalam. Ia membiarkan Alan sibuk kesana-kemari. Ia membiarkan Alan menggendong kakaknya yang pingsan berkali-kali. Diamnya Dika jauh lebih mengerikan daripada teriakan amarah mana pun.

"Dika, biarkan Leo membawa Dinda ke mobil dulu. Udara di sini terlalu panas untuknya," ucap Alan pelan, mencoba membuka percakapan.

Dika tidak menoleh. Ia hanya menatap nisan Dita dengan tatapan kosong. "Lakukan saja apa yang menurutmu benar, Tuan," sahutnya dingin.

***

Setelah para pelayat perlahan meninggalkan area pemakaman, tinggal Dika yang bersimpuh di antara tiga nisan kesayangannya. Alan diperintahkan untuk menunggu di kejauhan bersama Dinda yang masih lemas di dalam mobil.

Dika mengusap nisan kayu ayahnya, lalu beralih ke nisan Dita yang masih basah. "Yah... Bu... maafkan Dika," bisiknya, suaranya pecah di antara hembusan angin sore. "Dika gagal. Dika nggak bisa jaga Dita sampai sembuh. Dan Dika... Dika juga gagal jaga kehormatan Kak Dinda."

Ia menundukkan kepala, dahinya menyentuh tanah makam Dita. "Adik kembar Dika sudah pergi, dan kakak perempuan Dika... dia sudah hancur demi kami. Kenapa harus begini, Yah? Kenapa orang kaya itu harus masuk ke hidup kita dan merusak semuanya?"

Dika mencengkeram rumput di sekitar makam. Amarahnya memuncak, namun ia tahu ledakan amarah tidak akan mengembalikan nyawa adiknya. "Dita... istirahat yang tenang di sana ya, Dek. Jangan khawatir soal Kak Dinda. Abang bersumpah, mulai detik ini, nggak akan ada lagi orang yang bisa nyentuh atau rendahin Kak Dinda. Abang yang akan jadi tamengnya, meski Abang harus mati."

***

Matahari mulai tenggelam, menyisakan semburat jingga yang muram saat Dika melangkah keluar dari area pemakaman. Langkahnya berat, namun sorot matanya kini tajam dan penuh keputusan. Di gerbang, ia melihat mobil sedan mewah Alan masih terparkir.

Alan berdiri di samping mobil, menunggu dengan wajah cemas. Di dalam, Dinda nampak duduk bersandar dengan mata sembab, menatap kosong ke luar jendela.

"Dika, mari masuk. Aku akan antar kalian pulang. Setelah itu, kita bicara soal masa depanmu dan Dinda. Aku sudah menyiapkan rumah yang lebih layak, kau bisa sekolah di mana pun yang kau mau—"

Dika berjalan melewati Alan tanpa menghentikan langkah, seolah Alan hanyalah udara kosong. Ia membuka pintu mobil belakang, tempat Dinda berada.

"Kak... bangun. Kita pulang," ucap Dika lembut namun tegas.

Dinda menoleh pelan, kesadarannya mulai pulih. "Dika... Dita mana? Dita masih di sana sendiri, Dik..."

"Dita sudah tenang sama Ayah dan Ibu, Kak. Ayo, kita pulang ke rumah kita," Dika membantu Dinda keluar dari mobil Alan.

Alan mencoba menahan lengan Dika. "Dika, dengarkan aku dulu! Aku tahu kau marah, tapi pikirkan masa depan kakakmu. Dia butuh perawatan, dia butuh ketenangan. Aku akan menanggung seluruh kehidupan kalian sampai kapan pun sebagai bentuk pertanggungjawabanku!"

Dika berhenti. Ia melepaskan tangan Alan dari lengannya dengan gerakan kasar. Ia menatap Alan tepat di matanya—tatapan seorang laki-laki yang sudah kehilangan segalanya dan tidak lagi memiliki rasa takut.

"Tanggung jawab?" Dika tertawa getir. "Uangmu sudah cukup untuk mengubur adikku dengan mewah, Tuan. Dan uangmu juga sudah cukup untuk menghancurkan harga diri kakakku semalam. Tapi uangmu tidak akan pernah bisa membeli kami lagi."

"Dika, aku mencintai kakakmu!" seru Alan putus asa.

"Cinta?" Dika mendekat, suaranya merendah namun penuh ancaman. "Kalau kamu cinta, kamu nggak akan paksa dia. Kalau kamu cinta, kamu nggak akan jadikan nyawa adikku sebagai bahan transaksi. Kamu cuma monster yang kebetulan punya dompet tebal."

Dika merangkul bahu Dinda yang masih gemetar. "Mulai hari ini, jangan pernah muncul lagi di depan kami. Jangan kirim asistenmu, jangan kirim uangmu, jangan kirim bualanmu tentang pernikahan. Kakakku nggak butuh dinikahi oleh pria yang menganggap kesucian wanita bisa dibayar pakai kuitansi rumah sakit."

"Dika, kamu tidak bisa hidup tanpa bantuanku! Tagihan rumah sakit Dita yang tersisa, biaya hidup kalian—"

"Aku lebih baik mati kelaparan daripada harus makan dari uang hasil air mata kakakku!" potong Dika telak. "Pergi dari sini, Tuan Alan. Jangan paksa aku melakukan hal yang lebih kasar dari sekadar kata-kata. Anggap saja utang kami lunas dengan nyawa Dita yang sudah pergi."

Dika menuntun Dinda berjalan menjauh dari mobil mewah itu, menuju pangkalan ojek di depan TPU. Dinda hanya bisa menangis dalam diam, tangannya mencengkeram erat jaket Dika.

"Dinda! Dika!" Alan berteriak, namun suaranya hilang ditelan deru angin malam. Ia hanya bisa berdiri terpaku, melihat dua sosok rapuh itu menghilang di kegelapan jalanan, menyadari bahwa kekayaannya yang melimpah justru menjadi tembok besar yang memisahkannya dari wanita yang ingin ia miliki.

***

Sesampainya di kontrakan kecil mereka yang kini terasa sangat sepi, Dika mendudukkan Dinda di tempat tidur. Ia mengambil segelas air hangat dan memberikannya pada kakaknya.

"Minum, Kak. Kakak harus kuat," ucap Dika.

Dinda menatap adiknya dengan rasa bersalah yang luar biasa. "Dika... maafin Kakak... kamu pasti benci banget sama Kakak setelah tahu semuanya."

Dika berlutut di depan Dinda, memegang kedua tangan kakaknya. "Kak, dengerin Dika. Aku nggak pernah benci Kakak. Aku cuma benci diri aku sendiri karena nggak berguna. Tapi mulai sekarang, Kakak nggak usah takut lagi. Kita akan pindah dari sini. Kita akan mulai hidup baru tanpa bayang-bayang pria itu."

"Tapi biaya-biaya itu, Dik... uang dari mana?"

"Aku akan kerja, Kak. Apa aja. Kuli, buruh, apapun. Yang penting halal dan bukan dari dia. Kakak istirahat ya? Biar Dika yang jaga Kakak sekarang," Dika mencium punggung tangan Dinda.

Di luar, hujan mulai turun dengan deras, seolah membasuh jejak luka di tanah makam Dita. Namun di dalam hati Dinda dan Dika, luka itu baru saja dimulai—luka tentang kehilangan, pengkhianatan, dan perjuangan untuk kembali tegak di tengah kehancuran.

***

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!