NovelToon NovelToon
PEWARIS NAGA BIRU

PEWARIS NAGA BIRU

Status: tamat
Genre:Anime / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.

Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.

Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Rahasia Kwak Jung

Tiga malam telah berlalu sejak Seol melihat cahaya merah dari puncak tebing. Tiga malam ia berlatih dengan Gu di puncak gunung, mengasah Pedang Bayangan tingkat dua hingga tujuh bayangannya kini bisa bertahan hampir dua puluh detik. Tiga malam ia mengamati bangunan tua di timur, mencatat pola cahaya yang muncul setiap malam pada jam yang sama—tepat setelah tengah malam, bertahan selama satu jam, lalu padam.

Dan malam ini, ia tidak akan hanya mengamati dari kejauhan.

---

Persiapan

Seol berdiri di kamarnya, memeriksa perlengkapannya. Pakaian hitam yang ia pinjam dari Yoon Jae—bukan pakaian khusus untuk penyamaran, tetapi cukup gelap untuk tidak terlihat di malam hari. Ranting kayu yang biasa ia gunakan untuk berlatih, kali ini ia bawa sebagai senjata darurat. Dan Batu Giwa di sakunya, hangat seperti biasa ketika Gu sedang waspada.

“Kau yakin ingin melakukan ini?” suara Gu di kepalanya, tidak lagi sinis, tetapi serius. “Jika kau tertangkap, kau bisa dikeluarkan dari sekte. Atau lebih buruk.”

“Aku harus tahu,” bisik Seol. “Jika Kwak Jung benar-benar menggunakan teknik terlarang, aku harus punya bukti. Jika tidak, tidak ada yang akan percaya padaku.”

“Dan jika ia tidak menggunakan teknik terlarang? Jika cahaya itu hanya latihan biasa?”

“Maka aku akan kembali, dan tidak ada yang rugi.”

Gu terdiam sejenak. “Kau sudah memutuskan. Aku tidak akan menghentikanmu. Tapi hati-hati. Jika ada yang tidak beres, lari. Jangan coba-coba jadi pahlawan.”

Seol mengangguk. Ia membuka pintu kamarnya perlahan, melangkah ke lorong yang gelap.

Yoon Jae sudah menunggu di ujung lorong, wajahnya pucat di bawah cahaya bulan yang masuk melalui jendela. Tangannya gemetar, tetapi matanya menunjukkan tekad yang tidak Seol duga.

“Aku sudah menyiapkan gangguan,” bisik Yoon. “Di area latihan selatan. Aku menyuruh beberapa teman untuk berlatih di sana malam ini. Jika Kwak Jung mendengar suara, ia mungkin akan ke sana dulu sebelum ke tempatnya.”

“Terima kasih,” kata Seol. “Tapi kau tidak harus melakukan ini.”

“Aku tahu. Tapi aku percaya padamu.” Yoon menatap matanya. “Aku sudah lama curiga dengan Kwak Jung. Bukan hanya aku. Banyak dari kami. Tapi tidak ada yang berani melawan. Kau… kau berbeda.”

Seol tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mengangguk, lalu melangkah keluar dari asrama, meninggalkan Yoon di lorong yang gelap.

---

Menuju Bangunan Tua

Bangunan tua di timur terletak sekitar setengah jam berjalan dari asrama murid dalam. Jalannya menurun, melewati hutan cemara yang lebat, melewati sungai kecil yang airnya gelap di malam hari, dan berakhir di sebuah lembah kecil yang tersembunyi di balik tebing batu.

Seol bergerak dengan hati-hati. Ia menggunakan teknik yang diajarkan Gu—menekan qi-nya sekecil mungkin, hampir tidak terdeteksi. Langkahnya ringan, tidak bersuara, seperti bayangan yang meluncur di antara pepohonan.

Setiap beberapa langkah, ia berhenti, mendengarkan. Hanya suara angin dan gemericik sungai. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada napas. Ia sendirian.

Setelah dua puluh menit, ia mencapai tepi lembah. Dari balik semak belukar, ia bisa melihat bangunan itu.

Bangunan itu lebih kecil dari yang ia kira. Hanya sebuah gubuk batu dengan atap kayu yang hampir roboh, terletak di tepi tebing, dikelilingi oleh pepohonan cemara yang dahan-dahannya menutupi hampir seluruh bangunan. Tidak ada cahaya dari dalam. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Tapi Seol tahu. Cahaya merah itu muncul dari sini setiap malam. Dan malam ini, ia akan mencari tahu dari mana asalnya.

Ia menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit.

Tepat ketika ia mulai berpikir bahwa malam ini berbeda, ia melihat sesuatu.

Di balik gubuk itu, ada celah di tebing. Sebuah pintu batu yang hampir tidak terlihat, tersembunyi di balik semak berduri. Dan dari celah itu, cahaya merah mulai memancar—redup pada awalnya, lalu semakin terang, berdenyut dalam ritme yang sama seperti yang ia lihat dari puncak tebing.

“Itu di dalam tebing,” bisik Gu. “Bukan di gubuk. Ada ruang bawah tanah di sana.”

Seol mengamati sekeliling. Tidak ada penjaga. Tidak ada tanda-tanda perangkap. Tapi ia tidak bisa gegabah. Jika Kwak Jung ada di dalam, dan ia masuk tanpa persiapan…

Ia menunggu lagi. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Cahaya merah itu terus berdenyut, tidak berubah intensitasnya.

“Dia mungkin sedang fokus pada ritualnya,” kata Gu. “Ini saat yang tepat.”

Seol menarik napas dalam-dalam. Ia melangkah keluar dari balik semak, bergerak cepat namun hati-hati menuju celah di tebing. Semak berduri itu menusuk bajunya, meninggalkan goresan-goresan kecil di lengannya, tetapi ia tidak berhenti.

Pintu batu itu tidak terkunci. Hanya sebuah lempengan batu yang digeser ke samping, cukup untuk satu orang masuk. Seol menyelinap ke dalam, dan kegelapan menyambutnya.

---

Di Dalam Ruang Bawah Tanah

Ruangan itu lebih besar dari yang ia bayangkan.

Setelah melewati lorong sempit sepanjang sepuluh langkah, Seol tiba di sebuah ruangan berbentuk setengah lingkaran, dengan langit-langit yang menjulang tinggi hingga tidak terlihat dalam kegelapan. Dinding-dindingnya dipenuhi ukiran-ukiran yang sama seperti yang ia lihat di gua leluhur Klan Ryu—ukiran kuno, tetapi dengan gaya yang berbeda. Lebih gelap. Lebih mengerikan.

Di dinding timur, ada ukiran seorang pendekar dengan pedang terhunus, tetapi di belakangnya, bayangan dengan mata merah menyala—bayangan yang tidak terpisahkan dari tubuhnya, seolah menyatu. Di dinding barat, ada ukiran sekelompok orang berlutut di hadapan altar dengan simbol ular dan tengkorak. Dan di dinding utara, tepat di belakang altar batu, ada ukiran yang membuat Seol berhenti bernapas.

Kultus Darah.

Simbol itu—bulan sabit merah dengan tetesan darah di ujungnya—sama persis dengan yang ia lihat di buku-buku sejarah di perpustakaan. Simbol organisasi terlarang yang telah dinyatakan musuh oleh semua sekte orthodoks di Murim. Organisasi yang sama yang telah meracuni Cheonmyeong, yang telah menghancurkan Klan Ryu, yang telah membunuh tetua-tetua klan dalam serangan malam itu.

Seol mengepalkan tangannya. Ia ingin segera keluar, melapor pada kepala instruktur, memberitahu semua orang. Tapi ia menahan diri.

Bukti. Aku butuh bukti.

Ia melihat sekeliling. Di altar batu di tengah ruangan, sebuah bola kristal gelap berdenyut dengan cahaya merah—sumber cahaya yang ia lihat dari kejauhan. Di sekeliling altar, barisan lilin hitam yang sudah setengah terbakar, dengan asap tipis yang masih membubung. Dan di lantai, di depan altar, ada lingkaran darah—darah yang masih basah, masih mengalir dari sumber yang tidak terlihat.

Seol mendekat dengan hati-hati. Ia mengambil sepotong kain dari sakunya—sengaja ia bawa untuk mengambil bukti—dan menyentuh lingkaran darah itu. Kain itu menyerap beberapa tetes, menjadi merah gelap.

Ia melipat kain itu, menyelipkannya di saku. Bukti pertama.

Kemudian ia mendekati altar. Bola kristal itu berdenyut lebih cepat saat ia mendekat, seperti mendeteksi kehadirannya. Seol merasakan sesuatu yang aneh—seperti ada suara berbisik di telinganya, tidak jelas, tetapi mengganggu.

“Jangan sentuh,” peringat Gu. “Benda itu berbahaya. Ada qi iblis di dalamnya.”

Seol mengangguk. Ia tidak menyentuh bola itu. Tapi ia melihat sesuatu di belakangnya—sebuah kitab tua terbuka di atas altar batu kecil di samping bola kristal. Ia mendekat, membaca halaman yang terbuka.

Tulisan itu dalam aksara kuno, tetapi Seol bisa membacanya—setelah berbulan-bulan membaca kitab-kitab kuno di perpustakaan, ia mulai terbiasa.

“Ritual Pengikatan Darah – Tingkat Tiga. Memerlukan darah segar dari pendekar level Hwanung ke atas. Qi iblis akan mengikat diri dengan meridian penerima, meningkatkan kekuatan hingga tiga kali lipat, tetapi secara bertahap menggerogoti kesadaran. Peringatan: setelah tiga bulan, penerima akan kehilangan kendali sepenuhnya dan menjadi boneka iblis.”

Seol merasakan darahnya membeku. Kwak Jung tidak hanya menggunakan teknik terlarang—ia sedang mengubah dirinya menjadi iblis. Dan jika ia sudah mencapai tingkat tiga, ia mungkin sudah kehilangan separuh kendali.

Ia harus melapor. Segera.

Ia melipat kitab itu—tidak bisa membawanya, terlalu besar dan mencolok—tetapi ia mencatat judulnya di kepalanya: Kitab Darah, Jilid Tiga. Bukti kedua.

Ia berbalik untuk keluar.

Dan pada saat itu, ia mendengar suara langkah kaki dari lorong.

---

Hampir Tertangkap

Seol membeku.

Langit-langit ruangan terlalu tinggi untuk disembunyikan. Tidak ada lemari, tidak ada tirai, tidak ada tempat bersembunyi. Hanya altar, bola kristal, dan lilin-lilin hitam.

Langkah kaki itu semakin dekat. Seol bisa mendengar napas—napas berat, teratur, dan ada desisan aneh di setiap hembusannya, seperti suara ular.

“Dia datang,” bisik Gu. “Cepat, ke belakang altar.”

Seol berlari ke belakang altar, merunduk di balik batu besar itu. Altar itu cukup lebar untuk menutupi tubuhnya jika ia memejatkan diri sekecil mungkin. Ia menekan qi-nya hingga hampir tidak ada, menghentikan napasnya, memejamkan mata.

Langkah kaki itu memasuki ruangan.

Seol mendengar suara boots di lantai batu, suara jubah yang berkibar, dan napas—napas yang tidak lagi terdengar seperti napas manusia.

“Siapa di sini?”

Suara Kwak Jung. Tapi berbeda. Lebih dalam, lebih berat, dan ada gema aneh di dalamnya—seperti dua suara berbicara bersamaan.

Seol tidak bergerak. Tidak bernapas.

Kwak Jung berjalan mengelilingi ruangan. Seol bisa mendengar langkahnya mendekati altar, berhenti di sisi lain, hanya beberapa jengkal dari tempat ia bersembunyi.

“Aku merasakan kehadiran asing,” gumam Kwak Jung. “Qi… qi yang tidak biasa.”

Seol merasakan jantungnya berdebar begitu keras hingga ia takut Kwak Jung bisa mendengarnya. Di dalam sakunya, Batu Giwa terasa panas—sangat panas—seperti berusaha melindunginya, tetapi juga berisiko terdeteksi.

“Tenang,” bisik Gu. “Jangan panik. Ia hanya merasakan sisa qi-mu dari tadi. Ia tidak tahu kau masih di sini.”

Kwak Jung berjalan ke altar, mengambil bola kristal itu. Cahaya merahnya memancar lebih terang, dan Seol bisa melihat bayangan Kwak Jung di dinding—bayangan yang tidak normal. Terlalu besar, dengan siluet yang tidak manusiawi, dan di kepalanya, dua tanduk melengkung.

“Mungkin hanya khayalan,” gumam Kwak Jung. “Ritual ini mulai memengaruhiku.”

Ia meletakkan bola kristal itu kembali, berbalik, dan berjalan keluar dari ruangan. Langkah kakinya perlahan menjauh, meredup, dan akhirnya menghilang.

Seol menunggu. Satu menit. Dua menit. Lima menit.

Ia baru berani bernapas setelah ia yakin Kwak Jung tidak akan kembali. Tubuhnya basah oleh keringat dingin, tangannya gemetar, dan di dalam sakunya, Batu Giwa masih terasa hangat—tanda bahwa Gu masih waspada.

“Kau harus pergi,” kata Gu. “Sekarang. Sebelum ia kembali.”

Seol mengangguk. Ia merayap keluar dari balik altar, melangkah dengan hati-hati menuju lorong. Setiap langkah terasa seperti setahun. Setiap desir angin terasa seperti langkah kaki Kwak Jung.

Tapi ia berhasil mencapai pintu batu. Ia menyelinap keluar, melewati semak berduri, dan berlari ke dalam hutan.

Ia tidak berhenti sampai ia mencapai sungai kecil setengah perjalanan dari asrama. Di sana, ia jatuh berlutut di tepi sungai, napasnya tersengal, tubuhnya gemetar hebat.

Ia meraih Batu Giwa di sakunya. Batu itu masih hangat.

“Aku… aku mendapat buktinya,” bisiknya.

“Bagus,” kata Gu. “Tapi kau tidak bisa melapor sekarang.”

“Kenapa?”

“Karena jika kau melapor, Kwak Jung akan tahu ada yang mengintainya. Ia akan menghancurkan semua bukti sebelum penyelidikan dimulai. Dan kau tidak punya cukup bukti untuk meyakinkan kepala instruktur—hanya setetes darah dan catatan dari kitab yang kau lihat sekilas.”

Seol mengepalkan tangannya. Gu benar. Ia tidak punya cukup bukti. Jika ia melapor sekarang, Kwak Jung bisa menyangkal, dan Seol yang akan dihukum karena memasuki area terlarang tanpa izin.

“Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Tunggu. Kumpulkan lebih banyak bukti. Cari tahu kapan ritual berikutnya akan dilakukan. Dan ketika kau punya cukup bukti untuk menjatuhkannya tanpa keraguan… baru kau melapor.”

Seol menghela napas panjang. Ia melihat kain merah di sakunya—darah di lingkaran ritual itu. Bukti pertama.

“Baik,” katanya. “Aku akan menunggu. Tapi tidak terlalu lama. Jika Kwak Jung semakin kuat, ia akan berbahaya bagi semua orang.”

“Setuju. Tapi untuk sekarang, kau harus kembali. Bersihkan dirimu. Dan jangan biarkan siapa pun melihat kain itu.”

Seol berdiri. Ia mencuci tangannya di sungai, menghilangkan sisa-sisa darah yang menempel di kulitnya, lalu berjalan kembali ke asrama dengan langkah pelan.

---

Di Kamar Seol – Dini Hari

Seol menyembunyikan kain itu di balik Batu Giwa, di saku paling dalam bajunya. Tidak ada yang akan mencarinya di sana. Tidak ada yang akan tahu.

Ia berbaring di tempat tidur, matanya terbuka lebar di kegelapan. Pikirannya masih dipenuhi oleh gambar-gambar yang ia lihat di ruang bawah tanah itu. Ukiran-ukiran mengerikan. Bola kristal yang berdenyut. Lingkaran darah yang masih basah. Dan bayangan Kwak Jung di dinding—bayangan dengan tanduk, bayangan yang bukan bayangan manusia.

Ia sudah berubah. Mungkin tidak bisa kembali.

Ia meraih Batu Giwa. Batu itu dingin sekarang, tetapi ada denyut di dalamnya—denyut yang mengatakan bahwa Gu masih terjaga, masih mengawasi.

“Gu,” bisiknya. “Apakah Kwak Jung tahu bahwa aku yang mengintainya?”

“Aku tidak tahu. Ia merasakan kehadiran asing, tetapi tidak bisa mengidentifikasinya. Tapi jika ia mulai curiga padamu…”

“Aku akan lebih berhati-hati.”

“Kau harus. Dan kau harus bersiap. Jika Kwak Jung mengetahui bahwa kau tahu rahasianya, ia tidak akan ragu untuk membunuhmu. Bahkan di depan umum.”

Seol menutup matanya. Ia membayangkan wajah Kwak Jung—senyum tipisnya yang selalu menghiasi bibir, matanya yang sipit, jari-jarinya yang panjang dan ramping. Selama ini ia mengira Kwak Jung hanya sombong, hanya iri dengan bakatnya. Tapi sekarang ia tahu: di balik semua itu, ada sesuatu yang jauh lebih gelap.

“Tidurlah,” kata Gu. “Besok kau akan menghadapi Kwak Jung lagi. Dan kau harus terlihat seperti biasa. Tidak ada yang boleh tahu bahwa kau tahu.”

Seol mengangguk. Ia memejamkan mata, membiarkan kelelahan menguasai tubuhnya.

Tapi di dalam pikirannya, satu pertanyaan terus berputar: Sudah berapa lama Kwak Jung menggunakan teknik ini? Apakah ada orang lain di sekte ini yang tahu? Dan jika tidak… siapa yang memberinya kitab itu?

---

Di Ruang Bawah Tanah – Dini Hari

Kwak Jung berdiri di depan altar, bola kristal di tangannya. Cahaya merah memancar, menerangi wajahnya yang pucat, matanya yang merah gelap.

“Ada yang masuk ke sini,” gumamnya. Ia menunduk, melihat lantai di depan altar. Ada jejak—jejak samar di debu, jejak sepatu yang bukan miliknya.

Ia mengikuti jejak itu ke pintu keluar, lalu kembali ke altar. Jejak itu berhenti di belakang altar—tempat persembunyian yang sempurna.

“Seseorang tahu,” bisiknya. “Seseorang mengintai.”

Ia mengepalkan tangannya. Bola kristal itu berdenyut lebih cepat, cahaya merahnya memancar lebih terang, dan untuk sesaat, ruangan itu terasa seperti neraka.

“Ryu Seol,” katanya, dan nama itu keluar seperti kutukan. “Tidak ada orang lain yang cukup bodoh untuk melakukan ini.”

Ia meletakkan bola kristal itu kembali di altar, berjalan ke dinding, dan menekan salah satu ukiran batu. Dinding itu bergeser, memperlihatkan sebuah ruangan kecil di belakangnya—ruangan yang tidak terlihat dari luar.

Di dalam ruangan itu, ada lemari kayu besar. Kwak Jung membukanya.

Di dalam lemari itu, ada deretan botol-botol kaca berisi cairan merah gelap. Darah. Darah dari para korban ritualnya. Darah yang memberinya kekuatan.

Ia mengambil satu botol, membukanya, dan menyesap cairan itu. Lidahnya terbakar, tetapi ia sudah terbiasa.

“Ryu Seol,” ulangnya, senyum tipis kembali menghiasi bibirnya. “Kau pikir kau bisa mengancamku? Kau pikir dengan sedikit bukti, kau bisa menjatuhkanku?”

Ia menutup botol itu, mengembalikannya ke lemari, dan menutup pintu rahasia itu.

“Kau akan lihat. Aku akan menghancurkanmu sebelum kau sempat membuka mulut.”

Ia tertawa. Tawanya bergema di ruangan kosong itu, bergema di antara ukiran-ukiran mengerikan di dinding, bergema di dalam kegelapan yang tak berujung.

Tawa yang tidak lagi terdengar seperti tawa manusia.

---

1
yos helmi
💪💪💪💪💪😍😍😍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😍😍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
👍👍👍👍🤣🤣💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍
yos helmi
💪💪💪💪👍👍👍
Daryus Effendi
sampah
R.A.N
mana author
Q. Zlatan Ibrahim: halo terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
R.A.N
halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!