seorang wanita cantik turun dari motor merapikan rambut panjang yang sedikit berantakan tertiup angin,lalu ia melangkah menuju fakultasnya,karna melangkah sambil menunduk melihat handphone kakinya tersandung batu, tubuhnya tersentak ke depan Aluna memejamkan mata karna dia yakin tubuh nya sebentar lagi akan mencium tanah, tapi setelah beberapa saat dia tidak merasakan sakit justru dia merasa tubuh nya ada yang menahan, saat Aluna membuka mata pandangan nya berhenti pada sorot mata tajam nan dingin..
penasaran dengan ceritanya? yuk lanjut baca🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen kaka Agustin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
sore itu suasana di kantin rumah sakit tidak begitu ramai, dikatakan sepi juga tidak, sebab masih ada orang yang mengantri membeli makanan, walaupun antrian tidak panjang.
Setelah makan. alfian dan Aluna tidak langsung pergi, mereka duduk santai sejenak menikmati waktu bersama .
"setelah lulus ,apa rencana kamu?" tanya Fian
"rencananya aku akan kerja di perusahaan Daddy KA" jawabnya
"tidak lanjut S2?"tanyanya lagi
Aluna menghela nafas lalu menggeleng sebagai jawaban.
Alfian tersenyum mengerti dan tidak bertanya lebih jauh,
"baiklah, ayo kita kembali ke ruangan eyang Dewi" ajak Fian
"sebentar ka, aku lupa beli makanan untuk mommy" katanya sambil berdiri lalu melangkah menuju STAN cemilan.
Alfian mengikuti dari belakang
"apa saja yang mau di beli" tanyanya berdiri dibelakang tubuh Aluna
Aluna yang mendengar suara berat tepat di belakang telinganya merinding, tubuhnya menegang.
"hm..cemilan ringan, dan rice bowl saja" jawabnya menahan gugup
"biar aku yang pesan rice bowl, kamu beli cemilan" katanya lalu berlalu menuju STAN makanan berat.
Aluna menghela napas lega setelah Alfian pergi ('dia selalu membuat jantungku tidak aman') monolog nya.
Setelah selesai mereka melangkah keluar dari area kantin,
Alfian menenteng 2 kantong keresek besar berisi cemilan dan rice bowl.
Aluna yang melihat itu merasa tidak enak
" KA biar Aluna saja yang bawa" katanya
Alfian tersenyum lembut" tidak apa-apa, hitung2 aku belajar menjadi suami yang pengertian" balasnya santai
wajah Aluna sudah merah, mencoba menutupi salah tingkahnya..
"ba..iklah" jawabnya terbata. Tanpa menoleh ke arah Alfian,
Alfian tersenyum , menikmati kegugupan Aluna.
Baginya kata (baiklah ) yang di ucapkan Aluna sudah cukup membuktikan bahwa Aluna mengiyakan ucapan nya..
......................
Pintu ruang rawat terbuka lebar, Aluna dan Alfian muncul membawa 2 kantong makanan.
Fian meletakan makanan di atas meja, lalu duduk di salah satu kursi,
Semua yang ada di ruangan itu tersenyum bahagia melihat kedekatan ke 2 nya.
Aluna juga ikut duduk lalu merapikan makanan di atas meja, mulai dari rice bowl, sampai cemilan
"kamu beli banyak sekali sayang" ucap Oma
" iya Oma, sengaja biar kita bisa makan bersama" jawabnya sambil tersenyum
"silahkan, om Tante," tawarnya kepada Ammar dan Hera
Ammar tersenyum tipis lalu mengangguk sebagai jawaban
"terimakasih Aluna" ucap Hera tersenyum hangat
"sama-sama Tante" jawabnya
Lalu mereka semua mulai mengambil makanan satu per satu,
Karna eyang Dewi tertidur, Darren pun ikut duduk dan makan bersama,
"mar, kenapa kalian bisa tau kami ada di rumah sakit" tanya Daniel penasaran , sebab dia tidak ada memberi tau sahabat nya .
"Fian yang bilang, tadi siang dia kerumah kalian mengantarkan kue buatan Hera untuk Aluna, tapi pelayan bilang kalian semua sedang ada di rumah sakit karna Tante Dewi kecelakaan' jawab Ammar menjelaskan.
" oh pantas ... Tapi sekali lagi terimakasih sudah datang kemari menjenguk ibu" ucap Daniel tulus..
" santai saja. Kita ini sudah seperti keluarga.. "balasnya tersenyum tipis.
semua orang tersenyum hangat mendengar obrolan itu,
lalu obrolan2 hangat berlanjut, canda tawa mempererat tali silaturahmi antar keluarga mereka .
Lalu pandangan Daniel tertuju ke arah Alfian,
Tiba-tiba Susana berubah hening ketika Daniel menyebut nama Alfian
" Alfian" suara beratnya menambah ketegangan
"iya om" balas Fian tenang,
"apa kamu serius dengan putri om" tanyanya serius, matanya menyorot tajam mata Alfian.
Alfian yang di tatap seperti itu tidak gentar justru dia tersenyum hangat
"iya , aku serius om, bahkan jika om meminta aku menikahinya malam ini pun aku siap" jawaban mantap Alfian membuat semua orang tersenyum,
Kecuali Aluna yang menahan napas ,tubuhnya tegang dan mukanya sudah memerah seperti tomat.
"apa kamu serius" tanyanya lagi
"serius om" jawabnya singkat namun tegas tanpa keraguan.
Daniel menatap Alfian tajam. Mencari kebohongan dimatanya, tapi tidak dia temukan, hanya ada kejujuran.
" jaminan, jika kamu menyakiti putriku" katanya
Seolah sudah menduga pertanyaan ini Alfian hanya tersenyum tipis lalu menjawab tanpa ragu
"nyawaku sendiri" jawabnya mantap
Semua yang ada di ruangan itu terkejut dan menoleh ke arahnya, bahkan eyang Dewi yang sudah terbangun dan mendengar nya. Menutup mulut terkejut, dia bahagia ada lelaki yang mencintai cucunya dengan begitu besar.
Darren tersenyum tipis, ikut bahagia Alfian begitu mencintai adiknya,
Daniel mengangguk puas " baiklah, setelah eyang sehat dan kembali kerumah , kita akan bicarakan lagi " katanya . Lalu semua orang mengangguk setuju.
setelahnya Ammar dan keluarga pamit pulang,
Sebelum melangkah keluar Alfian mendekati Aluna dan mengusap kepalanya lembut" aku pulang dulu" katanya lembut
Aluna yang diperlakukan seperti itu dihadapan keluarga besarnya, merasa sangat malu. tapi dia berusaha menutupinya , " i..ya kak, hati-hati dijalan" balasnya lirih
Alfian hanya mengangguk sebagai jawaban lalu melangkah keluar .
......................
Setelah kepergian Ammar dan keluarganya, Sera dan Kania menghampiri Aluna.
"sayang, mommy mau tanya, apa kamu merasa di paksa" ucap Sera sambil mengelus tangan Aluna lembut
Aluna tersenyum lalu menjawab" tidak mom,"
"syukurlah" ucap Sera lega..
Kani menatap cucunya lekat " lalu apa kamu memiliki perasaan terhadap Alfian" tanya Oma Kania lembut
Aluna menghela napas lalu tersenyum malu" iya Oma" jawabnya
jawaban Aluna mengundang senyum semua orang,
Sebelumnya mereka takut terkesan memaksa Aluna . Tapi kata2 Aluna membuat hati mereka lega ..
Sera lalu memeluk putrinya "kesayangan mommy sudah besar sebentar lagi menjadi istri orang" godanya
"mommy jangan goda Luna" jawabnya malu..
Daniel terkekeh lucu melihat putrinya salah tingkah.
Tiba-tiba terdengar suara lirih eyang Dewi "Aluna, sini nak" panggil nya.
Aluna yang d panggil namanya berdiri melangkah mendekat
"iya eyang, eyang butuh sesuatu?" tanyanya
"tidak sayang, eyang hanya Ingin mengucapakan selamat sama Luna," jawabnya lirih
Aluna tersenyum hangat " terimakasih eyang"
Sera dan kania mendekati brangkar di susul Daniel dan Darren di belakangnya
Sera duduk di sisi lain brangkar" Bu, bagaimana sekarang badan ibu. Apa ada yang sakit" tanyanya khawatir
"tidak nak. Ibu sudah jauh lebih baik.. terimakasih kalian semua jadi repot karna ibu" balasnya
Sera menggeleng " Bu jangan bicara seperti itu. Ibu itu segalanya buat aku, aku tidak merasa repot sama sekali" ucapnya
"iya Dewi, kamu itu keluarga kami" timpal Oma Kania
"iya Bu yang dikatakan mama dan istriku benar, ibu orangtuaku ,keluargaku. Jadi tidak ada kata merepotkan "kata Daniel tegas namun lembut..
Dewi tersenyum haru .lalu mengangguk.
"sudah, lebih baik sekarang ibu istirahat, aku dan mas Daniel akan menemani ibu di sini" ucap Sera kembut
"baiklah" jawab Dewi lirih, karna memang badanya masih lemah, lalu perlahan matanya terpejam.
"mom apa boleh Aluna di sini," ucap Luna
"sayang, malam ini biar mommy dan Daddy, kamu pulang saja dengan Oma.." balas Sera
" iya sayang , kamu juga butuh istirahat, " ucap Oma
Lalu Daniel menoleh ke arah putra nya " Darren kamu pulang saja sekalian dengan Oma dan Aluna" perintahnya.
" baik dad, ayo Oma Luna kita pulang" ajaknya
Setelah berpamitan mereka melangkah keluar menuju parkiran. Diluar rumah sakit sudah mulai sepi.
Malam semakin larut,udara juga semakin dingin lorong2 rumah sakit mulai sepi, menyisakan langkah2 ringan para perawat .
mobil SUV hitam melaju perlahan meninggalkan parkiran rumah sakit,
Menyisakan sunyi yang mulai merayap.
udah baca ceritanya malah berhenti di tengah jalan lagi...
awas aja... 😤😤