NovelToon NovelToon
TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)

Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)

Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )

Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )

Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8 - Sumpah Terakhir

Udara pagi langsung menyambut wajahnya.

Kabut tipis masih menggantung di lereng bukit. Rumput-rumput liar bergerak pelan tertiup angin.

Cang Li masih berdiri di tengah halaman, berkeringat dan terengah-engah, memegang tongkat kayunya seperti seorang pejuang kecil yang belum mau mengaku kalah.

Begitu melihat Ye Chen keluar, wajahnya langsung bersinar.

“Paman!”

Ia berlari kecil mendekat dengan senyum polos yang selalu sama.

Senyum yang selama tujuh tahun terakhir entah berapa kali berhasil membuat hati Ye Chen yang keras melunak.

“Lihat! Aku tadi berhasil ayunkan tongkat tiga puluh kali tanpa jatuh!”

Ye Chen menatapnya lama.

Sampai Cang Li sedikit memiringkan kepala karena bingung.

“Paman?”

Ye Chen berjongkok perlahan agar sejajar dengan tinggi anak itu.

Ia mengangkat tangan dan mengusap rambut Cang Li dengan lembut.

“Kau berlatih dengan baik.”

Nada suaranya tenang dan hangat.

Sangat jarang bagi Ye Chen berbicara sepanjang ini dengan nada selembut itu.

Cang Li langsung tersenyum lebar.

“Benarkah?”

“Mm.”

Ye Chen mengangguk pelan.

“Kalau kau terus berlatih seperti ini... suatu hari nanti kau akan menjadi pendekar yang hebat.”

Mata Cang Li langsung berbinar.

“Sehebat Paman?”

Ye Chen sedikit terdiam.

Lalu senyum tipis yang hampir tak terlihat muncul di sudut bibirnya.

“Mungkin... lebih hebat.”

Jawaban itu membuat Cang Li tertawa kecil dengan wajah puas, lalu tanpa pikir panjang ia langsung memeluk pinggang Ye Chen.

Namun justru terasa begitu berat di hati orang dewasa yang tahu bahwa ini mungkin adalah salah satu pelukan terakhir.

Ye Chen tidak langsung membalas.

Untuk sepersekian detik, tangannya hanya menggantung di udara.

Lalu perlahan, ia meletakkan telapak tangannya di punggung kecil itu.

“Cang Li...” bisiknya pelan.

Anak itu membalas.

“Hm?”

Ye Chen menatap wajah polos itu—wajah yang belum mengetahui apa-apa, wajah yang belum mengenal arti kehilangan.

“Paman harus pergi sekarang.”

Senyum kecil di wajah Cang Li memudar sedikit.

“Pergi?”

Ye Chen mengangguk.

“Ke mana paman?”

Pertanyaan sederhana.

Tapi justru itulah yang paling sulit dijawab.

Ye Chen hanya terdiam.

Matanya sedikit bergeser, seolah mencari jawaban di antara kabut pagi yang tipis.

Namun pada akhirnya, ia tahu—

tidak ada penjelasan yang bisa dimengerti sepenuhnya oleh anak berusia tujuh tahun.

Jadi ia hanya berkata pelan,

“Ke tempat yang jauh.”

Cang Li berkedip.

“Apakah lama paman akan pergi?”

Ye Chen merasakan sesuatu menekan dadanya.

Namun wajahnya tetap tenang.

“Mungkin.”

Anak itu menatapnya beberapa detik.

Lalu menggenggam ujung lengan baju Ye Chen.

“Kalau begitu... kapan Paman pulang?”

Ye Chen tidak menjawab, karena kebohongan terasa kejam, sementara kejujuran jauh lebih kejam, sehingga ia hanya mengusap kepala Cang Li sekali lagi.

“Dengarkan Paman baik-baik.”

Suaranya rendah.

“Kau harus tetap berlatih.”

Cang Li menatapnya tanpa berkedip.

“Kau harus mendengarkan Bibi Ruoxi.”

Anak itu mengangguk kecil.

“Dan apa pun yang terjadi...”

Ye Chen berhenti sejenak.

Matanya meredup, namun suaranya justru semakin tegas.

“...kau harus tumbuh menjadi anak yang kuat.”

Cang Li masih terlalu kecil untuk memahami semua arti kata-kata itu.

Namun entah kenapa, ia bisa merasakan bahwa pagi ini berbeda.

Bahwa ucapan Paman terasa tidak seperti biasanya.

Bahwa ada sesuatu yang tidak bisa ia pahami... tapi membuat hatinya sedikit tidak nyaman.

“Paman...” panggilnya pelan.

Ye Chen langsung berdiri.

Lalu perlahan melepaskan tangan kecil yang masih menggenggam bajunya.

“Jaga dirimu baik-baik.”

Ia berbalik dan melangkah dengan tenang, tanpa terburu-buru namun juga tanpa keraguan.

Setelah beberapa langkah, tanpa menoleh lagi, ia berkata dengan suara rendah yang hampir dibawa angin—

“Paman berjanji...”

Langkahnya berhenti sesaat.

“Kalau suatu hari kau berada dalam bahaya...”

Suara Ye Chen merendah.

Namun justru karena itulah, kalimat itu terdengar seperti sumpah.

“...aku akan datang.”

Cang Li berdiri diam di tempatnya.

Tongkat kayu masih tergenggam di tangannya.

Ia menatap punggung pria itu menjauh.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Semakin jauh.

Semakin kecil.

Hingga akhirnya sosok Ye Chen menghilang di balik pepohonan pinus dan kabut pagi.

Dan untuk pertama kalinya sejak pagi itu dimulai...

Halaman rumah terasa sangat sunyi, sementara Cang Li hanya berdiri tanpa bergerak.

Masih menatap ke arah tempat punggung itu tadi menghilang.

Seolah kalau ia tetap melihat ke sana, mungkin Ye Chen akan muncul lagi.

Namun tidak ada siapa-siapa.

Yang tersisa hanya angin.

Dan rasa hampa kecil yang belum bisa ia beri nama.

Tak lama kemudian, langkah lembut terdengar mendekat dari belakang.

Ye Ruoxi berjalan ke sisinya, lalu berjongkok agar sejajar dengannya.

“Bibi...” suara Cang Li sangat pelan. “Ke mana Paman pergi?”

Ye Ruoxi menatap wajah kecil itu, hatinya terasa perih, namun ia tetap memaksakan senyum lembut.

“Pamanmu pergi untuk membersihkan monster di wilayah selatan.”

Cang Li mengedip pelan.

“Monster?”

“Iya.”

“Berarti... Paman sangat kuat?”

“Iya.”

Matanya menatap ke arah hutan yang sunyi.

Suaranya turun hampir seperti bisikan.

“Dia... sangat kuat.”

Namun dalam hatinya, ia menambahkan sesuatu yang tidak pernah ia ucapkan keras-keras.

Tapi bahkan orang sekuat dia pun... tetap harus pergi demi melindungimu.

Cang Li menatap ke arah jalan setapak yang kosong itu beberapa saat lagi.

Lalu akhirnya, dengan pelan, ia menunduk.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya—

ia mulai mengenal seperti apa rasanya ditinggalkan.

Sementara itu, jauh dari Desa Jianxin yang sunyi, dunia luar masih terus bergerak tanpa menunggu siapa pun.

Di jantung Dinasti Tianjian, berdiri istana kekaisaran yang megah seperti pedang raksasa yang menusuk langit.

Dinding putih giok, pilar emas, atap istana berlapis ubin hijau tua, serta formasi pertahanan yang nyaris tak terlihat menjadikan tempat itu bukan sekadar pusat pemerintahan, melainkan simbol kekuatan salah satu dinasti terkuat di dunia.

Di ruang singgasana utama, suasana terasa hening dan agung.

Barisan pejabat berdiri rapi di kedua sisi aula. Prajurit penjaga istana memegang tombak dengan wajah tanpa ekspresi. Di ujung ruangan, di atas singgasana tinggi berukir naga dan pedang, duduk seorang pria paruh baya dengan aura yang tenang namun menekan.

Dialah Guan Yan, Kaisar Dinasti Tianjian.

Wajahnya tajam, sorot matanya jernih dan penuh wibawa. Ia tidak memancarkan aura meledak-ledak seperti para tiran yang haus perang, namun justru ketenangan itulah yang membuat kehadirannya terasa lebih berbahaya.

Seseorang yang bisa duduk di kursi itu tanpa goyah selama bertahun-tahun... jelas bukan pria biasa.

Seorang prajurit berlutut di tengah aula.

“Baginda,” katanya dengan kepala tertunduk, “ada seseorang berjubah hitam yang memohon audiensi.”

Guan Yan tidak langsung menjawab.

Matanya sedikit menyipit.

“Siapa?”

“Dia menolak menyebut nama. Namun ia berkata bahwa dirinya membawa informasi yang... dapat menentukan masa depan sepuluh dinasti.”

Suasana di ruangan itu sedikit berubah, membuat beberapa pejabat saling pandang. Guan Yan mengetuk lengan singgasananya sekali, pelan dan terukur, lalu mulai berbicara.

“Biarkan dia masuk.”

Pintu aula utama terbuka perlahan.

Langkah kaki yang mantap terdengar bergema di atas lantai batu putih.

Seorang pria berjubah hitam masuk ke dalam aula, kepalanya tertutup tudung gelap. Gerakannya tenang. Tidak terburu-buru. Tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun meski puluhan pasang mata tengah mengawasinya.

Ia berhenti di tengah aula, membuat para penjaga secara refleks tegang, sementara Guan Yan hanya menatapnya tanpa berkedip.

“Angkat tudungmu.”

Suaranya tenang, tapi mengandung perintah mutlak.

Pria berjubah hitam itu mengangkat tangannya.

Lalu perlahan menurunkan tudung kepalanya.

Wajah yang muncul di balik bayangan kain itu membuat beberapa pejabat langsung berubah ekspresi.

Bahkan mata Guan Yan pun sedikit menyempit.

“...Ye Chen?”

Suara Kaisar Tianjian akhirnya terdengar.

Bukan terkejut sepenuhnya.

Tapi cukup untuk menunjukkan bahwa nama itu bukan nama yang seharusnya muncul begitu saja di aula kekaisaran.

Salah satu pejabat tua bahkan langsung menegang.

Karena siapa pun yang mengenal dunia kultivasi pasti pernah mendengar nama itu.

Ye Chen.

Salah satu dari Tujuh Pendekar Pedang Legendaris.

Seseorang yang seharusnya sudah lama menghilang dari panggung dunia.

Guan Yan menatap pria itu beberapa saat sebelum akhirnya bertanya,

“Apa yang membawa orang sepertimu datang ke hadapanku?”

Ye Chen menatap lurus ke arah singgasana.

Tatapannya tenang.

Namun ada sesuatu yang dingin dan serius di balik ketenangan itu.

Sesuatu yang membuat seluruh aula terasa sedikit lebih berat.

“Aku datang bukan sebagai pendekar.”

Suaranya rendah.

“Tapi sebagai seseorang yang telah melihat awal dari bencana.”

Ruangan itu mendadak semakin sunyi.

Ye Chen melanjutkan—

“Aku membawa informasi...”

Ia berhenti sejenak.

Lalu mengangkat pandangan sedikit lebih tajam.

“...yang akan menentukan masa depan seluruh sepuluh dinasti.”

Dan di saat kalimat itu jatuh di tengah aula singgasana, tak seorang pun di sana tahu bahwa sejak detik itu—

roda besar takdir dunia mulai bergerak perlahan.

End Chapter 8

1
KETUA SEKTE
Jelek👍
KETUA SEKTE
👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!