PENGUMUMAN PENTING!
Saya Acep Maulana memohon maaf kepada para pembaca. Karena satu dan novel ini akan saya Remake Total.
Saya sadar masih banyak belajar sebagai pemula, dan saya ingin memberikan karya yang lebih layak untuk kalian baca. Versi baru akan segera hadir dengan judul yang sama namun dengan kualitas tulisan yang jauh lebih baik.
Sampai jumpa di versi terbaru yang lebih bar-bar!
"Sial beneran! Erika, mantan agen rahasia yang energinya tak habis-habis, malah transmigrasi ke dalam novel tragis menjadi Rosalind von Astride, sang Putri Terbuang yang lemah dan sakit-sakitan!
Lebih parahnya lagi, keluarganya adalah kumpulan orang 'Tampan tapi Telmi (Telat Mikir)' yang ditakdirkan hancur total dalam dua tahun. Beruntung, Erika punya Sistem Makan Melon (Gosip) yang bisa membongkar semua rahasia musuh.
Sambil menikmati martabak diskon dari Ruang Sistem, Erika bertekad merombak takdir tragis keluarganya. Tapi masalahnya... radio batin Erika ternyata bocor ke seluruh keluarganya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 Guncangan Batin Sang Adipati
Suasana di dalam paviliun yang semula pengap seolah mendadak membeku. Duke Lyon Wiraatmadja, pria yang dikenal sebagai "Singa Perbatasan" karena ketangguhannya di medan perang, berdiri kaku di tengah ruangan. Jubah bulu hitamnya yang mewah menyapu lantai berdebu, menciptakan pemandangan yang sangat kontras dan menyakitkan.
Matanya yang tajam, yang biasanya sanggup membuat musuh gemetar hanya dengan satu tatapan, kini bergetar hebat. Ia menatap sosok ringkih di atas ranjang kayu yang reot. Rosalind—putri bungsunya yang selama ini ia abaikan karena duka mendalam—tampak lebih menyerupai hantu daripada seorang manusia hidup.
"Rosalind... putriku," suara Lyon berat, pecah oleh penyesalan yang terlambat.
Namun, di saat ia ingin melangkah maju untuk memeluk putrinya, sebuah suara jernih dan lantang mendadak bergema tepat di pusat kesadarannya. Bukan melalui telinga, melainkan langsung menghantam jiwanya.
[(Rosalind):]
[Duh, Ayah ini... kalau dilihat-lihat beneran ganteng banget! Sepertinya usianya masih sekitar awal 40-an tapi auranya kayak aktor papan atas yang sering kulihat di papan iklan Beijing. Gagah, berwibawa, dan punya karisma yang bikin agen rahasia sepertiku pun sedikit terkesan. Tapi kok ya telat mikir banget sih? Kenapa baru datang sekarang saat tubuh ini sudah nyaris jadi kerangka? Apa harus nunggu aku jadi fosil dulu baru mau nengok?"]
Lyon tersentak. Kepalanya tersentak ke belakang seolah baru saja dihantam tinju tak kasat mata. Ia menoleh ke kanan dan kiri dengan gerakan patah-patah yang aneh. Siapa yang bicara?! Siapa yang berani menghinanya di dalam kepalanya sendiri? Ia menatap bibir Rosalind. Tertutup rapat.
Bahkan napas gadis itu sangat pendek dan lemah.
Di sampingnya, Duchess Elena menutup mulut dengan sapu tangan sutranya. Air mata mulai menggenang di matanya yang indah namun redup. Ia melihat kondisi kamar yang lebih buruk dari kandang kuda militer. Debu, bau apak, dan sisa salju yang merembes dari atap yang bocor.
[Kasihan Ayahku ini],"suara itu kembali bergema, kali ini dengan nada sinis yang menyakitkan. ["Dia benar-benar jenderal yang hebat di medan perang, sanggup menebas seribu kepala musuh, tapi buta total di medan politik rumah tangga sendiri. Dia tidak tahu kalau dua tahun lagi dia bakal ditipu mentah-mentah oleh Pangeran ke-3 yang licik itu. Ayah bakal difitnah berkhianat, dicap pemberontak yang haus kekuasaan, bahkan tanda tangan dan cap tangan aslinya bakal disalahgunakan untuk memalsukan bukti di pengadilan kekaisaran. Ayah akan mati tanpa tahu siapa yang sebenarnya menikam punggungnya dari belakang."]
Lyon merasa lututnya melemas. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Pengkhianatan? Pangeran ke-3? Itu adalah sekutu politik terdekatnya! Bagaimana mungkin suara di dalam kepalanya ini tahu tentang detail masa depan yang begitu mengerikan?
Lyon melirik istrinya, Elena. Duchess itu tampak gemetar. Apakah Elena juga mendengarnya?
Elena melangkah maju dengan ragu, tangannya yang pucat terulur ingin menyentuh dahi Rosalind yang panas karena demam. Ia menangis tanpa suara, hatinya hancur melihat putri yang ia lahirkan dengan susah payah kini harus membusuk di tempat seperti ini.
[ (Rosalind):]
["Dan Mama... Mama Elena yang cantik membahana sejagat raya. Mama tidak tahu ya kalau empat bulan lagi Mama akan mulai diracun perlahan-lahan oleh maid pribadi kepercayaan Mama sendiri? Racun bubuk logam yang bikin penyakit 'Paru-Paru Perak'. Kalau tidak diobati sekarang dengan penawar dari sistem—eh, maksudku penawar khusus—dua tahun lagi Mama bakal meninggal dalam penderitaan yang panjang. Mama akan mati sesak napas sementara posisinya diganti sama simpanan licik Papa yang sudah menunggu di tikungan sejak lama. Kasihan, Mama cantik tapi dikelilingi ular berbisa berbaju pelayan."]
"T-Tidak..." Elena berbisik lirih. Tubuhnya limbung. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang gemetar. Maid kepercayaannya? Meracuninya? Elena menatap suaminya dengan pandangan penuh ketakutan. Suara itu begitu meyakinkan, begitu dingin, seolah sedang membacakan surat kematian mereka berdua.
Lyon segera menangkap tubuh istrinya sebelum jatuh ke lantai. Napas sang Adipati kini memburu. Ia menatap Rosalind dengan pandangan horor. Putrinya itu tetap diam, matanya hanya berkedip perlahan, seolah sedang memperhatikan mereka dengan rasa bosan.
[ (Rosalind):]
["Dan yang paling parah, Ayah nggak tahu kalau Kak Evelyn yang bucin akut ke Pangeran ke-3 itu yang bakal kasih 'bukti' pengkhianatan itu tanpa sengaja. Kakak kedua juga ditipu habis-habisan; dia pikir dia sedang membantu pangeran pujaannya naik takhta, padahal dia sedang menyerahkan surat hukuman mati buat ayahnya sendiri. Ujung-ujungnya Ayah mati dipenggal di depan rakyat yang dulu memuja Ayah sebagai pahlawan. Miris banget, asli! Ganteng-ganteng kok nasibnya tragis hanya karena anak sendiri yang kurang asupan kecerdasan."]
Lyon merasa dunianya runtuh. Ia melirik Evelyn yang berdiri di belakang dengan wajah cemas yang dibuat-buat. Evelyn? Putrinya yang ceria itu akan menjadi penyebab kematiannya?
"Rosalind... kau... apa yang terjadi padamu?" Lyon bertanya dengan suara yang sangat pelan, hampir berupa bisikan. Ia merasa seolah privasi pikirannya telah dirampok habis-habisan oleh putrinya sendiri.
Rosalind hanya menatap Ayahnya datar. Di matanya yang tertutup HUD Penglihatan Taktis, ia melihat indikator detak jantung Duke Lyon yang menyentuh angka 140 bpm. Panic attack, batin Erika puas.
[ (Rosalind):]
["Wah, Ayah kenapa pucat begitu? Apa Ayah baru sadar kalau paviliun ini kurang ventilasi? Atau Ayah merasa bersalah karena membiarkan aku makan bubur basi yang dicampur racun penghilang suara oleh Maid esra tadi? Untung aku agen rahasia, kalau tidak, sekarang aku sudah jadi mayat bisu yang hanya bisa melihat kalian berakting sedih di depan liang lahat ku."]
Lyon melepaskan jubah bulunya dan menyampingkannya ke tubuh Rosalind yang kurus kering dengan tangan bergetar. Ia tidak bisa lagi menahan beban informasi ini. Jika suara batin ini benar, maka seluruh keluarganya sedang berada di ambang kehancuran total.
"Panggil tabib kerajaan sekarang juga!" teriak Lyon, suaranya menggelegar ke seluruh paviliun, membuat pelayan-pelayan di luar jatuh berlutut ketakutan. "Bawa semua pelayan di paviliun ini ke penjara bawah tanah! Periksa setiap inci makanan dan obat-obatan yang diberikan pada putriku!"
Elena menangis sejadi-jadinya di dada suaminya. Ia menatap Rosalind dengan tatapan memohon ampun. "Maafkan Mama, Nak... Maafkan Mama..."
Rosalind menutup matanya, berpura-pura pingsan karena kelelahan, padahal di dalam hatinya ia tertawa terpingkal-pingkal bersama Nana.
[(Rosalind):]
["Hahaha! Nana, lihat mereka! Panik sekali seperti semut yang disiram air panas. Baru satu bab saja aku sudah bisa membuat Duke yang perkasa ini gemetar ketakutan. Selamat datang di permainan baru, Ayah. Aku harap jantungmu cukup kuat untuk mendengar hujatan ku selanjutnya!"]
Nana terbang berputar di atas dahi Rosalind , memancarkan cahaya keemasan. "{Nona, kau benar-benar jahat! Tapi aku suka! Ayo, mari kita buat mereka semua sujud memohon ampun padamu!"}
Lyon berdiri tegak kembali, meski matanya masih merah. Ia bersumpah dalam hati, siapa pun yang berani menyentuh Rosalind atau mencoba mewujudkan masa depan mengerikan itu, akan ia tebas dengan tangannya sendiri. Namun, ia juga sadar satu hal: putri bungsunya bukan lagi boneka yang bisa ia abaikan. Dia adalah teka-teki mematikan yang memegang kunci hidup dan mati mereka semua.