"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Labirin Bayang-Bayang
"Arnold, tunggu! Jangan terlalu cepat, aku tidak bisa melihat apa pun di kegelapan ini!"
Suara Airine berbisik dengan nada panik, napasnya tersengal di belakang punggung Arnold yang kokoh. Mereka baru saja melompat ke dalam lorong rahasia di bawah lantai laboratorium, dan kini hanya cahaya senter dari ujung senjata Arnold yang membelah kegelapan pekat. Bau tanah lembap dan besi berkarat menusuk hidung, sangat kontras dengan kemewahan laboratorium di atas tadi.
Arnold berhenti mendadak, membuat Airine menabrak punggungnya. "Sshh... Diam, Airine. Aku mendengar sesuatu di depan. Langkah kaki yang tidak teratur."
"Itu pasti Kakek," Airine mencengkeram ujung rompi taktis Arnold. "Dia menggunakan kursi roda elektrik, tapi di medan seperti ini, dia pasti dibantu oleh seseorang. Arnold, jika kita menemukannya... apa yang akan kamu lakukan?"
Arnold tidak menjawab. Ia mengarahkan senternya ke dinding lorong yang dipenuhi coretan rumus kimia dan sketsa anatomi manusia. "Tergantung apakah dia memilih untuk menyerah atau meledakkan tempat ini bersama kita di dalamnya. Satya, bagaimana status deteksi panas di depan?"
"Lapor, Komandan," suara Satya terdengar melalui earpiece Arnold, sedikit terganggu statis. "Target bergerak menuju sektor penyimpanan limbah kimia. Ada aktivitas gas di sana. Hati-hati, itu area paling tidak stabil di seluruh pulau."
"Sialan," umpat Arnold rendah. Ia menoleh ke arah Airine. "Airine, jika terjadi sesuatu di depan, aku ingin kamu lari kembali ke arah lift. Jangan menoleh. Paham?"
Airine menatap mata Arnold di bawah cahaya rembulan senter. "Tidak. Kita sudah sejauh ini, Arnold. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi monster itu sendirian. Dia kakekku, dia tanggung jawabku juga."
"Ini bukan soal tanggung jawab keluarga, Airine! Ini soal protokol keamanan!" Arnold sedikit meninggikan suaranya, frustrasi. "Dia gila! Dia menganggap nyawa manusia hanya angka dalam eksperimennya!"
"Justru karena itu!" balas Airine dengan bisikan tajam. "Sebagai dokter bedah, aku tahu di mana titik kelemahannya. Kursi roda itu terhubung dengan sistem penopang hidupnya, kan? Aku melihat selang oksigen di belakangnya tadi. Jika kita bisa memutus komunikasinya dengan sistem pusat, dia tidak akan bisa mengaktifkan apa pun."
Arnold terdiam, menimbang kata-kata istrinya. "Kamu bisa melakukannya tanpa membuat sistemnya meledak?"
"Jika aku bisa membedah tumor di dekat batang otak tanpa pasiennya mati, aku bisa mencabut modul komunikasi di kursi roda itu," Airine meyakinkan Arnold, matanya berkilat penuh tekad.
Mereka terus merayap maju hingga lorong itu terbuka menuju sebuah ruangan besar yang dipenuhi tangki-tangki raksasa berisi limbah hijau pekat. Di tengah ruangan, Edward Jane sedang berdiri—ya, berdiri—dengan bantuan eksoskeleton mekanis yang melekat pada kaki dan punggungnya. Ia sedang memasukkan sebuah flashdisk emas ke dalam konsol utama.
"Kek! Berhenti!" teriak Airine, keluar dari bayang-bayang di samping Arnold.
Edward Jane menoleh perlahan, wajahnya tampak lebih pucat di bawah lampu darurat yang remang. "Cucuku sayang... kau selalu tahu cara merusak momen puitis. Aku sedang mengunggah data terakhir ke satelit. Begitu selesai, formula Cobra-9 akan abadi, bahkan jika tubuh tua ini hancur."
"Hancurkan konsolnya, Arnold! Sekarang!" perintah Airine.
Arnold hendak menarik pelatuk, namun Edward mengangkat sebuah detonator kecil. "Satu peluru dari senjatamu, Komandan, dan tangki limbah di belakangku akan menguap. Kau tahu apa yang terjadi jika gas limbah Cobra bercampur dengan udara laut? Seluruh pulau ini akan menjadi awan beracun dalam hitungan detik."
"Kau benar-benar iblis, Edward," desis Arnold, senjatanya tetap membidik namun jarinya tertahan.
"Aku adalah masa depan, Arnold! Ayahmu mengerti itu, kenapa kau tidak?" Edward tertawa parau. "Airine, kemarilah. Ambil flashdisk ini. Jadilah penerusku. Dengan otakmu dan kekuatanku, kita bisa menghapus penyakit dan ketakutan dari dunia ini."
Airine melangkah maju, tangannya gemetar. "Kakek... Kakek ingat saat mengajariku cara menjahit luka pada boneka beruangku dulu? Kakek bilang, dokter adalah tangan Tuhan di bumi."
"Ya, dan sekarang aku sedang melakukan tugas Tuhan yang sebenarnya!" teriak Edward.
Saat Edward lengah karena emosinya, Airine tidak mengambil flashdisk itu. Ia justru menerjang maju dan menusukkan jarum suntik berisi penenang dosis tinggi yang sudah ia siapkan dari tas medisnya tepat ke arah leher Edward.
"ARGH! KURANG AJAR!" Edward mencoba memukul Airine, namun efek obat itu bekerja sangat cepat. Tubuhnya yang ditopang mesin mulai limbung.
"Arnold, konsolnya! Sekarang!" teriak Airine sambil mencoba menahan tubuh kakeknya agar tidak jatuh ke arah tangki limbah.
Arnold menerjang maju, menghantam konsol itu dengan granat EMP kecil untuk menghancurkan data elektronik di dalamnya tanpa memicu ledakan kimia. Percikan listrik besar menyambar, dan layar monitor seketika mati total.
"Data... datanya..." gumam Edward sebelum ia jatuh pingsan di pelukan Airine.
Namun, kemenangan mereka singkat. Suara alarm yang jauh lebih nyaring mulai berbunyi.
"WARNING! SELF-DESTRUCT SEQUENCE ACTIVATED. 180 SECONDS TO TOTAL COLLAPSE."
"Dia memasang sistem mati otomatis jika konsolnya dirusak!" Arnold menyambar tangan Airine. "Ayo pergi! Tinggalkan dia!"
Airine menatap kakeknya yang pingsan. Ada keraguan di matanya, namun ledakan pertama di ujung lorong menyadarkannya. "Kita tidak bisa membawanya, Arnold... mesinnya terlalu berat."
"Memang tidak bisa! Ayo, Airine! Lari!" Arnold menarik Airine dengan paksa saat langit-langit gua mulai retak.
Mereka berlari kembali melalui labirin bayang-bayang, dikejar oleh api dan gemuruh runtuhan.
...****************...