NovelToon NovelToon
Gara-gara Cinta Yang Mendua

Gara-gara Cinta Yang Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.

Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.

Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.

Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

Setiap malam, setelah rumah benar-benar sunyi dan dunia seolah berhenti menuntut apa pun darinya, Sekar duduk di depan laptopnya dengan satu tujuan sederhana, menulis. Awalnya, ia hanya ingin membuang isi kepalanya yang terasa terlalu penuh, terlalu berisik, terlalu menyakitkan untuk dipendam sendirian. Ia tidak memikirkan alur, tidak peduli dengan tata bahasa, bahkan tidak pernah berniat dibaca orang lain. Ia hanya menulis agar bisa bernapas sedikit lebih lega. Namun malam demi malam berlalu, dan tanpa ia sadari, kebiasaan itu berubah menjadi kebutuhan. Jika satu malam saja ia tidak menulis, dadanya terasa sesak, pikirannya kembali kacau, seolah ada sesuatu yang belum selesai dikeluarkan.

Tulisan yang awalnya hanya potongan perasaan perlahan mulai membentuk pola. Tokoh-tokoh muncul, konflik tersusun, dan cerita itu tumbuh menjadi sesuatu yang utuh. Ia memberi judul “Cinta yang Mendua”, meski dalam hatinya ia tahu, ini bukan sekadar cerita tentang cinta: ini tentang kehilangan, pengkhianatan, dan perjuangan seorang ibu yang tidak diizinkan mencintai anaknya secara utuh. Setiap kalimat yang ia tulis terasa terlalu dekat, terlalu nyata. Bahkan terkadang ia harus berhenti di tengah paragraf karena napasnya berubah berat, karena bayangan yang muncul terlalu mirip dengan kenyataan yang ia jalani. Tanpa ia sadari, ia tidak sedang menulis fiksi ia sedang menuliskan dirinya sendiri.

Namun justru di situlah ketakutan itu mulai tumbuh.

Di satu sisi, menulis membuatnya merasa hidup kembali. Ia bisa merasakan emosi, bisa menangis, bisa marah sesuatu yang dulu hilang setelah semua yang terjadi. Tapi di sisi lain, setiap kata yang ia tuangkan terasa seperti membuka rahasia. Ia mulai bertanya-tanya, bagaimana jika seseorang mengenali ceritanya? Bagaimana jika tulisan itu sampai ke tangan yang salah? Bagaimana jika Aji membacanya?

Pikiran itu menghantuinya lebih dari yang ia kira.

Sekar pernah berhenti mengetik di tengah malam, menatap layar dengan jantung berdebar. Ia membayangkan Aji membaca tulisannya, tersenyum sinis, lalu menggunakan setiap kata di dalamnya sebagai senjata. Bukan untuk memahami, tapi untuk menyerangnya. Untuk membuktikan bahwa Sekar “tidak stabil”, “tidak pantas”, atau bahkan “membuka aib keluarga”. Lebih buruk lagi, bagaimana jika itu berdampak pada Sea?

Ia menutup laptopnya malam itu lebih cepat dari biasanya, tangannya gemetar pelan. Untuk beberapa saat, ia benar-benar mempertimbangkan untuk berhenti. Menghapus semuanya. Mengubur cerita itu dalam-dalam, seperti ia dulu mencoba mengubur perasaannya sendiri.

Tapi saat ia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit dalam gelap, satu hal menjadi jelas diam tidak pernah benar-benar menyelamatkannya. Diam justru membuatnya hancur perlahan.

Keesokan malamnya, Sekar kembali duduk di depan laptop. Ia membuka dokumen itu lagi, membaca ulang setiap kalimat yang pernah ia tulis. Rasa takut itu masih ada, bahkan mungkin semakin besar. Tapi kali ini, ada sesuatu yang lain yang ikut tumbuh di dalam dirinya, keberanian kecil yang rapuh, tapi nyata.

“Aku nggak bisa terus takut…” bisiknya pelan.

Dengan napas yang masih belum sepenuhnya tenang, Sekar mulai mengetik lagi. Kata demi kata kembali mengalir, membawa semua luka yang selama ini ia simpan. Ia masih takut, masih ragu, tapi ia memilih untuk tetap menulis. Karena untuk pertama kalinya, ia merasa memiliki sesuatu yang tidak bisa diambil darinya suara.

Dan meski dunia mungkin suatu hari akan mencoba membungkamnya lagi, Sekar tahu satu hal pasti kali ini, ia tidak akan diam.

***

Keesokan harinya, ia datang menemui Lita dengan membawa naskah itu dalam flashdisk kecil. Tangannya terasa dingin, meski cuaca siang itu cukup terik. Saat duduk di hadapan Lita, ia tidak langsung menyerahkannya. Ia hanya memegang benda kecil itu erat, seolah di dalamnya bukan sekadar file, tapi seluruh hidupnya yang terbuka tanpa pelindung.

“Aku butuh kamu baca ini,” ucap Sekar akhirnya, suaranya pelan tapi tegang. Ia meletakkan flashdisk itu di meja, mendorongnya perlahan ke arah Lita. “Dan… aku butuh kamu jujur.”

Lita menatapnya sebentar, lalu mengambil flashdisk itu tanpa banyak tanya. “Aku baca,” jawabnya singkat, tapi matanya sudah menunjukkan keseriusan.

Beberapa hari kemudian, mereka kembali bertemu. Kali ini, Sekar datang dengan perasaan yang jauh lebih gelisah. Ia tidak tahu mana yang lebih ia takuti, kalau tulisannya dianggap tidak layak, atau justru terlalu kuat hingga berbahaya.

Lita duduk di hadapannya dengan naskah yang sudah dicetak, penuh coretan kecil di beberapa bagian. Tapi bukan itu yang membuat Sekar tegang, melainkan cara Lita menatapnya.

“Kar…” Lita memulai pelan, menutup naskah itu dengan hati-hati. “Kamu sadar ini bagus banget?”

Sekar tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap meja. “Aku nggak nanya itu…” gumamnya pelan. “Aku nanya… ini harus maju atau berhenti?”

Lita terdiam sejenak, memahami betul maksud di balik pertanyaan itu. Ini bukan soal kualitas tulisan. Ini soal konsekuensi.

“Ini nyata banget, Li…” lanjut Sekar, suaranya mulai bergetar. “Terlalu nyata. Kalau orang-orang baca… kalau Aji baca…” Ia tidak melanjutkan, tapi keduanya sama-sama tahu ke mana arah ketakutan itu.

Lita menghela napas pelan, lalu menyandarkan tubuhnya sedikit ke depan. “Denger ya,” ucapnya dengan nada yang lebih tegas tapi tetap hangat. “Kamu nggak sendirian di sini.”

Sekar mengangkat pandangannya.

“Aku mau kamu percaya sama aku,” lanjut Lita. “Kalau kamu memutuskan buat maju, kita nggak akan jalan tanpa persiapan.”

“Kita?” Sekar mengulang pelan.

“Iya, kita,” jawab Lita tanpa ragu. “Aku yang akan bantu urus. Dari sisi penerbit, dari penyamaran identitas, sampai ke hal-hal teknis lainnya. Dan yang paling penting…”

Lita berhenti sebentar, memastikan Sekar benar-benar mendengarkan.

“Aku juga akan diskusikan ini sama pengacaramu.”

Sekar langsung terdiam. Ada rasa lega, tapi juga masih tersisa kekhawatiran. “Buat… jaga-jaga?”

Lita mengangguk. “Iya. Kita antisipasi kemungkinan terburuk. Kalau Aji mencoba pakai ini buat menyerang kamu secara hukum, kita sudah siap.”

Ruangan itu hening sejenak. Sekar memproses semuanya—risiko, harapan, ketakutan, dan kemungkinan baru yang terbuka di depannya.

“Aku takut…” akhirnya ia mengaku, jujur tanpa penutup.

“Aku tahu,” jawab Lita lembut. “Tapi takut bukan berarti kamu harus berhenti.”

Sekar menunduk, jemarinya saling menggenggam erat di pangkuannya. Ia memikirkan Sea. Memikirkan semua yang sudah ia lalui. Memikirkan semua yang selama ini ia tahan.

“Aku cuma…” suaranya lirih, hampir pecah, “nggak mau kehilangan Sea lebih jauh lagi.”

Lita menatapnya penuh pengertian. “Dan kamu pikir diam selama ini bikin kamu lebih dekat sama dia?”

Pertanyaan itu menghantam pelan, tapi tepat sasaran.

Sekar tidak menjawab. Tapi kali ini, diamnya berbeda. Bukan kosong—melainkan penuh pertimbangan.

Lita kemudian mendorong naskah itu kembali ke arah Sekar. “Ini bukan cuma cerita, Kar. Ini suara kamu. Dan suara itu… layak didengar.”

Sekar menatap naskahnya lama. Lama sekali. Di tangannya, itu terlihat seperti kumpulan kertas biasa. Tapi ia tahu, itu jauh lebih dari itu. Itu adalah luka, cinta, kehilangan, dan dirinya sendiri yang selama ini tersembunyi.

Perlahan, ia menarik napas dalam. Untuk pertama kalinya, pilihan itu terasa nyata di tangannya bukan lagi antara takut atau tidak, tapi antara diam… atau hidup.

1
Uthie
Duhhhhh...susah banget sihhh buat mereka bersatu nya 😭😭😭
Uthie
masih konflik soal Anak 😌
Uthie
Duhhhhh... konflik nya masih aja terus di urusan "Sea" melulu dehhhh.....
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤

Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦‍♀️🤣
Uthie
si Sekar emang nyeyel sihhh di kasih Tauin sama ibunya berulang kali selalu gak ada mau dengar nya 😤😡😡😡
Uthie
Sekar terlalu lembek.. gak bisa tegas 😤😡
Uthie
mantan kurang ajar itu 😡
Uthie
Ahhhhh.... Sekar-Sekar... kalau mahhhh kau akan masuk dalam lubang kehidupan di keluarga Toxic itu lagiii 😤😡
Uthie
Yaaa... Damar malah menjauh ☹️
Uthie
Yeayyyy

.Damar 🤩🤗
Uthie
Cieee😁
Uthie
cinta yg sejati kadang hadir bukan dr cover yg terlihat bagus di awal 👍😁
Uthie
semoga jodoh 👍😁🤗
Uthie
Bagusssss 👍👍👍👍
Uthie
Bagussss Sekar 👍😡
THAILAND GAERI
maaf Thor...aq nyesel baca novel,,Sekar bodoh ga ketulungan,,ga ada greget nya sedikit pun terlalu monoton..maaf ,,tp ini ide othor sendiri..selamat menulis novelnya
THAILAND GAERI
ni Sekar JD org kok goblok banget ya...lawan kek maki kek,,mana ada org diinjak diam aja..
Uthie
semoga si Aji nyesel dibuat nyesel melepas istri sebaik Sekar👍😡
Uthie
Langsung sukkkaa cerita genre Pengkhianatan yg selalu menarik disimak 👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
kasian nya 😢
Uthie
dasar laki-laki yg bisa nya cuma mencari kebenaran untuk dirinya aja 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!