Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Dari Atas ke Tanah
Layar ponselku yang menampilkan pesan misterius itu perlahan meredup, lalu mati, menyisakan pantulan wajahku yang tampak kacau di atas layarnya.
Hawa lembap kedai yang hanya diterangi dua batang lilin ini terasa semakin mencekik. Arka sedang berjuang mati-matian dari bawah. Kalimat itu terus berdengung di telingaku, beradu dengan ucapan beracun Clara beberapa jam yang lalu.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan panik dari arah pintu kaca kedaiku yang gelap.
Aku terlonjak kaget, nyaris menyenggol kardus di depanku. Dengan langkah gemetar, aku mendekati pintu dan mengintip dari celah tirai. Bahuku merosot lega. Itu Revan. Cowok itu mengenakan jaket hoodie hitam yang ditarik hingga menutupi kepala, matanya melirik waspada ke jalanan yang sepi sebelum aku membukakan pintu untuknya.
Begitu masuk, Revan langsung mengunci kembali pintunya. Napasnya memburu. Wajahnya yang biasa jenaka kini tampak kuyu dan dipenuhi keringat dingin.
"Van? Lo ngapain malam-malam ke sini?" tanyaku bingung.
Revan tidak langsung menjawab. Ia menatap tumpukan kardus berisi barang-barang Nenek di lantai, lalu menatap wajahku yang sembab. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Gue baru aja balik dari Jakarta Timur, Nja," suara Revan terdengar serak dan bergetar. "Gue... gue habis nengokin Arka."
Jantungku seolah berhenti berdetak mendengar nama itu. Aku refleks maju selangkah, mencengkeram lengan jaket Revan. "Arka? Clara bilang dia di kontrakan kumuh... dia jadi buruh... itu bohong kan, Van? Clara cuma mau nakutin gue kan?!"
Pertanyaanku meluncur bertubi-tubi dengan nada putus asa, berharap Revan akan tertawa dan bilang bahwa bosnya sedang menginap di hotel bintang lima.
Tapi Revan menggeleng pelan. Matanya berkaca-kaca menatapku. "Clara nggak bohong, Nja."
Lututku lemas seketika. Revan buru-buru menahan sikuku, membantuku duduk di kursi bar.
"Arka nyewa kontrakan sempit di gang padat dekat gudang logistik," cerita Revan pelan, setiap kata yang keluar dari mulutnya bagaikan jarum yang menusuk ulu hatiku. "Nggak ada AC, Nja. Nggak ada kasur. Dia tidur di atas tikar plastik tipis. Dan... dia beneran kerja jadi buruh angkut balok kayu sejak subuh tadi."
Aku menutup mulutku dengan kedua tangan. Air mataku kembali tumpah. Pria berpayung hitamku... Pangeran dari lantai 60 itu...
"Tadi sore gue bawain dia laptop bekas pakai duit gue," lanjut Revan. "Waktu gue sampai sana, dia lagi makan nasi rames bungkus lima belas ribuan di lantai semen. Nja... tangannya gemetar pas nyuap nasi. Telapak tangan yang biasa pegang pulpen emas itu sekarang penuh lecet, melepuh, dan berdarah karena serpihan kayu balok."
Isak tangisku pecah. Aku menunduk, menyembunyikan wajahku di lipatan lenganku di atas meja bar. Rasa bersalah yang luar biasa masif menimpaku hingga rasanya aku ingin mati saja. Aku telah menghancurkan hidupnya. Aku telah menarik pria itu jatuh ke dasar bumi.
"Gue udah bilang ke dia, Nja! Gue mohon-mohon suruh dia balik aja, minta maaf ke bokapnya, tapi dia nolak!" Revan ikut terduduk di kursi sebelahku, suaranya dipenuhi rasa frustrasi. "Lo tahu dia ngapain pakai laptop bekas itu? Dia lagi retas server pribadi Pak Hendra! Dia lagi nyari bukti aliran dana korupsi bokapnya buat manipulasi izin pembongkaran kedai lo!"
Aku mendongak, mataku membelalak menembus air mata. "Retas server? Arka gila?! Kalau ketahuan, dia bisa dipenjara, Van!"
"Dia emang udah gila gara-gara lo, Senja!" balas Revan tegas.
Revan kemudian mencondongkan tubuhnya, wajahnya pias. "Tapi yang paling parah... tadi habis magrib, bokapnya berhasil lacak posisi dia. Pak Handoko dateng bawa bodyguard ke kontrakan itu waktu gue masih di sana. Gue sembunyi di kamar mandi, jadi gue denger semuanya."
Napas Revan tersengal, ia menelan ludah sebelum melanjutkan.
"Pak Handoko nampar Arka keras banget, Nja. Bokapnya ngasih ultimatum terakhir. Besok pagi, jam sembilan teng, Pak Handoko bakal tanda tangan kontrak merger sama keluarga Wibowo. Kalau Arka mau dimaafin dan nggak di-blacklist dari seluruh perusahaan di Indonesia... Arka harus datang ke kantor pakai jas rapi, dan sujud minta maaf di depan Clara."
Duniaku kembali berputar. Jam sembilan pagi besok. Jam yang sama dengan jadwal eksekusi penghancuran kedaiku yang disebutkan Clara sore tadi. Ini adalah taktik mematikan dari Handoko: memaksa Arka menyerah tepat saat duniaku diratakan dengan tanah.
"Arka pasti hancur banget, Van..." bisikku ngilu.
"Nggak," potong Revan cepat. "Itu yang bikin gue merinding, Nja. Habis ditampar dan diinjak-injak harga dirinya, Arka nggak nangis atau mohon ampun. Dia malah senyum."
Aku mengernyit, bingung. "Senyum?"
"Iya. Arka bilang ke bokapnya, 'Jam sembilan pagi besok ya, Pa? Oke. Kita lihat siapa yang bakal minta maaf,'" Revan menirukan ucapan Arka dengan merinding. "Arka nemuin datanya, Nja! Dia dapet bukti korupsi itu. Arka bukan lagi sembunyi buat nyerah, dia lagi bangun menara baru dari bawah tanah buat ngehancurin bokapnya besok pagi!"
Kata-kata Revan menyentak kesadaranku. Pikiranku langsung terhubung dengan pesan misterius di ponselku.
Kadang, cara menghancurkan raksasa bukan dengan pedang, tapi dengan cahaya yang membuat mereka buta.
Tiba-tiba, segala ketakutan dan rasa bersalah yang menggerogotiku menguap. Digantikan oleh sebuah gelombang keberanian yang panas dan menggebu. Arka sedang bertarung berdarah-darah untukku di luar sana. Pria itu menahan lapar, menahan lecet di tangannya, dan menahan tamparan ayahnya.
Bagaimana mungkin aku meringkuk menangis dan mengemasi barang-barangku di sini?!
Aku bangkit berdiri. Dengan tangan yang tak lagi gemetar, aku berjalan menuju kardus mie instan di tengah ruangan. Aku meraih lakban yang baru saja menempel di sana, lalu merobeknya dengan kasar. Aku mengeluarkan kembali foto-foto Nenek dan meletakkannya kembali ke atas meja bar.
"Lo ngapain, Nja?" tanya Revan bingung melihat perubahan drastisku.
Aku menatap Revan dengan sorot mata yang menyala di bawah temaram cahaya lilin.
"Buka handphone lo, Van. Telepon Nisa, telepon anak-anak agensi yang biasa meeting di sini, telepon semua pelanggan tetap yang lo kenal. Sebar pesan ke grup komunitas kopi se-Jakarta," perintahku tegas.
"Hah? Buat apa malam-malam begini?!"
"Undang mereka datang ke Kedai Kala Senja besok pagi jam delapan. Suruh mereka bawa handphone, bawa kamera, live di TikTok, di Instagram, di mana pun," ucapku dengan napas memburu.
Aku menatap pintu kaca kedaiku yang tertutup stiker segel. "Kalau Handoko Danadyaksa dan Clara mau meratakan tempat ini jam sembilan pagi besok, mereka nggak akan ngelakuinnya dalam diam. Mereka harus ngelakuinnya di depan ratusan pasang mata yang menyorot mereka. Kita bikin tameng manusia, Van. Kita tahan alat berat itu sampai Arka datang bawa bukti kemenangannya."
Revan mematung sejenak, sebelum akhirnya sebuah senyum lebar perlahan mengembang di wajah lelahnya. Ia mengeluarkan ponselnya dengan semangat yang kembali menyala.
Malam ini, aku berhenti menjadi korban yang menunggu diselamatkan. Jika Arka sedang merakit bom dari bawah tanah untuk meledakkan menara kaca ayahnya, maka aku yang akan memastikan percikan apinya menyala dari tanah ini.
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍