NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:544
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Petunjuk Darah dan Tanah Kubur

Malam itu, rumah sakit terasa seperti penjara. Aisyah duduk di tepi ranjangnya, matanya tidak pernah lepas dari pintu ruangan. Sejak Rafiq datang, sejak ia mendengar kata-kata itu, ia tidak bisa tidur.

Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat wajah Rafiq dengan senyum dinginnya. Setiap kali ia mencoba bernapas lega, ia mendengar bisikan itu.

"Anak yang kau kandung sekarang akan menggantikan anakku."

Tangannya bergerak otomatis ke perutnya. Masih rata. Belum ada tanda-tanda. Dokter baru mengonfirmasi kemarin, setelah kecelakaan itu. Empat minggu. Masih terlalu kecil. Tapi Rafiq tahu. Rafiq tahu sebelum ia sendiri tahu.

Bagaimana?

Pintu ruangan terbuka. Aisyah tersentak, dadanya berdebar kencang. Tapi hanya perawat malam yang masuk dengan troli berisi obat-obatan.

"Bu Aisyah, sudah waktunya minum obat."

Aisyah mengangguk lemas. Ia menelan pil-pil yang diberikan tanpa bertanya. Matanya kembali ke pintu.

"Pasien di sebelah sudah sadar, Bu," kata perawat itu sambil tersenyum ramah. "Bapak Tono sudah bisa diajak bicara. Tadi malam beliau terbangun."

Aisyah tidak menunggu perawat itu selesai bicara. Ia langsung turun dari ranjang, kakinya masih terasa lemas, tapi ia memaksakan diri berjalan ke ranjang sebelah. Tirai pemisah ia singkirkan dengan tangan gemetar.

Tono terbaring di sana. Matanya terbuka. Ia menatap langit-langit rumah sakit dengan tatapan kosong. Wajahnya masih pucat, bibir kering pecah-pecah. Selang oksigen masih menempel di hidungnya. Tapi ia sadar. Ia sadar.

"Ton..." Aisyah meraih tangan Tono. Tangannya dingin, sangat dingin.

Tono tidak menoleh. Matanya tetap terpaku pada langit-langit.

"Ton, kamu dengar aku? Aku di sini. Aisyah. Aku di sini."

Perlahan, Tono menggerakkan kepalanya. Matanya yang kosong itu beralih ke wajah Aisyah. Dan untuk sesaat, Aisyah melihat sesuatu di mata Tono. Bukan kelegaan.

Bukan kebahagiaan karena sadar. Tapi ketakutan. Ketakutan yang begitu dalam, begitu pekat, seperti orang yang baru saja melihat neraka dengan mata kepalanya sendiri.

"Aisyah..." suara Tono keluar parau, nyaris tidak terdengar. "Dia... dia datang ke sini. Aku melihatnya. Di mimpiku. Tapi bukan mimpi. Dia nyata. Dia berdiri di samping ranjangku. Menatapku. Tersenyum."

Aisyah menggigit bibirnya. "Rafiq. Aku tahu. Dia juga datang ke sini. Kemarin pagi."

Tono menggeleng pelan. "Bukan kemarin. Tadi malam. Sementara aku tidak sadar. Aku melihatnya. Dia berdiri di sana, di ujung ranjangku. Matanya... matanya tidak seperti manusia, Ay. Matanya kosong. Kosong sekali."

"Dan di dahinya... ada tulisan. Tulisan hitam. Tiga huruf. Aku tidak bisa membaca apa tulisannya, tapi aku merasakannya. Panas. Panas sekali, seperti ada api di sana."

Aisyah merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia menoleh ke ujung ranjang Tono. Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Tapi bayangan itu... bayangan itu seolah masih ada. Seolah baru saja pergi.

"Aku takut, Ay," bisik Tono. Matanya mulai berkaca-kaca. "Aku tidak pernah takut seperti ini. Bukan karena dia. Tapi karena apa yang ada di dalam dirinya. Ada sesuatu di dalam Rafiq sekarang. Sesuatu yang bukan dia. Sesuatu yang gelap. Dan sesuatu itu... sesuatu itu ingin menghancurkan kita."

Aisyah memegang tangan Tono lebih erat. Ia tidak tahu harus berkata apa. Rafiq yang dulu sudah tidak ada. Yang tinggal hanya cangkang kosong yang diisi oleh sesuatu yang tidak mereka kenal. Sesuatu yang haus akan balas dendam.

Dan di luar jendela rumah sakit, di balik kaca yang gelap, asap hitam tipis melintas. Bukan angin. Bukan bayangan. Ia melintas pelan, seperti sedang mengawasi, seperti sedang menikmati ketakutan yang ia ciptakan.

---

Di rumah Pak RT Bambang, malam itu juga terasa berbeda.

Sejak pingsan di teras masjid, Pak Bambang tidak bisa tenang. Ia pulang setelah sholat Maghrib, dituntun oleh Ustad Salim. Istrinya, Bu RT, menyambut dengan wajah khawatir.

Tapi Pak Bambang tidak banyak bicara. Ia hanya duduk di ruang tamu, menatap kosong ke arah televisi yang tidak ia nyalakan.

"Pak, Bapak sakit? Mau saya buatkan teh anget?" tawar istrinya.

Pak Bambang hanya menggeleng.

"Mau saya panggilkan ustaz? Atau mau ke dokter?"

"Tidak," jawabnya singkat.

Istrinya tidak berani memaksa. Ia hanya duduk di samping suaminya, sesekali menatap wajah Pak Bambang yang pucat dengan keringat dingin membasahi dahi.

Malam tiba. Pak Bambang memutuskan untuk tidur lebih awal. Mungkin dengan tidur, pikirannya akan tenang. Mungkin dengan tidur, bayangan mata kosong itu akan hilang.

Ia berbaring di ranjang, memejamkan mata. Istrinya di sampingnya sudah mulai mendengkur pelan. Rumah terasa sunyi. Hanya suara jangkrik dari luar yang sesekali terdengar.

Tapi Pak Bambang tidak bisa tidur.

Ada sesuatu di udara. Dingin. Dingin yang tidak biasa. Dingin yang membuat bulu-bulu di tangannya berdiri. Ia membuka matanya, menatap langit-langit kamar.

Tidak ada apa-apa. Hanya plafon putih yang mulai menguning karena usia. Ia menutup matanya lagi. Dan kemudian ia merasakannya. Ada yang menatapnya.

Ia membuka mata dengan cepat. Kamar gelap. Istrinya masih tidur di sampingnya. Tapi di sudut ruangan, di tempat yang paling gelap di antara lemari dan dinding, ia melihat sesuatu.

Dua titik merah.

Kecil. Redup. Tapi jelas. Dua titik merah yang menyala di tengah gelap.

Pak Bambang duduk dengan napas tersengal. Ia mengucek matanya. Titik merah itu hilang.

Hanya kegelapan.

Hanya halusinasi. Hanya karena aku kelelahan.

Ia berbaring lagi. Menutup matanya rapat-rapat. Berusaha mengatur napas.

Dan kemudian ia mendengarnya.

Bisikan.

Bisikan yang datang dari dalam dinding. Dari balik lemari. Dari bawah ranjang. Dari segala arah sekaligus. Bisikan yang tidak jelas kata-katanya, tapi ia bisa merasakan isinya. Kemarahan. Sakit hati. Dan satu nama yang terus berulang dalam pikirannya.

Rafiq. Rafiq. Rafiq

Pak Bambang membuka matanya dengan napas tersengal. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Baju tidurnya basah menempel di kulit. Ia menoleh ke samping. Istrinya masih tidur. Tidak mendengar apa-apa.

Ia bangkit dari ranjang, kakinya gemetar. Ia berjalan ke jendela, membukanya lebar-lebar. Udara malam masuk, tapi tidak menghilangkan dingin yang ia rasakan. Dingin itu ada di dalam dirinya. Dingin yang tidak bisa diusir oleh angin.

Ia menatap ke luar jendela. Halaman rumahnya gelap. Pepohonan bergoyang pelan. Tapi di balik pohon rambutan di halaman depan, ia melihat bayangan.

Bayangan hitam. Tinggi. Kurus. Dengan dua titik merah di tempat yang seharusnya menjadi mata. Bayangan itu menatapnya.

Pak Bambang ingin berteriak, tapi suaranya tidak keluar. Ia ingin berlari, tapi kakinya tidak bergerak. Ia hanya bisa berdiri di depan jendela, membeku, dengan jantung yang berdegup kencang dan keringat dingin yang terus mengalir.

Bayangan itu tidak bergerak. Tidak mendekat. Tidak menjauh. Ia hanya berdiri di sana, menatap. Menikmati ketakutan yang merayap di tubuh Pak Bambang.

Dan kemudian, dengan suara yang tidak keluar dari mulut, tapi langsung terdengar di dalam kepalanya, bayangan itu berbisik.

"Kau mengambil sesuatu darinya. Sekarang gilirannya mengambil sesuatu darimu."

Pak Bambang jatuh berlutut di lantai. Air matanya mengalir. Ia tidak tahu harus berdoa kepada siapa. Kepada Allah? Tapi ia tahu ia telah berbuat salah. Ia telah memfitnah. Ia telah bekerja sama dengan Tono untuk menjatuhkan Rafiq. Ia telah mengambil uang dari laporan keuangan masjid sebelum menuduh Rafiq.

Dan sekarang, balasannya datang.

"Maaf... maaf..." bisiknya dengan suara terputus-putus. "Aku salah... aku mengaku salah..."

Tapi bayangan itu sudah tidak ada. Yang tersisa hanya kegelapan dan ketakutan yang akan terus menghantuinya setiap malam, setiap saat, sampai ia membayar apa yang telah ia ambil.

---

Di rumah kecil di pinggir desa, Rafiq duduk bersila di ruang tamu. Lilin menyala di depannya, api kecil yang tidak bergerak. Kemeja hitam yang ia kenakan basah oleh keringat, meskipun malam itu dingin.

Ia telah bermeditasi sejak Maghrib. Matanya terpejam. Pikirannya kosong. Ia memanggil. Memanggil kekuatan yang telah memberinya stempel di dahi. Memanggil penguasa kegelapan yang telah menerimanya sebagai milik.

Dan setelah berjam-jam, setelah kesadarannya tenggelam dalam lautan gelap yang tidak bertepi, ia mendapatkan jawaban.

Bukan dengan suara. Bukan dengan kata-kata. Tapi dengan penglihatan.

Penglihatan yang muncul di dalam pikirannya seperti film yang diputar di layar gelap.

Ia melihat kuburan. Kuburan kecil dengan gundukan tanah basah. Kuburan Fatih.

Ia melihat dirinya sendiri berdiri di depan kuburan itu, dengan sekop di tangan. Ia menggali. Menggali tanah yang basah. Menggali hingga mencapai peti mati putih kecil. Ia membuka peti. Fatih terbaring di sana, pucat, dingin, dengan mata terpejam.

Tapi Fatih tidak sendirian. Di sekeliling jasad kecil itu, ada sesuatu yang bergerak. Bayangan-bayangan hitam yang mengalir di atas tubuh Fatih, masuk ke dalam mulutnya, masuk ke dalam matanya, masuk ke dalam dadanya yang tidak lagi bergerak.

Dan kemudian, penglihatan itu berubah.

Rafiq melihat kuburan lagi. Tapi kali ini ia tidak menggali. Ia berlutut di samping kuburan, menekan telapak tangannya ke tanah basah. Ia merasakan air merembes di sela-sela jarinya. Air dari dalam kubur. Air yang bercampur dengan tanah. Air yang telah menyentuh jasad anaknya.

Ia melihat dirinya mengumpulkan air itu. Memasukkannya ke dalam kendi tanah liat. Tanah kuburan itu juga ia ambil, segenggam, ia masukkan ke dalam kantong kain hitam.

Dan kemudian penglihatan itu berubah lagi. Rafiq melihat dirinya berdiri di suatu tempat yang tidak ia kenali. Ruangan gelap. Lantai tanah. Di tengah ruangan, ada lingkaran.

Lingkaran yang sama seperti di rumah Mbah Jaya. Tapi kali ini, lingkaran itu tidak dibuat dari abu jenazah. Ia dibuat dari sesuatu yang lain. Sesuatu yang merah. Sesuatu yang masih hangat. Sesuatu yang mengalir.

Darah.

Dan di dalam lingkaran itu, tujuh titik. Tujuh titik yang berdenyut. Tujuh kehidupan yang belum lahir. Tujuh janin dalam kandungan. Empat bulan. Usia di mana ruh ditiupkan. Usia di mana kehidupan dimulai. Usia yang sempurna untuk diambil.

Rafiq membuka matanya dengan napas tersengal.

Tubuhnya basah oleh keringat. Kemeja hitamnya basah menempel di punggung. Tiga huruf di dahinya menyala terang, memanaskan kulitnya seperti api yang tidak pernah padam.

Ia menunduk, menatap telapak tangannya yang kosong. Tapi di dalam pikirannya, ia masih melihat gambar-gambar itu. Masih jelas. Masih segar. Seolah-olah gambar-gambar itu bukan sekadar penglihatan, tapi instruksi. Perintah. Tugas yang harus ia selesaikan.

"Tanah kubur anakku," bisiknya. "Air dari dalam kuburnya."

Ia mengangkat kepalanya. Matanya menatap lilin di depannya yang masih menyala dengan api kecil yang tidak bergerak.

"Dan darah tujuh bayi dalam kandungan. Empat bulan."

Ia tersenyum. Senyum yang lebar. Senyum yang gelap. Senyum yang tidak lagi memiliki sisa-sisa kemanusiaan yang tersisa.

"Tujuh bayi," ulangnya. "Tujuh nyawa untuk satu nyawa. Harga yang pantas."

Ia berdiri. Kaki yang semula duduk bersila selama berjam-jam terasa kaku, tapi ia tidak merasakan apa-apa. Ia berjalan ke luar rumah, ke halaman belakang.

Pohon beringin tua berdiri di sana, menjulang di bawah sinar bulan yang redup. Di antara dahan-dahannya, bayangan-bayangan hitam bergerak. Mata-mata merah berkelap-kelip di antara dedaunan.

Rafiq menatap mereka. Mereka menatap balik.

Bayangan-bayangan itu bergerak. Mereka turun dari pohon, mengalir seperti asap hitam, berkumpul di depan Rafiq. Mereka tidak berbicara. Tapi Rafiq mengerti.

Mereka akan menunggu. Mereka akan membantu. Karena mereka juga ingin. Ingin merasakan nyawa-nyawa baru yang akan menjadi korban. Ingin menikmati pesta yang akan segera dimulai.

Rafiq berbalik, kembali ke dalam rumah. Ia mengambil ponselnya, menekan nomor yang sudah beberapa kali ia hubungi akhir-akhir ini.

"Hendri. Aku butuh informasi. Ada rumah sakit bersalin di kota itu. Atau klinik kandungan. Cari tahu. Dokter siapa yang menangani pasien hamil. Pasien mana yang sedang hamil empat bulan. Aku butuh daftarnya."

Ia menutup telepon. Matanya menatap ponsel di tangannya, lalu menatap keluar jendela ke arah kegelapan yang menanti.

"Tujuh bayi," bisiknya sekali lagi. "Tujuh nyawa. Dan setelah itu, Fatih akan kembali."

Ia tersenyum. Senyum yang sama. Senyum yang tidak akan pernah lagi ia kenakan ketika berdiri di mimbar masjid. Senyum yang gelap. Senyum yang dingin. Senyum yang sudah menjadi milik kegelapan sepenuhnya.

1
La Rue
Sensasi horornya benar² terasa. Tapi aku suka,karena gaya penulisan yang khas dari Sang Penulis. Semoga banyak yang mampir karena ceritanya bagus dan jarang typo 👍
La Rue: sama-sama
total 2 replies
La Rue
Waduh makin seram tapi semakin penasaran 😱🤭
La Rue
seram tapi penasaran 😱🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!