Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Kekalahan Dimas
Bel panjang berbunyi nyaring, bergema memantul di dinding-dinding koridor Fakultas Ekonomi dan Bisnis, menandakan berakhirnya seluruh rangkaian penyiksaan akademis hari itu. Bagi sebagian besar mahasiswa, suara itu adalah melodi pembebasan yang paling dinanti. Namun bagi beberapa jiwa yang terperangkap dalam jaring laba-laba asmara yang rumit di kelas Pengantar Manajemen sore itu, bel tersebut hanyalah tanda jeda dari sebuah perang dingin yang melelahkan.
Di barisan tengah, Anandara Arunika adalah orang pertama yang berdiri. Gadis itu membereskan buku-buku dan laptopnya ke dalam tas jinjing dengan gerakan mekanis yang sangat cepat, nyaris terburu-buru. Wajah pualamnya tetap disetel dalam mode Nyonya Es yang tak tertembus, seolah kejadian di kantin tadi siang saat ia melarikan diri ke atap gedung tidak pernah terjadi.
"Gue duluan ya, Sin. Pak Yanto udah standby di depan gerbang dari tadi," pamit Anandara dengan suara datar, tidak memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk menahannya.
Sinta, yang masih sibuk memasukkan tempat pensilnya, mendongak. "Loh, nggak mau nongkrong dulu bentar di taman kampus, Nan? Rehan sama Reza katanya mau mabar (main bareng) Mobile Legends bentar."
"Nggak, kepala gue pusing. Gue mau langsung istirahat," tolak Anandara tegas. Tanpa menoleh lagi ke arah belakang kelas, tanpa melirik sekilas pun pada sosok pemuda bermata elang yang diam-diam memperhatikannya, Anandara melangkah keluar dari pintu kelas, menghilang seperti hantu yang melarikan diri dari terangnya hari.
Sinta menghela napas maklum, sudah terbiasa dengan sifat moody sahabatnya. Bidadari ceria itu lalu menyampirkan tasnya, membalikkan badan, dan pandangannya langsung bertabrakan dengan Angga Raditya yang sedang berjalan santai menuruni tangga kelas bersama Dimas.
Seketika, senyum paling cerah dan manis merekah di wajah Sinta. Lesung pipinya terbentuk sempurna.
"Angga! Dimas! Balik sekarang?" sapa Sinta riang, suaranya dipenuhi oleh melodi kebahagiaan yang tak berusaha ia sembunyikan.
Angga mengangguk pelan, memberikan sebuah senyum tipis yang sopan. "Iya, Sin. Langsung balik."
"Hati-hati di jalan ya! Nanti malam jangan lupa balas chat gue soal pembagian tugas Pak Anton!" pesan Sinta dengan nada setengah menggoda, tangannya melambai kecil.
"Oke," jawab Angga singkat, sebelum melanjutkan langkahnya melewati pintu kelas.
Di belakang Angga, Dimas berjalan dalam kebisuan yang mematikan. Pemuda berkacamata itu menatap Sinta sekilas. Ia melihat binar mata Sinta yang begitu terang, binar mata seorang gadis yang sedang jatuh cinta sedalam-dalamnya dan merasa cintanya bersambut. Dada Dimas terasa seperti ditikam oleh sebilah pisau es. Ia mengangguk kaku pada Sinta sebagai bentuk pamitan, lalu bergegas menyusul Angga, membawa serta beban rahasia yang semakin hari semakin mencekik lehernya.
Langit sore kota Bandung mulai menitikkan rintik-rintik hujan saat Angga dan Dimas tiba di Cafe Nostalgia, tempat nongkrong favorit mereka berdua yang terletak tidak jauh dari area kampus. Kafe berkonsep vintage industrial ini selalu menjadi tempat pelarian mereka. Aroma biji kopi robusta yang digiling kasar berpadu dengan wangi kayu pinus basah dari luar, menciptakan atmosfer yang sangat menenangkan bagi mereka yang ingin menepi dari kebisingan.
Mereka memilih tempat duduk di sudut kafe, di sebuah booth dengan sofa kulit berwarna cokelat tua yang langsung menghadap ke jalanan lewat dinding kaca yang lebar. Rintik hujan mulai mengetuk-ngetuk kaca, menciptakan garis-garis air yang mengaburkan pemandangan lalu lintas sore yang padat.
Seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka. Secangkir Americano es untuk Angga, dan segelas V60 manual brew panas untuk Dimas.
Sejak berangkat dari kampus hingga kopi mereka disajikan, nyaris tidak ada obrolan yang berarti di antara keduanya. Angga sibuk menatap jalanan yang basah dengan tatapan kosong dan rahang yang mengeras, pikirannya jelas masih melayang membedah teka-teki penolakan Anandara. Sementara itu, Dimas duduk dengan tenang, meniup uap kopinya perlahan, namun otaknya sedang menyusun sebuah konfrontasi yang tak bisa lagi ia tunda.
Dimas adalah seorang pengamat yang sabar. Ia terbiasa duduk di kursi penonton, menganalisa pergerakan bidak catur kehidupan orang-orang di sekitarnya. Namun kali ini, papan catur itu melibatkan nyawa dan hati dari gadis yang paling ia cintai di dunia ini. Sinta sedang berjalan riang menuju medan perang tanpa tameng, dan Dimas tidak sanggup lagi hanya menjadi penonton bisu yang melihat Sinta dijadikan pion dalam permainan ego dua manusia keras kepala.
Dimas meletakkan cangkir kopinya ke atas tatakan kayu dengan bunyi klak yang cukup keras, sengaja memecah keheningan yang melingkupi meja mereka.
Ia membenarkan letak kacamatanya dengan jari telunjuk. Mata elangnya yang biasanya tersembunyi di balik lensa frame hitam itu kini menajam, menatap lurus menembus topeng ketenangan sahabatnya.
"Lo gak niat manfaatin Sinta kan?"
Pertanyaan itu meluncur tanpa basa-basi, datar, dingin, namun memiliki daya ledak setara bom waktu. Kalimat itu memotong udara di atas meja mereka bagai silet yang baru diasah, tak menyisakan ruang untuk menghindar.
Gerakan tangan Angga yang hendak mengambil gelas Americano-nya terhenti di udara. Pemuda itu terdiam sejenak. Otot-otot di rahangnya menegang. Ia perlahan menarik tangannya kembali dan memutar kepalanya, menatap Dimas dengan dahi berkerut tajam.
"Maksud lo?" tanya Angga balik, suara baritonnya merendah, memancarkan aura defensif yang sangat kuat. Ia mencoba mencari tahu seberapa banyak yang sebenarnya dibaca oleh temannya yang pendiam ini.
Dimas tidak berkedip. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menumpukan kedua lengannya di atas meja. Tatapan Dimas tidak menyiratkan permusuhan, melainkan sebuah teguran keras dari seorang pria kepada pria lainnya.
"Nggak usah pura-pura bodoh, Ngga. Kita berdua tahu persis apa maksud gue," Dimas memulai serangannya dengan nada suara yang terkontrol, namun intonasinya sarat akan kekecewaan.
"Ya aneh aja," lanjut Dimas, membedah fakta-fakta yang ia kumpulkan selama beberapa hari terakhir. "Padahal lo kayak yang nggak niat sama Sinta dari awal masuk kuliah. Lo selalu pasif, lo jaga jarak, dan lo bahkan sempat ngerasa terganggu waktu Sinta terlalu antusias ngedeketin lo di awal semester. Tapi sekarang? Tiba-tiba aja lo jadi dekat kayak gitu. Lo balas chat dia dengan cepat, lo ngebiarin dia duduk di sebelah lo, lo senyum ke dia, dan lo biarin dia ngasih perhatian lebih ke elo di depan umum."
Dimas memberikan jeda, membiarkan kata-katanya meresap ke dalam otak Angga. Hati Dimas sendiri berdarah saat ia harus menyebutkan fakta-fakta kedekatan itu, namun ia menelannya bulat-bulat demi kebenaran.
"Kasian, Ngga," desis Dimas pelan, namun kata 'kasian' itu diucapkan dengan penekanan yang luar biasa menyayat hati. "Kasian kalau lo cuma mainin hati cewek yang bener-bener tergila-gila sama lo. Sinta itu tulus. Dia nggak punya hidden agenda (niat tersembunyi). Dia ngasih hatinya ke elo tanpa sisa. Kalau lo cuma pakai dia buat mancing reaksi orang lain, atau buat ngalihin rasa sakit lo karena ditolak... lo itu cowok paling brengsek yang pernah gue kenal."
Kata-kata Dimas bagaikan tamparan keras yang mendarat telak di wajah Angga.
Suasana di booth kafe itu mendadak terasa mencekik. Hujan di luar turun semakin deras, seirama dengan badai emosi yang sedang berkecamuk di dalam sana.
Angga memejamkan matanya rapat-rapat selama beberapa detik, menghela napas panjang yang terdengar sangat berat dan penuh beban. Di dalam dadanya, rasa bersalah dan harga diri yang terluka saling bertabrakan dengan hebat.
Apa yang dikatakan Dimas adalah sebuah pukulan telak yang mengenai ulu hatinya. Jauh di lubuk kesadarannya yang paling dalam, Angga tahu bahwa sebagian dari dirinya memang sengaja membiarkan Sinta mendekat sebagai bentuk pelarian. Ia hancur oleh penolakan brutal Anandara. Ego dan harga dirinya sebagai laki-laki diinjak-injak oleh gadis yang ia cintai. Dan di saat ia jatuh dalam keputusasaan itu, Sinta hadir menawarkan plester kehangatan. Sinta menawarkan validasi yang ia butuhkan. Sinta menyukainya.
Namun, dituduh sengaja mempermainkan hati Sinta adalah sesuatu yang melukai prinsip Angga. Ia bukanlah seorang bajingan.
Angga membuka matanya kembali, menatap Dimas dengan raut wajah yang serius dan sorot mata yang menuntut pengertian.
"Gue nggak ada niat buat nyakitin dia, Dim," jawab Angga tegas, suara baritonnya sedikit bergetar oleh emosi yang tertahan. Tangannya mengepal di atas paha.
"Gue tahu Sinta itu cewek yang baik. Sangat baik," lanjut Angga, matanya menerawang sekilas ke arah rintik hujan di kaca jendela, membayangkan tawa ceria Sinta. "Dia udah ngerawat gue, dia peduli sama gue. Di saat orang lain... di saat Nanda buang gue kayak sampah dan lebih milih mati daripada nerima tangan gue, Sinta ada di sana nawarin kehangatan."
Angga menelan ludah, dadanya terasa sesak saat menyebut nama Nanda. Ia kembali menatap Dimas dengan sorot mata yang memancarkan keputusasaan seorang pria yang sedang mencoba menyembuhkan lukanya sendiri.
"Gue cuma nyoba buka hati gue, Dim," ucap Angga, sebuah pengakuan yang jujur namun terdengar sangat menyedihkan. "Kalau Nanda emang sebenci itu sama gue, kalau tembok es dia emang nggak bisa dihancurin dan gue cuma bakal terus-terusan diinjak kalau gue maksa masuk... apa salahnya gue coba move on? Apa salahnya gue coba ngerespons orang yang jelas-jelas ngehargain gue?"
Angga menghela napas kasar, mengacak rambutnya dengan frustrasi. "Walaupun ini cuma tahap mencoba, tapi bukan berarti gue mainin dia juga kali. Gue lagi belajar buat nerima Sinta. Gue lagi berusaha buat ngebunuh perasaan gue ke Nanda dan ngasih kesempatan buat Sinta. Gue nggak se-brengsek yang lo pikirin."
Jawaban Angga yang panjang dan dipenuhi oleh rasionalisasi pertahanan diri itu menggantung di udara, bercampur dengan aroma kopi robusta yang mulai mendingin.
Di seberang meja, Dimas mendengarkan setiap patah kata yang diucapkan oleh sahabatnya itu tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun. Pemuda berkacamata itu duduk bersandar, menatap Angga dengan tatapan yang sangat datar, kosong, namun menembus hingga ke kedalaman jiwa yang paling pekat.
Di dalam dada Dimas, sebuah keheningan yang luar biasa mengerikan tercipta. Keheningan pasca-ledakan.
Jawaban Angga tidak membuat Dimas merasa lega. Sebaliknya, jawaban itu justru mengonfirmasi ketakutan terbesarnya, sekaligus menyadarkan Dimas pada sebuah realita yang sangat kejam.
Gue cuma nyoba buka hati gue. Kalimat itu terngiang-ngiang di telinga Dimas, mengiris nuraninya menjadi serpihan-serpihan kecil yang berdarah.
Dimas tahu persis apa artinya itu. Angga tidak mencintai Sinta. Angga hanya menjadikan Sinta sebagai pelampiasan, sebagai obat penawar luka, sebagai proyek percobaan untuk melupakan Anandara. Angga sedang berusaha memaksakan sebuah perasaan yang tidak ada. Dan yang paling menyayat hati adalah... meskipun Angga tidak berniat jahat, meskipun Angga sedang berusaha mencoba, pada akhirnya, probabilitas kegagalannya sangat tinggi.
Jika kelak Angga gagal mencintai Sinta—karena bayang-bayang mata hitam legam Anandara terlalu kuat untuk dihapus—Sinta akan menjadi korban yang paling hancur. Gadis itu akan ditinggalkan setelah ia memberikan seluruh hatinya.
Namun di sisi lain, Dimas juga melihat keputusasaan di mata Angga. Angga tidak tahu bahwa Anandara memendam perasaan yang sama. Angga benar-benar mengira dirinya ditolak karena dibenci. Angga hanyalah seorang korban dari kebohongan dan sandiwara pengorbanan yang dimainkan oleh Nyonya Es itu.
Semua orang di dalam lingkaran ini adalah korban. Dan Dimas terjebak di tengah-tengahnya, memegang kunci kebenaran yang tidak bisa ia gunakan.
Jika Dimas membongkar rahasia Anandara sekarang, memberi tahu Angga bahwa Nanda berbohong demi Sinta, maka Angga pasti akan kembali mengejar Nanda. Dan Sinta... Sinta akan hancur lebur mengetahui cinta pertamanya hanya menjadikannya alat, dan sahabat terbaiknya telah membohonginya. Sinta akan kehilangan cinta dan persahabatannya sekaligus. Dimas lebih baik mati daripada melihat Sinta hancur sehina itu.
Tetapi jika Dimas diam dan membiarkan Angga melanjutkan tahap 'mencoba' ini... ia harus menyaksikan gadis yang ia cintai memeluk sebuah ilusi, sementara ia sendiri membusuk dalam cinta yang tak pernah terucap.
Ini adalah kekalahan mutlak. Sebuah skakmat tanpa sisa dari semesta. Dimas telah kalah sebelum ia sempat melangkah di atas papan catur. Tidak ada satu pun skenario yang akan menyelamatkan Sinta dari rasa sakit, dan tidak ada satu pun skenario di mana Dimas bisa memenangkan hati gadis itu.
Ia hanyalah seorang tokoh figuran yang dikutuk untuk memiliki empati berlebih. Seorang pelindung dalam bayangan yang tak memiliki kuasa untuk mencegah badai.
Pemuda berkacamata itu menundukkan wajahnya menatap gelas kopinya yang sudah tidak lagi mengepulkan uap panas. Rasa nyeri yang luar biasa hebat meremas jantungnya, sebuah rasa sakit yang tak berdarah namun membunuh perlahan-lahan. Ia menelan seluruh kepahitan cintanya sendiri. Ia menelan seluruh ego laki-lakinya.
Dimas perlahan mengangkat wajahnya. Ia menatap Angga yang masih menunggu responsnya dengan wajah tegang.
Terserah lo lah, batin Dimas merintih pedih, sebuah kalimat penyerahan diri tanpa syarat. Suaranya di dalam hati terdengar sangat lelah, putus asa, dan kosong. Gue udah nggak punya hak buat ngelarang lo. Lo sama Nanda sama-sama bodoh. Lo berdua adalah arsitek dari kehancuran kita semua. Terusin aja sandiwara lo. Terusin aja acara 'mencoba' lo itu. Biar waktu yang ngebuktiin seberapa lama lo bisa bohongin diri lo sendiri, Ngga.
Dimas tidak mengucapkan kalimat batinnya itu keras-keras. Mulutnya terkunci rapat. Ia hanya kembali menggelengkan kepalanya dengan sangat lambat. Sebuah gelengan yang bukan berarti tidak setuju, melainkan sebuah gelengan keputusasaan yang absolut.
Sebuah senyum sinis yang getir dan menyayat hati tersungging di bibir Dimas. Ia mengangkat gelas kopinya, menyesap cairan hitam pahit itu seolah-olah itu adalah racun yang dengan sukarela ia telan untuk meredam rasa sakit di dadanya.
"Ya udah," ucap Dimas akhirnya, suaranya terdengar sangat datar, hampa, dan tak berjiwa. Ia membuang pandangannya kembali ke arah rintik hujan di luar jendela. "Kalau emang itu keputusan lo, gue cuma bisa berharap lo nggak main-main sama kata 'mencoba' itu. Jangan sampai lo bikin Sinta nangis. Karena kalau itu terjadi..." Dimas tak melanjutkan kalimat ancamannya. Ia tahu, ancaman apa pun tidak akan ada artinya di hadapan takdir yang sudah sedemikian kacau.
Angga menghela napas lega, mengira Dimas akhirnya bisa memahami posisinya. Ia menyedot es kopinya, merasa sedikit beban di bahunya terangkat. Namun, jauh di lubuk hatinya, Angga tahu bahwa perkataan Dimas telah menanamkan sebuah keraguan baru. Ia sedang menipu dirinya sendiri, dan ia tidak tahu sampai kapan ia sanggup memakai topeng kepalsuan ini di depan gadis sebaik Sinta.
Sore itu, di Cafe Nostalgia yang diguyur hujan deras, dua pemuda itu duduk berhadapan dalam kebisuan yang panjang. Mereka menyeruput kopi mereka masing-masing, tersesat dalam labirin pikiran mereka sendiri.
Angga yang sedang mencoba membunuh cintanya pada Anandara dengan cara yang salah. Dan Dimas... yang baru saja menelan pil kekalahan terbesarnya, memakamkan cintanya pada Sinta di bawah nisan persahabatan, menyadari bahwa kadang kala, cinta sejati bukanlah tentang memiliki, melainkan tentang keberanian untuk merelakan diri hancur demi melindungi senyum orang yang paling disayangi, meski itu berarti membiarkannya berbahagia dalam sebuah ilusi.
pengamat Senja_