NovelToon NovelToon
Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MrRabbit_

Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.

Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DUA

Sore hari tepat pukul lima, matahari perlahan turun ke peraduannya, meninggalkan langit berwarna jingga keunguan. Nurlia mengayuh sepedanya dengan santai. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian berdiri dan berjalan mondar-mandir melayani tamu. Namun, beban di pundaknya terasa sedikit lebih ringan karena hari kerjanya sudah usai.

Sesampainya di depan rumah kayu kecil itu, suasana terlihat berbeda. Tidak ada suara dengungan kulkas atau kipas angin yang biasanya terdengar. Rumah itu terlihat gelap dan sunyi. Nurlia menghela napas panjang. Ternyata benar, listriknya sudah diputus. Tagihan bulan ini memang belum sempat dibayar karena uangnya harus dipakai untuk keperluan sekolah Adelia dan kebutuhan sehari-hari yang tak habis-habisnya.

"Assalamualaikum..." seru Nurlia sambil mendorong pintu dan memarkirkan sepedanya di teras.

"Waalaikumsalam, Kak!" jawab Adelia dari dalam.

Nurlia masuk ke dalam ruang tengah yang mulai remang-remang. Segera dia mengambil beberapa batang lilin yang sudah disiapkan dan menyalakannya. Nyala api kecil itu perlahan menerangi ruangan, memantulkan bayangan-bayangan panjang di dinding. Suasana jadi terasa teduh, meski sedikit pengap karena tidak ada angin dari kipas.

"Maaf ya, Del. Listriknya belum nyala. Kita pakai lilin dulu malam ini ya," kata Nurlia lembut sambil meletakkan lilin di meja makan.

"Nggak apa-apa kok, Kak. Udah biasa juga," jawab Adelia dengan nada santai, walau sebenarnya dia juga berharap bisa menyalakan TV atau charger HP. "Kakak capek nggak?"

"Paling capek dikit, tapi Alhamdulillah kuat," Nurlia tersenyum, lalu matanya berbinar saat mengingat sesuatu. "Eh, lihat nih! Kakak bawa oleh-oleh dari resto."

Nurlia membuka kantong plastik besar yang dia bawa. Di dalamnya terdapat beberapa wadah makanan yang masih tertutup rapat. Itu bukanlah sisa makanan bekas pelanggan, melainkan makanan lebih yang tidak terjual atau hasil masakan berlebih saat prep siang tadi. Pak Hartono memang baik hati, mengizinkan karyawan membawa pulang sisa makanan yang masih layak dan bersih untuk dimakan.

"Wah, apa ini Kak?" tanya Adelia penasaran, mendekatkan wajahnya ke arah cahaya lilin.

Saat Nurlia membuka salah satu wadah, tercium aroma gurih yang langsung memenuhi ruangan.

"Ayam goreng! Kesukaan kamu kan?" seru Nurlia.

Mata Adelia langsung berbinar-binar, rasa kantuk dan bosan karena listrik mati langsung hilang seketika. "Masha Allah, enak banget kayaknya! Makasih ya, Kak! Aku lagi lapar lho!" seru gadis itu kegirangan.

"Iya, sama-sama. Ini masih bagus kok, bersih. Tadi sore baru dimasak, cuma kebetulan nggak ada yang pesen jadi dibungkusin sama Mbak Diah di dapur," jelas Nurlia.

Mereka berdua kemudian duduk bersila di atas karpet kecil di depan meja, ditemani cahaya lilin yang berkedip-kedip lembut. Nurlia juga mengeluarkan nasi putih hangat dan sayur sop yang dia bawa pula.

Meskipun makan malam ini sederhana, diterangi cahaya lilin tanpa listrik, dan makanannya adalah sisa dari restoran, tapi bagi mereka berdua, ini adalah hidangan kerajaan. Suara denting sendok dan tawa kecil mereka berdua bercampur menjadi satu, menghangatkan suasana rumah kecil yang sederhana itu.

Suasana makan malam mereka sungguh hangat, meski hanya diterangi oleh cahaya lilin yang temaram. Aroma ayam goreng yang gurih bercampur dengan wangi nasi putih hangat membuat perut mereka yang keroncongan seketika merasa damai.

"Enak banget, Kak! Ayamnya empuk banget, bumbunya meresap sampai ke tulang," puji Adelia sambil mengunyah dengan lahap. Tangannya cekatan memisahkan daging dari tulang, wajahnya berseri-seri menikmati setiap suapan.

"Iya kan? Makanya tadi Kakak minta dibungkusin khusus buat kamu. Tahu aja kamu suka yang kayak gini," jawab Nurlia sambil tersenyum lebar. Ia ikut menyendok nasi dan sayur sop ke mulutnya. Rasa lelah setelah seharian bekerja seakan sirna begitu saja melihat adiknya makan dengan nikmat seperti itu.

Mereka makan dengan santai, sesekali berhenti untuk mengobrol atau bercanda.

"Heh, Del! Jangan makan sambil ngeles-ngeles gitu dong, nanti keselek lho," tegur Nurlia sambil menahan tawa melihat Adelia yang sedang menggerakkan kakinya naik turun dengan semangat.

"Kan enak, Kak! Lagian kan hari Minggu besok libur, jadi aku santai aja," jawab Adelia dengan mulut penuh, lalu tertawa renyah. Suara tawanya menggema di ruangan kecil itu, memecah kesunyian malam.

Nurlia pun ikut tertawa. "Iya, iya. Yang penting hati-hati. Nanti kalau sakit, siapa yang mau sekolah?"

Obrolan mereka mengalir begitu saja, ringan dan menyenangkan. Dari membahas tetangga yang suka berisik, kucing liar yang sering datang minta makan, sampai hal-hal lucu yang terjadi di restoran tempat Nurlia bekerja. Nurlia menceritakan bagaimana ia hampir tersandung kaki meja tadi siang, membuat Adelia tertawa sampai memegangi perut.

"Wah, beruntung banget Kakak nggak jatoh! Kalau jatoh kan ngeri, bisa-bisa gaji dipotong," kata Adelia sambil terkekeh.

"Nah itu dia! Jadi sekarang Kakak jalan hati-hati banget, kayak orang mau ujian," balas Nurlia, membuat mereka berdua kembali tertawa lepas.

Di tengah tawa itu, Nurlia perlahan mengubah topik pembicaraan menjadi lebih serius namun tetap lembut. Ia menyendok nasi pelan-pelan, lalu menatap Adelia di bawah cahaya lilin yang membuat wajah adiknya terlihat semakin dewasa.

"Del..." panggil Nurlia pelan.

"Kenapa, Kak?"

"Gimana sekolahnya? Bentar lagi kan ujian akhir? Persiapannya udah mantap belum?" tanya Nurlia, matanya memancarkan perhatian yang besar. Masa depan Adelia adalah segalanya baginya, alasan terbesar ia bekerja keras sampai begini.

Adelia menghela napas panjang, lalu mengangguk. "Alhamdulillah lumayan lah, Kak. Guru-guru juga sering kasih try out. Kadang sih ada beberapa pelajaran yang masih bikin pusing, kayak Matematika sama Fisika itu lho, susah minta ampun."

Nurlia tersenyum mendengar keluhan adiknya. Ia mengerti betul rasanya, dulu pun ia begitu. "Wajar dong, namanya juga pelajaran sulit. Kamu kan pinter, pasti bisa kok. Cuma perlu belajar sedikit lagi aja."

"Iya sih... Cuma kadang aku takut, Kak. Takut nggak lulus, takut nilai jelek," curhat Adelia, suaranya sedikit mengecil. "Aku juga kepikiran, nanti kalau lulus terus kuliah, uangnya dari mana ya? Kakak kan sendirian kerja kerasnya..."

Suasana menjadi sedikit hening sejenak. Nurlia meletakkan sendoknya, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap kepala adiknya dengan lembut. Bayangan lilin membuat sentuhan itu terasa semakin hangat dan penuh kasih sayang.

"Deli, dengerin Kakak ya," kata Nurlia tegas namun lembut. "Kamu jangan mikirin yang aneh-aneh dulu. Fokus aja dulu sama ujian kamu, lulusin SMA dengan nilai bagus. Urusan biaya kuliah nanti itu urusan Kakak. Kakak akan cari cara, Kakak akan kerja lebih keras lagi. Asal kamu mau belajar dan sukses, Kakak rela ngelakuin apa aja."

"Tapi Kak..."

"Enggak ada tapi-tapian," potong Nurlia halus. "Kita berdua aja yang punya satu sama lain sekarang. Orang tua pasti senang kalau lihat kamu sukses. Jadi kamu harus janji sama Kakak, kamu harus jadi orang sukses ya, biar nanti kita nggak perlu hidup susah lagi kayak gini."

Adelia mengangguk cepat, matanya mulai berkaca-kaca mendengar ucapan kakaknya. "Iya, Kak. Aku janji. Aku bakal belajar rajin-rajin, aku bakal lulus dengan nilai bagus, aku bakal bikin Kakak bangga. Nanti kalau aku udah kerja, Kakak nggak usah kerja berat lagi. Aku yang nafkahin Kakak."

Nurlia tersenyum haru, ia segera memeluk bahu adiknya. "Aamiin... Itu kata-kata yang paling enak didengar Kakak malam ini. Makasih ya, Del."

"Aamiin..." balas Adelia, lalu ia kembali tersenyum ceria seolah beban di pundaknya sedikit berkurang. "Yaudah, ayo habisin makanannya! Nanti dingin lho!"

"Haha, iya ayo! Kamu tuh ya, baru aja melow tiba-tiba semangat lagi," Nurlia tertawa, kembali menyendok makanannya.

Malam ini mereka makan sampai kenyang, diiringi cerita-cerita lain tentang teman-teman Adelia, guru yang galak, hingga rencana liburan kecil-kecilan jika nanti Adelia sudah lulus sekolah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!