NovelToon NovelToon
Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.

Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.

Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

“Ya Tuhan… kasihan sekali kamu, anakku…” isak Ibunya pelan di bahu Aira. “Kamu harus hidup sama orang yang nggak kamu cintai, di tempat yang asing, jauh dari Ibu dan Papa. Ibu nggak tega, Ra. Ibu nggak tega liat kamu hidup tanpa kasih sayang…”

Ibunya melepaskan pelukannya sedikit, ia menatap wajah putrinya yang basah oleh air mata.

“Tapi… Ibu juga tahu kalau ini satu-satunya harapan kita,” lanjut Ibunya dengan suara yang lembut namun tegas. “Papa kamu butuh pertolongan secepatnya. Ibu ngerti kok, Nak. Ibu tahu kamu anak yang berbakti, kamu rela berkorban apa aja demi keluarga.”

Ibunya mengusap air mata di pipi Aira dengan ibu jarinya.

“Kalau itu keputusan kamu, Ibu dukung sepenuhnya. Ibu akan restui. Tapi ingat ya pesan Ibu…” Ia menatap manik mata Aira lekat-lekat. “Kalau dia berani menyakiti kamu sedikit saja, baik fisik maupun hati, kamu pulang ya. Kabur aja langsung pulang ke rumah ini. Kita miskin memang, tapi kita punya harga diri. Ibu dan Papa nggak akan pernah marah sama kamu. Yang penting keselamatan dan kebahagiaan kamu, Nak.”

“Terima kasih Bu… makasih banyak udah ngerti,” isak Aira, ia memeluk ibunya kembali dengan erat. Merasakan kasih sayang itu memberinya kekuatan baru.

Malam itu, di bawah naungan selimut hangat dan diiringi doa ibunya, Aira akhirnya memejamkan matanya. Besok adalah hari yang baru. Hari di mana seluruh kehidupannya yang sederhana akan berubah 180 derajat. Dia akan menjadi istri dari pria paling dingin dan kaya raya di kota ini.

 

*****

Di tempat lain, di sebuah kediaman megah bergaya modern klasik yang menjulang tinggi di kawasan elit kota. Di dalam kamar tidur utama yang luasnya seluas rumah biasa, dengan interior mewah namun terasa sangat dingin dan minim sentuhan pribadi.

Elvano Praditya berdiri tegak di depan jendela kaca besar dari lantai sampai langit-langit. Pemandangan dari lantai tertinggi ini memungkinkannya melihat seluruh taman luas di halaman belakang dan juga kerlap-kerlip lampu kota yang indah di kejauhan.

Namun, matanya tidak benar-benar melihat pemandangan itu. Pikirannya kembali melayang ke pertemuan sore tadi. Wajah gadis bernama Aira itu terus terbayang di benaknya, entah kenapa sulit untuk diusir.

Sederhana. Itu kata yang paling pas untuk menggambarkannya. Tidak ada riasan tebal, tidak ada pakaian bermerek mahal, tidak ada aksesori berkilau. Tapi justru kesederhanaan itulah yang membuatnya terlihat begitu bersih, begitu polos. Dan matanya… mata yang indah namun penuh dengan ketakutan dan kerapuhan.

“Elvano…”

Suara berat dan tegas seorang pria paruh baya terdengar lembut dari arah pintu yang terbuka sedikit. Itu adalah Tuan Ardiansyah Praditya, ayahnya. Di belakangnya, terlihat mamanya, Nyonya Praditya, yang wajahnya terlihat penuh dengan harap dan sedikit cemas.

Elvano perlahan berbalik badan. Wajah dinginnya kembali terpasang, ia menyembunyikan segala pikiran yang baru saja melintas di kepalanya.

“Kami dengar dari Raka,” suara Ayahnya lagi, kali ini lebih tegas namun tetap lembut. “Kamu benar-benar mau menikah dengan anaknya Pak Maharani? Gadis bernama Aira itu?”

Elvano mengangguk pelan, sedikit menyunggingkan senyum tipis yang jarang sekali ia tampilkan.

“Iya Pa. El setuju nikah sama dia. Besok kita bisa mulai bahas soal lamaran atau peminangan kalau Papa dan Mama sudah siap.”

Mendengar jawaban itu, wajah mamanya langsung berseri-seri bahagia luar biasa. Wanita itu langsung menutup mulutnya dengan tangan, matanya berbinar-binar menahan tangis haru.

“Ya ampun! Akhirnya! Akhirnya kamu mau menikah juga El! Mama senang banget dengarnya!” seru mamanya sambil berjalan mendekat dan langsung menggenggam tangan putranya itu erat-erat. “Mama udah khawatir kamu bakal hidup sendiri terus. Aira itu anak baik lho, cantik, sopan, dan tutur katanya lembut banget. Mama suka banget sama dia pas ketemu dulu di acara amal. Cocok banget sama kamu!”

Elvano hanya diam mendengar pujian mamanya terhadap calon istrinya itu.

“Kalau gitu bagus,” sahut Elvano dengan nada datar namun tenang. “Besok semua biar langsung diurus. El cuma minta satu hal, jangan terlalu pusingin soal resepsi yang berlebihan dan heboh. Cukup akad yang sah menurut hukum dan agama, terus resepsi sederhana yang penting keluarga besar dan rekan bisnis tahu kalau El sudah menikah. El nggak mau terlalu banyak drama.”

“Oke oke, terserah kamu sayang! Yang penting kamu mau dan kamu bahagia, Mama ikut aja!” Mamanya sangat antusias, ia sudah tidak sabar ingin segera mempersiapkan segala sesuatunya. “Mama bakal pastiin semuanya jadi yang terbaik buat menantu Mama. Aira bakal jadi pengantin yang paling cantik!”

Ayahnya, Tuan Ardiansyah, tidak langsung pergi. Pria tua itu menatap putra tunggalnya lekat-lekat, ia mencoba membaca pikiran di balik mata yang dingin itu.

“Kamu yakin kan El sama pilihan kamu?” tanya Ayahnya lagi, kali ini nadanya lebih serius. “Jangan sampai kamu main-mainin perasaan gadis itu ya. mama dan Papa tahu masa lalu kamu bagaimana, tapi Aira itu anak baik-baik. Dia nggak pantas disakiti.”

Elvano menatap lurus ke manik mata ayahnya, tidak berkedip. Tatapannya tenang dan penuh dengan keyakinan.

“El nggak main-main, Pa. El ngerti banget tanggung jawab El sebagai suami. Didepan umum, didepan keluarga, dan didepan semua orang, El bakal jadi suami yang sempurna buat dia. Dia bakal dapat hidup yang layak, kemewahan, dan penghormatan sebagai Nyonya Praditya. Tenang aja, El bakal jaga nama baik keluarga dan nama baik dia.”

Hanya saja… tidak ada cinta di dalamnya. Tidak ada rasa. Itu adalah fakta yang ia simpan rapat-rapat di dalam hatinya, tidak perlu diucapkan kepada orang tuanya agar mereka tenang.

“Bagus kalau begitu. Kalau gitu Papa dan Mama tidur duluan ya. Besok kita bicarakan lagi detailnya pelan-pelan.”

Setelah kedua orang tuanya keluar dan menutup pintu kamar, keheningan kembali menyelimuti ruangan itu.

Elvano kembali berbalik menghadap jendela besar itu. Angin malam bertiup pelan menyelinap masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka, menerbangkan helai rambut hitamnya.

“Aira Maharani…” gumamnya pelan, perlahan mengucapkan nama gadis itu, seolah sedang membiasakan lidahnya untuk memanggil nama yang akan menjadi miliknya dalam waktu dekat. “Selamat datang di kehidupan gue. Semoga lo kuat. Semoga lo beneran bisa tahan sama dinginnya hati gue dan dunia gue yang keras ini.”

Dan di saat yang sama, di tempat yang berbeda ribuan kilometer jauhnya, atau mungkin hanya beberapa kilometer, dua hati yang sedang bersiap untuk dipertemukan oleh takdir, masing-masing menyimpan rasa takut, keraguan, dan harapan yang berbeda.

Satu berpikir ini hanya soal kontrak dan kewajiban.

Satu berpikir ini adalah pengorbanan terbesar demi cinta keluarga.

Permainan ini baru saja dimulai. Dan takdir memiliki cara yang unik untuk menyatukan dua kutub yang berbeda.

1
🍒⃞⃟🦅 Gami
mantap
Rosa Santika: makasih udah komen kk xixixi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!