SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan di Balik Kaca Jendela
Senin sore itu ditutup dengan langit yang mendung tipis. Suasana sekolah mulai lengang, menyisakan beberapa anak ekstrakurikuler yang masih berkumpul di pinggir lapangan.
Aruna baru saja keluar dari perpustakaan setelah merapikan kembali buku-buku referensi biologinya. Langkahnya terhenti saat melihat sebuah mobil sedan putih yang sangat mengkilap terparkir di dekat lobi sekolah.
Di samping mobil itu, berdiri Adrian. Penampilannya masih sangat rapi, namun ada yang berbeda dari gesturnya kali ini.
Bahunya tidak setegap biasanya, dan raut wajahnya yang selalu tampak percaya diri kini terlihat sedikit ragu. Begitu mata mereka bertemu, Adrian segera menegakkan tubuhnya dan berjalan mendekati Aruna.
"Na," panggilnya pelan.
Aruna berhenti, menatap Adrian dengan tatapan bertanya-tanya. "Ya, Kak? Ada materi yang mau dibahas lagi?"
Adrian menggeleng cepat. Ia menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang sudah ia susun sejak tadi siang. "Enggak. Aku di sini bukan mau bahas soal atau jadwal simulasi. Aku... aku mau minta maaf."
Aruna sedikit terkejut. Ia tidak menyangka kata "maaf" akan keluar dari mulut seorang ketua OSIS yang biasanya sangat teguh pada prinsipnya.
"Maaf buat yang tadi pagi, dan buat sebelum-sebelumnya," lanjut Adrian, suaranya terdengar tulus. "Aku sadar, akhir-akhir ini aku terlalu banyak mengatur kamu.
Aku sering mengekang kamu dengan jadwal yang aku buat sendiri tanpa nanya pendapat kamu dulu. Aku cuma terlalu fokus sama target sekolah sampai lupa kalau kamu juga butuh ruang buat diri kamu sendiri."
Aruna diam, mendengarkan dengan seksama. Ia bisa melihat ada kejujuran di mata Adrian.
"Aku janji, Na, aku nggak akan kayak gitu lagi. Aku nggak mau kamu merasa terbebani atau merasa jadi robot setiap kali ada di dekat aku. Mulai besok, kita atur jadwalnya bareng-berang. Kalau kamu capek atau mau main sama teman-teman kamu, bilang aja. Aku nggak akan protes lagi," ujar Adrian dengan senyum tipis yang kali ini tidak terasa membebani.
Aruna mengembuskan napas lega. Rasanya seperti ada satu simpul yang lepas dari dadanya. "Makasih ya, Kak, udah mau ngerti. Aku bukannya nggak mau belajar, aku cuma mau hidup aku seimbang aja."
"Iya, aku paham sekarang," Adrian mengangguk. Ia kemudian menunjuk mobil sedannya dengan sopan. "Sebagai tanda permintaan maaf resmi, boleh aku antar kamu pulang sore ini? Aku janji, di dalam mobil kita nggak akan bahas soal satu pun. Kita bahas hal lain... apa aja yang kamu suka. Gimana? Udaranya juga lagi mendung, kayaknya mau hujan."
Aruna sempat ragu sejenak. Namun, melihat perubahan sikap Adrian yang menjadi lebih rendah hati, ia merasa tidak ada salahnya memberikan kesempatan. Lagi pula, ia juga ingin menunjukkan bahwa hubungannya dengan Adrian bisa tetap baik tanpa harus merasa tertekan.
"Oke, Kak. Aku ikut," jawab Aruna akhirnya.
---
Di dalam mobil Adrian, suasana terasa sangat tenang dan sejuk. Bau parfum mobil yang maskulin namun lembut memenuhi ruangan. Adrian benar-benar menepati janjinya.
Tidak ada satu pun istilah sains atau pembahasan teknis olimpiade yang keluar dari mulutnya. Ia justru memutar sebuah lagu instrumental yang menenangkan dan mulai bercerita tentang hobinya mengoleksi piringan hitam tua.
"Kamu suka dengerin musik apa kalau lagi belajar, Na?" tanya Adrian sambil memutar kemudi dengan lihai.
"Biasanya instrumen klasik, Kak. Biar lebih fokus," jawab Aruna sambil menatap rintik hujan yang mulai membasahi kaca jendela mobil.
"Oh, klasik ya? Aku punya beberapa koleksi Mozart yang bagus. Kapan-kapan aku pinjamkan kalau kamu mau," tawar Adrian ramah.
Percakapan mengalir begitu saja, jauh lebih ringan daripada biasanya. Aruna merasa ini adalah sisi lain dari Adrian yang selama ini tertutup oleh topeng "Pangeran Sekolah". Ternyata, saat tidak sedang membahas materi, Adrian adalah teman bicara yang sangat menyenangkan.
Namun, saat mobil Adrian berhenti di lampu merah persimpangan besar, sebuah motor *sport* hitam melesat dan berhenti tepat di samping jendela kursi penumpang tempat Aruna duduk. Suara knalpotnya yang menggelegar sempat membuat Aruna tersentak.
Itu Aska.
Meskipun Aska memakai helm *full-face*, Aruna tahu itu dia dari jaket dan postur tubuhnya. Dari balik kaca mobil yang sedikit gelap, Aruna bisa melihat Aska menoleh ke arahnya. Hanya satu detik, namun tatapan dari balik visor helm itu terasa seperti sebuah sindiran bisu.
Aska kemudian menggeber gasnya kembali saat lampu berubah hijau, melesat lincah membelah kemacetan, meninggalkan mobil Adrian yang bergerak perlahan.
Adrian sepertinya tidak menyadari keberadaan Aska, atau mungkin ia memilih untuk tidak memedulikannya. Ia terus melaju hingga sampai di depan gang rumah Aruna.
"Terima kasih ya, Kak, udah diantar sampai depan," ucap Aruna sambil membuka pintu mobil.
"Sama-sama, Na. Makasih juga sudah mau maafin aku. Oh ya, besok kita ketemu di kantin ya? Bukan buat belajar, tapi buat makan bareng aja sama yang lain," ujar Adrian dengan nada yang jauh lebih santai dari dalam mobilnya.
"Boleh, Kak. Sampai ketemu besok."
---
Setelah mobil Adrian menghilang di ujung jalan, Aruna masuk ke rumah dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, ia senang karena masalahnya dengan Adrian sudah mencapai titik temu yang lebih sehat. Adrian kini menghargai batasannya.
Malam itu, Aruna belajar satu hal penting. Bahwa untuk dihormati, seseorang tidak perlu menjadi sempurna atau selalu menurut. Seseorang hanya perlu menjadi nyata dan berani bicara.
Dan bagi Aruna, ini adalah langkah awal dari babak baru kehidupannya yang jauh lebih berwarna daripada sekadar deretan angka di buku pelajaran. Ia mematikan lampu kamarnya, siap menghadapi kejutan apa pun yang akan dibawa oleh hari esok.
nyesek didada rasanya
lanjut thor
👍🏻