NovelToon NovelToon
THE ARCHIVIST

THE ARCHIVIST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Spiritual / Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Empat Menit di Manggarai

Lokasi: Jalan Raden Saleh Raya menuju Stasiun Manggarai.

Waktu: 13.16 WIB (Sisa Waktu 3 Menit).

Mesin motor sport 250cc berwarna hitam itu mengaum membelah tirai hujan Jakarta.

Dimas memuntir gas hingga mentok, mengabaikan rasa perih luar biasa di lengan kanannya yang terbakar saat ia menekan tuas rem. Ban motor berdecit keras saat ia memiringkan kendaraan itu, menikung tajam menghindari sebuah bajaj di persimpangan Cikini.

Di boncengan belakang, Sarah menempelkan tubuhnya ke punggung Dimas, tangan kirinya yang diperban memeluk pinggang suaminya erat-erat, sementara tangan kanannya menekan earpiece komunikasinya.

“Dia setengah menit, Dim!” Teriak Sarah melawan suara angin dan deru knalpot. “Lewat Diponegoro! Terobos lampu merah Megaria!”

“Ndoro… suaranya…” suara Sekar terdengar statis dan tersendat di telinga mereka. Di seberang sana, Sekar sedang menahan beban mental yang luar biasa. “Suara di kepala anak itu sangat bising… ‘Nilai jelek… Ayah marah… tidak ada yang sayang…’ Sang Pemakan terus mengulang kalimat itu…”

“Sekar! Tahan pikirannya!” Balas Dimas berteriak ke interkom helmnya. “Kirimkan sugesti hangat! Ingatkan dia soal ibunya, sahabatnya, apa saja! Perlambat dia!”

Dima membunyikan klakson panjang, menerobos lampu merah di persimpangan Megaria. Sebuah mobil nyaris menabrak mereka dari sisi kiri, tapi refleks tenaga dalam Dimas membuatnya mampu membaca sepersekian detik ke depan, memiringkan motor lolos dari maut.

“Sisa satu menit empat puluh detik!” Lapor Sarah.

Stasiun Manggarai mulai terlihat. Struktur beton raksasa yang sedang direvitalisasi itu tampak muram di bawah hujan. Ratusan penumpang berdesakan keluar-masuk seperti semut.

Lokasi: Pintu Masuk Stasiun Manggarai.

Waktu: 13.18 WIB (Sisa Waktu 1 Menit).

CIIIIITT!

Dimas mengerem mendadak tepat di lobi stasiun. Ia membuang motor itu begitu saja ke aspal basah tanpa mematikan mesinnya.

“Lantai atas! Peron 3!” Teriak Dimas sambil berlari menaiki eskalator yang mati, disusul Sarah.

Suasana stasiun sangat padat. Jam sibuk siang hari bercampur dengan orang-orang yang berteduh dari hujan. Bau keringat, parfum murah, dan kopi minimarket memenuhi udara.

Dua petugas keamanan stasiun berseragam biru mencoba menghentikan mereka di gate tiket. “Woi! Tap kartu dulu, Mas!”

“BPCBAN! Minggir!” Sarah membentak, menempelkan lencana emasnya tepat ke wajah satpam itu sambil melompati palang gate (turnstile) dengan lincah. Dimas menyusul dibelakangnya, menabrak kerumunan penumpang yang menggerutu.

“Kereta KRL tujuan Bogor akan segera masuk di Jalur Tiga. Dimohon penumpang untuk mundur di belakang garis kuning…” suara pengumuman dari pelantang stasiun menggema, terdengar seperti lonceng kematian di telinga Dimas.

“Dimas!” Suara Sekar menjerit histeris di earpiece. “Dia melepas tasnya! Anak itu menyerah!”

Lokasi: Peron 3, Stasiun Manggarai.

Waktu: 13.19 WIB (Sisa Waktu: 00.20 detik).

Dimas dan Sarah menerobos kerumunan terakhir dan tiba di bibir peron 3.

Lantai peron licin oleh tampias hujan. Di tengah lautan manusia yang sibuk menunduk menatap layar ponsel masing-masing, Dimas melihatnya.

Seorang siswi SMA berseragam putih-abu yang basah kuyup. Ranselnya tergeletak di lantai. Ia berdiri melewati garis kuning pengaman, ujung sepatu pantofel hitamnya sudah menggantung di bibir peron, hanya beberapa sentimeter dari jurang rel besi.

Aura di sekeliling anak itu sangat mengerikan. Melalui Mata Batinnya, Dimas melihat asap hitam pekat menutupi kepala dan mata anak itu seperti helm kedap udara. Sang Pemakan telah mematikan semua sensor rasionalnya.

Dari arah utara, lampu sorot KRL Commuter Line yang terang benderang menusuk mata. Klakson kereta berbunyi memekakkan telinga. TIIINNN!!!! Kereta itu melaju masuk ke stasiun. Kecepatannya masih sekitar 40km/jam, cukup untuk menghancurkan tubuh manusia seketika.

“BERHEEENTTIIIIII!!!” Dimas meraung, berlari secepat kilat membelah kerumunan.

Gadis itu memejamkan mata, wajahnya pucat tanpa ekspresi. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, membiarkan gravitasi menariknya jatuh ke arah rel tepat di jalur kereta yang melaju.

Sisa waktu: 00.03.

“SARAH! TEMBAK FREKUENSINYA!!”

Sarah yang berada lima meter di belakang Dimas tidak ragu. Ia mengangkat Infrasound Disruptor (alat yang ia buat di SCBD tadi) dan mengarahkannya tepat ke kepala gadis itu, menekan tombol maksimal.

NGIIINGG!!!

Gelombang statis akustik menghantam gadis itu. Asap hitam yang menyelimuti kepalanya bergetar hebat, kehilangan cengkeramannya pada saraf motorik sang inang selama sepersekian detik.

Gadis itu tersentak. Matanya terbuka lebar, penuh kepanikan. Ia sadar ia sedang jatuh, tapi tubuhnya sudah kehilangan keseimbangan.

Dimas melompat. Ia mengabaikan rasa sakit di tulang rusuknya, mengulurkan tangan kirinya sejauh mungkin.

Tepat saat lokomotif KRL bergemuruh masuk dengan angin yang menyapu kencang…

GREP!

Jari-jari Dimas berhasil mencengkeram kerah seragam basah gadis itu.

Dengan teriakan tenaga dalam murni, Dimas menarik tubuh gadis itu ke arah belakang, memutar tubuhnya sendiri sebagai tameng.

WUUUUSSSSHHHH!!!!

KRL Commuter Line melesat lewat. Jarak antara besi gerbong kereta dan hidung Dimas hanya terpaut kurang dari lima sentimeter. Angin dari kereta yang melaju kencang itu menerbangkan debu dan air hujan ke wajah mereka.

Dimas dan gadis itu terbanting keras ke lantai beton peron yang basah.

Orang-orang di sekitar peron yang tadinya tidak peduli, kini menjerit histeris melihat adegan yang terjadi dalam hitungan detik tersebut.

Gadis itu terbaring di dada Dimas, napasnya memburu. Matanya kembali putih dan jernih, bersih dari kelamnya asap Sang Pemakan. Ia melihat ke atas, ke wajah Dimas yang meringis kesakitan, lalu mendengar deru kereta yang baru saja nyaris merenggut nyawanya.

“Aku…aku tadi mau ngapain…” bisik gadis itu gemetar, lalu tangisnya pecah sejadi-jadinya. “Bunda… aku mau pulang… aku takut…”

Sarah langsung berlutut di samping mereka. Ia menarik gadis itu kedalam pelukannya, membiarkan siswi itu menangis tersedu-sedu di bahunya.

“Kamu aman sekarang, Dek. Semuanya udah lewat,” bisik Sarah menenangkan, mengelus rambut gadis yang basah itu.

Dimas duduk pelan-pelan, menyandarkan punggungnya ke pilar beton stasiun. Napasnya tersengal-sengal. Jantungnya berdetak seakan mau meledak.

Ia menatap rel kereta.

Melalui sisa-sisa pandangan batinnya, Dimas melihat segumpal kecil asap hitam merayap naik dari rel, masuk ke dalam kisi-kisi AC gerbong KRL yang baru saja berhenti. Asap itu menyelinap pergi, mencari korban baru yang tidak sempat diselamatkan.

“Dimas… Sarah…kalian berhasil?” Suara Sekar terdengar sangat lemah dan parau di interkom.

Dimas menyentuh earpiece-nya. “Kita dapat dia, Sekar. Anak ini selamat. Kamu bisa istirahat sekarang. Kerja bagus.”

Di ujung telepon, terdengar suara tarikan lega napas Sekar, sebelum sambungan itu terputus karena Sekar pingsan kelelahan di kliniknya.

Petugas stasiun dan polisi khusus kereta (Polsuska) berlarian mendekati mereka, membentuk barikade untuk menahan kerumunan penumpang yang kini sibuk merekam dengan ponsel pintar mereka.

“Mas! Mas nggak apa-apa?! Saya panggil medis!” Seru seorang petugas panik.

Dimas tidak menjawab. Ia menatap Sarah yang sedang menenangkan gadis itu. Mata mereka bertemu. Ada kelegaan yang luar biasa di sana, namun juga kesadaran yang sangat kelam.

Mereka menang hari ini. Mereka menyelamatkan satu nyawa dari jurang keputusasaan.

Tapi Jakarta terlalu besar. KRL itu terus bergerak membawa ribuan orang yang kelelahan, stres, dan marah. Sang Pemakan tidak perlu bersembunyi di dalam gua atau merasuki patung batu. Ia bersembunyi di tempat yang paling menakutkan: di dalam pikiran penduduk kota yang sedang rapuh.

“Satu musuh, sepuluh juta inang potensial,” gumam Dimas sambil memegangi lengannya yang cidera. “Ini bakal jadi malam yang panjang banget buat The Archivist.”

1
NP
Agak berat petualangan Dimas dan Sarah nih, kak. Maklum sama sama ilmuwan..
Felycia R. Fernandez
Petualangan baru dimulai...
NP
Iya betul yg dulu di rempah sang waktu,
Felycia R. Fernandez
Arya ini yang jadi raja dulu kan?
Felycia R. Fernandez
😅😅😅😅😅
Felycia R. Fernandez
lah,Sarah malah kenak
Felycia R. Fernandez
🤣
NP
Suami istri yang suka berpetualang menghadapi hal hal mistis
Felycia R. Fernandez
😆😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez
ya ampun,luar biasa suami istri ini
Felycia R. Fernandez
kok ngeri ya 😳
Felycia R. Fernandez
wow 😳
Akbar Aulia
kurang.....kurang......kurang.....kurang banyak thor upnya
Felycia R. Fernandez
pernah denger,tapi blom tau gimana kota nya kk...😆😆😆
NP
Makasih ya Kak, Nusantara Üniverse menanti selanjutnya 🤣
Akbar Aulia
,iya kak ,ceritanya seru
Akbar Aulia
nanti kalo sampai kabari aku ya, semoga tidak ada halangan
Akbar Aulia
terimakasih thor sudah membuat cerita yg bagus sekali, semangat terus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!