"Satu kesempatan lagi... dan kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh apa yang menjadi milikku."
Yuuichi Shiro tahu persis bagaimana bau kematian. Sebagai korban eksperimen ilegal yang selamat hanya untuk melihat dunia hancur oleh virus Chimera, ia mati dengan penyesalan di ujung pedangnya. Namun, takdir berkata lain. Yuuichi terbangun enam hari sebelum hari kiamat dimulai—di ruang kelas yang tenang, dengan guru kesehatan yang cantik dan teman-teman yang seharusnya sudah mati di depan matanya.
Dengan bantuan Apocalypse Ascension System dan kesadaran Miu yang sarkastik, Yuuichi memulai langkahnya. Bukan untuk menjadi pahlawan bagi dunia yang sudah busuk, melainkan untuk membangun singgasananya sendiri di atas puing-puing peradaban.
Di tengah erangan mayat hidup dan pengkhianatan manusia, Yuuichi berdiri dengan elemen es di tangan dan barisan wanita luar biasa di belakangnya. Kiamat bukan lagi sebuah akhir, melainkan taman bermain bagi sang Regressor untuk membalas dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zona Merah {1}
Udara di luar bunker terasa jauh lebih menusuk daripada malam-malam sebelumnya. Badai salju abu-abu telah mereda, meninggalkan lapisan debu vulkanik yang membeku di atas reruntuhan kendaraan dan kerangka gedung. Distrik 2, yang terletak hanya beberapa kilometer dari pangkalan Yuuichi, terlihat seperti hutan beton yang mati di bawah cahaya bulan yang pucat. Tidak ada lampu jalan, tidak ada suara mesin; hanya ada deru angin yang bersiul melewati lubang-lubang di dinding apartemen yang hancur.
Yuuichi dan Sakura berdiri di pinggiran atap sebuah gedung perkantoran setinggi lima lantai yang menandai perbatasan masuk ke "Zona Merah". Yuuichi mengenakan jubah taktis hitamnya yang kini dilengkapi dengan sabuk perlengkapan berisi kristal energi cadangan. Di pinggangnya, katana Nichirin biru es bergetar pelan, seolah bereaksi terhadap konsentrasi virus yang lebih tinggi di area ini.
Di sampingnya, Sakura menggenggam erat Yuki-Onna's Breath. Pedang kristal itu memancarkan pendar biru tipis yang menerangi wajahnya yang penuh konsentrasi. Masker filtrasi hitam menutupi hidung dan mulutnya, menyisakan matanya yang tajam mengawasi jalanan di bawah.
"Rina, Miho, kalian bisa mendengarku?" bisik Yuuichi ke perangkat komunikasi di telinganya.
"Suara jernih, Yuuichi," jawab Rina dari pusat kendali bunker. "Aku sudah mengalihkan satelit cuaca sipil untuk memantau pergerakan panas di radius seratus meter di sekitarmu. Hati-hati, Distrik 2 punya kepadatan mutan tiga kali lipat dari Distrik 3."
"Dan Yuuichi-san," suara Miho menimpali, terdengar lebih tenang namun serius. "Analisis frekuensi menunjukkan bahwa Stasiun Vanguard sedang memancarkan sinyal penarik. Zombie di area ini lebih agresif dan memiliki koordinasi kelompok yang lebih baik. Jangan biarkan dirimu terkepung di jalanan terbuka."
Yuuichi mengangguk pelan. Ia mengaktifkan kemampuan indranya.
"Keterampilan Aktif: Intuisi Pertempuran. Pemindaian Area Dimulai."
"Terdeteksi: 42 Varian Kelas C (Zombie Biasa), 5 Varian Kelas B (Stalker). Peringatan: Stalker berada di dinding gedung samping, menunggu di zona buta."
Yuuichi tidak langsung bergerak. Ia memberikan isyarat tangan kepada Sakura untuk tetap diam. Di gedung seberang, dalam kegelapan bayang-bayang papan reklame yang berkarat, ia melihat sesuatu yang bergerak dengan sangat cepat—sosok manusia yang memanjang dengan anggota tubuh yang tidak proporsional, merayap secara vertikal di dinding kaca tanpa suara. Itu adalah Stalker, pemburu yang mengandalkan pendengaran dan kecepatan.
"Sakura, jam dua. Di dinding gedung kaca. Ada tiga dari mereka," bisik Yuuichi.
Sakura melirik sekilas, lalu mengangguk. "Aku melihatnya. Haruskah kita menghindar?"
"Tidak. Jika kita lewat, mereka akan mengikuti kita dari belakang dan menyergap saat kita berada di dalam Stasiun Vanguard. Kita bersihkan mereka sekarang," Yuuichi menarik katananya secara perlahan. Bilah hitam kebiruannya mengeluarkan hawa dingin yang mengembunkan udara di sekitarnya.
Yuuichi melangkah ke tepi atap. Ia tidak melompat jatuh, melainkan menciptakan jembatan es tipis yang menghubungkan gedungnya dengan gedung kaca tersebut. Gerakannya sangat halus, hampir menyerupai tarian di atas benang perak.
Begitu kakinya menyentuh permukaan kaca, para Stalker itu bereaksi. Mereka mengeluarkan suara desisan yang tajam dan melompat dari dinding secara bersamaan, kuku-kuku panjang mereka siap mencabik mangsanya.
[ TEKNIK PERNAPASAN MATAHARI - VARIASI ES: TEBASAN EMBUN BEKU ]
Yuuichi berputar di udara. Tebasan pedangnya meninggalkan jejak cahaya biru yang membeku di udara. Dua Stalker yang berada di garis depan terbelah menjadi dua tepat di tengah udara, tubuh mereka membeku seketika sebelum sempat menyentuh tanah dan hancur menjadi serpihan es saat menghantam aspal di bawah.
Satu Stalker terakhir mencoba melarikan diri kembali ke kegelapan, namun Sakura sudah menunggu. Ia meluncur di atas jembatan es yang dibuat Yuuichi, pedang kristalnya terangkat tinggi.
SHIIIIING!
Pedang Yuki-Onna's Breath menebas kaki makhluk itu, dan dalam sekejap, duri-duri es hitam meledak dari luka tersebut, mengunci tubuh sang Stalker di dinding gedung sebelum akhirnya membeku sepenuhnya.
"Kerja bagus," gumam Yuuichi sambil mendarat di balkon lantai empat gedung kaca.
"Pemberitahuan: Eliminasi Stalker Berhasil. Pengalaman Keterampilan Berpedang Meningkat. Sinkronisasi dengan Sakura Hoshino: 45%."
"Kita masih punya dua blok lagi sebelum mencapai pagar perimeter Vanguard," ucap Rina melalui komunikasi. "Tapi ada masalah. Pintu masuk utama dijaga oleh dua menara senapan mesin otomatis yang terhubung langsung ke sistem AI pusat. Miho sedang mencoba meretas protokolnya, tapi dia butuh waktu."
"Berapa lama?" tanya Yuuichi sambil memeriksa sisa energi esnya.
"Tiga menit. Tapi dalam tiga menit itu, suara ledakan dari pertarungan tadi mungkin sudah mengundang kerumunan besar dari blok sebelah," jawab Miho.
Yuuichi melihat ke arah ujung jalan. Benar saja, dari balik kabut debu, ratusan pasang mata yang bersinar kuning mulai bermunculan. Suara erangan kolektif yang rendah mulai memenuhi udara, menciptakan resonansi yang menggetarkan dada.
"Sakura, bersiaplah. Kita tidak akan bersembunyi lagi," Yuuichi menancapkan katananya ke lantai balkon, dan es hitam mulai merambat turun memenuhi seluruh fasad gedung, menciptakan benteng pertahanan sementara. "Kita akan menahan mereka di sini sampai Miho membuka gerbangnya."
Sakura berdiri di samping Yuuichi, pedangnya bersinar lebih terang dari sebelumnya. "Aku siap, Yuuichi-kun. Kali ini, biarkan aku yang membuka jalan."