Syela tak ingat apapun yang terjadi malam itu, berawal dari pesta di sebuah klub membuatnya harus kehilangan kegadisannya.
Apa yang harus dilakukannya pun ia tak tahu...
Apakah harus????.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.A.Hanifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Mengetahui kebenaran Catherine, Syela tak berniat langsung membongkar semuanya saat itu juga. Dia lebih memilih fokus pada kesembuhan putranya, saat ini Ansel adalah prioritas utamanya. Syela tak ingin anaknya itu kembali merasakan akibat dari keegoisannya. Memilih untuk bertahan dan memendam sementara adalah yang terbaik.
Syela juga tak kemana mana dia benar benar hanya berada dirumah sakit saja tanpa memberitahu siapapun juga. Walaupun Miko, Catherine bahkan Handoko sendiri selalu menghubunginya, Syela memilih menolak semua panggilan dari mereka.
Barulah dua hari kemudian setelah Ansel membaik dan diperbolehkan pulang Syela membawanya kembali ke kediaman Handoko, karena memang itu satu satunya tempat tinggalnya dan juga ingin menunggu kesempatan membongkar semuanya.
Melihat Syela kembali kerumah, Catherine yang tadinya sudah senang karena takkan ada lagi yang merusak kehidupan barunya, jadi jengkel setengah mati.
"Katanya mau pergi dari rumah ini, kenapa balik lagi?" sindirnya.
Dia mendekati Syela. "Kenapa, kehabisan uang makanya pulang?" tambahnya dengan senyum mengejek.
Tak tersinggung Syela malah ikut tersenyum menantang "Aku nggak pernah bilang mau pergi, lagi pula ini rumahku sendiri" jawabnya.
"Harusnya kamu yang pergi, kamu bukan siapa siapa disini" baliknya menyindir dan jelas saja membuat Catherine meradang.
"Kamu!!!" tangan Catherine nyaris terangkat hendak menampar Syela tapi tertahan karena kedatangan Handoko dan istrinya.
"Tau pulang juga ternyata, dari mana saja kamu Syela" tanya Handoko tak ramah sama sekali.
"Bukan urusan Tuan, aku hanya menepati janjiku untuk kembali sesuai ucapanku kemarin" jawab Syela enteng.
"Tentu saja urusanku karena kamu tinggal dirumahku" jawab Handoko marah.
Syela tersenyum miring "Hanya tinggal saja kan, Aku seorang pembantu siapa tau Tuan lupa, bahkan urusan pembantu pun Tuan mau ikut campur, ku rasa nggak perlu".
"Syela kenapa kamu jadi kurang ajar begini hah, berani sekali melawan orang tua!!!" ucap Susi marah.
"Apa?....... orang tua?...... siapa?........ kalian?" Syela tertawa keras.
Lalu terdiam menatap Handoko dan Susi sambil mengernyit sedikit lama sampai membuat keduanya keheranan sedikit takut juga. "Iya kayanya memang sudah tua, pikun soalnya" ucapnya.
"Kalian sendiri yang nggak anggap aku anak lagi, dan jadiin dia anak kesayangan kalian" tambah Syela menunjuk Catherine. "Lalu kenapa sekarang minta aku hormati sebagai orang tua?".
Handoko dan Susi terdiam tak ada yang bisa menjawab perkataan Syela bahkan Catherine sekalipun. Dia ikut terdiam bukan karena takut tapi takjub karena tak menyangka Syela bisa melawan dengan kata kata pedasnya. Selama ini gadis itu diam saja, apa yang membuatnya berani begini.
"Sudahlah aku capek mau istirahat, kasian anakku kalau harus melihat wajah kalian, takut ketularan sikap buruknya" ucap Syela memutus perdebatan kali ini. Dia yang masih menggendong sang Putra pun memilih kembali kekamarnya.
"Malam ini Bagas mau datang melamarmu, kau siap siap, dan tak boleh menolak" ucap Handoko tiba tiba.
"Terserah" jawab Syela tanpa berbalik.
Catherine menatap kepergian Syela. "Ada yang aneh dengannya" gumamnya dalam hati. "Aku harus menyiapkan sesuatu".
*****
"Mari mari silahkan masuk Tuan Bagas" sambut Susi senang melihat pria yang ditunggu mereka akhirnya datang membawa beberapa paper bag sebagai hadiah lamaran. Dia hanya datang sendiri tanpa ada yang menemani.
"Maaf saya baru datang, tadi macet dijalan" jawab Bagas.
"Ahhh tidak Papa sudah biasa itu, ayo silahkan duduk" tambah Handoko mempersilahkan Andre duduk bersama dengan mereka diruang tamu.
"Catherine, panggil Syela" ujarnya lagi. "Iya Pa" jawab Catherine.
Gadis itupun memanggil Syela, tak masuk atau berdiri didepan pintu kamarnya hanya dari dapur saja. "Syela cepat keluar Tuan Bagas sudah datang" teriaknya.
Diapun kembali keruang tamu tanpa menunggu Syela keluar terlebih dahulu. Catherine ikut mengobrol dengan Papa, Mama dan Bagas disana.
"Berarti perusahaan kita jadi untuk bekerja sama kan Tuan?" tanya Handoko antusias tau jika Bagas adalah pebisnis handal dibidang properti. Hanya saja dirinya yang sudah cukup berumur dan mata keranjang menjadikannya sosok yang tak terlalu dikagumi, tapi kalau soal bisnis banyak yang ingin bekerja sama.
Saat mengetahui dari Catherine jika Bagas adalah pria yang membuat Syela kehilangan kehormatannya, awalnya Handoko emosi. Tapi karena kata kata manis Catherine yang bilang pria itu mencarinya dan ingin bertanggung jawab, Handoko melemah. Apalagi saat Catherine memberikan ide jika Bagas bisa menjadi penolong perusahaan Handoko yang tengah butuh donatur itu jalan keluar, dia malah menerima dengan suka cita. Dan bilang jika Syela sudah melahirkan putranya, kerjasama akan panjang pikirnya.
Setelah menyesap sedikit kopi yang dihidangkan Bagas mengangguk. "Asal Syela bersedia kujadikan istri, tak ada masalah untukku" jawabnya tenang. Handoko berwajah senang.
"Cihhhh, sudah kuduga" gumam Syela pelan.
Saat tengah berbincang Handoko berbalik saat tatapan sang istri tampak tajam kearah belakangnya. Tak lama dia juga ikut membulatkan mata. "Syela apa apaan anak ini" gumamnya dalam hati.
"Syela kamu....,kenapa pakai baju tidur?" tanya Catherine tak percaya saat melihat Syela datang dengan baju piyamanya.
Padahal tadi siang Handoko sudah berpesan untuk dia bersiap karena malam ini Andre datang, tapi yang terjadi malah gadis itu sepertinya malah sudah mau tidur.
Syela duduk diatas sofa lalu memiringkan kepala menatap Catherine bingung. "Kok malah nanya..., ini kan udah malam ya aku mau tidur lah" jawabnya sarkas.
"Ngapain juga si kamu manggil aku, ganggu aja orang mau tidur" tambah Syela sambil menguap dengan lebarnya.
Catherine dan Sang Mama menatap Syela dengan kesalnya, apalagi dengan jawaban seenaknya dari Ibu muda itu. Sadar tengah diberikan tatapan maut Syela membesarkan matanya. "Apa!!??" tantangnya.
"Syela!!!, tidak sopan kamu!!!" ucap Handoko kesal.
"Tidak Papa Pak Handoko, ini memang sudah malam" Bagas yang meralat. Pria itu tak bisa mengalihkan pandangan dari Syela yang amat cantik dimatanya, apalagi dengan baju tidur itu menambah hasrat ingin memilikinya segera.
"Biarkan saja Tuan, gadis ini memang harus dinasehati, padahal kami tadi siang sudah menyuruhnya bersiap karena Tuan Andre mau datang tapi malah begini penampilannya" jelas Susi tak enak hati pada calon mantunya itu.
"Ya salah sendiri kenapa datang malam sekali, liatkan sudah jam berapa ini" jawab Syela santai menunjuk jam didinding yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
"Syela kamu ini!!!" bentak Handoko emosi.
"Sudahlah Pa, jangan marah, nanti Papa lelah..... biarin aja Syela terserah apa maunya dia" ucap Catherine berusaha menenangkan Handoko. Dia tak ingin malam ini hanya akan ada perdebatan yang membatalkan tujuan pertemuan ini. Dia harus secepatnya menikahkan kedua orang ini agar dirinya bisa kembali bersama Miko.
"Syela, Tuan Andre sudah melamarmu pada Papa, kalian akan segera menikah, kamu harus setuju karena semua ini demi Ansel, walau gimanapun juga Tuan Bagas adalah Ayah dari putramu itu" ucap Catherine panjang lebar.
"Aku akan bertanggung jawab pada kalian berdua asal kamu mau menikah denganku" tambah Bagas meyakinkan.
Tanpa basa basi Syela menjawab. "Oke".
Tentu saja membuat Bagas senang dia tak perlu susah payah memberikan bujuk rayu, malam ini gadis muda yang dia dambakan itu menurut sekali. "Oke dua hari lagi kita akan menikah, aku akan menyiapkan semuanya" putusnya gembira.
"Suka sukamu lah" jawab Syela kemudian beranjak pergi dari sana tak perduli omelan Susi yang menyebutnya tak tau sopan santun.
Sedang Catherine merasa sedikit bingung, tidak mungkin semudah ini. Apa yang terjadi pada Syela, dia yang awalnya menolak mati matian kenapa sekarang menyerahkan diri tanpa perlawanan. Tapi tidak papa, kesempatannya untuk mendapatkan Miko kembali akan berjalan mulus seperti rencananya.
Pasti bakal muncul kok, cuman belum waktunya
sesuai sama judul sih aku buat ceritanya, kalau cepet ketemunya bakal pendek ceritanya