Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.
Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musim Semi, Cincin, dan Puing yang Tertinggal
Tiga bulan setelah insiden kecelakaan yang hampir merenggut nyawa Alex, Montreal mulai menanggalkan jubah putihnya. Salju yang tadinya setebal lutut perlahan mencair, berubah jadi genangan air yang memantulkan langit biru cerah. Kuncup-kuncup bunga mawar liar dan tulip di taman kota mulai menyembul malu-malu. Musim semi datang, membawa janji baru yang jauh lebih manis.
Di dalam studio L’Aube de Sheilla, suasananya nggak lagi tegang kayak markas perang. Aroma kopi latte dan bunga lili yang baru mekar memenuhi ruangan. Sheilla duduk di meja kerjanya, tapi kali ini dia nggak lagi pegang gunting rumput. Di depannya berserakan sampel kain lace, katalog undangan digital, dan daftar vendor katering vegetarian.
"Mbak, ini desain undangannya yang ketiga. Gimana? Mas Alex bilang dia suka yang ada aksen emboss bunga matahari kecil di pojokannya," Maya menyodorkan tablet, wajahnya sumringah. Maya sekarang bukan cuma asisten toko, dia sudah jadi saksi hidup betapa "berdarah-darahnya" Sheilla menata hati.
Sheilla tersenyum, matanya berbinar. "Iya, May. Bilang ke desainer-nya, aku mau warnanya sage green lembut, mirip warna rumah kecilku dulu di Indonesia. Biar ada sedikit kenangan manis yang terbawa ke sini."
--
"Siapa yang bilang sage green? Aku pikir kita mau pakai warna oranye biar mencolok kayak jaket petugas salju?"
Suara itu muncul dari pintu depan. Alex masuk dengan gaya khasnya: jaket denim, rambut berantakan yang kena angin musim semi, dan satu buket kecil bunga liar yang dia petik sendiri dari pinggir jalan menuju studionya. Bahunya yang dulu luka sekarang sudah pulih total, meski kalau udara lagi dingin banget dia sesekali masih meringis.
"Alex! Jangan bikin Maya bingung!" Sheilla tertawa, bangkit dari kursinya dan membiarkan Alex merangkul pinggangnya.
Chemistry di antara mereka sekarang sudah sampai di tahap "nggak perlu ngomong juga udah paham". Alex menatap Sheilla dengan tatapan yang selalu bikin Sheilla merasa dia adalah satu-satunya perempuan di bumi.
"Tiga bulan lagi, Sheil. Tiga bulan lagi kamu resmi jadi Mrs. Laurent. Sudah siap ganti nama di paspor?" tanya Alex sambil mengecup pucuk hidung Sheilla.
"Aku lebih siap buat lihat kamu pakai tuksedo dan nggak pakai kaos oblong bolong di bagian ketiak lagi, Lex," goda Sheilla, membuat Maya dan pegawai lainnya tertawa.
Mereka merencanakan pernikahan yang sederhana tapi hangat. Sebuah kapel tua di pinggiran Montreal, dengan resepsi di taman terbuka yang penuh dengan instalasi bunga hasil karya Sheilla sendiri. Nggak ada kemewahan palsu, nggak ada tamu-tamu bisnis yang datang cuma buat pamer kekayaan. Cuma keluarga, sahabat, dan orang-orang dari yayasan yang sempat Sheilla bantu dulu beberapa sengaja dia terbangkan dari Indonesia.
--
Sementara Sheilla sedang sibuk memilih rasa kue pengantin, di sebuah gedung pengadilan di Jakarta, suasana sangat kontras. Ardhito, sang pengusaha sombong yang dulu merasa bisa membeli nyawa orang, duduk di kursi pesakitan.
Rencana Ardhito di Canada ternyata jadi bumerang yang menghancurkan seluruh hidupnya. Alex nggak main-main soal laporannya ke Royal Canadian Mounted Police (RCMP). Bukti rekaman dashcam, aliran dana ilegal dari perusahaan cangkang, hingga kesaksian Rio sekretarisnya yang akhirnya berbalik arah karena takut ikut dipenjara membongkar semua borok Ardhito.
Otoritas Canada bekerja sama dengan interpol dan kepolisian Indonesia. Begitu Ardhito mendarat di Jakarta, dia langsung disambut borgol. Bukan cuma soal kasus percobaan pembunuhan di Canada, tapi penyelidikan itu merembet ke penggelapan pajak besar-besaran dan pencucian uang di perusahaannya sendiri.
"Terdakwa Ardhito dinyatakan bersalah atas tindakan sabotase internasional, percobaan pembunuhan berencana, dan tindak pidana pencucian uang..." hakim mengetuk palu.
Harta Ardhito disita negara. Apartemen mewahnya, mobil-mobil sport-nya, hingga gedung kantor yang jadi kebanggaannya, semuanya disegel. Dia ditinggalkan oleh semua teman-teman "elitnya" yang dulu selalu menjilat. Bahkan orang tuanya pun menyerah karena merasa malu luar biasa.
Ardhito sekarang cuma punya satu set seragam oranye dan ruang sel sempit yang dingin. Tiap malam, dia cuma bisa menatap tembok beton, mengingat betapa bodohnya dia yang dulu mengira bahwa mencintai adalah dengan cara menguasai. Dia kehilangan segalanya: kekayaan, harga diri, dan yang paling menyakitkan, dia sadar bahwa Sheilla sekarang sedang bahagia di pelukan pria lain pria yang jauh lebih "kaya" hati darinya.
--
Kembali ke Montreal. Sore itu, Sheilla dan Alex duduk di bangku taman Mount Royal, melihat matahari terbenam yang mewarnai langit jadi ungu dan emas.
"Lex," panggil Sheilla pelan.
"Ya, Sayang?"
"Tadi pagi Satria telepon dari Jakarta. Dia kasih tahu kalau sidang Ardhito sudah selesai. Dia dipenjara cukup lama."
Alex diam sebentar, menggenggam tangan Sheilla lebih erat. "Kamu merasa sedih? Atau... puas?"
Sheilla menarik napas dalam, membiarkan udara segar musim semi memenuhi paru-parunya. "Nggak dua-duanya. Aku cuma merasa... kosong. Kayak lagi baca berita tentang orang asing yang nggak aku kenal. Rasa benci itu ternyata benar-benar sudah hilang seiring dengan rasa takutku."
Sheilla menyandarkan kepalanya di bahu Alex. "Aku cuma bersyukur, Lex. Kalau aku nggak pernah lari ke sini, kalau aku nggak pernah berani buat hancur dulu, aku mungkin nggak akan pernah tahu rasanya duduk di sini, nungguin hari pernikahan kita tanpa rasa beban sedikit pun."
Alex mengecup dahi Sheilla. "Itu namanya kebebasan, Sheil. Dan kamu layak mendapatkannya."
--
Tiga bulan kemudian berlalu dengan sangat cepat. Hari yang dinanti tiba.
Pagi itu, Sheilla berdiri di depan cermin besar. Dia memakai gaun pengantin yang sederhana tanpa payet berlebih, hanya potongan yang jatuh sempurna dengan sulaman bunga melati kecil di bagian punggungnya. Dia terlihat luar biasa. Bukan cuma karena riasannya, tapi karena ada cahaya dari dalam dirinya yang selama ini sempat redup.
Maya masuk ke ruangan, matanya berkaca-kaca. "Mbak... Mbak cantik banget. Ayah Mbak di sana pasti bangga banget lihat Mbak sekarang."
Sheilla tersenyum, memegang kalung peninggalan ayahnya yang melingkar di lehernya. "Makasih, May. Makasih sudah nemenin aku sampai sejauh ini."
Di depan kapel, Alex sudah menunggu. Dia terlihat gagah (dan ya, kali ini dia benar-benar rapi tanpa kaos oblong bolong). Saat pintu kapel dibuka dan Sheilla melangkah masuk dengan diiringi musik piano yang lembut, Alex nggak bisa menahan air matanya.
Mereka mengucapkan janji suci di bawah instalasi bunga yang paling indah yang pernah Sheilla buat rangkaian bunga liar yang melambangkan kekuatan untuk tumbuh di mana saja, bahkan di tengah salju sekalipun.
"I do," ucap Sheilla dengan suara mantap.
"I do," balas Alex dengan senyum lebar yang selalu bisa menenangkan badai di hati Sheilla.
To Be Continue...
-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --