NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Fan Yang Jenius

Reinkarnasi Fan Yang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Anak Genius
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Dikhianati saudari angkatnya sendiri, Su Fan — sang jenius fana pemegang rahasia Sembilan Dao Hukum Tertinggi memilih mati daripada menyerah. Namun, maut justru menjadi pintu reinkarnasi. Ia terbangun di tubuh pemuda bernama Li Fan di alam fana yang terpencil.
Ironisnya, Li Fan hanyalah pemuda biasa dengan akar spiritual normal. Bagi orang lain, itu hal biasa. Tapi bagi Su Fan yang dulu terkutuk 10.000 akar spiritual, tubuh ini adalah anugerah termurni untuk mulai berkultivasi. Berbekal wawasan hukum tertinggi dan pengetahuannya yang melimpah, Li Fan memulai pendakian berdarah dari titik nol.
“Surga sebelumnya tidak adil bagiku. Tapi sekarang, Aku sendiri yang mengadili Surga!”

Dari manusia fana yang dianggap sampah hingga menjadi penguasa hukum yang menggetarkan semesta. Inilah kisah perjalanan Su Fan ditubuh Li Fan untuk pendakian menuju puncak agung yang mustahil. Sang jenius yang dulu terbelenggu, kini telah lepas dari rantai takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Pria yang Dia Kenal

Kedai Angin Awan adalah satu-satunya tempat hiburan sekaligus tempat makan yang layak di Pos Pertama Sekte Awan Azure. Bangunan kayu dua lantai itu selalu dipenuhi oleh para calon murid yang ingin mencari kehangatan dari teh spiritual tingkat rendah dan makanan panas demi mengusir hawa dingin gunung yang menusuk tulang.

Lin Xueyan melangkah masuk ke dalam kedai dengan langkah yang sangat anggun. Setiap mata di ruangan itu langsung tertuju padanya. Kecantikannya yang bagaikan dewi musim dingin, dipadukan dengan gaun sutra biru mudanya, membuat para pemuda tanpa sadar menahan napas mereka. Udara di sekitarnya terasa menurun beberapa derajat, membawa aroma bunga teratai es yang samar. Xiao Qing berjalan di belakangnya, membuka jalan menuju sebuah meja kosong di dekat jendela lantai dua yang menghadap langsung ke pelataran bawah.

Tepat saat Lin Xueyan hendak duduk, pandangannya tanpa sengaja menangkap sosok yang sangat ingin ia hindari seumur hidupnya.

Di sudut ruangan yang agak remang, duduklah Ma Liang bersama pelayannya yang berbadan besar. Berbeda dengan para bangsawan lain yang makan dengan perlahan dan menjaga tata krama, Ma Liang sedang menggigit sebuah bakpao daging berukuran sangat besar dengan cara yang luar biasa barbar. Pipi kanannya menggembung penuh makanan, sementara tangan kirinya memegang cangkir teh porselen. Pelayannya pun makan dengan cara yang sama rakusnya, melahap paha ayam panggang seolah besok dunia akan kiamat.

Namun, Lin Xueyan mengerutkan keningnya karena menyadari sesuatu yang janggal. Meskipun cara makan pria itu terlihat sangat kasar dan berantakan, punggungnya tegak lurus bagaikan pedang pusaka yang tertancap di bumi. Setiap gerakannya memegang cangkir teh atau mengunyah memiliki ritme dan efisiensi yang sangat rapi, seolah tubuh itu telah terbiasa dengan disiplin tingkat tinggi selama ribuan tahun.

Seolah merasakan tatapan tajam dari seberang ruangan, Ma Liang menghentikan kunyahannya. Ia perlahan menoleh dan pandangan matanya langsung bertemu dengan mata Lin Xueyan.

Jantung Lin Xueyan tiba-tiba berdetak satu ketukan lebih cepat. Itu bukan karena getaran cinta, melainkan karena insting bahaya murni yang muncul dari kedalaman jiwa spiritualnya. Di dalam sepasang mata hitam pekat pria itu, Lin Xueyan tidak melihat ada kerinduan yang bodoh, tidak ada rasa malu, dan sama sekali tidak ada rasa hormat. Pandangan itu adalah pandangan seekor naga kuno yang sedang menatap seekor semut yang kebetulan lewat di depan hidungnya. Ada jejak geli dan meremehkan yang sangat dalam di sana, sebuah arogansi absolut yang menganggap seluruh dunia fana ini hanyalah panggung sandiwara kecil.

Pandangan menakutkan itu hanya berlangsung selama sepersekian detik. Dalam sekejap mata, Ma Liang kembali memasang senyuman bodoh khas seorang tuan muda hidung belang. Ia melambaikan sisa bakpaonya ke arah Lin Xueyan dengan gaya genit yang sangat memuakkan.

Lin Xueyan membuang muka dengan cepat, rasa merinding menjalar di tengkuknya.

‘Ada yang salah dengan pria itu. Dia pasti bukan Ma Liang yang kukenal,’ batin gadis itu dengan penuh kewaspadaan.

Belum sempat Lin Xueyan mengatur napasnya dan merenungkan kejanggalan tersebut, suasana kedai yang tadinya tenang tiba-tiba berubah menjadi sangat mencekam.

Pintu kedai didobrak dengan sangat kasar dari luar hingga engsel kayunya nyaris lepas. Sepuluh orang remaja berbadan besar melangkah masuk dengan wajah beringas dan aura membunuh yang kental. Di barisan paling depan, Zhu Da yang wajahnya penuh perban dan kehilangan beberapa gigi depan sedang menunjuk ke arah sudut ruangan dengan tangan gemetar. Di samping Zhu Da, berdiri seorang pemuda tinggi besar dengan bekas luka codet melintang di pipinya. Pemuda itu adalah Wang Hu, pemimpin kelompok murid gagal terkuat di pos pertama ini yang terkenal kejam.

“Itu dia, Kakak Wang! Bocah sombong berbaju sutra putih itu yang memukuliku semalam!” teriak Zhu Da dengan suara cadel karena giginya yang hilang.

Wang Hu mendengus kasar, meniupkan udara panas dari hidungnya seperti banteng marah. Ia mencabut sebuah golok besar berkarat dari punggungnya dan menancapkannya ke lantai kayu kedai. Bunyi keras itu membuat beberapa pelanggan langsung berlari keluar berhamburan karena ketakutan.

“Oi, Tuan Muda Ma dari Hebei!” bentak Wang Hu dengan suara menggelegar yang menggetarkan cangkir teh di atas meja. “Kau pikir karena klanmu kaya raya, kau bisa seenaknya memukul adik sepersekutuanku di wilayahku? Turun ke lantai dan bersujudlah tiga kali di depanku, serahkan seratus koin emas sebagai ganti rugi, lalu aku mungkin akan mempertimbangkan untuk mematahkan hanya satu kakimu saja!”

Seluruh kedai seketika hening. Semua orang menahan napas dan menatap ke sudut ruangan. Lin Xueyan juga ikut memperhatikan dari mejanya, diam-diam ingin melihat bagaimana tunangan pengecutnya itu akan bereaksi saat dihadapkan pada preman sungguhan yang memegang senjata tajam.

Di sudut meja, Li Fan yang masih bersembunyi di balik identitas Ma Liang meletakkan cangkir tehnya dengan sangat pelan. Ia menelan sisa bakpao di mulutnya tanpa tersedak sedikit pun, lalu membersihkan tangannya dengan saputangan sutra seolah ia baru saja selesai menghadiri perjamuan mewah di istana kekaisaran Alam Dewa.

“A-Gou,” panggil Li Fan dengan nada santai, sama sekali tidak menoleh pada kerumunan beringas di depan pintu.

“Ya, Tuan Muda?” jawab Jin Tianyu dengan mulut yang masih penuh dengan daging ayam. Kini dalam mode akting pelayan A-Gou.

“Kau ingat pelajaran anatomi babi hutan yang kuberikan tadi malam sebelum kita tidur?” tanya Li Fan sambil tersenyum tipis.

“Tentu saja ingat, Tuan Muda. Titik lemah babi hutan ada di moncong dan lutut depannya,” jawab Jin Tianyu polos.

“Bagus sekali. Karena sepertinya ada sepuluh ekor babi hutan yang baru saja kabur dari kandang dan merusak selera makanku siang ini,” ucap Li Fan. Ia memutar tubuhnya menghadap Wang Hu. Senyum arogan yang sangat menyebalkan terukir jelas di wajah tampannya.

“Seratus koin emas? Sayang sekali, si codet jelek. Aku baru saja menggunakan semua uang jajanku untuk membeli sabun mandi beraroma bunga mawar karena ada kotoran bau yang mengotori pemandianku semalam.” Li Fan menatap tajam ke arah Zhu Da. Preman botak itu langsung berjengit mundur dan bersembunyi di belakang punggung Wang Hu.

Wang Hu merasa dipermalukan habis-habisan di depan umum. Wajahnya memerah karena amarah yang memuncak.

“Kau benar-benar mencari mati, bocah sialan! Hajar dia! Hancurkan semua tulangnya dan rampas barang bawaannya!” teriak Wang Hu memberi perintah mematikan.

Kesepuluh preman itu langsung mencabut senjata kayu dan besi mereka. Dengan raungan buas, mereka bersiap menerjang meja di sudut itu. Namun, sebelum mereka sempat melangkah maju, Li Fan sudah lebih dulu meraih sebuah keranjang bambu besar berisi bakpao daging yang masih mengepulkan asap panas. Bakpao itu baru saja disajikan oleh pelayan kedai semenit yang lalu dari dalam kukusan.

“Terimalah sedekah dariku, kaum miskin yang kelaparan!” teriak Li Fan sambil tertawa terbahak-bahak yang menggelegar di seluruh ruangan.

Dengan ayunan tangan yang dialiri sedikit tenaga fisik murni, ia melemparkan seluruh isi keranjang bambu itu tepat ke wajah rombongan preman di depannya. Belasan bakpao berdaging yang masih mendidih panasnya itu meluncur di udara dan menghantam wajah Wang Hu beserta teman-temannya bagaikan peluru meriam yang beruntun.

“Aaargh! Panas! Mataku melepuh!” jerit beberapa preman secara bersamaan. Mereka menjatuhkan senjata mereka ke lantai dan memegangi wajah yang memerah melepuh karena terkena uap dan daging panas.

Di tengah kekacauan yang sangat konyol itu, Li Fan melompat ringan naik ke atas meja.

“A-Gou, bereskan tulang ayammu dan ikuti aku! Kita bawa tontonan ini ke halaman bawah agar penontonnya lebih banyak!” perintah Li Fan.

“Siap Tuan muda!” ucap Jin Tianyu.

1
dinozzo
tokoh yg menggemparkan dunia, dapat menghancurkan musuh yg menghalangi jalannya dan membalas kembalikan dengan kebaikan.
Jojo Shua
gasss
Jojo Shua
🔥👍
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
👍
Jojo Shua
🔥
RisOne Harahap
mantap,lanjut,thor
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
Hasss 🔥
Dian Pravita Sari
gak TST lagi smjong
Dian Pravita Sari
memang novelmtoon gal kompeten dikelilingi prketks yg makan gaji buta semua depstyrmrnnys lah
Bahari: gk ngerti ngomong apa ka🙏
total 1 replies
Jojo Shua
👍
RisOne Harahap: joss,lanjut jangan kasih kendor
total 1 replies
Jojo Shua
Menghibur....
Cerdas...
Lucu...
Bahari: Xie xie🤭
total 1 replies
gempi
j
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!