NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Susu Anak Rahasia Ceo

Menjadi Ibu Susu Anak Rahasia Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami

​Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
​Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.

​Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: DURI DI BALIK JAS PUTIH

Pagi itu, gedung pusat Arkananta Medical—yang kini telah berganti papan nama menjadi Salsabila Medical Foundation—tampak berkilau di bawah siraman matahari Jakarta. Namun, bagi Arumi, kilauan itu terasa dingin. Ia berdiri di depan cermin besar di ruang direktur yang dulu ditempati oleh dr. Gunawan, antek Victoria. Arumi mengenakan jas putih dokter yang baru, dengan bordir nama di dada kiri: dr. Arumi Salsabila Arkananta.

Meskipun gelar dokter itu masih bersifat administratif karena ia sedang menyelesaikan sisa ko-asistensinya, Arlan telah memberikan mandat penuh padanya sebagai Direktur Operasional Medis.

"Kau tampak hebat," suara Arlan memecah lamunannya. Pria itu berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja biru navy dengan lengan digulung. Ia baru saja menyelesaikan rapat koordinasi dengan tim legal A&A Venture.

"Aku merasa seperti penyusup, Arlan," bisik Arumi, merapikan kerahnya yang kaku. "Di luar sana, ada puluhan dokter senior, profesor, dan spesialis yang sudah mengabdi puluhan tahun. Mereka tidak akan suka dipimpin oleh seorang mahasiswa yang 'beruntung' menikah denganmu."

Arlan melangkah mendekat, memutar tubuh Arumi agar menghadapnya. Ia meletakkan kedua tangannya di pinggang Arumi. "Kau bukan beruntung, Arumi. Kau adalah satu-satunya orang di gedung ini yang memiliki integritas untuk tidak menjual nyawa pasien demi saham. Mereka mungkin punya gelar lebih panjang, tapi kau punya hati yang lebih besar. Itu yang kubutuhkan untuk membersihkan tempat ini."

Arlan mengecup kening Arumi sekilas sebelum menyerahkan sebuah map kulit. "Ini jadwal rapat pleno pertamamu. Ingat, jangan beri mereka celah untuk meremehkanmu."

Ruang rapat pleno lantai 12 terasa seperti oven yang menyala. Suasana sangat tegang. Sekitar lima belas dokter senior, mayoritas pria berusia di atas lima puluh tahun, duduk dengan tangan bersedekap. Di tengah mereka duduk Profesor Hendra, seorang ahli bedah jantung ternama yang juga merupakan sekutu dekat keluarga Arkananta selama puluhan tahun.

Saat Arumi masuk, tidak ada yang berdiri. Beberapa bahkan tidak mengalihkan pandangan dari ponsel mereka. Arlan duduk di kursi paling ujung, bertindak sebagai pengamat, membiarkan Arumi mengambil panggung utama.

"Selamat pagi, semuanya," Arumi memulai, suaranya tenang namun jernih. "Saya Arumi Salsabila, dan mulai hari ini, saya akan memimpin transisi Arkananta Medical menjadi Yayasan Salsabila. Fokus utama kita adalah rehabilitasi korban 'Arkananta-Plus' dan subsidi silang untuk pasien kurang mampu."

Profesor Hendra tertawa kecil, suara yang merendahkan. "Nona Arumi—atau haruskah saya panggil Nyonya Arlan? Kami semua di sini adalah praktisi medis profesional. Kami membangun reputasi tempat ini dengan riset dan profitabilitas. Sekarang, Anda ingin mengubah rumah sakit elit ini menjadi badan amal? Siapa yang akan membayar gaji para spesialis di sini? Siapa yang akan membiayai alat-alat robotik kita jika semuanya 'gratis'?"

"Bukan semuanya gratis, Profesor," jawab Arumi, menatap langsung ke mata pria tua itu. "Kita akan menggunakan model bisnis filantropi.

 Pasien VIP tetap membayar dengan tarif premium, namun 40 persen dari keuntungan itu akan dialirkan langsung ke dana abadi yayasan. Selain itu, Arlan telah menyisihkan 20 persen saham A&A Venture untuk mendanai operasional dasar selama lima tahun ke depan."

"Ini konyol!" dokter lain menyela. "Ini adalah penghinaan terhadap profesi kami. Kami bukan relawan puskesmas. Kami adalah dokter Arkananta!"

Arumi berjalan mendekati meja rapat, meletakkan sebuah dokumen tebal di depan Profesor Hendra. "Profesor, saya sudah membaca catatan audit medis tahun lalu. Saya menemukan bahwa Anda menerima komisi sebesar dua miliar rupiah dari distributor alat kesehatan yang produknya ternyata cacat dan menyebabkan tiga pasien di ruang ICU meninggal dunia. Kasus itu ditutup-tutupi oleh Victoria."

Ruangan seketika menjadi sunyi senyap. Profesor Hendra memucat.

"Jika Anda ingin bicara tentang 'penghinaan terhadap profesi', mari kita bicara tentang sumpah Hippokrates yang Anda langgar," lanjut Arumi, suaranya kini setajam sembilu. "Saya tidak di sini untuk memohon kerja sama Anda. Saya di sini untuk memberi tahu Anda: siapa pun yang tidak setuju dengan standar etika baru Yayasan Salsabila, silakan tanda tangani surat pengunduran diri di depan meja ini sekarang juga. Arlan sudah menyiapkan tim medis dari luar negeri untuk menggantikan posisi siapa pun yang pergi hari ini."

Arlan tersenyum tipis di pojok ruangan. Ia bangga melihat "singa betina" yang baru saja bangun dalam diri istrinya. Satu per satu, para dokter yang tadi berteriak kini menunduk. Mereka tahu, melawan Arumi berarti melawan kekuatan finansial Arlan yang tanpa batas.

Setelah rapat yang melelahkan, Arumi kembali ke ruangannya. Ia menemukan Raka sedang menunggu dengan ekspresi yang tidak biasa.

"Ada tamu untuk Anda, Nyonya. Dia menolak pergi dan bersikeras hanya ingin bicara dengan Anda," ucap Raka.

"Siapa?"

"Siska," jawab Raka pendek.

Arumi tertegun. Siska, wanita yang dulu mencoba mencelakai Leon, wanita yang menjadi kaki tangan Victoria untuk menghancurkan hidupnya. Arumi ragu sejenak, namun rasa ingin tahunya menang. "Bawa dia masuk."

Pintu terbuka, dan sosok yang masuk sama sekali tidak menyerupai Siska yang glamor dan sombong. Wanita di depannya tampak kurus kering, dengan memar keunguan di bawah matanya. Pakaiannya lusuh, dan tangannya gemetar hebat. Begitu melihat Arumi, Siska langsung bersimpuh di lantai.

"Arumi... tolong aku," Siska terisak, suaranya pecah. "Victoria... dia tidak hanya menggunakan aku. Dia menjadikanku jaminan pada sindikat farmasi itu. Sekarang setelah Victoria dipenjara, mereka mencariku. Mereka ingin aku membungkam semua bukti yang tersisa, atau mereka akan menjualku ke luar negeri."

Arumi menatap wanita itu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa marah, namun juga ada rasa kasihan yang mendalam. "Kenapa kau datang padaku, Siska? Kau tahu apa yang telah kau lakukan pada keluargaku."

"Karena kau satu-satunya orang yang punya hati di lingkaran setan ini!" teriak Siska putus asa.

 "Arlan akan membunuhku jika dia melihatku, tapi kau... kau adalah seorang dokter. Tolong, sembunyikan aku. Aku punya data cadangan tentang lokasi laboratorium rahasia mereka di pinggiran Bogor. Aku akan memberikan semuanya padamu, asal aku selamat."

Arumi berdiri, menoleh ke jendela. Di luar, ia melihat mobil Arlan baru saja pergi untuk urusan bisnis. Ia tahu jika ia memberitahu Arlan, Arlan mungkin akan menyerahkan Siska ke polisi atau membiarkannya ditangkap sindikat. Tapi jika Siska benar memiliki data itu, mereka bisa menghancurkan akar masalahnya selamanya.

"Raka," panggil Arumi. "Bawa dia ke ruang medis rahasia di lantai bawah. Berikan dia pengobatan dan jangan beritahu siapa pun, termasuk Arlan, sampai aku memintanya.

Malam harinya, Arumi tidak bisa tidur. Ia memandangi Leon yang mendengkur halus di sampingnya. Arlan belum pulang dari pertemuan investor di Singapura. Arumi memutuskan untuk memeriksa data yang diberikan Siska melalui flash drive kecil yang disembunyikan Siska di dalam liontin kalungnya.

Saat data itu terbuka di laptopnya, Arumi terperanjat. Laboratorium di Bogor itu bukan hanya tempat memproduksi obat cacat, tapi tempat di mana Dante pernah disekap saat masih remaja. Ada foto-foto eksperimen ilegal pada manusia yang dilakukan oleh ayah Arlan sepuluh tahun lalu.

Tiba-tiba, sebuah pesan masuk ke ponsel Arumi dari nomor tak dikenal.

"Jangan percaya pada siapa pun yang datang meminta pertolongan, Arumi. Terutama mereka yang pernah mencoba membunuh putramu. Siska adalah umpan. Keluar dari gedung itu sekarang."

Pesan itu dari Dante.

Arumi segera berdiri, namun sebelum ia sempat meraih Leon, lampu di apartemen yayasannya padam total. Suara langkah kaki yang berat terdengar dari lorong luar.

Arumi menyadari satu hal: Siska tidak datang untuk meminta tolong. Siska telah dipasang pelacak oleh sindikat untuk menemukan lokasi persis di mana Arumi menyembunyikan ibunya dan Leon.

"Raka! Raka!" Arumi berteriak, namun radio komunikasinya hanya mengeluarkan suara statis.

Pintu apartemen didobrak kasar. Sesosok pria bertubuh besar dengan penutup wajah masuk, memegang alat pembius. Arumi memeluk Leon erat-erat, mundur ke arah jendela balkon.

"Berikan bayinya, dan kau akan selamat," ucap pria itu dalam bahasa asing.

"Tidak akan pernah!" Arumi meraih vas bunga di meja dan melemparkannya, namun pria itu dengan mudah menangkisnya.

Tepat saat pria itu hendak menerjang Arumi, sebuah bayangan melompat dari balkon lantai atas. Dengan gerakan yang sangat cepat, bayangan itu menendang kepala sang penyerang hingga terjerembap ke lantai.

"Sudah kubilang, jangan percaya pada wanita itu," ucap Dante, berdiri di tengah kegelapan dengan mata yang berkilat marah. Ia memegang pisau yang sudah berlumuran darah.

"Dante! Bagaimana kau bisa di sini?"

"Aku tidak pernah benar-benar pergi, Kakak Ipar," jawab Dante, menyeka darah di pipinya. "Arlan membayarku untuk menjadi bayanganmu, meskipun dia sendiri tidak tahu aku masih di Jakarta. Sekarang, ambil Leon dan ikut aku. Gedung ini sudah dikepung."

1
Ariany Sudjana
wah mimpi apa penjual rujak di pasar ketemu dengan pembeli yang sangat mengutamakan higienis 😂😂
Liza Syamsu
keren, alur cerita jelas, arlan CEO yg karakter nya pemimpin sejati
Liza Syamsu
ini seperti membaca trailer film action, bagus thor semangat walaupun yg like bisa dihitung pakai jari
Liza Syamsu
bagus banget ini karakter arlan ayo like yg sdh baca
Liza Syamsu
kenapa Victoria ingin menghancurkan leon dan arlan,apa arlan bukan anak kandung Victoria
Liza Syamsu
jangan sampai thor biar terbukti dulu leon anak arumi nanti baru konflik, bukannya brm sdh diamankan oleh arlan kno bisa dgn siska lagi
Nur Janah
haddeehhhhh...Siska dan Bram lg
Liza Syamsu
sumpah ini cerita nya bagus kenapa yg like sedikit, came on kawan jika sdh baca dilike dong
Ariany Sudjana
setuju dengan Dante, saat situasi tidak menentu, kita tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan, waspada terus Arumi
awesome moment
jgn tll baik hati. waspada tu perlu. bohing adalah akar smua masalah
Nur Janah
kan udah pake keamanan militer paling canggih Thor kok si Bram masih bisa tau
Nur Janah
buktikan PD Arlan Arumi bahwa bram penghianat
Nur Janah
ada bau" penghianat nih
Nur Janah
kyknya seru ceritanya Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!