Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.
Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.
Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.
Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.
Kini, nasib Jessica berada di tangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Ia kembali melangkah maju dengan membawa sebuah berkas.
“Yang Mulia, izinkan saya memperlihatkan bukti tambahan.”
Seorang petugas menyerahkan dokumen kepadanya.
Jaksa Wu mengangkat berkas itu sedikit, memastikan semua perhatian tertuju padanya. “Ini adalah laporan medis resmi dari rumah sakit tempat Jessica Zhou dirawat.”
Suasana ruang sidang langsung hening.
Ia mulai membaca dengan suara jelas.
“Dalam tubuh Jessica Zhou ditemukan kandungan obat Midazolam.”
Beberapa orang langsung berbisik pelan.
Jaksa Wu melanjutkan tanpa jeda.
“Midazolam adalah obat yang biasa digunakan sebagai penenang, namun dalam dosis tertentu dapat menyebabkan penurunan kesadaran dan hilangnya ingatan sementara.”
Jessica terdiam.
Tatapannya kosong, seolah mencoba mengingat sesuatu yang tidak bisa ia jangkau.
Jaksa Wu membuka halaman berikutnya.
“Berdasarkan hasil analisis waktu, obat tersebut disuntikkan tidak lama sebelum waktu kematian korban.”
Ruangan langsung gempar.
“Artinya—”
Ia menatap seluruh ruang sidang satu per satu. “Pada saat pembunuhan terjadi, Jessica Zhou berada dalam kondisi tidak sepenuhnya sadar… dan sangat mungkin tidak mengingat apa pun.”
Suasana berubah drastis.
Bukan lagi sekadar tuduhan—
melainkan teka-teki besar.
Jaksa Wu menutup berkasnya perlahan. “Ini membuktikan bahwa terdakwa tidak berada dalam kondisi normal saat kejadian. Dan itu berarti… ada seseorang yang dengan sengaja menciptakan kondisi tersebut.”
Suasana ruang sidang masih dipenuhi bisikan setelah Jaksa Wu selesai menyampaikan laporan medis.
Adrian mengetuk palu sidang satu kali.
“Tenang.”
Suaranya tidak keras, tapi cukup membuat seluruh ruangan langsung diam.
Tatapan tajamnya mengarah pada Jaksa Wu.
“Bukti laporan medis tersebut diterima oleh pengadilan.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih dalam.
“Jika benar Jessica Zhou berada di bawah pengaruh Midazolam pada waktu kejadian, maka hal ini membuka kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain.”
Kalimat itu langsung membuat suasana kembali menegang.
Adrian duduk menyandarkan diri. “Pengadilan akan melanjutkan pemeriksaan.”
Tatapannya mengarah pada Nico dan Catty.
“Kalian berdua berada di luar pada malam kejadian, benar?”
“Benar, Yang Mulia,” jawab Nico mantap.
Catty ikut mengangguk. “Kami memang tidak berada di rumah.”
Adrian membuka berkasnya sekilas, lalu menutupnya kembali.
“Baik. Pernyataan kalian sesuai dengan data yang diterima pengadilan.”
Nada suaranya datar—tidak menekan, hanya mencatat. “Apa tujuan kalian keluar malam itu?” tanyanya singkat.
“Urusan pribadi,” jawab Nico.
“Apakah saat kalian kembali… tidak menemukan adanya kehadiran orang lain?” tanya Adrian dengan suara tenang, namun menekan.
“Tidak ada, Yang Mulia. Hanya Jessica bersama orang tua kami yang telah meninggal,” jawab Catty.
Adrian mengangguk pelan.
“Suntikan yang ditemukan pada tubuh terdakwa membuktikan bahwa ia telah kehilangan kesadaran sebelum waktu kematian korban.”
Suasana ruang sidang mulai hening.
“Artinya—” Adrian mengangkat pandangannya, menyapu seluruh ruangan, “kedua korban bukan dibunuh oleh terdakwa.”
Kalimat itu jatuh seperti palu.
Beberapa orang langsung berbisik.
“Melainkan… ada seseorang yang datang ke dalam rumah tersebut."
“Apa…? Lalu siapa dia?” tanya Catty dengan suara bergetar, hampir tidak percaya.
Adrian menatap lurus ke depan.
“Pelaku… adalah seseorang yang berada di sekitar keluarga Zhou. Seseorang yang bisa keluar masuk rumah itu dengan mudah tanpa menimbulkan kecurigaan.”
“Kami juga menemukan sidik jari pada senjata tajam yang digunakan dalam pembunuhan.”
Beberapa orang mulai menahan napas.
Adrian mengangkat pandangannya.
“Dan setelah diperiksa…”
Ia berhenti sejenak.
“…sidik jari tersebut mengarah pada satu orang.”
Hening.
“Jeff Zhou.”
Ucapan itu membuat seluruh ruang sidang gempar.
Jessica membelalakkan mata.
Nico dan Catty langsung menoleh ke arah Jeff dengan wajah penuh keterkejutan.
“Tidak… ini tidak mungkin…” gumam Jessica lirih.
“Yang Mulia, ini salah paham!” seru Jeff panik, langsung berdiri dari kursinya.“Mana mungkin saya membunuh kakak saya sendiri?!”
Suaranya mulai bergetar.
Adrian menatapnya dingin.
“Duduk.”
Satu kata itu langsung membuat suasana kembali menegang.
Jeff perlahan duduk, namun napasnya masih tidak teratur.
Adrian melanjutkan dengan tenang.
“Sidik jari tidak bisa berbohong.”
Ia mengetuk berkasnya pelan.
“Terlebih lagi ditemukan pada senjata yang menjadi alat pembunuhan.”
Keringat mulai muncul di pelipis Jeff.
“Sa-saya… saya tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi…”
“Hasil forensik menunjukkan bahwa sidik jari tersebut berada dalam kondisi terbaru… dan sangat dekat dengan waktu kematian korban.”