Ditinggalkan ,dihina, dan dicap mandul, Azura kembali ke desa kerumah orang tuanya dengan hati hancur setelah 5 tahun pernikahan diceraikan suaminya . Namun saat hidupnya mulai bangkit, rahasia besar keluarga terungkap, ancaman, dan musuh berbahaya . Di tengah badai itu, Azura bertemu Rayyan ,duda kata dengan dua anak kembar dan luka masa lalu . Akankah Azura mempertahankan harga diri, keluarga, dan cintanya? Atau masa lalu kembali meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala NU Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan yang Tidak Pernah Ada
Jam di dinding menunjukkan pukul tiga dini hari. Suasana rumah mewah keluarga Prakoso masih senyap. Di atas sajadah, ia menumpahkan segala sesak yang tak sanggup ia ceritakan kepada manusia. Sholat tahajud, mengaji, hingga adzan subuh berkumandang, setelah sholat subuh barulah ia memulai perannya menjadi "babu" dirumah milik suaminya.
Sudah lima tahun ia terjebak disini. Kamar luas ini terasa asing. Megah, tapi hampa. Persis seperti sangkar emas yang berduri, indah dipandang dari luar. Tapi menyiksa penghuninya.
Azura melipat mukena dengan gerakan sangat pelas, nyaris tanpa suara. Ia melirik Dimas yang masih mendengkur halus. Jantungnya berdesir ngeri setiap kali melihat suaminya. Tiga tahun lalu, hanya karena mencoba membangunkan Dimas untuk sholat subuh, sebuah pukulan mendarat di kepalanya hingga ia berakhir di rumah sakit karena tidak sadarkan diri sampai dua hari. Sejak saat itu, Azura belajar satu hal : jangan pernah menggangu tidur " sang tuan".
Dengan langkah yang pelan keluar dari kamar. Ia hafal setiap sudut lantai yang bisa mengeluarkan bunyi. Sedikit saja ada suara berderit teriakan ibu mertuanya akan langsung pecah membelah kesunyian pagi.
Sampai di dapur, Azura langsung memasak yang menjadi rutinitasnya setiap hari. Membersihkan rumah, melayani, persiapan robot tapi manusia, walaupun Azura dibantu pelayan lainnya tapi Azura tidak diperbolehkan santai dirumah itu perintah ibu mertuanya.
Sembari mengiris bawang merah, perih di matanya bukan cuma karena bau bawang, tapi karena ingatannya mendadak melayang ke masa lalu, pada sosok dirinya yang dulu. Kadang ia hampir tidak mengenali Azura dirinya sekarang. Dulu, ia adalah mahasiswi cerdas peraih beasiswa penuh. Kariernya di perusahaan garmen besar sempat bersinar terang, hingga ia bisa mengirimkan uang untuk keluarganya di desa.
Tapi cinta itu buta. Saat Dimas, teman kuliahnya, datang dengan segala perhatian dan janji manis, Azura pun luluh.
" Status bukan masalah bagiku, Ra," kata Dimas dulu
Bodohnya Azura, percaya. Ia rela meninggalkan kariernya karena berjanji akan menjamin hidup orang tuanya di desa, setiap bulan akan mengirimkan sebesar empat juta.
Ketika ,begitu pintu rumah ini tertutup rapat, Azura berada di dalam rumah mewah, dibaliknya, dunia Azura langsung berubah. Ponsel disita, akses keluar rumah diputus, dan ia dilarang menghubungi keluarganya sendiri. Lima tahun ia hidup tanpa kabar dari bapak dan ibunya.
" Woy! Perempuan mandul memang lamban! Pantas saja rahimmu kering, otakmu saja tumpul!"
Suara cempreng ibu Ratih, mertuanya, tiba - tiba memecahkan lamunan Azura. Wanita itu sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan tatapan sangat merendahkan.
" Maaf, Bu. Sedikit lagi selesai," jawab Azura sambil menunduk.
" Maaf saja terus! Kalau bukan karena kasihan, sudah lama Dimas membuangmu ke jalanan," timpal Sarah, kaka iparnya, yang baru saja muncul sambil tertawa sinis. " Eh, Azura. Gimana mau punya anak kalau melayani meja makan saja tidak becus?"
Hati Azura terasa diremas, perih sekali. Tapi, ia hanya bisa menelan pahit itu dalam-dalam . Sesaat kemudian, Dimas turun dari tangga. Pria yang dulu memujanya itu kini bahkan tak Sudi menatap wajahnya.
"Proposal tender untuk proyek di pusat kota, sudah selesai?" tanya Dimas dingin sambil menarik kursi makan.
"Sudah, Mas. Aku letakkan di tas kerjamu," jawab Azura pelan.
Dimas hanya berdehem singkat. Ia tidak pernah mau mengakui, atau mungkin pura - pura tidak tahu, bahwa setiap kesuksesan bisnisnya selama lima tahun ini adalah hasil otak jenius Azura. Ia hanya menjadikan Azura "bayangan" yang dieksploitasi tenaganya, lalu dihina pribadinya.
Tapi pagi ini, ada sesuatu yang patah di dalam hati Azura. Sisa - sisa cintanya untuk Dimas akhirnya benar - benar mati.
Malam harinya, dengan tangan gemetar, Azura membuka laci rahasia di kamar kecil belakang. Ia menatap berkas - berkas yang ia simpan seperti nyawa, KTP, ijazah ,buku tabungan dan dua buku nikah yang mulai kusam.
"Aku harus pergi," Bisiknya di kegelapan malam.
Keesokkan harinya, Berkat bantuan Mbok Ati, yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri, azura berhasil keluar melalui pintu rahasia di belakang rumah. Dengan jantung yang seolah mau melompat keluar, ia menaiki taksi menuju Kantor Urusan Agama.
"Selamat pagi. Saya ingin mendaftarkan gugatan cerai, " ucap Azura di depan loket. Suaranya bergetar, namun tatapannya tegas.
Petugas di balik kaca menerima buku nikahnya. Tak lama kemudian, dahi pria itu berkerut dalam.
"Maaf, Ibu Azura... Anda yakin ini buku nikah asli?"
Azura membeku. " Maksud Bapak apa?"
"Data pernikahan atas nama Azura Nadhira dan Dimas Prakoso tidak terdaftar di sistem kami. Barcode ini... Palsu. Buku ini tidak memiliki nomor registrasi negara."
Deg
Dunia seolah berhenti berputar. Dengung memekakkan telinga mendadak memenuhi kepala Azura. "Tidak mungkin... Mas Dimas sendiri yang memberikannya..."
"Secara hukum negara, Anda tidak pernah menikah dengan pria ini, Bu. Status anda di sini masih lajang."
Azura jatuh terduduk di lantai kantor yang dingin. Ia teringat pernikahan sederhana di desa dulu. Dimas bila surat- surat akan di urus di kota ,serta resepsi pernikahan. Satu Minggu setelah di kota pengacara Dimas memberikan buku nikah itu kepada Azura dan resepsi pernikahan ditunda dulu.
Lima tahun. Lima tahun ia mengabdi seperti budak. Lima tahun dihina mandul. Dan ternyata Dimata hukum, ia hanyalah wanita simpanan Dimas tidak menikahinya secara resmi.
Tiba-tiba, Isak tangis Azura berubah menjadi getir yang mengerikan. Ia menyeka air mata dengan kasar. Rasa hancur selama lima tahun ini sudah dibohongi seketika menjadi kemarahan yang membara.
"Begitu rupanya kalian sekeluarga bermain?" desisnya dengan mata menyala.
Ia mengepalkan tangan, jika Dimas menganggapnya tidak ada sebagai istri sah di akui Negara ,maka Azura memastikan mulai hari ini , ia akan menjadi mimpi buruk yang paling nyata bagi keluarga Prakoso.
"Kalian pikir aku lemah? Kita lihat siapa yang nyata merangkak di kakiku nanti!'