Tiga tahun menikah, Tania hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Baginya, Rey adalah semesta, tapi bagi Rey, Tania hanyalah 'obat penawar' saat hatinya hancur ditinggal masa lalu.
Tania sudah memberikan segalanya, sampai dia sadar—di hati suaminya, tetap ada nama wanita lain yang tak sanggup dilepaskan.
Saat Tania berhenti peduli dan berpapasan tanpa lagi menatap mata suaminya, Rey baru merasakan dingin yang sesungguhnya.
"Apakah mencintai harus sesakit ini? Jika kau cinta, mengapa tak menahannya, Rey?"
Terinspirasi dari lagu Arvian Dwi(Hatimu Milik Dia)
Dukung Authir yaa,,like,komen,gift hehehe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Sempit di Balik Jeruji
Dingin. Bau pembersih lantai yang tajam bercampur dengan aroma pengap menyambut Bianca saat pintu besi itu berdentum menutup di belakangnya. Ia meringkuk di sudut sel sempit yang harus ia bagi dengan tiga wanita lain yang tampak jauh lebih garang darinya.
"Heh, anak baru. Jangan cuma bengong di situ. Sini, pijitin kaki gue," bentak seorang wanita bertato mawar di lengannya.
Bianca gemetar. "Sa-saya bukan pelayan. Saya ini model."
Gelak tawa pecah di dalam sel itu. "Model? Model apa? Model baju tahanan? Lihat tuh kaca, muka lo udah kayak zombi," ejek tahanan lain.
Bianca meraba wajahnya. Tanpa skincare mahal, tanpa krim malam yang biasa ia gunakan, kulitnya mulai beruntusan dan kusam. Rambutnya lepek karena hanya dicuci dengan sabun batangan murah. Inilah awal dari kehancuran fisik yang selama ini ia agung-agungkan. Sementara itu, tuduhan pencurian dan percobaan penipuan yang ia lakukan di minimarket kemarin membuatnya harus mendekam di sini selama proses penyidikan.
Tidak ada pengacara mahal yang datang. Tidak ada Rey yang membawakan jaminan. Bianca benar-benar sendirian, membusuk di tempat yang paling ia takuti: tempat di mana kecantikannya tidak lagi memiliki nilai tukar.
Di sisi lain, Reynald Pratama sedang berdiri di ruang tamu rumah besarnya, tapi, rumah itu kini tidak lagi terasa seperti istana. Beberapa orang pria berseragam dengan tanda pengenal bank sedang menempelkan stiker merah besar di gerbang depan dan di beberapa pilar rumah.
"ASET INI DALAM PENGAWASAN BANK"
"Tuan Rey, sesuai dengan kesepakatan restrukturisasi hutang yang gagal, kami harus melakukan penyitaan aset jaminan," ucap petugas bank itu dengan nada dingin tanpa ekspresi. "Anda memiliki waktu empat puluh delapan jam untuk mengosongkan tempat ini."
Rey hanya terdiam, bersandar pada tongkatnya. Tangannya yang tremor ia sembunyikan di dalam saku celana. Ia menatap lampu gantung kristal yang dulu ia beli seharga satu unit mobil mewah hanya untuk memuaskan gengsi Bianca. Sekarang, lampu itu bahkan tidak sanggup menerangi kegelapan di hatinya.
"Ron ... kemasi barang-barangku. Kita pindah ke apartemen kecil di pinggiran kota yang masih atas nama ibuku," perintah Rey lirih.
"Tapi Tuan, apartemen itu sangat sempit dan tidak ada lift yang memadai untuk kondisi kaki Anda," keluh Roni.
Rey tersenyum getir. "Cukup adil, bukan? Dulu aku membiarkan Tania tinggal di rumah ini bagai di penjara bawah tanah karena pengabaianku. Sekarang, biarlah aku tinggal di tempat sempit untuk merasakan bagaimana rasanya sesak napas karena kesepian."
Dua hari kemudian, Tania sedang berada di lokasi proyek barunya—sebuah penthouse mewah milik seorang kolektor seni. Sebagai seorang Desainer Interior, Tania sangat teliti. Ia sedang memeriksa sketsa tata ruang dan pemilihan material marmer untuk dinding utama.
"Ra, material travertine ini akan sangat cantik jika dipadukan dengan pencahayaan warm white dari sudut plafon," ujar Tania pada asistennya.
"Setuju, Ibu. Oh ya, ada kiriman dokumen dari kantor hukum. Katanya ini terkait aset yang baru saja dilepas oleh keluarga Pratama," asistennya menyerahkan sebuah map.
Tania membukanya. Ternyata, studio desainnya mendapatkan tawaran untuk merenovasi kantor lama milik Reynald yang baru saja dibeli oleh perusahaan lain. Takdir seolah sedang bermain-main. Perusahaan yang dulu ia banggakan karena suaminya adalah pimpinannya, kini justru menjadi proyek pekerjaannya di mana ia adalah bos-nya.
Adrian datang tak lama kemudian, membawakan makan siang sehat untuk Tania. Ia melihat map di tangan Tania.
"Kamu akan mengambil proyek renovasi gedung Pratama itu?" tanya Adrian lembut.
Tania mengangguk dengan mantap. "Iya. Tapi bukan karena dendam. Aku ingin mengubah energi gedung yang dulu suram dan penuh kebohongan itu menjadi ruang kerja yang transparan, cerah, dan jujur. Aku ingin menghapus jejak Rey di sana dengan karyaku."
Adrian menatap Tania dengan bangga. "Itulah bedanya kamu dengan mereka, Tania. Kamu tidak menghancurkan, kamu membangun kembali. Kamu tidak membalas dengan kebencian, tapi dengan prestasi."
Sore itu, saat Tania dan Adrian keluar dari gedung penthouse, mereka tidak sengaja melewati area parkir di mana sebuah mobil sedan tua sedang berusaha keluar. Mobil itu tiba-tiba mogok tepat di depan mobil Adrian.
Rey turun dari mobil itu dengan susah payah. Keringat membasahi dahinya. Ia tampak sangat lelah, mencoba membuka kap mesin mobilnya yang berasap.
Tania berhenti melangkah. Ia melihat pria yang dulu selalu ia siapkan pakaiannya setiap pagi, kini kesulitan bahkan hanya untuk urusan mobil mogok. Adrian hendak turun untuk membantu, tapi Tania menahan lengannya.
"Biarkan dia, Adrian. Dia harus belajar bahwa di dunia ini, tidak semua hal bisa selesai hanya dengan memerintah orang lain," bisik Tania.
Akan tetapi, Rey melihat mereka. Ia berdiri tegak, mencoba menyeimbangkan tubuhnya dengan tongkat. Ia melihat Tania yang tampil begitu profesional dengan blueprint di tangannya, didampingi Adrian yang tampak begitu gagah.
"Tania." panggil Rey lirih.
Tania mendekat, tapi hanya sejauh dua meter. "Mobilmu mogok, Rey? Sama seperti hidupmu yang sepertinya sedang kehilangan tenaga."
Rey menunduk. "Aku sedang menuju apartemen kecilku. Semuanya sudah disita, Tan. Rumah, kantor ... semuanya."
"Baguslah," sahut Tania tanpa nada sarkasme, murni pernyataan jujur. "Setidaknya sekarang kamu tidak punya beban harta untuk disombongkan. Mungkin dengan menjadi miskin, kamu bisa belajar menjadi manusia."
"Tan, apa benar kamu yang akan merenovasi kantor lamaku? Aku dengar perusahaan pemenang tender interiornya adalah studio milikmu," tanya Rey dengan suara serak.
Tania tersenyum tipis. "Benar. Aku akan membongkar ruang kerjamu yang dulu sering kamu gunakan untuk menyembunyikan Bianca. Aku akan menggantinya dengan ruang terbuka hijau. Supaya siapa pun yang bekerja di sana nanti bisa menghirup udara yang lebih bersih daripada udara yang kamu tinggalkan."
Rey merasa dadanya sesak. Mendengar bahwa tempat kejayaannya akan dirombak total oleh wanita yang ia sia-siakan adalah tamparan yang lebih keras daripada kebangkrutan itu sendiri. Jejaknya akan dihapus bersih oleh tangan Tania.
"Selamat berjuang dengan mobilmu, Rey. Aku harus pergi, aku punya klien yang jauh lebih penting untuk ditemui," ucap Tania sebelum berbalik dan masuk ke mobil Adrian.
Mobil Adrian melaju mulus, melewati Rey yang masih berdiri di samping mobilnya yang berasap. Di dalam mobil, Tania tidak menoleh lagi. Ia justru membuka tabletnya dan mulai menggambar pola interior untuk proyek selanjutnya.
Sementara di penjara, malam itu Bianca harus tidur di lantai yang dingin tanpa bantal. Ia menangis tersedu-sedu, meratapi nasibnya. Kulitnya mulai terasa gatal karena alergi debu sel, dan tidak ada krim mahal yang bisa menyelamatkannya.
"Berisik! Tidur atau gue siram air selokan?!" ancam teman satu selnya.
Bianca membungkam mulutnya dengan tangan yang kotor. Di sana, di kegelapan sel, ia baru menyadari bahwa kecantikannya yang dulu ia gunakan untuk merusak rumah tangga orang lain, kini menjadi kutukan yang membuatnya merasa paling menderita di tempat kumuh itu.
Karma bagi sang ulat bulu baru saja dimulai, dan penjara hanyalah pembukanya.