Elaine seorang mahasiswi kedokteran memiliki perasaan yang mendalam pada seorang pria adi kuasa, Killian. Salah satu pria dari kaum elite global. Yang bekerja sama dengan para mafia untuk menjalankan bisnis kotornya.
Damian. Kakaknya bekerja di interpol untuk menyelidiki masa lalu kematian orang tua mereka. Saat ia mengetahui adiknya memiliki hubungan khusus dengan anggota elite global dan mafia. Elaine harus memutuskan akan berdiri melindungi kekasihnya atau kakaknya, keluarga satu-satunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Protective
Sepanjang perjalanan tak ada senyum ataupun canda tawa yang keluar dari wajah Elaine. Lian tak mengambil pusing, baginya selama ia masih bisa melihat wanita itu disisinya itu sudah lebih dari cukup. Terlebih ia selalu mengupayakan segala kebutuhan wanita itu dapat terpenuhi.
“Aku akan pergi ke kantor pusat sebelum malam aku akan kembali.”
El tak peduli, ia membuka pintu kaca balkonnya. Melihat lalu lalang kapal dibawah sana.
“Kau ingin ikut bersama ku?” Tanya Lian kembali.
“Jangan bercanda. Kau sedang sibuk untuk apa aku mengganggumu.”
“Aku tidak merasa terganggu oleh mu.”
Elaine membuku sekaleng bir dan menenggaknya, “Aku akan disini. Aku juga harus mengerjakan laporan ku.”
“Aku akan kembali lebih cepat.” Ujar Lian beranjak keluar dari kamar tidur itu.
El tak menjawab lagi. Ia menatap ponselnya, ada banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Samiel. Terlebih ia tak ingin jika Sam mengadu pada Glenn terkait hubungannya dengan Killian.
...****************...
“Cari tahu tentang wanita itu.” Kesal Araya pada Mathew. Teman dekat Araya, dapat dikatakan Math menyukai Araya sejak lama. Namun wanita itu menolaknya secara keras. Mathew pun sadar akan dirinya yang tidak mampu berada diatas keluarga Vane. Hanya seorang artis idola dibawah naungan agency keluarga Vane. Ya, keluarga Vane memiliki bisnis yang bergerak dibidang industri hiburan salah satunya.
“Tapi Lian melarangmu untuk mengusiknya bukan.”
“Aku tidak mengusiknya. Aku hanya ingin tau apa yang membuat Lian menyukai wanita itu.”
Araya kembali menenggak minuman kerasnya. Namun pria itu meraih pelan gelas yang digenggam oleh Araya.
“Kau sudah minum terlalu banyak.”
“Kau bisa membantuku bukan Math?” Mohon Araya.
“Kenapa tidak kau hentikan saja perasaanmu padanya Ray.” Ujar Math perlahan takut menyinggung wanita itu, “Kau tahu bagaimana ia sering mengabaikan mu.”
“Kau sendiri bagaimana? Disaat aku selalu mengabaikanmu dan meminta bantuanmu agar Lian menjadi perhatian pada ku.” Araya melangkah mendekati pria yang bersandar pada pagar pembatas di balkon kamarnya, “Kenapa tidak kau hentikan sendiri perasaanmu itu.” Ketusnya lagi.
Math hanya tertunduk dalam senyuman. Wanita itu selalu pintar bermain kata.
“Akan aku upayakan.” Lanjut Math.
“Dan bisakah kau membuat mereka terpisah?” Pinta Araya lagi.
“Ray…” Math mulai cemas dengan isi pikiran Araya.
“Aku kira kau dapat memuaskan keinginanku. Jika kau tidak mampu aku dapat mencari orang lain untuk melakukan semua keinginan ku.”
Terlihat Math menghelas nafas beratnya. Meski ia enggan melakukan permintaan Araya namun pada akhirnya ia pasti akan melakukannya juga.
Hanya dengan seperti itu ia dapat terus berada disisi Araya. Setidaknya ia dapat menjadi pria yang berguna bagi Araya.
...****************...
“Dia sudah makan?” Tanya Lian saat didalam lift menuju kamar hotel.
“Terakhir petugas kamar mengirimkan makan malamnya tapi pintu kamar tidak dibuka oleh El.” Jawab Hansen.
“Jadi seharian ini dia tidak keluar kamar?” Lian melihat jam tangannya, saat itu pukul 10 malam. Ia melewatkan janjinya pada Elaine. Setumpuk pekerjaan harus ia selesaikan hari itu juga.
“Bukankah kau yang melarangnya untuk pergi dan tetap dikamar.”
Dan memang Elaine cukup patuh pada perintah Killian. Saat Lian memasuki kamarnya, wanita itu tengah terlelap diranjang dengan laptop masih menyala.
Perlahan dengan kelembutan, Killian membereskan semua barang yang berserakan di atas ranjangnya lalu ia bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Lian tipikal pria yang sangat bersih dan menyukai kerapihan. Dipertemukan wanita yang tidak peduli akan kerapihannya tidak membuat Lian merasa risih ataupun kesal. Saat itu ia mendekatkan wajahnya untuk menatap wanitanya lebih dekat. Ia menyukai semua yang ada pada diri kekasihnya itu.
Perlahan ia berbaring disamping Elaine, mendekapnya perlahan agar wanita itu tidak terbangun. Sejak perjalanan dinas mereka di Asgard, Lian lebih memilih untuk tidur bersama. Mencium aroma tubuh wanitanya membuat nyaman dan dirinya dapat tidur dengan pulas.
Hari itu Lian terlambat pulang untuk menuntaskan pekerjaannya, ia tak ingin ada gangguan selama Elaine mendapatkan jatah libur. Sulit bagi wanitanya untuk libur di tengah padatnya jadwal residensinya. Dan besok adalah hari terakhir baginya untuk menghabiskan waktu libur sebelum harus kembali beraktifitas dirumah sakit dan kampusnya lagi.
“Lian…” Lirih Elaine memanggil, saat pria itu membuka tirai kamar tidur dan semburat cahaya matahari mulai masuk menembus tirai putih tipisnya.
Elaine semakin membenamkan tubuhnya dalam selimut tebal. Lian sendiri melihat meja besar ditengah ruangan itu kembali berantakan dengan laptop dan beberapa barang bawaan Elaine.
“Kau terbangun semalam?” Tanyanya memastikan.
“Aku lupa mengirim tugasku.” Jawab El dengan gumaman rasa malas dari balik selimut. Ia masih mengantuk di pagi itu.
Sedangkan Lian sendiri dengan penuh energi sudah bersiap untuk menyenangkan wanitanya. Biasanya ia akan terbangun jika ada suara sekecil apapun itu, namun saat bersama Elaine aroma tubuh wanita itu menjadi obat penenang baginya.
“Kau tidak bekerja?” Tanya El suaranya terdengar jauh dari balik selimut tebalnya.
Elaine sempat menanyakan pada Hansen melalui pesan singkat semalam, jam berapa Lian kembali karena saat membuka mata pria itu sudah berada disisinya. Ia juga mendapatkan kabar harusnya hari ini Lian akan kembali bekerja.
“Tidak. Aku berencana membawamu jalan hari ini.” Lian menenggak air mineralnya.
“Kemana?”
El langsung meraih ponsel Lian saat pria itu melemparkannya tepat diatas kasur. Terlihat sebuah pemandangan gunung yang indah dengan danau membentang luas sepanjang jauh mata memandang. Rimbunnya pohon dengan daun berwarna orange berpadu dengan warna terracotta. Begitu indah dengan sentuhan langit berwarna merah berpendar ungu saat sore hari.
Lian dapat melihat raut wajah Elaine yang berubah semangat dari binaran bola matanya.
“Jadi bagaimana menurutmu?” Tanya Lian kembali.
“Aku akan bersiap.” El bergegas bangun dari ranjangnya dan menuju kamar mandi. Bahkan pria itu sudah menyiapkan pakaian untuk Elaine didalamnya.
Tak dapat dipungkiri, selama ini Lian selalu meratukan kebutuhan wanitanya. Dibalik sifatnya yang over protective, ia selalu memanjakan Elaine.
...****************...
“Dimana dia?” Kesal Damian saat ia tak dapat menghubungi Elaine di akhir pekannya, seperti yang selalu ia lakukan sebelumnya, “Apa dia juga tidak pulang ke apartemen?”
“Terakhir dia menghubungi ku dua hari lalu. Dia akan berlibur bersama temannya.”
Damian mengembalikan ponsel Glenn. Kepalanya begitu berat hanya untuk memikirkan adiknya itu.
“Hubungi Mia lagi, barangkali dia tahu dimana Laine. Dan cari tahu keberadaan Samiel mungkin juga ia bersamanya.” Pinta Damian.
“Kalau mereka tidak bersama Laine, pergilah ke Malice cari tahu dia sedang dekat dengan siapa.”
Glenn hanya dapat mematuhi perintah Damian. Kakaknya terlihat menjaga jarak dengan sang adik semata untuk menjauhkannya dari marabahaya. Meski ia disibukkan dengan segudang latihan dan pekerjaannya di interpol namun pikirannya tetap tertuju pada Elaine.
Damian membuat batasan baginya dengan Elaine hanya karena tak ingin musuh mengetahui bahwa perempuan itu adalah kelemahan terberatnya.
Glenn adalah penghubung bagi Damian saat dirinya tak bisa menjangkau adiknya semata wayangnya.