Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
Malam itu berjalan lambat, seolah waktu sengaja menahanku di dalam kamar sempit itu. Dinding-dindingnya tipis, tapi jarak antara aku dan mereka di luar terasa begitu jauh. Suara televisi masih terdengar—tawa palsu dari acara komedi—bercampur bunyi piring dan sendok. Hidup mereka berjalan seperti biasa.
Tanpa aku.
Aku bangkit, mengganti baju basah dengan kaus lusuh yang warnanya sudah pudar. Rambutku masih lembap, ujungnya meneteskan air ke lantai. Tidak ada handuk bersih. Semuanya sudah kupakai sore tadi—untuk mencuci pakaian Kak Rini.
Aku duduk di tepi kasur, menatap jari-jariku sendiri. Kulitnya kasar, penuh bekas minyak dan sabun. Jari-jari ini terlalu sering bekerja untuk usia yang katanya masih muda.
Aku teringat doaku tadi.
Pergi.
Kata itu terdengar menakutkan… tapi juga menenangkan.
Keesokan paginya, aku bangun sebelum subuh. Bukan karena semangat, tapi karena tubuhku sudah terlalu terbiasa. Ibu belum bangun. Kak Rini masih tidur. Rumah sunyi, dan untuk sesaat… terasa damai.
Aku ke dapur, menyalakan kompor kecil. Minyak kupanaskan, adonan gorengan kusiapkan. Tanganku bergerak otomatis, seperti mesin yang lupa bagaimana caranya berhenti. Bau minyak panas memenuhi ruangan, membuat mataku perih.
Saat aku menggoreng, pintu kamar ibu terbuka.
“Kamu nggak sekolah hari ini?” tanyanya.
Aku menoleh. “Sekolah, Bu. Nanti siang.”
Ibu mengangguk, lalu duduk di kursi. “Jualannya jangan lama-lama. Nanti keburu siang.”
Aku ingin bertanya:
Kalau aku nggak jualan, ada yang menggantikan?
Tapi seperti biasa, kata-kata itu berhenti di dada.
“Iya, Bu.”
Di sekolah, aku hampir tidak mendengar apa pun yang guru jelaskan. Mataku menatap papan tulis, tapi pikiranku melayang jauh. Saat jam istirahat, teman-teman berkumpul, tertawa, membicarakan rencana setelah lulus.
“Aku mau kerja di kota.”
“Aku daftar kuliah.”
“Ayahku bilang nanti dibeliin motor.”
Aku hanya diam.
Seseorang menepuk pundakku. “Senja, kamu habis lulus mau ngapain?”
Aku tersenyum tipis. “Belum tahu.”
Padahal di dalam hati, jawabannya sudah jelas.
Aku mau pergi.
Sore itu aku kembali berjualan. Langit cerah, hujan tidak turun, tapi dadaku tetap berat. Aku menyusuri kampung dengan suara pelan.
“Gorengan… gorengan…”
Di ujung gang, seorang perempuan tua memanggilku.
“Dek, sini.”
Ia membeli banyak. Saat aku menyerahkan gorengan, tatapannya tertahan lama di wajahku.
“Kamu sering kelihatan capek,” katanya tiba-tiba.
Aku terdiam.
“Kamu masih sekolah, ya?”
Aku mengangguk.
Perempuan itu menghela napas. “Anak seharusnya belajar, bukan memikul hidup terlalu cepat.”
Kalimat sederhana itu membuat tenggorokanku tercekat.
Ia menyelipkan uang lebih ke tanganku. “Buat kamu. Jangan ditolak.”
Aku menunduk. “Terima kasih, Bu.”
Saat melangkah pergi, air mataku jatuh. Untuk pertama kalinya… ada orang asing yang benar-benar melihatku.
Malamnya, uang itu kusimpan terpisah. Tidak kuserahkan ke ibu. Bukan karena aku jahat, tapi karena untuk pertama kalinya aku ingin punya sesuatu… untuk diriku sendiri.
Sedikit demi sedikit, hari demi hari, aku menyisihkan uang. Tidak banyak. Sangat sedikit. Tapi setiap lembar terasa seperti harapan kecil yang kuselipkan diam-diam.
Aku tidak tahu ke mana akan pergi.
Aku tidak tahu bagaimana caranya.
Yang aku tahu hanya satu—
aku tidak bisa selamanya tinggal di rumah yang membuatku merasa tidak pernah benar-benar pulang.
Kadang aku lupa, rumah ini dulu tidak sesepi sekarang.
Aku mengingatnya bukan karena rindu, tapi karena sunyi hari ini terlalu keras untuk diabaikan.
Dulu ada Bang Ari.
Bang Al.
Bang Randi.
Kak Rita.
Dan Kak Pipi.
Rumah ini pernah penuh suara. Setiap pagi setelah membuat gorengan, kami menyusuri ladang-ladang penduduk menuju sungai—sekadar mandi, karena dulu rumah kami belum punya sumur. Tawa bercampur air sungai, dingin yang menusuk, dan langkah kaki ramai di tanah basah.
Seiring waktu berganti tahun, aku—Senja—beranjak dewasa. Rumah ini akhirnya punya sumur. Kami tak perlu lagi ke sungai.
Dulu aku sering mengomel. Rumah terasa sempit, berisik, tak pernah benar-benar tenang.
Ternyata yang bising bukan rumahnya.
Tapi hidup.
Satu per satu mereka pergi.
Bang Ari lebih dulu bekerja di luar kota. Pulang setahun sekali, lalu makin jarang. Bang Al menyusul, katanya ingin mandiri. Bang Randi terakhir—pergi dengan janji akan sering menelepon, tapi janji itu pelan-pelan menghilang.
Kak Rita dan Kak Pipi menikah. Hari itu rumah ramai lagi, tapi bukan seperti dulu. Ramai karena tamu, bukan karena keluarga.
Setelah itu, rumah ini mengerut.
Kini yang tersisa hanya aku…
dan Alfa, adikku—yang sekarang sudah kelas dua SMP.
Aku sering berpikir, seharusnya setelah semua bekerja, hidup jadi lebih ringan.
Nyatanya, tidak.
Tentang ayah… aku bahkan tak tahu harus menyebutnya bagaimana.
Ia pergi ke kota saat aku berusia enam tahun. Bertahun-tahun berlalu, dan aku tak pernah lagi melihat wajahnya. Tak ada kabar. Tak ada pulang.
Yang aku ingat, saat aku kelas dua SMP, Bang Adi pernah bilang pelan-pelan bahwa ayah sudah menikah lagi. Dengan seorang anak yang ia pungut di kota.
Hanya itu yang aku tahu.
Dan mungkin… hanya itu yang perlu aku tahu.
Sejak saat itu aku mengerti—
beberapa orang pergi tanpa benar-benar meninggalkan jejak.
Dan beberapa anak… tumbuh tanpa pernah benar-benar ditinggalkan,
tapi juga tak pernah dipertahankan.
Kebenaran tentang ayah itu sebenarnya tidak datang tiba-tiba.
Ia merayap pelan, seperti luka lama yang disentuh tanpa sengaja—dan akhirnya terbuka lagi.
Malam itu, aku sedang melipat pakaian di ruang tengah. Alfa sudah tidur di kamar. Kak Rini duduk di sofa, ponselnya menyala terang. Suaminya belum pulang. Televisi mati, tapi rumah tetap terasa bising oleh keheningan.
Tiba-tiba Kak Rini terkekeh kecil.
“Eh… ini ayah.”
Tanganku berhenti.
“Ayah?” ulangku pelan.
Ia menoleh sekilas, lalu kembali menatap layar. “Iya. Baru upload foto.”
Jantungku berdegup keras.
Foto.
“Kok… masih hidup?” ucapku tanpa sadar.
Kak Rini mendesah. “Ya hiduplah. Kamu kira mati?”
Aku mendekat, berdiri di samping sofa. “Foto apa?”
Kak Rini akhirnya menyerahkan ponselnya, setengah malas.
Di layar, seorang pria berdiri di depan rumah yang terlihat asing. Rambutnya lebih rapi. Bajunya bersih. Wajah itu… aku mengenalnya, meski ingatanku tentangnya sudah buram.
Ayah.
Di sampingnya, seorang perempuan tersenyum. Dan di antara mereka, seorang anak kecil—berusia sekitar Alfa dulu.
Tanganku gemetar.
“Ini… siapa?” tanyaku, meski jawabannya sudah berteriak di kepalaku.
“Istrinya,” kata Kak Rini ringan. “Yang sekarang.”
Sekarang.
“Anaknya?” suaraku nyaris hilang.
“Iya.”
Aku menelan ludah. Dadaku terasa seperti diremas.
“Jadi… Bang Adi bener?” bisikku. “Ayah beneran menikah lagi?”
Kak Rini mengangkat bahu. “Udah lama, Senja. Kamu aja yang nggak tahu.”
Aku menatap foto itu lagi. Anak itu tampak bersih, sehat, dipeluk erat. Ayah tersenyum—senyum yang tidak pernah kuingat ada untukku.
“Dia…” napasku tersengal, “punya anak di kota?”
“Iya.”
Aku tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi karena terlalu sakit untuk ditangisi.
“Lucu ya,” kataku lirih. “Aku jual gorengan dari kecil, Alfa tumbuh dengan baju bekas, ibu nunggu uang yang nggak pernah datang… tapi di sana, ayah bisa bangun keluarga baru.”
Kak Rini menatapku, alisnya berkerut. “Kamu jangan drama.”
Aku menoleh tajam. “Drama?”
“Ayah pergi juga buat cari hidup yang lebih baik,” katanya datar. “Kamu harus ngerti.”
Aku menggeleng pelan. “Lebih baik buat siapa?”
Suara pintu depan terbuka. Ibu masuk dari dapur belakang, membawa segelas air.
“Ada apa ribut-ribut?” tanyanya.
Aku berdiri. Tanganku masih gemetar.
“Bu,” suaraku pecah, “ayah sudah menikah lagi.”
Ibu terdiam.
Detik itu panjang. Terlalu panjang.
“Aku tahu,” katanya akhirnya.
Kalimat itu menghantamku lebih keras dari tamparan.
“Tahu?” aku melangkah maju. “Ibu tahu selama ini?”
Ibu menghela napas. “Sudah lama.”
“Dan ibu diam?” tanyaku, suaraku meninggi. “Ibu biarkan aku nunggu orang yang bahkan nggak nganggep kita ada?”
“Sudah,” potong ibu. “Ayahmu sudah memilih hidupnya.”
Aku tertawa lagi, kali ini pahit. “Terus aku ini apa, Bu?”
Ibu menatapku lelah. “Kamu anaknya.”
“Anak yang ditinggal,” balasku.
Sunyi jatuh di ruang itu.
“Anak yang tumbuh tanpa ayah,” lanjutku, “yang tiap hari kerja seperti orang dewasa, tapi nggak pernah ditanya capek atau nggak.”
Ibu menunduk.
“Ayah punya anak lain,” kataku pelan, tapi setiap kata menusuk. “Dia membesarkan anak itu… sementara aku membesarkan diriku sendiri.”
Air mata jatuh tanpa bisa kutahan.
“Aku cuma mau tahu satu hal,” bisikku. “Kenapa aku yang harus mengerti… sementara dia bebas pergi?”
Tidak ada jawaban.
Hanya diam yang terlalu jujur.
Malam itu aku masuk kamar dengan tubuh gemetar. Aku duduk di lantai, memeluk lutut.
Sekarang aku mengerti.
Bukan aku yang tidak cukup kuat.
Aku hanya terlalu lama ditinggalkan.
Dan untuk pertama kalinya, keinginanku untuk pergi bukan lagi doa.
Ia sudah berubah menjadi keputusan.
Malam semakin larut, tapi aku tak bisa tidur. Tubuhku lelah, namun pikiranku terlalu bising. Aku duduk bersandar di dinding kamar, memeluk lutut, menatap pintu yang tertutup rapat.
Tak lama, pintu itu berderit pelan.
Ibu berdiri di sana.
“Belum tidur?” tanyanya.
Aku menggeleng.
Ia masuk dan duduk di lantai, tidak jauh dariku. Untuk pertama kalinya, jarak kami terasa sama—sama rendah, sama lelah.
“Tadi kamu marah,” katanya pelan.
Aku menatap lantai. “Aku cuma pengin tahu… kenapa.”
Ibu terdiam lama. Napasnya terdengar berat, seolah ia sedang mengumpulkan keberanian.
“Ayahmu pergi bukan karena kamu,” ucapnya akhirnya.
Aku menoleh cepat.
“Bukan karena aku?”
Ibu mengangguk pelan. “Dan bukan karena kamu kurang.”
Kalimat itu membuat dadaku sesak.
“Waktu kamu enam tahun,” ibu mulai, “ayahmu sudah capek.”
“Capek apa?” suaraku bergetar.
“Capek jadi ayah,” jawabnya jujur.
Aku tercekat.
“Dia ingin hidup yang ringan,” lanjut ibu. “Kerja tanpa memikirkan anak. Pergi tanpa memikirkan rumah. Dia bilang… dia merasa terjebak.”
Terjebak.
“Aku hamil Alfa waktu itu,” kata ibu lagi. “Dan ayahmu bilang dia belum siap punya anak lagi.”
Aku menutup mata.
“Dia minta aku menggugurkan,” ucap ibu lirih.
Dadaku seperti runtuh.
“Aku nolak,” lanjutnya. “Dan… sampai akhirnya Alfa lahir.”
Aku menahan napas. Tanganku terasa dingin.
“Dia bilang mau ke kota cari kerja,” ibu tersenyum pahit. “Tapi sebenarnya… dia lari.”
Air mata ibu jatuh. Satu. Lalu dua.
“Bertahun-tahun aku menunggu,” katanya. “Aku pikir kalau aku sabar, dia akan pulang. Ternyata dia memilih membangun hidup baru.”
Aku menatap ibu dengan mata basah. “Terus aku, Bu?”
Ibu menatapku lama. “Kamu yang paling kuat.”
Kalimat itu membuatku ingin menangis dan tertawa bersamaan.
“Aku nggak mau kuat,” suaraku pecah. “Aku mau punya ayah. Sejak kecil aku iri, Bu… setiap pengambilan rapor, orang tua teman-temanku lengkap. Sedangkan aku selalu sendiri.”
Ibu meraih tanganku. Tangannya kasar, hangat, dan gemetar.
“Maaf,” katanya. “Aku terlalu lama mengira diam itu melindungi.”
Aku menarik napas dalam-dalam. “Kenapa ibu nggak pernah cerita?”
“Karena aku takut kamu benci ayahmu,” jawabnya jujur.
“Dan aku takut… kamu juga benci aku.”
Air mataku mengalir tanpa bisa kutahan.
“Aku nggak benci ibu,” kataku. “Aku cuma capek nggak ngerti kenapa aku selalu harus nerima.”
Ibu memelukku. Pelukannya canggung, tapi nyata.
“Ayahmu punya anak di kota,” katanya pelan. “Anak itu bukan karena kamu kurang. Tapi karena ayahmu tidak pernah cukup.”
Kalimat itu menancap dalam.
“Dia memilih pergi,” lanjut ibu. “Dan aku… memilih bertahan.”
Aku terisak di bahu ibu.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sendirian karena tidak dicintai.
Aku hanya… lahir dari orang yang tidak tahu cara mencintai.
Malam itu, saat ibu kembali ke kamarnya, aku tetap duduk sendiri.
Tapi kali ini, pikiranku lebih jernih.
Aku akhirnya tahu.
Kepergian ayah bukan cerminan nilaiku sebagai anak.
Melainkan cerminan kegagalannya sebagai ayah.
Dan sejak malam itu, aku tidak lagi menunggu.
Tidak berharap.