Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .
"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .
Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?
ikuti kisahnya hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 23. BCS
Di ruang operasi Albi sedang melakukan operasi pada tulang dikakinya karena mengalami cidera cukup parah. Setelah beberapa waktu lama Albi dipindahkan diruang rawat khusus.
Almira menangani kasus Albi ikut turun tangan membantu mencari pelaku percobaan pembunuhan terhadap Albi. Banyaknya kejanggalan pada penelitian Almira mengenai kasus Albi keponakannya.
“Almira," panggil Abdi kakaknya ketika masuk ke ruangan Albi.
“Aku rasa ini bukan soal perusahaan saja tapi ada faktor lain yang memicu konflik permasalahan antara beberapa orang bahkan mengarah pada kisah masa lalu Albi," jelas Almira ketika menyelidiki kasus tersebut.
Abdi mencerna perkataan Almira, ia tidak tahu pasti masa lalu Albi. Karena Albi sendiri tidak pernah curhat padanya atau mamanya. Tapi ia tidak akan diam saja anaknya mendapat ancaman. Bisa saja mereka ingin menghancurkan kehidupan Albi dan pernikahannya.
“Aku akan mencoba menghubungi teman-temannya,“ Abdi mengambil ponsel disaku jasnya dan mencari kontak teman-teman Albi.
Satu per satu Abdi menghubungi teman Albi, dan mereka dengan jujur menceritakan masa lalu Albi dengan detail. Abdi sempat terkejut mendengarnya, ia akan membuat perhitungan pada orang yang sudah membuat Albi kecelakaan dan berakibat fatal.
“Bagaimana?" tanya Almira.
"Mereka tahu semua masa lalu Albi, dan mereka menceritakan kalau Albi pernah dekat dengan seorang perempuan bernama Rosmaya, tapi sekarang wajahnya rusak karena mengalami kebakaran dikontrakannya beberapa tahun lalu,“ jelas Abdi.
Almira ingat peristiwa silam tentang kebakaran sebuah kontrakan di daerah magang para pekerja, tapi dirinya tidak menangani kasus tersebut. Ia sedang berada di luar daerah jadi tidak begitu menghiraukan kejadian tersebut.
"Aku pergi dulu," Almira berpamitan kepada Abdi dan keluar ruangan dengan langkah pasti.
Abdi duduk disamping ranjang pasien melihat Albi tertidur lelap. Mulut Albi bergerak menyebut sebuah nama istrinya Prasasti dengan suara lirih.
Abdi belum tahu kalau hubungan Albi dan Prasasti mengalami masalah, ia mencoba menghubungi Prasasti. Beberapa lama kemudian diangkat tapi bukan Prasasti yang menjawab melainkan Fabio papanya.
“Selamat siang, Pak Abdi. Ada apa menghubungi anak saya?" tanya Fabio dengan suara datar seolah enggan menjawab panggilan dari Abdi.
“Selamat siang, Pak Fabio. Senang mendengar kabar anda, begini..." Abdi menceritakan kejadian yang menimpa Albi dengan lengkap tanpa dikurangi dan ditambahi.
Fabio terkejut mendengar penjelasan Abdi, ada rasa bersalah dalam hatinya, tapi ia tidak mau memaafkan sikap Albi yang membuat anaknya sakit hati.
“Saya turut prihatin atas kecelakaan yang menimpa nak Albi, maaf belum bisa menjenguk karena saya masih ada pekerjaan," sahut Fabio menyembunyikan rasa benci terhadap Albi.
"Bolehkah saya bicara dengan Prasasti?" tanya Abdi.
Fabio melihat Prasasti keluar dari kamarnya langsung mematikan panggilan teleponnya. Hal itu membuat Abdi merasa heran. Abdi merasa ada yang disembunyikan oleh Fabio, mencoba melakukan panggilan kepada Fabio mencari tahu apa yang sedang terjadi antara Albi dan Prasasti.
Fabio sudah menduga sebelumnya kalau abdi akan menghubunginya, mematikan data pada ponselnya agar tidak terhubung oleh Abdi. Fabio melihat Prasasti seperti mencari sesuatu menghampirinya.
“Kamu mencari apa?" tanya Fabio sambil melihat ke segala sudut ruangan.
“Ponselku, apa Papa tahu?" jawabnya dengan wajah gelisah.
Fabio melihat wajah anaknya cemas dan pucat merasa kasihan. Ia tidak tega anaknya menderita dalam pernikahannya. Sebenarnya Fabio bisa mempertemukan anaknya dengan Albi tapi egonya terlalu tinggi saking sayangnya kepada Prasasti anak satu-satunya.
“Papa kenapa bengong?" tanya Prasasti duduk disofa.
“Prasasti, dengarkan Papa bicara. Pernikahan itu bukan antara perempuan dan laki-laki saja, pernikahan itu dilandasi dengan kepercayaan dan kejujuran. Setiap perkataan baik itu dari perempuan atau laki-laki adalah pembangun komunikasi agar tercipta hubungan baik. Papa yakin kamu bisa mengatasi masalah rumah tanggamu, jangan gegabah dalam mengambil keputusan, musyawarah dengan suamimu apapun itu. Maaf jika Papa terlalu egois," ucap Fabio sambil merangkul Prasasti dan mencium keningnya.
Prasasti tertegun mendengar ucapan papanya hatinya merasa senang akhirnya hati papanya terbuka. “Terimakasih, Pa,"
Prasasti tidak menyangka papanya akan memaafkannya, tapi dalam benaknya masih diselimuti pertanyaan mengenai Albi.
"Sekarang bersiaplah kita pergi," ajak Fabio beranjak dari tempat duduk.
"Kemana?" tanya Prasasti penasaran.
“Ikut saja, ayo," Fabio hendak menarik tangan Prasasti namun ditolak.
"Sebentar aku mau ambil tas dulu," Prasasti pergi ke kamar mengambil tas.
Prasasti merasa sesuatu telah terjadi, hatinya merasa tidak tenang dan pikirannya dipenuhi rasa penasaran. Setelah mengambil tas ia segera keluar menemui papanya, ternyata sudah naik mobil. Prasasti masuk dan duduk disamping kemudi.
“Sudah siap, Tuan Putri," kata Fabio tersenyum senang melihat anaknya duduk dengan nyaman.
"Let's go," sahut Prasasti sambil menunjuk dengan tangannya ke depan.
Fabio menyalakan mesin kemudian menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah. Degup jantung Prasasti sangat cepat, ia seperti mendapat firasat buruk.
Prasasti merasa gelisah, ia tidak bisa tenang karena papanya tidak memberitahu kemana membawanya pergi. Ketika mobil masuk area rumah sakit Prasasti merasa semakin tidak nyaman.
“Papa, kok kesini! Memangnya siapa yang sakit?" tanya Prasasti seperti hendak menangis, matanya terasa perih namun airmatanya enggan keluar.
Keduanya turun Fabio menggandeng tangan Prasasti dan digenggamnya tangannya dengan erat. Fabio tersenyum menenangkan Prasasti agar merasa tenang.
Tiba didepan sebuah ruangan VIP, Fabio mengetuk pintu, tak lama pintu dibuka oleh seseorang dan dia Khasanah dengan senyum ramah. Jantung Prasasti berdegup lebih cepat daripada tadi.
"Silahkan masuk, Pak Fabio, Prasasti," sapa Khasanah.
Kedua ayah dan anak itu masuk dengan langkah pelan, Prasasti melihat seseorang terbaring lemah dengan infus dan perban dikepalanya. Ia berjalan mendekatinya airmatanya mengalir begitu saja.
Prasasti memegang tangan Albi dan menciumnya. Ia merasa sekujur tubuhnya lemas. Fabio dengan sigap menangkap tubuh anaknya.Prasasti jatuh pingsan langsung dibaringkan disofa.
“Ada apa dengan Prasasti, Pak. Kenapa wajahnya sangat pucat begini?" tanya Khasanah khawatir.
Abdi berdiri tak jauh dari mereka menatap tajam Fabio. Ia sedari tadi diam saja tak mau berbicara dengan Fabio. Karena ia menganggap Fabio sudah membuat anaknya kecelakaan.
Seorang suster masuk memberi penanganan terhadap Prasasti. " Lebih baik, pasien dipindahkan ke ruang rawat yang lain, takutnya mengganggu pasien yang sedang dalam penanganan serius,"
Fabio melihat Abdi merasa bersalah lalu mendekati. “Aku minta maaf, atas apa yang terjadi pada Albi. Jujur aku tidak tahu jika masalahnya serumit ini,"
Abdi mengalihkan pandangannya ke tempat tidur melihat Albi terlelap. “ Kenapa kamu memutuskan perkara yang bukan urusanmu, apa kamu selalu ikut campur urusan mereka?"
Kata-kata Albi mampu membuat Fabio terdiam. Memang terkesan egois, tapi bukan berarti semena-mena terhadap anak dan menantunya,