NovelToon NovelToon
Aku Istrimu Bukan Dia

Aku Istrimu Bukan Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
​Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
​Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Pagi itu, koridor Fakultas Hukum yang biasanya bising dengan obrolan mahasiswa mendadak berubah menjadi sunyi yang mencekam. Langkah kaki dua orang yang berjalan beriringan seolah menjadi pusat gravitasi. Mata semua orang tertuju pada pemandangan langka: Abimana Permana, sang dosen idola yang terkenal dingin, berjalan berdampingan dengan Arunika.

​Tepat di depan mading besar, Risa berdiri dengan mata membelalak. Senyum jahil sudah tertata di wajahnya saat ia sengaja mengeraskan suaranya.

​"Pagi, Pak Abimana!" sapa Risa.

​Abimana menghentikan langkah sejenak. Ia merasa kikuk dengan tatapan menyelidik dari mahasiswa di sekitarnya. Ia hanya berdehem singkat, lalu menoleh ke arah istrinya. Tatapannya sedikit melunak, seolah mencari perlindungan dari kecanggungan itu.

​"Aku akan ke ruanganku, Arunika." pamit Abimana dengan suara rendah, terdengar cukup lembut untuk ukuran seorang dosen killer.

​Arunika berhenti dan berbalik sepenuhnya menghadap suaminya. Ia mengabaikan bisik-bisik yang merayap di dinding koridor. "Iya, Mas. Selamat mengajar, ya." balas Arunika dengan senyum paling menawan—jenis senyum yang membuat jantung Abimana berdegup tidak keruan sebelum pria itu berbalik dan berjalan cepat menuju ruang dosen.

​Begitu sosok Abimana menghilang, Risa langsung menyambar lengan Arunika. "Gila, Nika! Kamu pakai pelet apa sampai Pak Abimana bisa semanis itu? 'Aku akan ke ruanganku, Arunika'..." Risa menirukan suara berat Abimana sambil tertawa.

​Arunika hanya tertawa kecil, namun matanya tetap menatap punggung Abimana. "Tidak ada pelet, Ris. Aku hanya sedang menjalankan peranku." jawabnya tenang.

​Di Lantai Dua...

​Claudia mencengkeram pembatas balkon hingga buku jarinya memutih. Matanya yang sembap berkilat penuh dendam menyaksikan "drama" manis di bawah sana.

​"Lihat saja, Arunika." desisnya parau. "Aku akan membalasmu. Dari awal, Abimana hanya milikku, dan kau yang merebutnya dengan cara murahan lewat perjodohan ini!"

​Claudia memutar tubuhnya dengan emosi yang meledak. Ia berjalan cepat menyusuri koridor lantai dua.

​"Cla, kamu mau ke mana?" tanya Rini, sahabatnya, yang mencoba mengejar.

​"Aku akan ke ruangan Pak Abimana! Bukankah kelas pertama kita diajar olehnya?" jawab Claudia ketus.

​"Iya, tapi sebentar lagi beliau masuk kelas. Kamu mau ngapain?" Rini semakin bingung.

​"Aku mau tanya soal bimbingan skripsiku!" bohong Claudia dengan napas memburu.

​Ia melangkah dengan langkah tergesa-gesa, mengabaikan tatapan mahasiswa lain. Amarahnya sudah di ubun-ubun saat ia tiba di depan pintu kayu bertuliskan nama suaminya. Tanpa mengetuk, tanpa basa-basi, Claudia mendorong pintu itu dengan kasar.

​BRAK!

​Suara pintu yang menghantam pembatasnya mengejutkan Abimana yang tengah merapikan berkas. Claudia masuk, segera menutup pintu kembali, dan memutar kunci dengan bunyi KLIK yang menggema di ruangan sunyi itu.

​Abimana mendongak, wajahnya mengeras melihat siapa yang datang. "Claudia? Apa-apaan ini? Saya harus masuk kelas lima menit lagi!"

​Claudia berdiri bersandar pada pintu yang sudah terkunci, air mata kemarahan mulai menggenang. "Lima menit? Kamu hanya punya waktu lima menit untukku, setelah semalam kamu membuangku seperti sampah di depan wanita itu?!"

​Abimana berdiri dari kursi kebesarannya, menatap Claudia dengan sorot mata yang campur aduk antara rasa bersalah dan ketegasan yang dipaksakan. Ia menyadari betapa berbahayanya situasi ini—pintu yang terkunci dari dalam di sebuah ruang dosen bisa menghancurkan kariernya dalam hitungan detik jika ada yang melapor.

​"Hentikan ini, Claudia! Kita sudah berakhir." ucap Abimana, suaranya ditekan serendah mungkin agar tidak terdengar ke koridor. "Silakan pergi dari sini sekarang juga, sebelum ada orang lain yang melihatnya."

​Claudia tertawa hambar, air matanya kini luruh membasahi pipi. Ia tidak bergerak sedikit pun dari depan pintu. "Berakhir? Semudah itu kamu mengucapkannya setelah dua tahun kita bersama? Hanya karena selembar kertas nikah dengan mahasiswi itu?"

​"Ini bukan soal selembar kertas, ini soal kehormatan keluarga dan komitmen yang sudah aku ambil!" Abimana melangkah mendekat, mencoba meraih kunci di tangan Claudia. "Buka pintunya, Cla. Jangan buat aku membencimu lebih dari ini."

​"Benci saja aku, Abi! Itu lebih baik daripada kamu mengabaikanku!" Claudia justru semakin erat menggenggam kunci itu dan menyembunyikannya di balik punggung. "Katakan padaku di depan wajahku bahwa kamu mencintainya, maka aku akan pergi!"

​Abimana terdiam. Lidahnya kelu. Ia belum mencintai Arunika, tapi ia tahu ia tidak bisa kembali pada Claudia.

​Sementara itu, di dalam ruang kelas yang berjarak dua lorong dari sana, suasana mulai gaduh. Jarum jam sudah melewati angka delapan lewat sepuluh menit. Pak Abimana yang biasanya sangat disiplin belum juga menampakkan batang hidungnya.

​Arunika duduk dengan tenang di bangku barisan depan. Ia melirik kursi kosong di sebelahnya—kursi yang seharusnya diduduki Claudia. Firasatnya mulai bekerja. Ia tahu betul karakter Claudia yang emosional dan Abimana yang seringkali ragu jika ditekan secara perasaan.

​"Nika, Pak Abi ke mana ya? Tumben banget telat." bisik Risa yang duduk di belakangnya.

​Arunika tidak menjawab. Ia perlahan berdiri, merapikan letak tasnya. "Mungkin ada berkas yang tertinggal di ruangannya. Aku akan coba mengecek sebentar."

​"Loh, biar ketua kelas saja, Nik!" seru Risa.

​"Tidak apa-apa, Ris. Aku sekalian mau ke toilet." kilah Arunika dengan senyum tipis yang sulit diartikan.

​Arunika berjalan menyusuri koridor dengan langkah yang mantap namun senyap. Begitu ia sampai di depan pintu ruangan Abimana, ia melihat Rini, sahabat Claudia, berdiri dengan wajah cemas tak jauh dari sana.

​Arunika mengabaikan Rini dan mencoba memutar knop pintu. Ceklek. Tidak terbuka.

​Arunika tertegun sejenak. Ia mendekatkan telinganya ke pintu dan mendengar suara isakan pelan dari dalam.

​Jadi benar, mereka di dalam dan dikunci dari dalam, batin Arunika. Amarahnya memuncak, namun ia tetap tenang. Ia tidak akan menggedor pintu seperti orang kesurupan. Ia punya cara yang lebih elegan untuk menghancurkan momen itu.

​Arunika mengeluarkan ponselnya, mencari kontak sang Ayah Mertua—Bima Permana. Ia tidak meneleponnya, melainkan memotret pintu ruangan yang tertutup rapat itu, lalu beralih mengirim pesan singkat ke nomor Abimana.

​[Mas, aku di depan pintu. Buka dalam tiga detik, atau aku akan menelepon Papa sekarang juga untuk memberitahu bahwa suamiku sedang terkunci di ruangannya bersama wanita lain di jam mengajar.]

​Sementara di dalam ruangan Abimana suasana semakin memanas.

​Tiba-tiba, Ting! bunyi pesan masuk.

​Wajah Abimana yang tadinya tegang karena emosi, kini berubah menjadi pucat pasi. Saat melihat pesan dari Arunika, ia tahu Arunika tidak pernah menggertak sambal. Jika papanya tahu ia terjebak di ruangan terkunci bersama mantan kekasihnya tepat di hari pertama setelah pernikahan, karier dan nama baiknya akan tamat saat itu juga.

1
🇮🇩 NaYaNiKa 🇵🇸
Ini dia kisah yang paling greget. Semoga gak jadi bego kek kisah Sheila & Vano ya.
Semangaaaaaat.... 💪💪💪
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Utk apa...? Utk dihancurkan LG...? 🤧🤧🤧
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Maaaasss...???? Oh No Maaaasss... Please Just Go straight To Hell, Maaaaasss....!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Si anak setan bnr2.... 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Kurang apa di Arun coba. LG sakit hati banget pun masih ngurusi Pak Dosen yg Gobloknya ngalahin boneka angin. Hadeeeuuuuh...
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Baru sadar...? TalaaaaT...!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Diiiiiiiih... Dasar anak setan. ,😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Heleh2... Dramamu Bim2. 😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Biarin ajaaaaa... Menyesal jg gak guna.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Berharap pada manusia itu menyakitkan.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan hina kalo dah putus asa bnr2 gak ngotak. 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bener..!!! Jgn mau diinjak2!!!
🇮🇩 F E E 🇵🇸
CaKeeeeeP... 💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
GaK SaLaH TuH...? Lo KaLi, Arun mah Gak. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Cantik kaaaaaan... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Ciiiiiih... Kesian beneeeeer. Ngarep laki2 pengecut.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Tuuuuuh... Dgr Tuh Bim2.. Anak orang tuh. Bukan anak setan mo dimasukin ke neraka. Eeeeeaaaaa... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bukan Permata lagi Pak. Tapi Berlian Hitam yg menyilaukan. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Hancurkan dia berkeping2... Gaaaaasssss kan Arun.💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan kalo bathinnya SDH tersakiti, bisa LBH tajam dari SiLeT. 😏😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!