Kisah sepuluh orang pecinta alam yang sedang melakukan wisata alam disebuah hutan untuk mengunjungi situs peninggalan purbakala di Goa Istana Alas Purwo yang dianggap sangat menantang.
Hutan Alas Purwo adalah salah satu hutan terangker di Indonesia, dimana dinyatakan sebagai salah satu gerbang menuju alam ghaib.
Akan tetapi, petualangan itu membawa mereka pada sebuah masalah, dimana tanpa sengaja, salah satu diantaranya mengambil sebuah benda purbakala dan kitab kuno yang membuat mereka harus mengalami hal mengerikan. Hal itu membuat mereka mengalami mutasi dan menjadi petaka yang mencekam.
Apakah mereka dapat terbebas dari semua itu? ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma
Sena semakin merasa jika apa yang sedang diendusnya adalah masakan milik sang Mama, ia sangat merindukannya.
"Apa aku terlalu kangen dengan mama? Sehingga dialam yang seperti ini juga merindukan masakannya," gumamnya dengan perasaan yang campur aduk.
Keduanya berjalan menuju meja makan, dimana hidangan yang disajikan terlihat menggugah selera.
Saat Sena menatap ke arah daging panggang dengan bumbu lada hitam, hatinya semakin bergolak.
"Itu daging tenderloin, daging terenak dan terlembut, dan hanya orang yang faham saja yang tau dimana letaknya." Sena memperhatikannya, lalu duduk disebelah raja.
"Paduka, ini daging bakar rusa yang diinginkan, dan sudah dimasak oleh juru masak terbaik." seorang dayang meletakkan sebuah pinggan yang terbuat dari tanah liat dan beralaskan daun pisang, dan potongannya berbeda, sebab membentuk seperti serong, mirip irisan terung.
"Aku baru kali ini melihat irisan daging yang membetuk serong," ia mulai mencicipinya, dan ketika lidahnya menyentuh daging beserta bumbu tersebut, ia memejamkan kedua matanya, dan merasakan sensasi lembut yang berbeda.
"Ini enak sekali, sangat enak," ucapnya memuji cita rasa daging panggang tersebut. Ia tak dapat membayangkan kelezatannya hanya dengan kata-kata, sebab daging itu terlalu lembut tanpa lemak terendah.
Ia membuka matanya, lalu mengambil potongan daging satunya, dan menyuapkannya kepada Sena. "Makan lah, Sayang. Kamu akan merasakan sensasi yang berbeda." Raja Kala Gemet menyuapkannya kepada sang selir yang diagungkannya.
"Maaf, Paduka. Saya tidak bisa makan daging, perut saya akan sakit, harap Paduka memakluminya," Sena menolak, sebab ia tak ingin memakan apapun yang ada dialam ghaib ini, karena akan membuatnya tak pernah kembali.
"Baiklah, Sayang. Aku harap bisa memakluminya, tapi aku hanya ingin memberi tahu, jika rasanya ini sangatlah nikmat," Kala Gemet tak henti-hentinya memuji makanan tersebut.
"Aku perintahkan, panggilkan juru masak yang memasak daging ini. Aku yakin dia adalah orang baru." titah sang Raja kepada para pengawal.
Sena tersentak kaget, dan ia merasakan hatinya tak nyaman. Entah perasaan apa yang saat ini sedang ia takutkan.
Akan tetapi, ia mencoba menyimpan segala kekhawatirannya.
Sementara itu, Awan dan juga Tim SAR, serta Basarnas kembali lagi ke lokasi yang sama. Jika selama ini ia hany menunggu di perbatasan pintu masuk, entah mengapa ia ingin masuk ke dalamnya, ingin ikut mencari.
Deeegh
Jantungnya seolah berhenti berdetak, saat melihat sebuah mobil yang terparkir didepan loket. Ia tahu jika itu milik Amara, sang istri, tapi kemana ia?
Segala rasa ketakutan muncul dibenaknya, ia tak kuasa menahan kegelisahannya.
"Kabut sangat tebal, apakah kita harus mencarinya? Sebab akan sangat beresiko, dimana para kru yang saat itu dikirim menghilang tanpa jejak, sebab ditakutkan terperosok ke jurang dan terjebak didalam kabut," pesan sang Ketua Tim.
"Saya akan bayar dua kali lipat, bahkan sepuluh kali lipat demi dapat menemukan anak dan istri saya," Awan menawarkan sesuatu yang dianggap sebagai bahan pertimbangan.
Setelah saling bernegosiasi, akhirnya mereka memutuskan untuk mencari, meskipun kemungkinan untuk selamat atas diri mereka sendiri itu sangat beresiko.
"Baiklah, ayo bergerak," ajak Ketua Tim yang memimpin pencarian ini.
Mereka berjalan menuju pintu masuk gapura yang ada didepan sana.
Saat tiba disana, mereka berhenti sejenak. Lalu memandang kabut yang cukup tebal, dan bahkan menutup seluruh apa yang ada didalamnya.
Akan tetapi, bayangan menerima bayaran yang cukup tinggi, membuat mereka memutuskan untuk kembali mencari.
Senter dikening dan perlengkapan lainnya sudah dipersiapkan, lalu dengan satu komando, mereka berjalan memasuki pintu gerbang Taman Nasional Hutan Las Purwo.
Saat mereka memasukinya, suhu dingin langsung menyambut mereka. Suasan begitu sangat mecengkam, mereka tampak kedinginan dalam sekejap.
Namun tekad mereka tak padam, sebab bayaran mahal sudah berada didepan mata.
Mereka terdiri dari Tim SAR berjumlah sepuluh orang, dan Tim Basarnas sepuluh Orang. Mereka berpencar dalam melakukan pencarian, dan berharap dapat menemukan apa tang sedang mereka cari.
Awan ikut bergabung dalam Tim SAR, lalu melangkah dan menyisir dibagian Timur, sedangkan Tim Basarnas disisi bagian Selatan.
Saat baru memasuki sekitar lima puluh meter, suhu udara semakin dingin, mmebuat para Tim pencari semakin kedinginan.
Kelebatan bayangan dalam kabut membuat mereka merasakan sebuah ancaman.
"Hah!" mereka merasa jika ada yang menjebak mereka. "Harap berhati-hati, ada sesuatu dibalik kabut," pesan Ketua tim.
Para kru mulai waspada. Hingga mereka satu sosok makhluk bertubuh macan tutul dan berkepala manusia sedang mengawasi salah satu kru pencari korban yang menghilang sedang mengawasi dibalik pepohonan dan kabut yang menyamarkan.
Dengan gerakannya yang cepat dan gesit, ia menerkam salah satu Kru yang berada dibelakang, lalu membekap mulutnya.
Sosok mutasi hewan macan tutul itu membawanya ke balik pepohonan, lalu mulai mencabik dan memakan Kru dengan sangat rakus.
Diantara para mutasi hewan tersebut, hanya macan tutul yang menyerang dan memangsa korbannya. Naluri berburunya sangat kuat.
Semakin mereka jauh masuk ke dalam, maka semakin terasa dingin, dan para mutasi hewan buas lainnya sedang mengincar mereka.
Tanpa mereka sadari, kabut berubah menjadi embun yang tebal, senter milik Kru mulai lembab dan mengalami masalah.
Lalu badai angin datang secara tiba-tiba, semakin membuat mereka kedinginan dan hipotermia.
Tubuh mereka sudah basah oleh embun, tapi anehnya kabut tak juga pergi, justru semakin tebal, membuat mereka semakin kewalahan.
Sebagain dari mereka memilih menghentikan pencarian, lalu duduk bersandar dibawah pohon, sedangkan butiran embun masuk ke dalam paru-paru, mmebuat nafas semakin sesak.
Salah satu kru bersandar dibatang pohon, ia menahan dingin yang sudah menusuk ke tulangnya.
Hingga sebuah langkah sunyi datang menghampirinya, dan sebuah bekapan dar tangan berbulu dan kuku yang runcing menyeretnya jauh ke dasar lembah.
"Aaaaarrrgh," erangnya kesakitan. Namun suaranya semakin samar dan menghilang.
Dalam rasa kalutnya, ia mencoba melepaskan dirinya tetapi cengkraman itu semakin kuat, hingga membuat tak berdaya.
Braaaak
Tubuhnya dilemparkan begitu saja lalu menghantam batu, dan membuatnya semakin tak berdaya.
Ditambah lagi udara yang seolah membekukan tulangnya membuat ia kehilangan kesadarannya.
Dalam kekalutannya, sebuah terkaman menyerangnya, satu sosok macan tutul mencabik tubuhnya, dan tanpa jeda, merobek wajah dan dadanya.
"Aaaaarrgh," pekiknya dari dasar lembah. Suaranya menggema ditengah kesunyian.
"Siapa itu?" suara pimpinan Tim dengan lirih. Ia menoleh ke arah belamang, tetapi ia dapati hanya kesunyian belaka.
Ia bingung dengan keadaannya. Tak ada cahaya senter, semua gelap terhalang kabut, dan tanpa sadar, jika penerangan miliknya sendiri juga sudah padam.
"Hah! Kemana mereka?" ia berdiri termangu, menatap sekelilingnya yang terlihat sangat sepi.
"Tito, Rio," panggilnya satu persatu kru yang ia ingat namanya.
Tetapi keheningan yang ia dapatkan, hingga sebuah suara datang dari arah belakang. "Grrrrrrrr.."
Lanjut kak Author, semangat... 💪💪
Semoga kitab kuno segera ditemukan, jadi Sena dan yang lain bisa pulang dengan selamat ke rumah mereka masing-masing... 😙
untung wae lagsg crassss tesss tess tess ehh darah nya bukan merah ges apa mgkin darah nya biru 🙈🙈🙈