NovelToon NovelToon
Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Penyelamat
Popularitas:138
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.

Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.

Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.

Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.

Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Pengadilan Api dan Bayangan Jenderal Besi

Bab 24: Pengadilan Api dan Bayangan Jenderal Besi

Bukit Agni Mandala, benteng pribadi Wangsa Agnimara di dalam kompleks perguruan, kini menjadi lautan kekacauan.

Alarm tanda bahaya meraung-raung tanpa henti. Ratusan pengawal elit berbaju merah berlarian panik, mencoba menghentikan satu orang penyusup yang bergerak naik dari kaki bukit seperti badai yang tak terhentikan.

Tapi "penyusup" itu tidak bersembunyi.

Bara berjalan menaiki tangga batu utama. Dia tidak lari. Dia berjalan santai.

Setiap langkahnya diiringi bunyi DUM... DUM... yang berat. Aura panas yang memancar dari tubuhnya begitu kuat hingga anak panah yang ditembakkan ke arahnya meleleh menjadi cairan logam sebelum menyentuh kulitnya.

"Tahan dia! Formasi Dinding Api!" teriak kepala pengawal.

Sepuluh pendekar Wira Sukma Puncak maju, menciptakan dinding api setinggi lima meter.

Bara tidak berhenti. Dia menembus dinding api itu begitu saja.

Api mereka tidak membakarnya. Justru sebaliknya, api itu terhisap masuk ke dalam pori-pori kulit Bara, seolah anak sungai yang kembali ke lautan.

"Api kalian..." suara Bara bergema dingin di balik topeng peraknya yang retak. "...hanya lilin ulang tahun."

Bara mengibaskan tangannya.

WUSH!

Angin panas yang padat (Heatwave) menyapu kesepuluh pendekar itu. Mereka terlempar ke samping seperti boneka kain, zirah mereka membara, kulit mereka melepuh ringan—Bara sengaja tidak membunuh mereka, hanya melumpuhkan.

Dia terus naik. Targetnya ada di puncak: Paviliun Utama.

[POV: Rara Anjani - Menara Meriam]

Di menara barat, Anjani baru saja membekukan operator meriam terakhir menjadi patung es.

"Maaf," gumam Anjani pada patung itu. "Nanti kucairkan kalau urusannya selesai."

Dia melihat ke bawah. Pemandangannya menakjubkan sekaligus mengerikan. Bara mendaki bukit itu sendirian, membelah pasukan Agnimara seperti Nabi Musa membelah Laut Merah. Tidak ada yang bisa menyentuhnya.

Tapi mata Anjani menangkap sesuatu yang lain.

Di langit utara, jauh di atas awan, ada sebuah Kapal Udara (Airship) hitam kecil yang sedang melayang diam. Lambangnya tidak terlihat jelas karena gelap, tapi bentuknya ramping dan mematikan.

"Itu bukan kapal dagang," batin Anjani waspada. "Siapa yang menonton?"

[POV: Ki Rangga Agnimara - Puncak Bukit]

Ki Rangga berdiri di teras paviliunnya. Tangannya gemetar memegang Keris Kyai Setan Kober—pusaka tingkat Swargaloka (Surga) milik keluarganya.

Arya sudah lari bersembunyi di ruang bawah tanah seperti tikus.

"Dia datang..." desis Ki Rangga.

Pintu gerbang paviliun meledak hancur.

Bara melangkah masuk ke halaman paving. Uap panas mengepul dari tubuhnya yang setengah telanjang. Punggungnya masih terlihat mengerikan dengan serpihan meteorit yang tertanam, tapi wajahnya tenang.

"Rangga," sapa Bara. "Lama tidak bertemu. Sekitar... dua hari?"

"KAU IBLIS!" teriak Ki Rangga histeris. Dia tidak tahan lagi dengan tekanan mental ini. "MATI KAU!"

Ki Rangga menghunus kerisnya. Aura ungu gelap bercampur api keluar dari bilah keris itu.

"Jurus Terlarang Agnimara: Avatar Raksasa Api!"

Api di sekeliling Ki Rangga memadat, membentuk sosok raksasa api setinggi empat meter yang menyelimuti tubuhnya (Susanoo-style tapi elemen api). Raksasa itu meraung, mengayunkan pedang api raksasa ke arah Bara.

Ini adalah teknik tingkat Surya Kencana (Level 7). Serangan yang bisa meratakan gunung kecil.

Bara tidak bergerak. Dia menatap raksasa api itu dengan tatapan bosan.

"Garuda," panggil Bara.

"Ya?"

"Tunjukkan padanya bedanya Kunang-kunang dan Matahari."

Bara mengangkat tangan kanannya ke atas.

Dia tidak memanggil raksasa. Dia hanya memadatkan Prana Surya di satu titik di ujung telunjuknya.

Titik itu bersinar putih menyilaukan. Kecil, hanya sebesar kelereng. Tapi massanya... setara dengan inti bintang.

"Sembilan Langkah Surya: Langkah Ketiga - Supernova Mini."

Bara menjentikkan kelereng cahaya itu ke arah raksasa api Rangga.

Cing.

Suara denting halus.

Saat kelereng cahaya itu menyentuh pedang raksasa api...

BLARRRRRRRR!!!

Raksasa api itu termakan. Cahaya putih Bara melahap api merah Rangga dalam hitungan detik. Struktur energi raksasa itu runtuh, tersedot ke dalam singularity ledakan Bara.

Ki Rangga terpental keluar dari avatarnya yang hancur. Keris pusakanya terlepas dari tangan. Dia jatuh berguling-guling di lantai, jubah kebesarannya hangus.

Bara berjalan mendekat, menginjak dada Ki Rangga.

"Uhuk!" Ki Rangga muntah darah. Dia menatap Bara dengan horor absolut. "Teknik itu... cahaya putih itu... Raden Wijaya?!"

Bara membuka sisa topeng peraknya, membiarkannya jatuh ke tanah.

Wajah aslinya terlihat jelas di bawah sinar bulan merah. Wajah yang mirip dengan Raden Wijaya, tapi dengan mata yang lebih keras.

"Bara Wirasena..." desis Ki Rangga. "Anak haram itu..."

"Anak yang kau coba bunuh saat bayi," koreksi Bara. "Dan anak yang kau coba bunuh kemarin. Dan hari ini."

Bara mengangkat tangan kanannya. Api emas menyala, membentuk bilah pedang.

"Catur Wangsa menciptakan aturan bahwa yang kuat boleh menindas yang lemah," kata Bara dingin. "Hari ini, aku menggunakan aturan itu padamu. Kau lemah, Rangga. Jadi kau mati."

Bara mengayunkan tangannya untuk memenggal kepala Ki Rangga.

Tiba-tiba.

SRIIIING!

Sebuah tombak hitam panjang melesat dari langit, menancap tepat di antara leher Ki Rangga dan tangan Bara.

Gelombang energi hitam (Dark Prana) meledak dari tombak itu, memaksa Bara melompat mundur lima meter.

"Siapa?!" Bara waspada. Kujang Si Sulung dan Si Bungsu langsung muncul di tangannya.

Dari langit, sesosok manusia mendarat dengan dentuman keras yang meretakkan lantai paviliun.

Dia mengenakan zirah Full Plate hitam legam yang menyerap cahaya. Tidak ada inci kulit yang terlihat. Helmnya berbentuk kepala banteng besi. Di punggungnya, berkibar jubah merah dengan lambang Elang Kepala Dua.

Lambang Tertinggi Militer Kekaisaran.

Jenderal Wirabumi. Sang Jenderal Besi. Salah satu dari Tiga Jenderal Besar Arcapada. Tingkat Batara Indra (Level 8).

"Cukup, Anak Muda," suara Jenderal Wirabumi terdengar berat dan mekanis, seperti keluar dari dalam gua besi. "Kau sudah membuat cukup banyak kekacauan."

Bara menyipitkan mata. Level 8? Ini lawan yang mustahil untuk dikalahkan dengan kondisinya sekarang.

"Dia mencoba membunuh satu asrama murid," kata Bara, menunjuk Rangga yang gemetar di belakang Jenderal. "Dan kau melindunginya? Inikah keadilan Kekaisaran?"

"Keadilan adalah milik Kaisar," jawab Wirabumi datar. "Rangga Agnimara memang bersalah. Tapi dia adalah Tetua Catur Wangsa. Hanya Pengadilan Tinggi yang berhak menghukumnya, bukan bocah liar sepertimu."

Jenderal Wirabumi mencabut tombaknya dari tanah.

"Ikut aku ke Ibu Kota, Raden Bara. Atau kami akan menghancurkan seluruh lembah ini, termasuk teman-temanmu di bawah sana."

Itu bukan ancaman kosong. Bara melihat ke langit. Kapal Udara hitam yang dilihat Anjani tadi kini turun perlahan, meriam-meriamnya terarah ke asrama Kelas Awan.

Bara terkekeh pelan. Pahit.

"Kalian menyandera anak-anak?"

"Kami menyebutnya strategi negosiasi," jawab Wirabumi.

Bara menatap Ki Rangga yang kini tersenyum licik di belakang kaki Jenderal.

"Garuda... apa peluang kita?"

"Nol," jawab Garuda jujur. "Orang ini setara denganku saat aku dalam kondisi prima. Dengan tubuhmu yang sekarang... kita akan mati dalam 3 jurus. Dan teman-temanmu akan jadi debu."

Bara menarik napas panjang. Dia menurunkan senjatanya. Api di tubuhnya padam.

"Baik," kata Bara. "Aku ikut."

"Bara! JANGAN!"

Suara teriakan datang dari atap. Rara Anjani mendarat di samping Bara, pedangnya terhunus ke arah Jenderal.

"Nimas Anjani," sapa Wirabumi sopan tapi dingin. "Minggirlah. Ini urusan negara. Jangan menyeret Wangsa Tirtamaya ke dalam lubang pengkhianatan."

"Dia menyelamatkan perguruan ini!" bela Anjani. "Ki Rangga yang penjahatnya!"

"Anjani," panggil Bara pelan. Dia memegang bahu gadis itu. "Sudah. Jangan."

Anjani menoleh, matanya berkaca-kaca. "Tapi mereka akan membunuhmu di Ibu Kota..."

Bara tersenyum tipis. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Anjani.

"Ambil ini," bisik Bara. Dengan gerakan cepat tangan pesulap, dia menyelipkan Peti Teratai Emas (yang kini sudah menyusut menjadi ukuran kotak perhiasan) ke dalam saku jubah Anjani. "Jaga ini untukku. Dan jaga Kelas Awan."

Bara mundur selangkah, mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.

"Aku menyerah, Jenderal. Borgol aku."

Jenderal Wirabumi memberi isyarat. Dua prajurit Elang Hitam turun, memasangkan belenggu Batu Laut (penyegel Prana) ke tangan dan kaki Bara.

Bara merasakan tenaganya hilang seketika. Dia menjadi manusia biasa.

"Bawa dia," perintah Wirabumi. "Dan bawa Rangga juga. Kaisar ingin mendengar cerita lengkapnya."

Ki Rangga pucat. "Tunggu, Jenderal! Kenapa aku juga?!"

"Karena kau gagal dan memalukan," jawab Wirabumi, lalu memukul tengkuk Rangga hingga pingsan.

Pasukan itu membawa Bara dan Rangga naik ke Kapal Udara.

Saat kapal itu mulai naik, Bara melihat ke bawah.

Di halaman asrama yang hancur, Jaka, Kirana, Sutejo, dan murid-murid Kelas Awan lainnya berdiri melihat ke langit. Kirana menangis histeris. Jaka mengepalkan tangannya ke udara.

Dan di atap paviliun, Rara Anjani berdiri mematung, memegang saku jubahnya.

Bara menatap mereka sampai mereka menjadi titik kecil.

"Perjalanan ke Ibu Kota, eh?" batin Bara. "Setidaknya aku dapat tumpangan gratis."

"Kau optimis sekali untuk orang yang mau dieksekusi," komentar Garuda.

"Siapa yang mau dieksekusi?" Bara menyeringai dalam hati. "Aku mau bertemu Kaisar. Aku punya beberapa pertanyaan untuk paman jauhku itu."

Kapal Udara Elang Hitam melesat menembus awan, membawa Bara meninggalkan masa remajanya, menuju panggung politik paling berdarah di Benua Arcapada.

Arc Perguruan Lembah Kabut - SELESAI.

Glosarium & Catatan Kaki Bab 24

Avatar Api: Teknik memadatkan energi elemen menjadi wujud raksasa yang membungkus pengguna. Memberikan pertahanan dan jangkauan serangan besar.

Supernova Mini: Teknik Bara yang memadatkan energi surya hingga titik kritis. Kerusakannya bukan ledakan api menyebar, melainkan penghancuran materi (disintegration) pada area kecil. Sangat efisien dan mematikan.

Jenderal Wirabumi: Salah satu dari "Tiga Pilar Langit" Kekaisaran. Sosok netral yang hanya setia pada takhta/negara, bukan pada Catur Wangsa. Kehadirannya menandakan konflik Bara sudah mencapai level nasional.

Batu Laut (Sea Stone): Mineral langka yang memancarkan frekuensi antitesis terhadap Prana. Digunakan untuk membelenggu pendekar tingkat tinggi.

1
Panda
jejak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!