Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?
Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.
Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.
Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.
Risikonya? Hampir mati setiap hari.
Akankah Arjo bertahan?
Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Rapat
Ia mengingat catatan yang sudah ia hafalkan. Soedarsono tidak pernah berbicara panjang lebar dengan istri resminya. Hanya sapaan singkat, lalu berlalu.
"Diajeng." Suaranya keluar lebih dalam dari biasanya, meniru nada bicara Soedarsono yang tenang. Satu kata, singkat, formal, tapi entah bagaimana membuat perempuan itu tersentak.
‘Apa aku kurang halus?’ Arjo mengerutkan dahi. ‘Kurasa tidak, pantas saja Gusti Bupati lebih memilih mencari selirnya yang hilang, istri resminya … aneh.’
Arjo menurunkan lagi suaranya, lebih seperti berbicara pada anak kecil. “Ada pertemuan, Kangmas ke pendhopo dulu.”
Ia melangkah melewati perempuan itu, menuju pendopo.
Di belakangnya, ia bisa mendengar langkah Susilowati yang buru-buru menyingkir—pergi entah ke mana, seperti ingin menghilang secepat mungkin.
‘Dia pasti tekanan mental. Kasihan dia. Terjebak dalam pernikahan yang tidak dia inginkan, dengan ibu mertua yang menyeramkan.’
Tapi ia tidak punya waktu untuk memikirkan itu sekarang.
Di pendopo, sudah menunggu sekelompok pria berpakaian resmi—beskap hitam, blangkon, kain batik bermotif parang. Para demang dari berbagai wilayah di kadipaten.
Mereka duduk bersila saat Arjo memasuki pendopo.
Ki Atmojo melangkah di samping Arjo, suaranya berbisik pelan.
"Langsung ke kursi utama. Duduk. Baru rapat dimulai."
Arjo melangkah ke kursi besar di ujung pendopo—kursi dengan sandaran tinggi berlapis beludru merah, tempat bupati duduk saat memimpin rapat.
Kakinya terasa berat. Jantungnya berdegup keras. Keringat dingin mulai muncul di pelipis.
Tapi wajahnya tetap datar. Tenang. Berwibawa.
Arjo duduk. Para demang mengangkat wajah—tapi tidak sepenuhnya. Mata mereka tetap sedikit menunduk, tidak berani menatap langsung, dua tangan membentuk sembah di depan wajah.
“Sugeng rawuh, Gusti Bupati.” Suara mereka menggema rendah.
Arjo menahan senyum. ‘Benar kata Kang Guru Harjo. Mereka tidak akan berani memandang sejajar.’
Ki Atmojo mengambil posisi di samping kanan Arjo, berdiri tegak dengan tangan terlipat di belakang punggung.
Di depan Arjo, di atas meja kecil dari kayu jati, sudah tersedia secangkir teh dan catatan-catatan yang disiapkan oleh sekretaris kadipaten.
Arjo yang haus langsung meraih cangkir porselen itu. Aromanya harum, campuran teh hijau dan melati yang menggoda.
Baru satu teguk masuk ke kerongkongan, Ki Atmojo di belakangnya terasa condong ke depan. Bisikannya nyaris tak terdengar.
"Jangan minum atau makan apapun yang tidak kami izinkan untuk diminum. Teh ini belum diuji racun. Kita baru sampai."
Arjo tersedak.
Teh yang sudah di tenggorokan nyaris menyembur keluar. Ia memaksa menelan, wajah membeku, cangkir masih terangkat di tangan.
‘Kenapa tidak memberi tahu dari tadi?!’
Ia mengumpat dalam hati sambil meletakkan cangkir kembali ke meja dengan gerakan yang dipaksakan tenang.
‘Kukira yang disuguhkan di depanku sudah aman! Duh Gusti... susahnya jadi bupati. Mau makan minum saja butuh diuji racun terlebih dahulu. Padahal haus sekali. Semoga teh tadi tidak beracun.’
Rapat dibuka sesuai arahan Ki Atmojo.
Seorang sekretaris kadipaten—pria kurus berkacamata dengan buku catatan tebal—membacakan agenda hari ini. Laporan pajak dari masing-masing wilayah. Keluhan tentang hasil panen yang menurun. Permintaan dana untuk perbaikan jalan dan jembatan.
Para demang berbicara bergantian, masing-masing menyampaikan laporan dari wilayah mereka.
Arjo mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk dengan wibawa seperti yang telah dilatihkan. Ki Atmojo di belakangnya sesekali membisikkan arahan—kapan harus mengangguk setuju, kapan harus mengerutkan dahi tanda mempertimbangkan.
Tapi di balik wajah datarnya, Arjo mengamati.
Para demang ini... menarik.
Mereka semua mengeluh tentang pendapatan yang menurun. Tentang beban pajak yang berat. Tentang rakyat yang kesulitan. Mulut mereka penuh keluhan dan permintaan keringanan, serta tambahan anggaran.
Tapi penampilan mereka?
Arjo memperhatikan keris-keris yang terselip di pinggang mereka—keris dengan sarung berlapis emas, bertahtakan batu mulia yang berkilau setiap kali terkena cahaya. Blangkon mereka dihiasi bros permata di bagian depan. Cincin-cincin besar dengan batu delima dan zamrud menghiasi jari-jari gemuk mereka.
Tidak ada satu pun demang yang kurus. Semua berperut buncit, pipi tembem, leher berlipat-lipat.
‘Mereka bilang rakyat kesulitan, tapi mereka sendiri tampak sangat sejahtera.’
Arjo mencatat semua itu dalam hati.
‘Entah benar pendapatan menurun, atau mereka hanya ingin membayar pajak lebih sedikit ke kadipaten.’
Rapat berlanjut selama hampir tiga jam. Patih—pejabat tertinggi di bawah bupati—dan sekretaris menangani sebagian besar pembicaraan. Arjo tidak perlu banyak bekerja, hanya duduk, mengangguk-angguk, sesekali berdeham untuk menunjukkan bahwa ia mendengarkan.
Tapi duduk terus-menerus selama tiga jam ternyata sangat melelahkan.
Punggungnya pegal. Bokongnya panas. Dan perutnya semakin lapar, berbunyi nyaring di saat-saat hening yang tidak tepat.
‘Kapan selesainya?’
Akhirnya tiga jam berlalu dengan sangat membosankan.
Para demang berpamitan satu per satu, membungkuk hormat, mundur perlahan keluar pendopo. Arjo membalas dengan anggukan singkat, mempertahankan wajah datar hingga orang terakhir menghilang dari pandangan.
Begitu pendopo kosong, ia langsung meregangkan tubuh.
“Duh Gusti … lelah sekali mendengar segala keluhan pejabat.”
Ki Atmojo berdeham pelan. “Jaga wibawa, masih ada abdi dalem di sekitar yang mungkin melihat.’
Arjo buru-buru menegakkan tubuh lagi.
"Makan siang sudah disiapkan di ruang kerja. Makanan sudah diuji dan aman. Gusti Ayu kemungkinan malam nanti baru akan pulang. Ndoro Ayu Susilowati juga minta makan di kamarnya, katanya tidak enak badan."
‘Akhirnya! Pantas tadi dia gemetaran.’
Arjo bangkit dengan gerakan yang berusaha tetap berwibawa, meski dalam hati ingin berlari secepat mungkin.
Makan siang adalah kegiatan yang paling melegakan sepanjang hari ini.
Arjo bisa makan sendiri di ruang kerja bupati, ruangan pribadi yang hanya boleh dimasuki oleh abdi dalem tertentu. Tidak ada yang memperhatikan. Tidak ada yang menilai.
Ia bisa makan dengan lahap tanpa harus menjaga sikap.
Nasi putih. Gulai kambing yang kaldunya kental. Sayur lodeh. Buah-buahan.
Arjo menghabiskan satu piring penuh dalam waktu singkat.
‘Enak juga jadi bupati,’ pikirnya sambil menyendok suapan terakhir. ‘Makanannya mewah. Tapi tetap saja, mau makan harus diuji racun dulu. Repot.’
Ia tak menghabiskan semuanya, ingat pada saudara seperguruan yang masih menjaga di luar pintu.
Dia membuka pintu perlahan, berbisik pelan. “Tikno, ayo masuk makan. Masih banyak, nanti gantian sama Dirno. Aku tunggu di belakang pintu, kalau ada yang mendekat biar Dirno memberi kode.
Wajah Tikno berbinar, dengan cepat menyelinap masuk, makan dengan penuh rasa syukur, bergantian dengan Dirno.
Seharusnya setelah makan siang, Arjo bisa beristirahat sejenak.
Tapi ternyata jadwal bupati tidak mengenal kata istirahat.
"Ada tamu yang sudah menunggu, Ndoro." Sekretaris kadipaten muncul di pintu dengan buku catatannya. "Tuan Liem Tjong Hian, pengusaha gula."
Arjo menahan erangan, menuju pendopo samping, pendopo yang lebih kecil untuk menerima tamu pribadi. Dia duduk di kursi bupati dengan wajah yang dipaksakan ramah.
deg" sir ya Jo, kui persembahan nggo bupati yo
kira" bsk kalau udah tau soedarsono ini kakak'y dr ayah yg sama kira" gmn ya reaksi arjo