Ongoing
Lady Anastasia Zylph, seorang gadis muda yang dulu polos dan mudah dipercaya, bangkit kembali dari kematian yang direncanakan oleh saudaranya sendiri. Dengan kekuatan magis kehidupan yang baru muncul, Anastasia memutuskan untuk meninggalkan keluarganya yang jahat dan memulai hidup sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24
Salju turun seperti debu kaca yang halus ketika pagi datang di Benteng Utara. Matahari sama sekali tidak muncul, hanya cahaya pucat yang terpantul dari salju, memberikan ilusi seakan dunia dilapisi lembaran perak dingin. Lady Anastasia berdiri di balkon kamarnya yang berada di lantai tertinggi, jubah putihnya berkibar, rambut keperakannya jatuh memeluk leher. Sepasang mata biru pucatnya menatap jauh ke bentang hutan beku. Ada sesuatu yang aneh di sana. Hening… terlalu hening bahkan untuk wilayah yang sudah ratusan tahun tidak mengenal ketenangan.
“Duke Aloric Silas,” gumamnya pelan. “Dunia sepertinya mulai menarik kita lebih dalam ke dalam kekacauan.” Ia memejamkan mata, dan bisikan samar seperti seruan nyawa-nyawa yang hilang di salju menggoda pendengarannya. Kekuatan kehidupan yang ia miliki semakin peka hari demi hari, terutama semenjak ia kembali dari kematian. Ada aura mati… tetapi bergerak. Dan itu tidak wajar.
Di ruang perang, Aloric memeriksa peta besar yang dipenuhi garis perbatasan, titik merah, dan simbol sihir pelindung. Matanya gelap seperti malam tanpa bintang. Ia tidak tidur semalaman, bukan karena lelah… tapi karena rasa curiga yang mengikis kesabarannya. Laporan datang dari para penjaga. Ada jejak iblis salju. Sesuatu yang seharusnya punah puluhan tahun lalu.
“Bagaimana itu bisa masuk? Kita memasang tiga lapis barikade sihir,” denting suara Aloric terdengar seperti pedang menabrak besi. “Tidak mungkin makhluk itu bisa menembus tanpa bantuan…” Ia berhenti. Tanpa bantuan manusia. Lord Reikar penasihatnya yang paling senior menelan ludah. “Yang Mulia, kami menduga ada mata-mata kerajaan yang masuk ke wilayah Anda.”
“Kerajaan?” Aloric mendengus. “Atau Putra Mahkota yang menyembunyikan kekuatan sihir terlarang?” Ruangan langsung senyap. Nama itu tabu. Semua tahu Pangeran Cassian mulai menunjukkan ketertarikan pada sihir gelap. Tetapi tidak ada bukti… kecuali sesuatu yang semakin hari makin tak bisa disembunyikan. Aloric menatap tajam Reikar. “Siapkan pasukan pemburu. Kita akan menyisir wilayah timur.”
“Tapi salju sedang buruk, Yang Mulia.”
“Salju buruk justru membuat musuh ceroboh.”
Pintu terbuka. Anastasia masuk, langkahnya ringan namun auranya menggetarkan seluruh ruangan. Aloric menoleh. Sejak ia menghidupkannya kembali di medan perang, ada sesuatu pada wanita itu… sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Dan Aloric, yang paling ditakuti di utara, merasa entah untuk pertama kalinya dalam hidup bingung. “Ada sesuatu yang bergerak di hutan timur,” kata Anastasia tanpa basa-basi. “Hidup dan mati bercampur… seperti jiwa yang terpasung. Kekuatan gelap.” Aloric menegang. “Kau melihatnya?”
“Merasakannya.” Ia menatap Aloric dengan mata yang begitu tenang. “Duke… sesuatu sedang mendekat. Sesuatu yang bukan dari dunia manusia.” Ruangan membeku lebih dingin. Aloric melangkah mendekat, sangat dekat hingga napas mereka bercampur. “Anastasia. Apa yang kau rasakan tepatnya?”
Ia menunduk, suaranya bergetar halus namun penuh keyakinan. “Ada… seseorang yang mencari Anda. Dan bukan untuk alasan baik.”
Malam tiba lebih cepat hari itu, seolah dunia memperingatkan mereka. Aloric mengumpulkan pasukan elitnya Para Ksatria Bayangan yang setia hanya pada keluarga Silas. Namun saat ia akan meninggalkan kastel, Anastasia mencegahnya dengan tangan kecilnya yang menyentuh lengan Aloric. “Duke… jangan pergi sendirian. Ini jebakan.” Aloric menatapnya. “Aku tidak pernah butuh perlindungan.”
“Tetapi kali ini berbeda,” Anastasia menatap lurus ke matanya. “Aura yang datang itu… menargetkan Anda secara langsung. Seseorang ingin Anda mati.” Suara langkah-langkah kecil menggema. Seorang prajurit berjongkok di depan Aloric, tubuhnya gemetar. “Yang Mulia… kami menemukan ini di gerbang selatan.”
Sebuah kepala manusia membeku menjadi es diletakkan di lantai. Mata yang terbelalak masih terbuka, seolah mencoba memperingatkan sesuatu di detik terakhir hidupnya. Di dahi jenazah itu… terukir simbol sihir gelap. Anastasia menutup mulutnya. Bukan karena takut. Tapi karena ia mengenali simbol itu. “Ini… simbol sekte yang mengikuti Putra Mahkota,” ucapnya lirih.
Dan seketika, ruangan berguncang. Aura maut merayap dari luar kastel. Memukul jendela. Menggores tembok. Udara berubah seperti tangan dingin yang mencekik. Aloric mencabut pedangnya, magic hitam menyala dari tubuhnya. “Anastasia.” Suaranya dalam dan menggetarkan dada. “Tetap di belakangku.”
“Aku tidak bisa. Dia datang untukmu. Aku harus melindungimu.” Aloric menoleh, mata gelapnya melembut hanya sepersekian detik. “Jika sesuatu terjadi padamu…”
Ia tak melanjutkan. Anastasia tersenyum tipis palsu namun mematikan. “Tidak akan. Aku sudah mati sekali. Tidak apa jika melakukannya lagi.”
Lantai bergetar. Suara tawa rendah terdengar dari luar seperti bisikan iblis. Aloric dan Anastasia berjalan berdampingan menuju depan kastel. Dan dari balik kabut salju…
Satu sosok muncul. Panjang, kurus, berkulit pucat kebiruan, mata hitam tanpa putih sedikit pun, membawa aura kebencian yang menusuk seperti duri. Iblis salju. Makhluk kuno yang hanya bisa dipanggil oleh…
Anastasia menggigit bibirnya. “…sihir kerajaan.” Makhluk itu menatap Aloric, mulutnya terbuka, mengeluarkan suara pecah seperti tulang yang patah “Duke Silas… mati.” Anastasia menarik napas. Aloric mengangkat pedang hitamnya. Dan langit runtuh dengan teriakan perang.