laki-laki diuji tiga hal, harta, keluarga dan wanita.
Semuanya bisa mereka atasi tetapi satu yang kerap membuatnya lemah yaitu godaan wanita.
Sepuluh tahun pernikahan kandas karena satu wanita yang dizinkan Alim hadir di tengah keluarganya. Erna tak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah berani mengkhianati janji suci, merobohkan komitmen, dan merusak kepercayaan. Erna memutuskan pergi jauh meninggalkan kedua putrinya, Zaskia Alifta dan Rania Anggraeni di usia masih kecil. kelahiran mereka hanya selisih setahun dan terpaksa menjadi korban keegoisan orang tua. Kepergian Erna justru dicap istri yang durhaka dengan suaminya, dan itu membuat Alim tidak ada rasa bersalah dan berencana menikah dengan selingkuhannya. Zaskia tidak menerima Ibu tirinya dan lebih memilih hidup sendiri. Sementara Rania ikut sang ayah dan hidup enak bersama keluarga barunya tanpa memikirkan sang kakak.
Bagaimana nasib dan masa depan kedua saudara itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Sketsa Tak terencana
Perasaan tidak enak itu muncul lagi. Padahal Nadine sudah bilang kalau bosnya, Pak Irwan, orangnya baik—peduli dan perhatian pada semua karyawan. Otomatis ke semua orang, kan? Lagipula mayoritas karyawannya perempuan, jadi seharusnya tidak ada yang perlu ditakutkan.
Zaskia mengatur napas berkali-kali sebelum akhirnya mengetuk pintu itu. Suara tegas dan lantang dari dalam langsung memintanya masuk.
“Duduklah, Zaskia,” pinta Irwan.
Zaskia mengangguk sopan lalu duduk.
“Kamu mau cash atau transfer?”
“Cash saja, Pak.”
Irwan mengangguk, lalu mengulurkan amplop cokelat yang cukup tebal. “Kamu hitung dulu.”
Zaskia membelalak saat membuka amplop dan menghitungnya. Jumlah uangnya jelas tidak sesuai. Lebih banyak, jauh lebih banyak.
“Dua puluh tiga juta? Pak...maaf, ini kebanyakan. Per kotak isi lima varian kue, harga tiga puluh lima ribu, dikali lima ratus karyawan...totalnya tujuh belas juta lima ratus. Ini kelebihan.”
“Tidak apa-apa. Untuk kamu. Anggap saja itu bayar tenaga kamu yang sudah capek bikin kue sebanyak itu buat karyawan di sini.” Irwan menjawab santai.
“Nggak bisa begitu, Pak,” Zaskia buru-buru menolak dengan amplop di tangan yang terbuka. “Saya memilih jualan kue karena tahu konsekuensinya. Capek, kritik, itu risiko saya. Justru saya yang seharusnya kasih bonus ke Bapak, tapi belum bisa.”
Irwan memiringkan kepala sedikit, menatap tajam namun bukan marah—lebih seperti membaca.
“Ambil saja uangnya. Saya tahu kerja itu capek, dan saya tidak mau memakan tenaga orang. Di sini, kita keluarga, Zaskia. Saya ingin semua yang kerja dengan saya merasa senang, meski capek. Kamu ngerti maksud saya?”
“Saya mengerti, Pak. Tapi ini bisnis saya. Jangan samakan saya dengan karyawan Bapak. Saya bukan bekerja di sini, hanya penjual. Bapak pelanggan—yang kebetulan bos pabrik besar ini.”
Irwan tersenyum tipis. Bukan meremehkan, lebih seperti kagum. Banyak orang mengejar uang dengan segala cara, tapi gadis ini menolak sesuatu yang menurutnya bukan haknya. Dalam tatapannya, ia melihat prinsip yang sulit digoyahkan.
“Kenapa nggak mau menerima? Kamu kan nggak mencuri atau korupsi. Anggap saja ini apresiasi, karena jujur...kue buatanmu baru kali ini bikin saya doyan.”
Zaskia menatapnya sekilas lalu memalingkan wajah lagi. “Tetap tidak, Pak. Karena tadi niat Bapak bukan apresiasi. Kalau dari awal bilang begitu, mungkin saya bisa menerima. Tapi caranya Bapak seperti memaksa saya untuk terima, kan?”
Irwan terkekeh kecil. “Saya nggak tahu kamu keras kepala begini. Dan saya bukan tipe yang suka mengambil apa yang sudah saya beri. Jadi, terima saja. Besok-besok saya tidak begitu. Takut kamu nggak mau bikin kue lagi, sementara karyawan saya sudah terlanjur senang.”
Zaskia menghela napas berat, sedikit kesal. “Saya tetap nggak mau terima lebihnya, Pak. Kalau begitu, uang ini buat besok saja. Jadi Bapak tinggal tambahkan sisanya.”
“Tidak bisa begitu.” Irwan mengernyit. “Ini bukan pemberian cuma-cuma. Itu juga karena kerja keras kamu.”
“Kerja keras saya hanya sebesar jumlah kue yang saya buat, Pak. Bukan lebih.”
Irwan mengusap wajah, menyesal memberi kelebihan uang itu. Ia hanya ingin membuat Zaskia senang, bukan memicu perdebatan panjang.
“Seperti yang saya bilang, saya tidak bisa menarik kembali apa yang sudah saya beri. Terserah kamu mau dipakai untuk apa.”
“Kalau begitu... saya kasih saja ke orang yang membutuhkan.” jawab Zaskia lirih.
Irwan hanya tersenyum, sudut bibirnya terangkat melihat reaksi itu. Begitu ia menatap Zaskia, gadis itu langsung menunduk.
“Kenapa kamu selalu menunduk setiap saya pandang? Kamu takut pada saya? Saya membuat kamu tidak nyaman?” Nada suaranya datar, tapi jelas ada rasa ingin tahu.
“Tadi kamu tegas sekali. Dalam hitungan detik, wajahmu berubah seperti ketakutan. Apa muka saya menakutkan, ya?”
Zaskia menelan ludah, jemarinya meremas ujung rok. Gugup, tapi berusaha mengangkat wajah—meski hanya sedikit.
“B-bukan begitu, Pak... Saya hanya tidak nyaman dengan tatapan Bapak. Bapak terlalu memperhatikan saya. Saya tahu kalau cuma berdua memang saling menatap, tapi...tetap saja. Maaf kalau sikap saya lancang.”
Irwan tersenyum. “Good girl, Zaskia. Saya suka kejujuran kamu. Maaf kalau saya membuatmu tidak nyaman. Setidaknya sekarang saya tahu alasan kamu bersikap begitu.”
Perkataan itu menenangkan, seperti pelan-pelan melepaskan sesak di dada Zaskia. Ia hendak pamit berdiri—
Namun tepat saat ia bangkit, seseorang mengetuk pintu dan masuk. Zaskia terpaksa duduk kembali.
“Ada apa, Safa?” tanya Irwan pada sekretarisnya.
“Ada masalah dengan desain sepatu terbaru yang dirancang tuan muda, Pak. Saat tim Product Development membuat technical drawing dan spesifikasi bahan, muncul kabar bahwa desain itu sudah diluncurkan dari pabrik milik Pak Reno.”
Irwan tidak tampak kaget. Dalam dunia bisnis, pencurian desain bukan hal langka. “Kapan tuan muda kirim desain itu?”
“Dua bulan lalu, Pak.”
“Kenapa tidak langsung diproduksi?”
“Harusnya begitu, Pak. Tapi pelanggan besar kita, Pak Rendi, ingin jadwal produksi menyesuaikan permintaannya bulan ini. Beliau sangat suka desain itu.”
Irwan mengangguk paham. “Kamu sudah bilang ke tuan muda? Suruh buat desain baru untuk Pak Rendi, jujur saja alasan kita.”
“Sudah, Pak. Tapi beliau lagi sibuk.”
“Selera Rendi tinggi. Desain lain tidak ada yang cocok. Kalau begitu lebih baik jujur saja kalau desain kita dicuri.”
Zaskia sedari tadi hanya ternganga mendengar percakapan mereka.
“Boleh saya lihat desain yang disukai Pak Rendi?” entah dari mana keberanian itu muncul, tetapi kalimatnya meluncur begitu saja.
Irwan dan Safa menatapnya bersamaan.
“Kamu bisa bantu?” tanya Irwan, penasaran.
“Saya tidak tahu, Pak. Tapi saya mau coba. Dulu di sekolah saya sering ikut lomba menggambar tingkat nasional dan—”
“—Safa, tunjukkan,” potong Irwan cepat.
Safa menyerahkan tablet berisi desain-desain itu.
Zaskia meneliti satu per satu, sementara Irwan dan Safa memperhatikannya.
“Boleh saya minta kertas dan bolpoin?”
Safa segera memberikannya.
“Saya minta waktu sepuluh menit saja, Pak...Bu,” ucap Zaskia sekilas.
Zaskia mulai menggambar. Goresannya hati-hati, sesekali ia mengangkat kepala, mencari bentuk yang pas di pikirannya. Lalu kembali menggambar, seolah apa yang ia lihat bersumber dari sana.
Sepuluh menit berlalu. Ia menyerahkan hasilnya kepada Irwan.
Irwan tertegun. “Wow, Zaskia...ini...”
Ia tidak melanjutkan. Terlalu terkejut melihat hasilnya—silhouette klasik yang diperkaya sentuhan modern, refined dan elegan.
“Lihat ini,” ucap Irwan, memberikan gambar itu pada Safa.
“Bagus sekali, Pak. Tapi belum tentu Pak Rendi mau.”
“Kamu benar. Biar saya yang hubungi dia.”
Irwan langsung menelepon Rendi, menjelaskan semuanya dan mengirimkan foto sketsa Zaskia.
Tak ada yang menyangka, Rendi justru jauh lebih tertarik pada desain milik Zaskia.
......................
Saat Zaskia dan Safa pergi, Irwan menatap desain itu sekali lagi sebelum meletakkannya kembali ke meja. Ia masih bersandar di kursinya, memutar bolpoin pelan di antara jari—seolah pikirannya belum sepenuhnya kembali dari kejadian barusan.
Dari balik kaca ruangannya, ia melihat sosok lelaki berdiri tegak menunggu aba-aba. Irwan mengangguk kecil, dan Jack segera masuk.
“Kamu pasti sudah dengar insiden tadi, kan, Jack?”
“Sudah, Pak,” jawabnya mantap. “Saya juga sudah tahu siapa dalang di balik pencurian itu. Apa perlu saya tangani sekarang?”
Irwan menggeleng pelan. “Tidak usah. Masalahnya sudah selesai...berkat gadis itu. Masalah di pabrik ini tidak lebih penting daripada dia.”
Jack mengangguk memahami. “Baik, Pak. Kalau begitu, apa langkah selanjutnya?”
Irwan tersenyum tipis, ada kepuasan yang tak bisa disembunyikan. “Sepertinya saya sangat beruntung hari ini, Jack.”
“Bapak benar. Ini sama sekali tidak terduga,” Jack menjawab tanpa ragu. “Saya yakin dia gadis yang tepat. Bapak tidak salah pilih.”
Irwan menyandarkan punggung, napasnya teratur. “Dia pekerja keras. Dan dia tidak mau menerima imbalan cuma-cuma. Kalau saya langsung menawarkan pekerjaan baru di pabrik ini...terlalu terburu-buru. Saya ingin dia datang sendiri pada saya.”
“Dia sangat ingin bertemu ibunya,” kata Jack.
“Apa sebaiknya kita atur pertemuan itu lebih dulu? Kalau itu berhasil...dari situ dia akan bergantung pada kita.”
Irwan menatap jauh ke depan, senyumnya menguat. “Ide yang bagus, Jack.”