NovelToon NovelToon
KUTUKAN MAUT PADMINI

KUTUKAN MAUT PADMINI

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / Tumbal / Iblis / Balas Dendam
Popularitas:317.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Padmini, mahasiswi kedokteran – dipaksa menikah oleh sang Bibi, di hadapan raga tak bernyawa kedua orang tuanya, dengan dalih amanah terakhir sebelum ayah dan ibunya meninggal dunia.

Banyak kejanggalan yang hinggap dihati Padmini, tapi demi menghargai orang tuanya, ia setuju menikah dengan pria berprofesi sebagai Mantri di puskesmas. Dia pun terpaksa melepaskan cintanya pergi begitu saja.

Apa yang sebenarnya terjadi?
Benarkah orang tua Padmini memberikan amanah demikian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24 : Pencarian

Keringat dingin bercucuran dari pelipis pria ketakutan itu. Sosok yang tadi menjelma seperti Padmini tiba-tiba berubah sangat menyeramkan. Tubuhnya berbulu lebat mirip Orang hutan, postur tinggi tegap, bagian dada terlihat menonjol dibalik rimbunnya buli.

“Kakang ….” nadanya mendayu-dayu, lalu mulutnya terbuka memperlihatkan gigi busuk, suaranya tetap milik Padmini yang tengah melakukan ritual mengendalikan Genderuwo dari lembah pembuangan Jin.

Arghh!

Akhirnya jerat tak kasat mata yang membelenggu Bambang dilepaskan, dia bisa lagi bergerak.

Pria itu langsung berdiri, masih setengah membungkuk sudah berlari tunggang-langgang. Tidak melewati jalan setapak tapi masuk ke persawahan kering. Menabrak ilalang tajam, terjungkal kala kakinya tersangkut tunggul, dari terpelanting saat tali sandalnya putus.

Peh!

Mulutnya terasa pahit ketika dia tersungkur di bekas bakaran ladang milik warga kampung Hulu. Andai saja siang hari, sudah pasti dirinya bisa melihat baju putih berubah warna menjadi hitam.

Deru napas Bambang bergemuruh, hidungnya mencium bau amis Ikan, dia yang masih setengah berbaring di padang rumput telah menjadi abu, mendongak lalu melihat sosok tinggi menjulang di atasnya.

Bambang kelelahan, tenaganya terkuras habis. Mau lari lagi tidak sanggup, berakhir mengiba minta dikasihi.

“Aku tak pernah mengganggumu maupun sejenismu, maka dari itu jangan pula meneror, mengejar apalagi mencelakaiku! Bila kau butuh sesaji, katakan saja! Nanti kusediakan.”

Sang Genderuwo memajukan salah satu kaki berjari besar. Kemudian menendang perut Bambang sampai terlempar hampir satu meter.

Bunyi daging tertancap dibenda tajam terdengar renyah.

Arghh!

Bambang mengerang, rasanya sungguh luar biasa sakit yang menjalar di sepanjang kedua kakinya.

Setelah memastikan mangsanya nyaris sekarat, Genderuwo pun menghilangkan. Dia cuma diberikan tugas mencelakai bukan menghabisi.

“To_long! To ….” pandangannya mengabur melihat gugusan bintang, kesadarannya menipis berakhir dia pingsan dalam keadaan berdarah-darah.

***

“Sundari! Jeng Sumi! Pak Wandi!”

Tengah malam, seseorang mengetuk pintu rumah juragan Pandu. Suara teriakannya terdengar bergetar.

Sundari yang mengenali suara ibu mertuanya langsung terbangun, beranjak dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar. Namun dia tidak berani berani membukakan pintu, takut yang datang bukan manusia tapi hantu.

“Sundari, apa Bambang ada disini? Dia belum pulang!”

Sumi dan Wandi keluar dari dalam kamar, bergegas memutar anak kunci, lalu membuka pintu.

"Bang Bambang tak ada disini, Mak. Dia sudah pulang sejak pukul sembilan tadi,” beritahu Sundari. Berdiri di belakang orang tuanya.

Ekspresi ibunya Bambang begitu cemas, ketakutan memikirkan nasib putranya.

“Kumpulkan warga, kita cari malam ini juga!” Wandi menghidupkan lampu petromax, cahayanya bukan kuning tapi putih, dan langsung menerangi sekitar.

Ayah dan abangnya Bambang bergegas melangkah tergesa-gesa mencari bantuan. Sementara para wanita dipinta tinggal di rumah saja.

.

.

Pencarian Bambang pun dilakukan, lebih dari dua puluh orang berkeliling kampung lewat jalan besar. Menggedor warung kopi terkenal dengan pemilik dan satu pelayannya yang memiliki tubuh seksi.

Bambang tak ada disana, dan dimanapun. Membuat tim beranggotakan pria itu bertambah khawatir. Sebagian dari mereka tidak berani berjalan dipinggir, takut tiba-tiba ada makhluk tidak kasat mata menampakkan wujudnya.

“Tadi bang Bambang lewat mana pulangnya?”

“Belakang rumah pak Wandi,” jawab Juned, dia sendiri melihat Bambang berjalan sambil membawa senter.

Warga pun kembali ke rumah juragan Pandu, berjalan dengan derap langkah terdengar menekan tanah.

Sumi, Sundari, dan ibunya Bambang – memaksa ikut dalam pencarian.

Cahaya obor berpadu dengan sinar lampu petromax di jinjing oleh Sarman.

“Ini sandalnya Bambang!” Rido hafal betul alas kaki sahabatnya yang teronggok di jalan setapak.

Semua orang pun menjadi panik, mereka dibagi menjadi tiga regu – memasuki semak belukar, menyusuri kebun Petai dan barisan pohon pinang.

"Ini sandal pasangannya!” teriak Juned.

Para laki-laki pun langsung berlari mendekat, mereka juga sudah menemukan senter milik Bambang.

Sundari sedari tadi sudah menangis, begitu juga ibu mertuanya. Perasan mereka kacau, takut bila Bambang dicelakai entah oleh siapa.

“Sepertinya ada yang memasuki lahan bekas dibakar itu! Ada jejak kaki dan seperti bekas kubangan Babi” analisa Sarman langsung ditanggapi dengan tindakan.

Pelan-pelan, dan penuh kehati-hatian – mereka menyusuri ladang bekas ditumbuhi rumput liar, dan akan dijadikan ladang cabai.

Seseorang terpekik ketika melihat sosok berwarna hitam sampai sulit dikenali, tergeletak. “Bambang ada disini, dia sekarat. Masih ada napas dan denyut nadinya!”

Abu berterbangan kala diinjak-injak dan tersapu semilir angin.

“Astaga, Nak! Bambang!” ayah mertua Sundari histeris, berjongkok lalu mengelap wajah hitam putranya menggunakan kain sarung.

“Macam mana kita menariknya?” Juned bergidik, santer yang dia pegang mengarah pada sosok tidak sadarkan diri. Bagian bawah sampai tumit tersangkut di pagar kawat berduri rapat yang setengah ambruk.

“Cepat lakukan sesuatu! Bisa-bisa calon suamiku mati kehabisan darah!” Sundari histeris, warna kulit wajahnya tidak merata, air mata bercampur serpihan abu.

"Hati-hati!” Wandi memperingati saat tiga orang pemuda bersiap melakukan penyelamatan.

Kedua tangan suaminya Padmini dan Sundari ditarik. Celana panjangnya terlihat basah dan berbau amis pada bagian kaki belakang.

Kawat berduri menjadi berwarna merah pekat saat sudah tidak lagi menancap di kaki Bambang.

“Harus dibawa kemana?” tanya salah satu dari mereka sambil memapah sebelah tangan Bambang.

“Rumah dukun beranak Nisda saja! Biar diobati lukanya!” sahut Sumi. Puskesmas pada malam hari tidak buka, sementara Bambang adalah seorang Mantri, maka tidak ada lagi tenaga medis yang tersisa di kampung Hulu. Adanya di desa tetangga, tentu memerlukan waktu untuk sampai di sana.

“Sebetulnya ada apa? Mengapa bang Bambang sampai masuk ke lahan bekas pembakaran?” sepanjang jalan menuju rumahnya Rahardi, Sundari terus menggumamkan pertanyaan. Hatinya dirundung nestapa, tidak menyangka sang suami celaka.

“Nanti kalau dia sudah sadar kita tanyai,” Sumi menenangkan putrinya.

Sepuluh menit kemudian, rumah dukun beranak di ketuk, dan raga tidak sadarkan diri dibawa masuk.

Wanita berumur empat puluh tahun lebih itu sibuk menumbuk ramuan penghenti pendarahan.

Sementara pakaian Bambang digantikan oleh ayah dan abangnya. Dia mengenakan baju milik Juned.

Sudah lima baskom besar berisi air yang ditukar dengan air bersih. Tubuh berabu Bambang benar-benar kotor, dan harus dibersihkan dulu baru bisa diobati kakinya.

Badan Bambang ditelungkupkan di atas tikar berlapis tilam tipis. Dia cuma mengenakan kaos longgar, bawahnya polos.

Nisda memeriksa bagian mana saja yang terluka, dia berdecak seraya menatap ngilu lubang-lubang kecil masih mengeluarkan darah segar meskipun tidak deras.

“Ini membutuhkan lebih dari seminggu masa penyembuhannya. Dia tak boleh bergerak, apalagi dipaksakan untuk duduk dan berjalan. Lukanya cukup dalam, takutnya bila tak dirawat betul-betul bisa infeksi!”

“Apa? Lebih dari seminggu? Lantas bagaimana dengan pesta pernikahan kami yang tinggal empat hari lagi?!”

.

.

Bersambung.

1
Wanita Aries
mantap ya bambang rasanya
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅
hahhh ini klo aq g kbyng deh
tp ya nikmati aja deh apa yg di lakukan padmini nahh mkne klo mau apa2 pikir dlu kali bambang
Ayudya
hadeh Bambang gimana rasa di jadikan ekperimen oleh istri mu
Aprisya
pokoknya sayang banyak2 kak cublik🥰🥰🥰🥰 udah bikin jantung dag dig dug seeerrrr🤣🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$°Siti Hindun§𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Teruskan kegilaan ini Padmini, aku suka. Jangan biarkan Bambang mati dengan mudah/Applaud/
Secret Admire
ampuuunnnn kak😄 bacanya aja aku gemeteran 😄
Lisstia
ngeri sih tapi bikin kepo bacanya
Reni
astaga pagi2 mana banjir dari kemarin cuma surut sak empritttt dingin2 eeee baca lha kok lha kok lha kok duarrrrrr mbak Padmini main dokter dokteran sadis sama mas bojo tercinta 😬
SENJA
aaaiih aku kok ngilu 🥶
neni nuraeni
anjaay psikopet... bantai terus padmi... lnjut thor
SENJA
yang gila itu elu bambang buseh , padmini cuma balikin doang 😁
Salim ah
huuuuwaaa
Watiningsih
padmini jadi psikopat mati hati nurani karena rasa sakit hati yg luar biasa, semua akibat ketamakan kamu Bambang
Muhammad Arifin
AQ seng puyeng 😨😨
mudahlia
terserah kau lah padmi sukahati kau
Dibalik senyum
Sicalon dokter terbaik padmini ,digergaji trs dijahit lagi terlalu cepat menjahit ditmbh lg potonganya,habis jari nanti lidahny yg dipotong trs dijahit lagi begitu trs ,padmini memang luar biasa calon dokter yg handal
nara
uh sadis pembalasannya padmini,,satu persatu warga kampung hulu bakal mati semua
Shee
nah abis deh tuh jari, besok apa nya ya??? ko q seneng saat Bambang di siksa, maaf ya kang🤣🤣🤣
Eli Rahma
sadis bgt pembalasan padmini..
Eva Wahyuni
kayak nonton film Suzanna Thor 😱😱😱..
ngeri ngeri sedap 😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!