Lana, seorang gadis yang tumbuh dalam pengabaian orangtua dan terluka oleh cinta, harus berjuang bangkit dari kepedihan, belajar memaafkan dan menemukan kembali kepercayaan pada cinta sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Riani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 24 Memasak Untuk Nenek Part 1
"Kamu mau masak apa?" Sakha menghampiri Lana yang tengah sibuk menata bahan-bahan di dapur rumahnya. Aroma rempah-rempah langsung menyambutnya, membuat perutnya sedikit keroncongan.
Gadis itu telah berjanji bahwa jika nenek Yasmin sembuh, ia akan memasak makanan kesukaan nenek. Dan kini, dengan senyum cerah, ia sedang menepati janjinya.
"Waktu itu kamu bilang nenek suka rawon kan? Nah, aku mau coba bikin itu untuk nenek," jelas Lana, suaranya sedikit bergetar, "Tapi, jujur, aku nggak yakin bisa enak sih." Kerutan kecil muncul di dahinya, menunjukkan keraguannya.
"Hei, jangan pesimis begitu!" Sakha meraih apron lain dari laci, mengenakannya dengan semangat. "Biar aku bantu, ya? Kita pasti bisa bikin rawon terenak untuk nenek." Ia melirik Bi Maya, asisten rumah tangga yang berdiri di dekat mereka. "Bi Maya, Bi Maya ke belakang dulu ya, biar aku yang bantu Lana."
Bi Maya terkejut bukan main. Seumur-umur bekerja di rumah itu, belum pernah sekalipun ia melihat Sakha menginjakkan kaki di dapur, apalagi menawarkan diri untuk memasak. Matanya membulat, tak percaya dengan pemandangan di depannya.
Lana memutar bola matanya, menahan senyum. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menyembunyikan rasa geli.
"Kamu yakin mau bantu aku, Sakha?" tanyanya, melirik Sakha dan Bi Maya bergantian.
"Yakin seratus persen!" seru Sakha, menepuk dadanya dengan bangga. "Aku sudah siap nih!"
"Mmm... baiklah," pasrah Lana, menyerah pada semangat Sakha yang menggebu-gebu. "Tapi, awas kalau bikin dapur berantakan!"
Bi Maya akhirnya mundur, meninggalkan dua anak muda itu dengan rasa penasaran yang menggelitik. Ia tak sabar melihat bagaimana jadinya dapur setelah "dikuasai" oleh Sakha dan Lana.
...---------...
"Oke, kalau gitu, tolong kupas bawang putih dan bawang merahnya ya," pinta Lana sambil menunjuk kantung belanjaan yang penuh dengan bahan-bahan segar.
Sejak pagi, ia sudah berbelanja dengan semangat, membayangkan senyum bahagia nenek Yasmin saat mencicipi masakannya.
Sementara Sakha mulai mengupas bawang dengan hati-hati, Lana dengan cekatan merebus daging sapi dan menyiapkan bahan-bahan lainnya. Aroma kaldu yang gurih mulai memenuhi dapur, membuat suasana semakin hangat.
"Kamu suka masak? Diajari mama kamu ya?" tanya Sakha tiba-tiba, penasaran dengan keahlian gadis di depannya.
"Aku belajar dari y*tube kok," jawab Lana tanpa mengalihkan pandangannya dari bumbu yang sedang dihaluskannya.
"Hah? Kok bisa jago gitu?" tanya Sakha dengan mata membulat, takjub.
"Sekarang semua bisa dipelajari online. Tinggal kitanya aja mau belajar atau nggak," ujar Lana dengan senyum tipis.
Sakha mengangguk-anggukkan kepala, kagum dengan semangat belajar Lana.
"Nanti kalau kamu nikah, suami dan anak kamu pasti senang banget karena kamu bakal selalu masak buat mereka," ucapnya dengan nada menggoda.
"Wah, sepertinya aku akan jadi istri idaman," sahut Lana sambil terkekeh.
"Tapi harus aku lah suaminya," timpal Sakha dengan senyum jahil.
"Idih! Siapa juga yang mau nikah sama kamu?" ledek Lana, pura-pura jijik.
Sakha tergelak, "Ayolah, siapa lagi coba cowok di sekolah yang lebih ganteng dari aku?" ucapnya dengan percaya diri.
Lana ikut tertawa, "Wah, Arkana Sakha Wijaya... ternyata kamu senarsis ini ya?" godanya.
"Alana Putri... cuma kamu yang bisa bikin aku narsis kayak gini," balas Sakha dengan tatapan lembut.
"Ck..." Lana berdecak, pipinya sedikit merona. "Teruslah berusaha!"
"Siap! Kalau nggak jadi pacar kamu... ya sudah, aku tunggu sampai nanti jadi suami kamu," ucap Sakha dengan nada mantap.
"Sakha, apaan sih, nanti kedengeran nenek," bisik Lana, melirik ke arah pintu, khawatir nenek Yasmin mendengar percakapan mereka.
"Memangnya kenapa kalau nenek dengar?" elak Sakha, tidak peduli.
"Sakha, kenapa ngupasnya kayak gitu?" seru Lana tiba-tiba, menghentikan Sakha yang sedang mengupas bawang dengan ceroboh. "Kalau ngupasnya gitu, jadi banyak bagian yang terbuang dong. Kulit luarnya aja yang dikupas," jelas Lana dengan raut wajah kesal.
"Jangan marah dong, kan aku nggak tahu," ucap Sakha sambil menyenggol lengan Lana, berusaha meredakan amarahnya.
"Nih, aku kasih contoh ya, nanti kamu ikuti," ujar Lana sambil menunjukkan cara mengupas bawang yang benar.
Sakha mengangguk dan dengan sengaja berdiri lebih dekat, membuat Lana merasa risih.
"Nggak perlu sedekat ini juga berdirinya," ucap Lana sambil memicingkan matanya, mengetahui maksud Sakha.
Sakha yang ketahuan hanya menggaruk rambutnya, salah tingkah.
Lana memberikan contoh, lalu Sakha mengikutinya dengan tekun.
"Benar kan?" tanya Sakha sambil menunjukkan hasil irisan bawangnya dengan bangga.
Lana mengangguk-anggukkan kepala, mengakui kemajuan Sakha.
"Nah kan, aku emang cepat belajar," ucap Sakha sambil bertepuk tangan, lalu menggosok matanya yang tiba-tiba terasa gatal.
Lana sontak membelalakkan matanya, "Ka... kamu... tangan kamu bekas bawang!"
"Hah? Kenapa?" tanya Sakha bingung dengan ucapan Lana yang terdengar panik.
"Eh, kok perih ya, mata aku, La..." Sakha tidak kuat membuka matanya, karena terasa perih dan berair.
"Ih, kamu gimana sih? Tangan kamu kan bekas bawang, malah dipakai garuk mata, ya perih lah!" omel Lana, khawatir.
Ia lalu dengan sigap menarik Sakha ke arah wastafel, mencuci tangan Sakha dengan air dan sabun. Lalu, ia menyuruh Sakha menunduk, dan membasuh mata pemuda itu berkali-kali.
"Perih, La," keluh Sakha, meringis.
"Iya, sebentar, diam dulu," timpal Lana dengan lembut.
Setelah membasuh mata Sakha beberapa kali, Lana kemudian mengambil tisu dan mengeringkan wajah pemuda itu.
"Coba buka matanya," pintanya.
Sakha menurut dan membuka matanya perlahan.
"Masih perih kah?" tanya Lana, menatap mata Sakha dengan cemas.
"Coba sini," Lana menyuruh Sakha menunduk, dan detik berikutnya, Sakha merasakan jantungnya berdegup kencang. Lana menyentuh wajahnya dengan lembut, meniup kedua matanya perlahan. Sapuan angin di matanya, jarak wajah keduanya yang sangat dekat, membuat dada Sakha seakan dipenuhi kupu-kupu.
"Gimana? Baikan?" tanya Lana, kedua tangannya masih menyentuh wajah Sakha. Ia terus memperhatikan mata Sakha bergantian. "Sakha, jawab!" seru Lana karena Sakha masih saja terdiam.
Sakha langsung tersadar dari lamunannya.
"Masih perih nggak?" tanya Lana lagi.
Sakha menggeleng, lalu perlahan menarik tangan Lana yang sejak tadi masih menyentuh pipinya. Lana menghela napas lega, namun detik berikutnya, tubuh gadis itu terasa seolah melayang, karena Sakha tiba-tiba mengecup kedua tangannya.
"Lana...Kalau kamu terus kayak gini, aku bakal makin jatuh cinta sama kamu," ucap Sakha dengan tatapan penuh cinta.
...----------------...
tak bapak tak ibu sama aja dua duanya jahat sama anak sendiri