"Mulai sekarang, kamu adalah istri saya Feby Ayodhya Larasati. Apapun yang ada di dalam diri kamu, hanyalah milik saya!" Kalimat yang keluar dari mulut pria tampan di hadapannya ini membuat seluruh bulu kuduknya berdiri. Jantungnya berdebar kencang saat pria itu semakin menatapnya dengan tatapan intens.
.....
Feby Ayodhya Larasati gadis cantik dan periang yang duduk di bangku SMA.
Tak hanya parasnya yang cantik, dia juga memiliki prestasi yang sangat bagus di sekolah. Impian dalam hidupnya hanya satu, yaitu mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri.
Kehidupannya selama ini selalu berjalan lancar namun, tidak saat ia bertemu dengan pria bernama Arka William Megantara.
Pertemuan yang berawal dari mimpi, kini berubah menjadi nyata. Pertemuan yang berawal dari kesalahpahaman, kini berubah menjadi hubungan pernikahan.
.....
Arka William Megantara, seorang CEO muda yang memiliki paras tampan, tubuh tegap, tinggi, dan atletis. Dia adalah satu-satunya pewaris tunggal di perusahaan Meganta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Briany Feby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Menatap senja bersama Arka
Matahari perlahan mulai terbenam di hamparan langit yang luas. Semburat oranyenya menciptakan sebuah keindahan. Di sepanjang jalan, Feby tidak berbicara apapun pada Arka. Gadis itu tengah sibuk menikmati keindahan senja dengan mata yang berbinar.
Feby menyandarkan dagunya di pundak Arka. Kedua tangan gadis itu melingkar memeluk erat tubuh Arka. Angin berhembus membelai lembut wajah Feby, sedangkan Aroma maskulin dari tubuh Arka membuat jantung gadis itu terus berdebar di sepanjang jalan.
Arka telah memerintahkan kepadanya agar ia tidak melepaskan pelukannya. Meskipun awalnya Feby merasa sedikit canggung, namun lama-kelamaan perasaan canggung itu hilang. Yang ada hanyalah perasaan nyaman, dan tenang. Ia bahkan rasanya begitu enggan untuk melepaskan pelukannya.
Seakan-akan memandang senja, seraya memeluk Arka adalah sebuah kenyamanan yang tidak pernah Feby temukan sebelumnya. Sampai pada akhirnya, Arka berhenti di sebuah tempat makan.
"Kenapa Mas Arka berhenti di sini?" Tanya Feby dengan posisi yang masih memeluk Arka.
"Mau makan. Saya laper" Jawab Arka.
"Kamu mau turun atau nggak? Atau kamu mau terus peluk saya seperti ini?" Arka berbalik tanya pada Feby yang tak kunjung turun.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Feby pun langsung turun dari motor. Feby tersenyum kikuk pada Arka. Gadis itu hendak melepaskan jas hitam milik Arka yang ia lilitkan di perut untuk menutupi pahanya. Namun Arka justru menatapnya dengan tatapan tajam.
"Siapa yang nyuruh kamu lepasin jas itu?" Tanya Arka.
"Memangnya kenapa Mas? Kita kan sudah sampai. Barangkali Mas Arka mau pakai jasnya lagi, jadi aku lepas" Papar Feby yang sudah melepaskan ikatan jas tersebut.
Arka turun dari motor lalu langsung mengambil alih jas tersebut. Feby berpikir pria itu akan kembali memakai jasnya namun ternyata ia salah. Arka justru kembali melilitkan jas tersebut di perut Feby. Tubuh gadis itu langsung mematung saat Arka mengikatkan jas tersebut.
"Sudah saya katakan tadi, bahwa saya tidak suka milik saya dibagi dengan orang lain"
Tandas Arka lalu melenggang masuk ke dalam warung makan.
Feby masih saja mematung di tempatnya. Gadis itu tengah berusaha menetralkan detak jantungnya yang berdebat tidak karuan setelah mendengar perkataan dari Arka.
"J-jadi Mas Arka nganggep aku ini miliknya?" Gumam Feby dengan wajah yang merona.
...🕊️ 🕊️ 🕊️ 🕊️ 🕊️...
Suara deburan ombak dan hembusan angin mengisi keheningan di antara Feby dan Arka. Saat ini mereka tengah duduk menunggu makanan yang telah mereka pesan. Tempat makan tersebut bernama Sea Breaaze Cafe. Seperti namanya, makanan yang mereka jual mayoritas adalah makanan seafood.
Banyak sekali pengunjung yang datang di tempat ini. Kebanyakan adalah para remaja. Bukan karena makanannya saja yang menggiurkan akan tetapi, pemandangan yang disuguhkan di depan mata juga begitu indah.
Tempat makan ini berada tepat di samping pantai. Sedari tadi Feby terus berpikir, entah bagaimana Arka bisa menemukan tempat makan seindah ini. Feby pun tidak tau.
"Ada apa? Kenapa kamu liatin saya begitu?" Tanya Arka karena Feby terus menatapnya dengan tatapan aneh.
"Aku hanya heran Mas, gimana Mas Arka bisa nemuin tempat makan yang seindah ini? Sedangkan aku yang anak muda aja nggak tau ada tempat makan seperti ini" Kata Feby.
"Jadi kamu pikir saya sudah tua?" Tanya Arka dengan tatapan tajam.
Feby langsung terkekeh pelan mendengar itu. Ia menyipitkan matanya pada Arka. Menatap Arka dengan penuh kecurigaan.
"Apa jangan-jangan... Mas Arka dulu sering ke sini sama pacar Mas? Iya kan? Ngaku hayoooo... Ini tempat Mas pacaran kan? Siapa wanita itu Mas?" desak Feby.
Arka langsung melayangkan tatapan tajam pada Feby. "Tidak bisakah kamu berhenti mengatakan hal-hal konyol?"
Feby berdecak kesal.
"Ck, Aku cuma tanya aja! Mas Arka tinggal jawab apa susahnya sih?! Jadi orang nggak bisa basa-basi banget sih!" Dengus Feby dengan wajah kesal.
Setelah itu, Feby langsung diam membisu dengan mengucapkan segala macam sumpah serapahnya pada Arka di dalam hati.
Sikap kaku dari Arka benar-benar merusak momen romantis ini!
Melihat Feby yang tampaknya kesal padanya, Arka hanya mampu menghelakan napasnya. Ia sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran gadis ini yang seperti seorang anak balita. Selalu bertanya tentang banyak hal dan apabila Arka tidak menjawabnya, maka gadis itu akan langsung marah.
Sepertinya Arka harus membuang semua egonya saat berhadapan dengan Feby. Sedangkan sejak dulu, ia adalah tipikal pria yang tidak suka basa-basi. Arka hanya bicara seperlunya saja.
Tak lama kemudian, makanan yang mereka pesan datang. Seorang pelayan muda dan cantik menghantarkan makanan. Pelayanan itu menunjukkan senyum paling manis di depan Arka.
Feby langsung berdecak pelan melihat itu. Entah mengapa ia merasa semakin kesal melihat pelayan wanita itu yang mengantarkan makanan. Bukannya mengantar makanan, Pelayan itu bersikap seolah-olah ia akan menggoda Arka?
"Silahkan dinikmati Mas..." Ujar pelayan itu seraya tersenyum.
"Terima kasih" Jawab Arka dengan singkat tanpa menatap pelayan itu.
"Iya sama-sama. Ya sudah saya permisi dulu ya Mas... Kalau butuh sesuatu Mas tinggal panggil saya. Oh ya, nama saya Ayu Mas ini nomor telepon saya barangkali Mas ingin menghubungi saya" Ucap pelayan itu seraya meletakkan selembar kertas berisikan nomor teleponnya.
Feby sontak memutar bola matanya. Ia merasa begitu jengah dengan sikap pelayan tersebut. Arka hanya mengatakan 'terima kasih' namun respon dari pelayan itu terlalu berlebihan!
"Ekhemm! Terima kasih ya Mba Ayu... Saya dan suami saya pasti akan menikmati makanannya. Karena ini kencan pertama kami setelah kami menikah. Ya kan Mas?" Tandas Feby seraya mengembangkan senyumnya.
Gadis itu sengaja menekan kata 'Suami saya' agar pelayan itu tau batasan. Meskipun hubungannya dan Arka hanya sebuah kontrak, akan tetapi rasanya tidak pantas jika ada wanita lain yang menggoda Arka terang-terangan tepat di hadapan Feby.
Ingin sekali ia mencakar wajah pelayan tersebut yang bertingkah sok cantik di depan Arka. Mendengar perkataan Feby, wajah pelayan itu langsung berubah seketika.
"O-oh... Jadi Mba istrinya? Maaf ya... Saya kira Mba ini adiknya. Soalnya Mba pakai baju seragam SMA" kata pelayan bernama Ayu itu dengan wajah dibuat-buat.
Wajah Feby langsung berubah menjadi merah padam. Kekesalan di hatinya bertambah seratus kali lipat! Ia benar-benar tidak tahan!
Feby hampir saja berdiri dan mencakar wajah pelayan itu. Namun Arka langsung mencegahnya. Ia menggenggam pergelangan tangan Feby lalu memberi isyarat agar gadis itu duduk kembali.
"Tolong beri kami privasi. Saya dan istri saya datang ke sini untuk menikmati waktu berdua. Bukan untuk mengobrol dengan seorang pelayan" Ujar Arka membuat pelayan itu pun akhirnya melenggang pergi dengan wajah yang tertunduk malu.
"Nyebelin banget sih pelayan itu! Ganjen banget! Dia mau nganterin makan atau mau godain suami orang, hah?!" Sungut Feby begitu pelayan itu pergi.
Arka menaikkan satu alisnya.
"Suami orang?" Tanya Arka.
"Iya! Udah tau ada istrinya masih aja di ganggu! Awas aja kalau dia berani godain suami aku lagi, bakalan aku cakar wajahnya yang sok cantik itu!" Feby mengatakan itu dengan emosi yang menggebu-gebu. Namun Arka hanya tersenyum mendengar itu.
"Kenapa Mas Arka malah senyum-senyum sih?! Oh... Apa jangan-jangan Mas suka ya sama pelayan tadi?!" Tanya Feby dengan nada yang meninggi.
"Kamu cemburu?" Dua kata yang keluar dari mulut Arka membuat Feby langsung tersadar bahwa ia terlalu berlebihan. Arka terus menatap Feby dengan senyuman menggoda.
Feby membuang pandangannya ke sembarangan arah untuk menghindari tatapan Arka. "Nggak lah! Ngapain aku cemburu!" Elak gadis itu tanpa menatap wajah Arka.
"Lalu kenapa kamu marah-marah?" Tanya Arka.
"Aku nggak suka aja sama pelayan tadi!" sungut Feby.
Arka terkekeh kecil melihat wajah Feby yang kini terlihat semakin memerah.
"Nggak suka karena dia godain suami kamu yang tampan ini?" Arka sengaja menekan kata 'tampan ini' saat bicara pada Feby. Karena yang dimaksud adalah dirinya sendiri.
"E-enggak! Siapa bilang?! Lagian Mas Arka percaya diri banget!" Feby terbata-bata saat mengatakan itu, bahkan ia tidak berani sedikit pun menatap wajah Arka.
'Kenapa harus ngomong kaya gitu di depan Mas Arka sih?! Dia pasti berpikiran yang nggak-nggak! Ini semua salah kamu Feb!
Kenapa kamu harus marah saat ada yang menggoda Mas Arka? Seharusnya kamu bersikap biasa saja!' Batin Feby.
"Udah ah! aku laper banget nggak usah bahas pelayan tadi bikin mood hancur aja!"
Feby berusaha menghentikan pembicaraan mengenai pelayan tadi. Ia takut jika sampai Arka mengetahui kalau sebenarnya ia cemburu. Gadis itu bersikap normal dan mulai menyantap ikan bakar di harapannya.
Arka terus saja menatapnya dengan tatapan penuh arti. Jujur saja Feby merasa sangat grogi jika ditatap seperti itu oleh Arka.
Apalagi tatapan pria itu begitu tajam dan menusuk. Membuat jantungnya berdebar dan bulu kuduknya berdiri. Tidak bisa! Ia tidak bisa terus berada dalam situasi seperti ini! Ia harus mencari akal untuk membalikkan keadaan.
"kenapa Mas Arka liatin aku kaya gitu? Mas nggak mau makan? Atau mau aku suapin?" Kini giliran Feby yang berusaha menggoda Arka untuk membalas perbuatan pria itu.
Gadis itu menyodorkan ikan bakar yang ada di tangan kananya di depan mulut Arka. Tak lupa, ia juga tersenyum seraya mengedipkan sebelah matanya.
Arka tampak memundurkan wajahnya. Ekspresi pria itu langsung berubah menjadi datar seperti kanebo kering.
"Tidak perlu, saya bisa makan sendiri" Jawab Arka dengan gaya cool-nya.
Feby rasanya ingin sekali tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Arka yang langsung berubah seratus delapan puluh derajat kembali ke semula.
Akhirnya ia bisa membalikkan keadaan!
"Yakin nih? Nggak mau di suapin sama istrinya yang cantik ini?" Gadis itu semakin menggoda Arka meskipun ia berusaha menahan rasa malunya.
Arka meraih sendok dan garpu yang telah disediakan. Lalu pria itu mulai makan tanpa menanggapi ocehan Feby. "Tangan saya masih berfungsi dengan baik" Saut Arka.
Inilah yang membuat Feby gemas dengan Arka. Kadang pria itu bersikap romantis dan act of servis, tapi di waktu yang bersamaan, pria itu bisa langsung berubah menjadi dingin dan cuek saat Feby menggodanya.
Setiap hal yang dilakukan oleh pria tampan itu, selalu membuat jantung Feby berdebar kencang seperti naik rollercoaster.
"Mas Arka kok tumben ngajak aku makan di luar?" Tanya Feby seraya dengan mulut penuh.
"Saya ingin mengajak istri saya ke tempat di mana dulu saya juga sering datang ke sini bersama wanita yang paling berharga di hidup saya" Jawab Arka.
Deg!
'Jadi bener ini tempat Mas Arka pacaran?' Batin Feby.
Raut wajah gadis itu langsung berubah seketika. Terbesit perasaan kecewa di dalam hatinya saat mengetahui bahwa ternyata dia bukan yang pertama di ajak ke sini bersama Arka. Melainkan ada wanita lain yang juga pernah ke sini bersama pria itu.
"Kamu wanita ke dua yang saya ajak ke sini, Feb" Kata Arka dengan enteng.
Feby menghentikan kunyahannya. Entah mengapa rasa makanan yang tadinya enak, sekarang berubah menjadi hambar saat Arka mengatakan hal itu.
"Oh, jadi Mas Arka dulu juga sering ke sini sama wanita lain? Siapa wanita itu? Dia pasti wanita yang sangat berharga di hidup Mas ya?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari lidah Feby. Kedua mata gadis itu berair saat mengatakannya. Feby cepat-cepat memalingkan pandangannya dari Arka agar pria itu tidak menyadari kekecewaan di dalam hatinya.
Arka mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari Feby. Sedangkan gadis itu memandang hamparan langit yang perlahan berubah menjadi gelap.
"Ya kamu benar. Wanita itu adalah wanita yang sangat berharga di dalam hidup saya. Wanita yang menjadi alasan kebahagiaan saya hingga detik ini"
Deg!
Feby menggigit bibir bawahnya. Hatinya terasa begitu ngilu mendengar Arka mengatakan hal itu. Dadanya terasa begitu sesak hingga ia kesulitan untuk bernapas. Gadis itu mencengkram kuat-kuat roknya di bawah meja.
"Ada apa? Kamu baik-baik saja?" Tanya Arka karena Feby tidak merespon pembicaraannya.
Gadis itu terlihat diam membisu menahan tangisannya. Feby langsung menggeleng pelan seraya berusaha menunjukkan senyuman palsu di wajahnya.
"Aku mau ke kamar mandi dulu Mas" Ucap Feby lalu bergegas pergi meninggalkan tempat duduknya.
Gadis itu langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci rapat-rapat pintu kamar mandi. Kedua tangan gadis itu memegang dadanya yang terasa begitu sesak.
"Harusnya sejak awal kamu sadar diri Feb! Gadis kecil seperti kamu tidak mungkin bisa berbanding bersama Mas Arka! Bukankah hubungan ini hanya hubungan palsu, lalu kenapa kamu berharap terlalu tinggi?!
Dia bahkan dengan terang-terangan menceritakan wanita lain di depan kamu! Harusnya kamu sadar diri Feb!"
Air mata gadis itu kini tak lagi bisa dibendung. Feby menangis seraya terus menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu berharap lebih dengan Arka. Hingga pada akhirnya, ia jatuh dan terluka oleh ekspektasinya sendiri.
______________________________________
...Cinta nggak selamanya indah ya dekkkk... Wkwk...
...Eh tapi kalian penasaran nggak sih, sebenarnya siapa wanita yang Arka ceritain tadi?...
...Apa itu kekasih Arka dulu? Jawabnya ada di part selanjutnya!...