NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN PAPA 2

SUAMI PILIHAN PAPA 2

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Perjodohan / Tamat
Popularitas:2.2M
Nilai: 5
Nama Author: Rahmania Hasan

"Saat matahari tak bersinar lagi, bagaimana rembulan akan bercahaya"

Begitu halnya yang terjadi pada Naura dan Hasan, belajar ikhlas itulah kata yang ditanamkan keduanya di hati walau sangat berat dalam melaluinya. mampukah bertahan? atau menyerah dengan kenyataan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nyanyian Andik

CAPTER 24

NYANYIAN ANDIK

Subuh masih belum menyingsing saat Lusi terbangun dari tidur tidak nyenyaknya. Kakinya turun perlahan dari tempat tidur kemudian melangkah menuju kursi di samping dinding kaca, tangannya menyingkap gorden hingga separuh terbuka. Duduklah ia di kursi itu, menarik lagi kedua kakinya yang terasa dingin ke kursi.

“Kapan matahari ini munculnya?!” gumam Lusi tidak tahan menunggu hari terang.

Sepertinya kantuk enggan datang, matanya semakin terbuka lebar mengikuti perih hatinya yang kian menusuk. Agar tidak semakin mencekam itu batin Lusi turun dari kursi, mulailah ia berjalan lurus mengikuti garis lantai. Mulanya hanya berjalan saja namun perlahan langkah kakinya mempraktekkan saat pertama kali ia belajar melenggak-lenggok layaknya seorang model. Mulutnya tak henti menghitung langkah kaki itu hingga ke ujung lalu kembali lagi, begitu seterusnya hingga lelah dan jenuh datang.

“Mulai besok tidak ada waktu bersantai buatku,” gumamnya sambil melangkah menuju meja rias. Mengambil ponsel dan kembali ke kursi, di sana ia kembali duduk dan nampak sibuk dengan ponselnya. Ya, Lusi membuat jadwal kegiatan yang akan ia lakukan nanti, juga melihat beberapa email masuk serta mengirim sebuah email pada agensinya bernaung. Meminta beberapa job tambahan, ia juga menerima

pemotretan yang tadinya sempat ia tolak.

“Just enjoy your life, *gir*l!” tegurnya pada diri sendiri.

Apa yang ingin  dilakukan rampung sudah, Lusi meletakkan ponsel di meja. Kepalanya kembali bersandar lesu di sandaran kursi. Pandangannya jauh menerawang ke luar kaca, mengamati gedung-gedung tinggi di luar sana yang terlihat sepi; tidak ada aktivitas. Cukup lama ia dalam keadaan itu hingga kantuk kembali menghampiri, menuntut matanya terpejam lagi.

Hingga pagi yang ditunggu Lusi masih tertidur di kursi, suara bel pintu membangunkan dirinya. Wanita itu bangun segera, sambil mengucek mata ia berjalan menuju pintu. Teringat dengan pesan Angga untuk bersikap waspada Lusi melirik ke layar monitor, sekedar memastikan siapa di luar sana.

"Mereka sudah datang," gumam Lusi saat tahu yang diluar sana adalah petugas jasa pembersihan apartemen.

"Silahkan masuk, maaf saya baru bangun!" kata Lusi mempersilahkan empat orang tersebut memasuki apartemen.

Mereka yang terdiri dari tiga orang laki-laki dan satu orang perempuan memasuki apartemen dengan membawa peralatan bersih-bersih.

"Anda tinggal sendirian disini, Nona?!" tanya petugas wanita.

"Oh iya, apartemen ini saya tempati kalo lagi liburan saja! Saya menetapnya di luar negeri!" jawab Lusi.

"Bisa kami kerjakan sekarang?!" pamit salah satu yang laki-laki.

"Oh iya tentu silahkan," ucap Lusi.

Berikutnya mereka berempat memulai persiapan, semua alat bersih-bersih mereka keluarkan kemudian memasang sarung tangan dan juga masker untuk melindungi mereka dari debu.

“Maaf saya ke kamar dulu,” ucap Lusi.

“Oh iya Nona, silahkan!” sahut petugas perempuan.

Setelah berucap Lusi kembali  ke kamar, ia meraih ponsel di meja dekat tempat tidur untuk memesan makanan bagi mereka. Kemudian, ia menyelinap masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Tidak terlalu lama ia karena tak nyaman saja, setelah berganti pakaian biasa Lusi keluar dari kamar. Ia mendatangi petugas wanita dan berpesan padanya.

"Ibu, saya tinggal dulu ya! Oh iya tadi sudah saya pesankan makanan dan itu di kulkas sama di rak dapur sepertinya ada makanan, Ibu bisa diambil!" tutur Lusi.

"Makasih Nona!" ucap petugas itu.

Niat Lusi keluar hanya sekedar jalan-jalan pagi saja berkeliling di kawasan itu. Pagi masih terasa segar kala ia sudah berada di luar pelataran apartemen. Berjalan kaki di sepanjang trotoar sambil memperhatikan setiap kendaraan yang lewat, juga sesekali ia melirik pada bangunan-bangunan yang menjulang tinggi.

"Lama nggak menghirup udara pagi kayak gini," gumamnya sambil terus berjalan.

Bosan berjalan lurus, Lusi menyebrang jalan menuju taman di pinggir sana. Baru memasuki kawasan taman nampak seorang pasangan kakek nenek sedang duduk berdua, menikmati segarnya udara. Langkah kaki Lusi bergerak menghampiri mereka, ia duduk di samping mereka berdua. Dua

pasang kakek nenek itu menoleh, menyapa Lusi dengan hangat. Lusi melempar senyum, menyalami mereka serta menyapa balik.

“Kok jalan-jalannya sendirian?!” tanya nenek itu.

Lusi kembali tersenyum, “Saya masih sendiri, Nek!” jawabnya.

“Masak masih sendiri? Cantik gini!” lanjutnya.

“Iya Nek, saya masih sendiri!” jawab Lusi masih sama.

“Jangan lama-lama senang-senangnya, ada masanya kita ini butuh seorang teman hidup! Kalo sudah ketemu yang pas di hati jangan ragu buat menikah!” sambung si Kakek.

Lusi tak mampu menjawabnya lagi, ia hanya tersenyum sebelum memalingkan mukanya ke depan. Tidak jelas apa yang ia perhatikan tapi sepasang kakek nenek itu mampu menerka apa yang sedang terjadi pada Lusi.

Tiba-tiba tangan nenek itu bergerak meraih tangan Lusi, menggenggamnya erat. Kemudian, ia berucap dengan suara rendah dan juga menatap lurus ke depan.

“Jalan itu memang tidak mulus, tidak selamanya lurus! Ada waktu dimana kita ketemu sama belokan, tanjakan, batu kerikil. Kuatkan diri dan berbesar hati pasti semuanya akan bisa dilalui!” tuturnya menasehati. Lusi tidak membalas, ia hanya tertunduk mendengarkan nasehat dari mereka berdua.

Di tempat lain pagi itu juga tepatnya di rumah Hasan aktivitas masih sama, Naura segera turun ke dapur setelah menyiram bunga-bunga di lantai dua. Ilyas sudah berada di halaman rumah, menyirami tanaman dan juga menyapu halaman.

"Oh semangat banget itu cowok yang lagi jatuh cinta!" ucap Andik mengintip

dari jendela kamar.

Teringat dengan chat suara yang dikirim Hanis ke Ilyas semalam lekas ia keluar dari kamar, berjalan dua langkah ke depan pintu kamar Hanis.

'Tok tok tok'

Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Hanis yang sedang berganti pakaian lekas bersuara. Meminta yang diluar menunggu sebentar saja. Tak seberapa lama ia membuka pintu, agak kaget manakala melihat sosok Andik berdiri tegak.

"Ada apa Kak?!" tanya Hanis setengah curiga.

"Oh ini pulsanya aku habis, boleh pinjam hp-mu bentar nggak?! Mau nelfon teman

ngajar!" kata Andik mencari alasan.

"Aku kira ada apa, tunggu bentar!" kata Hanis. Kemudian setengah berlari ia

mengambil ponsel yang tergeletak di atas kasur, di dekat bantal.

"Ini Kak!" kata Hanis menyerahkan. Sekaligus keluar dari kamar, hendak membantu Naura yang sudah terdengar sibuk di dapur.

"Oh Nis, boleh pakai hotspot nggak? Soalnya aku mau ngisi pulsa!" kata Andik mulai lancar otaknya.

"Emm...." gumam Lusi menganggukkan kepala sekali.

Ia melangkah meninggalkan Andik yang masih berdiri di depan pintu kamarnya, sekali lagi Andik bersuara menghentikan

langkah Hanis, wanita itu menoleh.

"Kalo selesai aku taruh dimana?!" tanya Andik.

"Pegang aja wes, nanti habis masak aku ambil!" jawab Hanis sesungguhnya. Ia tidak

menaruh curiga jika itu hanyalah akal-akalan saja. Lekas ia mendatangi Naura di dapur begitu menjawab pertanyaan yang tadi.

Andik berasa di atas angin, ia masuk kamar membawa ponsel Hanis. Sambil rebahan ia mulai membuka ponsel wanita itu dengan mudahnya karena tidak ada sandi keamanan. Senyum Andik terjalin saat pertama melihat layar ponsel dimana foto Hanis seorang diri tengah tersenyum tipis dipajang.

"Ini cewek emang cantik!" gumamnya sempat terhipnotis.

Kemudian, ia mulai melancarkan aksinya. Jemarinya sigap membuka aplikasi media sosial, membuka beranda dan mencari chat Ilyas disana. Tidak hanya chat dari Ilyas yang tersimpan, ada juga chat dari Indah.

Hatinya berbisik, menyuruh Andik untuk membuka chat itu lebih dulu. Dibukalah olehnya segera, jari telunjuknya mulai menggeser layar dari bawah ke atas membaca percakapan mereka berdua.

"Oh jadi Indah ngajar di kampusnya Hanis!" gumam Andik mulai menemukan kaitan antara Hanis dan Ilyas.

Selesai dengan chat Indah jemari Andik lincah keluar, membuka chat yang satunya. Tidak nyaman jika memutar kiriman audio itu di ponsel Hanis jadinya ia mengirim chat itu ke ponselnya melalui Bluetooth; menghindari riwayat pengiriman agar tidak diketahui oleh Hanis.

Saat apa yang diinginkan sudah didapat, Andik meletakkan ponsel Hanis. Lebih dulu ia matikan sambungan bluetooth. Kemudian ia mengambil headset di laci meja, memasang headset itu untuk mendengarkan audio yang tadi ia ambil.

Andik melangkah keluar dengan headset di telinga dan ponsel yang disimpan di saku celana pendek. Ia berjalan menuju kamar mandi, seperti biasa mengerjakan tugas yang ia kerjakan tiap hari sabtu. Sambil mendengarkan rekaman itu ia mulai membersihkan kamar mandi.

"Suara Indah!" Gumamnya sambil menyemprotkan larutan pembersih keramik.

Ia duduk di kursi plastik yang tadi ia ambil di luar kamar mandi, menunggu beberapa menit lamanya supaya larutan pembersih itu bisa maksimal hasilnya. Rekaman terus diputar hingga akhir, Andik menyeringai setelah tahu percakapan antara Hanis dan Indah.

"Jadi cewek itu yang bantu Ilyas sama Indah?! Awas Kamu ya Nis! Saatnya bagiku maju!" gumam Andik. Dimatikan rekaman tersebut dan juga headset yang tadinya dipasang ke telinga kini ia lepas.

Jemarinya membuka folder musik, mencari sebuah lagu yang ia rasa cukup tepat untuk menggambarkan suasana hati Ilyas saat ini. Bingung, akhirnya Andik memutar semua daftar playlist. Suara ponsel sengaja ia keraskan agar bisa didengar oleh yang lain. Lebih-lebih oleh Ilyas nanti sewaktu laki-laki itu kembali setelah menyelesaikan kesibukannya di halaman.

Andik meletakkan ponsel di dekat wastafel di luar kamar mandi. Kemudian, ia mulai membersihkan kamar mandi dengan pintu dibiarkan terbuka. Mulutnya juga mengikuti suara alunan musik yang sedang diputar tapi rendah suaranya.

"Siapa nyetel lagu sekeras itu?!" gumam Hanis dari dapur.

"Paling Andik, sambil bersih-bersih kamar mandi!" sahut Naura menduga. Ya, memang benar dan itu bukan kali pertama Andik melakukannya namun kali ini suaranya lebih nyaring dari yang biasanya terdengar.

"Aneh benar orang itu!" gumam Hanis.

"Bukan aneh Nis, tapi dia itu pribadi yang humoris!" sahut Naura lagi, membela Andik.

"Kalo punya istri kira-kira masih kayak gitu nggak ya Kak sikapnya?!" seru Hanis penasaran sendiri.

"Mungkin masih tetap kayak gitu di hadapan teman-teman, tapi kalo di hadapan istrinya mungkin sedikit berbeda!" kata Naura berpendapat.

"Jadi pengen tahu kayak gimana?!" ujar Hanis, tersenyum sendiri membayangkan bagaimana sikap Andik di hadapannya nanti. Tak disadari dalam bayangannya ia malah memposisikan diri sebagai istri Andik.

"Hayo kenapa kok malah senyum-senyum sendiri?!" goda Naura manakala Hanis ketahuan senyum-senyum. Hanis tersentak, lekas ia menimpali.

"Eh nggak Kak, cuma ngebayangin dia dimarahi sama istrinya!" sahut Hanis

berbohong.

Naura manggut-manggut saja, sekarang giliran dia yang membayangkan Andik di depan istrinya. Sedikit berbeda dari hayalan Hanis, ia membayangkan Andik sebagai suami yang penurut sama istri. Sedikit takut juga pada dasarnya.

"Loh kenapa Kakak ketawa sendiri?!" seru Hanis, kaget dengan sikap aneh Naura.

"Mba ngebayangin dia di suruh ngepel, nyapu, bersihin kamar mandi sama istrinya! Mba ngebayangin istrinya Andik cerewet, galak bawel lagi!" kata Naura

memancing tawa.

“Kasihan benar nasibnya,” seru Hanis.

Awalnya mereka yang di dapur tidaklah menyadari tapi saat Naura kembali ke ruang makan untuk menaruh masakan yang sudah matang telinganya kembali mendengar alunan musik yang sama.

"Lagu ini lagi?!" gumam Naura.

Ia tidak menghiraukan, kembali ke dapur untuk melanjutkan apa yang belum selesai. Tinggal dua masakan saja yang belum matang di atas kompor dan Hanis yang mengerjakan semuanya. Hingga matang semua mereka berdua membawa makanan itu untuk ditata di meja makan.

"Emm ... Lagu ini lagi?!" ucap Naura.

"Iya Kak, dari tadi lagu ini terus yang diputar!" sahut Hanis, serasa sudah

hafal sama liriknya.

Tergugah Naura untuk mendatangi Andik, menggodanya sekaligus mengorek informasi yang pasti. Maklum lah wanita suka rempong dengan urusan orang lain. Kepala Naura muncul dari balik pintu yang terbuka lebar, tiba-tiba ia bersuara mengagetkan Andik.

"Ya Allah Mba!" seru Andik kaget.

"Yang lagi jatuh cinta, dari tadi lagu yang diputar ini terus! Nggak ada bosannya ya?!" goda Naura.

Andik bangkit dari jongkoknya, hati-hati ia berjalan lantaran lantai licin. Ia mendatangi Naura, mendekatkan mulutnya ke telinga.

"Ada yang lagi berbunga-bunga Mba," ucapnya rendah.

Naura menoleh, kedua alisnya menyatu ketat. Menuntut penjelasan lanjut dari Andik. Andik menyeringai, kemudian kembali mendekatkan mulutnya ke telinga Naura.

"Ilyas lagi berbunga-bunga Mba, ketemu sama cinta lama," kata Andik menyentak Naura.

"Cinta lama?!" seru Naura dengan suara lantang.

Cepat-cepat Andik memberi isyarat dengan mendekatkan jari telunjuknya ke mulut. Naura yang mengerti langsung menutup rapat mulutnya. Lagi, Andik memberi isyarat agar Naura mendekat. Cekatan kepala Naura terdorong lebih ke dalam. Setengah membungkukkan badan Andik berbisik ke telinga Naura, memberitahu apa yang ia ketahui.

"Kamu nggak cemburu?!.” Itulah kata pertama yang keluar dari mulut Naura, ia cemas.

"Ngapain cemburu, hatiku sudah ada yang ngisi!" jawab Andik santai.

"Oh benarkah itu?!" seru Naura seolah tak percaya. Andik mengangkat kedua

alisnya, melempar senyum jahil.

"Siapa cewek itu?!" cerca Naura.

"Rahasia! Oh iya Mba ... Jangan cerita ke Hanis, soalnya itu cewek yang jadi mak comblang!" kata Andik.

“Sungguh?!” seru Naura, setengah mendelik bola matanya.

“Iya, Indah itu ngajar di sana! pasti mereka ketemu pas aku minta tolong Ilyas buat jemput Indah!” kata Andik lebih lanjut.

"Ok, tenang!" sahut Naura.

"Kita pura-pura aja nggak ngerti!" timpal Andik.

"Sip, aku denganmu!" kata Naura.

Kemudian, Naura pergi meninggalkan Andik, baru beberapa langkah menuju dari depan mandi muncul Ilyas dari ruang depan.

"Mba, kamar mandi masih dibersihkan nggak sama Andik?!" tanyanya.

"Iya, agak lama soalnya itu anak kerja sambil dengerin lagu! Nyanyi-nyanyi

juga!" jawab Naura, berlagak memasang muka geram.

Mendengar suara Naura dan Ilyas, Andik yang tadinya hanya bernyanyi pelan kini sengaja suaranya dibuat nyaring. Aksi menggoda sekaligus menyindir Ilyas dimulai. Lagu yang terputar dari awal lagi sebagai permulaan.

****

Dia tidak cantik mak

Dia tidak jelek mak

Yang sedang sedang saja

Yang penting dia setia

Aku suka dia mak

Aku cinta dia mak

Kasih dan rinduku ini

Tentunya untuk si dia

Sedalam dalamnya lautan India

Lebih dalam lagi cintaku padanya

Sesuci dan sebeningnya embun pagi

Begitulah cintaku pada dirinya…

***

Tak tahan mendengar suara Andik menyanyi Ilyas datang menghampiri, itu sudah waktunya bagi dia bersiap-siap berangkat kerja. Tangan kiri Ilyas mendobrak pintu meski tidak terlalu keras untuk menghentikan suara Andik. Jengah sudah ia menikmati lantunan lagu itu.

"Gimana mau cepat selesai kalo sambil nyanyi?! Buruan aku mau mandi, Dik!" kata Ilyas memarahi.

Andik abai saja, tetap ia menyanyi sambil menuntaskan gosokan yang tinggal sedikit lagi. Tidak menoleh sama sekali, menambah kedongkolan Ilyas.

****

Dia nomor satu pilihanku

Dia nomor satu idamanku

Sepertinya gadis yang ku mau

Yang sedang sedang saja

Yang sedang sedang saja

Yang sedang sedang saja

Yang sedang sedang saja…

****

Barulah saat bait lagu berakhir, tuntas pula tugasnya membersihkan kamar mandi. Andik bangun dari jongkoknya, kursi plastik kecil yang berada di dalam ia keluarkan. Di taruh di samping Ilyas berdiri dengan sengaja.

"Sudah selesai tinggal disiram, Pangeran bisa mandi habis ini!" kata Andik setengah datar suaranya.

"Kenapa Kamu pagi-pagi konser?! Udah suaranya nggak enak bikin sakit kepala aja!" Ilyas menghardik.

"Ya jelas nggak enaklah lawong bukan makanan! Emang suaranya dirimu merdu?! Suara sama-sama cap kedondong aja ngatain orang lain!" balas Andik tidak mau kalah.

“Masih mending suaraku, setidaknya masih laku buat cadangan backing vokal! Lah Kamu?!” lanjut Ilyas yang juga tidak terima.

“Itu karena aku nggak minat sama hadroh, kalo minat pasti aku jadi vokalnya, Yas!” sambung Andik.

"Udah cepetan, aku mau mandi!" tegur Ilyas sebelum meninggalkan Andik. Menyudahi perdebatan tidak penting mereka.

Lagu masih diputar saat pekerjaan sudah selesai, lekas Andik keluar dari kamar mandi. Menyambar ponsel yang ada di dekat wastafel, dimatikannya itu lagu lalu kembali ke kamar. Baru saja dirinya hendak memegang gagang pintu Hanis datang menghampiri.

"Kak, ponselku mana?!" tanyanya.

"Oh iya aku ambil dulu!" jawab Andik.

Kemudian, ia menyelinap masuk ke dalam kamar. Sambil meraih ponsel ia juga menyuruh Ilyas untuk segera mandi agar tidak keduluan oleh Hanis.

"Sana buruan selagi kamar mandi kosong!" tegurnya.

"Iya ini sek balas chat!" sahut Ilyas.

"Tadi orang diobrak suruh cepetan, sekarang malah duduk nyantai! Buruan entar keduluan Hanis!" perintah Andik sambil berjalan keluar.

Hanis sudah tak berada di sana, sepertinya ia kembali ke kamar. Andik melangkah menuju depan kamar Hanis, mengetuk pintu dua kali namun tidak menunggu yang di dalam membukanya. Andik malah memutar gagang pintu, membuka sedikit dan menjulurkan tangannya ke dalam.

"Nis, ini ponselnya!" seru Andik.

Tidak ada suara, juga tidak ada tangan yang menerima. Kembali Andik memanggil dengan suara yang lebih nyaring dari yang tadi.

Hanis baru saja keluar dari kamar mandi dan berjalan ke ruang keluarga saat samar-samar mendengar suara Andik. Langkah kaki ia percepat namun spontan terhenti, ia berjalan pelan dari belakang. Tepat saat itu Ilyas keluar, Hanis memberi isyarat agar Ilyas tidak memberitahunya. Ilyas tersenyum kemudian mengabaikan Andik.

Langkah Hanis lurus ke depan dan pelan, ia sudah mendekat ke Andik saat tiba-tiba laki-laki itu menarik tangannya dari dalam. Kemudian menutup pintu dan berbalik badan, nyaris saja ia menabrak tubuh Hanis syukurlah reflek tubuh Andik cepat.

"Kamu!" sentak Andik.

Hanis tidak terima disentak, ia menatap ke Andik sebelum memanyunkan bibir, menggerutu dalam hati juga. Andik mengamati, ia merasa bersalah telah menyentaknya. Cepat-cepat ia memberikan ponsel.

"Ini ponselmu, maaf tadi aku kaget," kata Andik rendah.

"Iya," sahut Hanis singkat. Kemudian mengambil ponsel dari tangan Andik dan lekas masuk kamar.

Setengah jam kemudian dua orang sudah rapi yakni Naura dan Ilyas. Andik duduk santai di kursi, lagi-lagi saat Ilyas keluar dari kamar ia bernyanyi. Batin Ilyas berasa jika nyanyian itu sepertinya ditujukan padanya. Merasa tersindir ia tidak jadi melangkah, sebaliknya memandang Andik dengan tatapan  tajam tapi Andik mana peduli.

Naura sudah turun, saat mencapai pertengahan tangga ia mendapati adegan itu. Langkahnya dipercepat menuruni tangga, menyusul Andik hanya untuk menggoda Ilyas. Bersama ia menyambung lagu yang dinyanyikan Andik. Ilyas tersentak, tatapannya berganti ke Naura yang berjalan mendekat ke kursi.

"Konser dangdut di pagi hari," gumam batin Ilyas.

Tak seberapa lama Hanis ikutan keluar, wajahnya cerah kala mendapati dua orang sedang bernyanyi dan menjiwai setiap bait lagu itu. Ia datang untuk bergabung, suasana hati Andik yang sedang cerah secerah pagi itu membuatnya tak sadar mengulurkan tangan dan menarik Hanis ke dekapan.

Naura yang juga tengah terbawa suasana tidak menyadari kedekatan yang ditunjukkan Andik pada Hanis. Hanya Ilyas seorang namun ia menunggu hingga mereka selesai barulah mulutnya bersuara.

"Dik, itu adikmu!" tegur Ilyas lantang.

Baik Andik ataupun Hanis tersentak, Naura seketika mengalihkan perhatian pada mereka berdua. Untuk menutupi rasa malunya Andik dengan berani semakin mendekap Hanis, bukan mendorong tubuh Hanis agar terlepas.

"Iya emang! Sekali-kali dong dekat, masak cek-cok terus! Ya nggak Nis?!" sahut Andik cerdik.

Hanis tidak menjawab hanya melempar senyum, perlahan ia meloloskan diri. Naura bertindak, ia mengakhiri suasana itu dengan mengajak mereka sarapan.

"Sudah ayo buruan sarapan!" seru Naura, bangun dari kursi.

Ia mengawali melangkah ke ruang makan, disusul oleh Ilyas dan berikutnya Andik. Sekali lagi Andik mengulurkan tangan untuk membantu Hanis berdiri. Hanis menyambutnya, menerima uluran tangan itu namun lekas dilepaskan setelah berjalan beberapa langkah.

Di luar Angga baru saja datang, masih seperti biasa ia menunggu di garasi. Teringat jika ia belum menghubungi Lusi pagi ini Angga pun mengeluarkan ponsel dari saku celana. Lekas ia mengetik chat sekedar menyapa wanita itu. Namun sayang balasan tak kunjung diterima. Lelah menunggu Angga pun menghubunginya.

Tidak ada jawaban, maklum saat itu Lusi berada di kamar mandi. Ia baru saja masuk setelah menunggu mereka petugas jasa pembersihan apartemen selesai.

"Masak jam segini masih tidur?!" gumam Angga.

Kembali ia menghubungi namun tetap tak ada jawaban, Angga mulai menggerutu tak jelas. Tak disadari Naura berjalan ke arahnya. Untung saja Naura lekas bersuara, menyentak Angga saat itu juga.

"Sibuk nelepon siapa? Kok sampek kesal gitu?!" ujar Naura bertanya.

Angga menoleh, jari jempolnya yang menempel di power seketika menekan tombol itu hingga layar ponsel mati. Nampak senyum tipis tersirat di wajahnya saat tangannya yang memegang ponsel bergerak turun, menyelipkan ponsel ke dalam saku celana lagi. Naura sudah mencapai garasi, menyerahkan kunci mobil pada Angga.

"Ayo buruan!" ucapnya.

1
Susy Hermaningshih
Hiii ... mba Rachma belum lanjut menulis lagi yaaa ... Swlemiga di thn baru ini mulai semangat lg utk menulis, ibu tunggu lanjutan ttg Naura n Hasan nya ... Semangat mba Rachma😍
Susy Hermaningshih
Hiii ...thor ...msh berlanjutkah cerita bagus ini???, Semoga masih ya nanggung soalnya ...
Ditunggu up nya .... Sehat selalu, semangat thor /Drool/
Yosephine Nidya Ayu Puspajati
Thor itu trs Hasan pisah sama Salma gimana ceritanya? tau² Hasan sudah sendiri saja
Neni Lontong Naura Niken
kok lama banget jeda nya kak. di tunggu nih lanjutan Hasan dan Naura nya
Sukar Miyati
Beneran nangis dibuatnya.
Sukar Miyati
Ayo semangat...
Lanjutkan dan tuangkan ide kreatifmu Tor ! 😍
Rahmania: terimakasih,, sya sudah vakum menulis...
total 1 replies
Jusmiati
Thor sy jadi bingung, wanita kan memiliki masah Iddah selama 4 bulan, kok langsung dinikahkan begitu aja sih...
Jusmiati
ini Salma kok mau-maunya menikah, apa gunanya nikah sama lelaki yg enggak cinta sama kita, yg ada makan hati dong nantinya...
Jusmiati
jadi ikut ngiler deh dgn rujak nya 🤤🤤🤤
Jusmiati
pak Malik menikah beda akidah ya Thor...🤔🤔🤔🤔
Endang Werdiningsih
maaf ga lanjut baca ya.....
Endang Werdiningsih
hati bisa berbagi buat orang tua ke anak"a,,,antar anak aja bisa ada rasa saling cemburu,,, jgn buat naura jd menyek" demi berbakti kpd suami merelakan hasan berbagi tubuh.... jgn pernahenyakiti hati satu wanita demi kebahagiiaan wanita lain... karena tdk akan ada satu manusiapun yg bisa adil dimuka bumi ini.. jika hasan mau menikahi salma lepaskan naura,,, jika terjadi poligami,,, maaf lsg stop baca novel ini...
sy anti yg nama'a poligami....apalagi yg dipoligami janda muda yg msh bisa melindungi diri sendiri,,,jgn sedikit" mengatas namakan sunnah mengikuti baginda nabi junjungan kita Muhammad SAW...
Endang Werdiningsih
jika semua bisa jujur dr hati terdalam,,,tdk ada yg nama'a rela berbagi suami....
pak yai pinter yaaaa,,, anak'a sdh janda trus disodorin sama orang yg akhlak'a baik spt hadan,,,, knapa ga dari hasansh bujang aja djodohiin...
jgn karena ingin anak'a bahagia pak yai relaengorbankan perasaan orang lain....
Endang Werdiningsih
naura rubahlah cara berbelanjamu,,, walau dimanfaatkan buat berbagi tp setidak'a hargai perjuangan hasan buat mengumpulkan uang....
secara tdk lsg hasan sering mengeluhkan kebiasaan naura
Muda MACMUDAH
thor biar angga balik ama lusi aja thor kasian lusi😞😞
Endang Werdiningsih
tinggal pilih ilyas,,, maria apa ira...... kalo matia terkendala keyakinan ga ya,,,, kalau terkendala ya jgn atuh ya ilyas
Endang Werdiningsih
ilyas sama ira saja,,,, lucu mereka berdua.... ga jadi dukung ilyas sama indah. 😀
Endang Werdiningsih
ga pernah respect sama lisa.... biar angga sama lusi,,, ilyas sama indah...
Muda MACMUDAH
ceritanya gimana ni thor katanya saudara kok bs berciuman thor🙏🙏🙏
Sugiono Sugiono
kok g lanjut2 ya??????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!