Serka Davis mencintai adiknya, hal ini membuat sang mama meradang.
"Kamu tidak bisa mencintai Silvani, karena dia adikmu," cegah sang mama tidak suka.
"Kenapa tidak boleh, Ma? Silvani bukan adik kandungku?"
Serka Davis tidak bisa menolak gejolak, ketika rasa cinta itu begitu menggebu terhadap adiknya sendiri, Silvani yang baru saja lulus sekolah SMA.
Lalu kenapa, sang mama tidak mengijinkan Davis mencintai Silvana? Lantas anak siapa sebenarnya Silvana? Ikuti kisah Serka Davis bersama Silvani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Silva Akhirnya Tahu Siapa Dirinya
"Tahu dari siapa kalau kamu anak angkat, apakah Tante Riana yang kembali mengejek kamu atau ...."
"Dari mereka, juga perdebatan Kakak dengan Kak Danis di kamar Kak Danis malam tadi. Aku sudah dengar semua. Dan aku yakin kalau aku memang anak angkat di keluarga kalian. Dan Kak Davis, yang selama ini aku kenal sebagai Kakak yang perhatian dan baik, ternyata perhatiannya itu hanya palsu. Ternyata, Kakak hanya memanfaatkan keberadaan ku di rumah itu untuk melampiaskan perasaan dalam hati Kakak. Kak Davis tidak tulus, kasih sayang Kakak hanya palsu," urai Silva memotong ucapan Davis, seraya menangis. Sungguh air mata itu tidak tertahan lagi mengalir begitu deras.
"Jadi, karena itu kamu bersikap seperti ini? Kalau kamu memang anak angkat, kenapa? Tidak ada yang salah, bukan, dengan anak angkat?"
"Tapi, harus kamu tahu, meskipun kamu anak angkat bagi mama dan papa, kasih sayang kami tulus dan apa adanya. Mama papa, aku dan Kak Danis, tulus menyayangi kamu sebagai adik dan keluarga. Dari sejak kecil kita bersama, dan aku selalu perlakukan kamu sebagai adik kandungku. Lalu, mengenai perasaan lain yang aku rasakan untukmu, itu hadir dalam hatiku akhir-akhir ini. Wajar bukan jika aku memiliki rasa ini? Sebab aku merasa nyaman berada dekat denganmu," ungkap Davis tidak peduli lagi Silva mau menganggapnya apa.
"Kakak pendusta, Kakak egois. Aku tidak sangka Kak Davis mempunyai perasaan lain selain menyayangi aku sebagai adik. Pantas saja, akhir-akhir ini Kak Davis bertingkah aneh. Dari cara memperlakukan aku, terasa beda dan janggal. Kenapa, Kakak harus berubah sama aku, kenapa Kakak tidak bersikap sebagai kakakku saja? Agar aku tidak merasa asing atau canggung seperti ini," balas Silva sembari terisak.
Davis menggeleng sejenak, ia meraih bahu Silva lalu menghadapkan tubuh gadis yang sedang sedih itu menuju ke arahnya.
"Lihat aku, aku akan jujur padamu, Dek. Aku tidak tahu kenapa perasaan cinta itu tiba-tiba muncul. Aku ingin memiliki kamu tidak hanya sebagai adik melainkan pasangan hidup. Kamu tahu, setiap detik dan jam, aku selalu ingin bersamamu, dan melindungi kamu. Tahukah kamu, aku selalu cemburu jika kamu tiba-tiba dekat dengan cowok lain. Untuk itu, di tempat ini dan detik ini, aku nyatakan padamu bahwa aku sangat mencintai kamu Silva. Maukah kamu jadi bagian hidup Kak Davis?"
"Plak."
Sebuah tamparan membalas ungkapan cinta Davis di pipinya dengan keras. Davis tersentak, wajahnya sampai terhempas. Rasanya begitu sakit tamparan itu. Lalu kenapa Silva tiba-tiba harus menamparnya? Tidak ada yang salah, bukan dengan perasaannya?
"Kenapa kamu tampar aku, Dek?Aku sudah berkata sejujurnya padamu, bahwa kamu adalah anak angkat papa dan mama dan adik angkat aku dan Kak Danis. Tapi, kasih sayang kami padamu tulus. Mama, lihatlah mama, dia sangat sayang padamu sehingga dia tidak ingin kehilanganmu. Tapi, jika kamu marah dengan kakak karena kakak mengungkapkan perasaan cinta padamu, kakak minta maaf, sebab memang rasa itu yang kini ada dalam diri kakak. Kakak ingin menjadi bagian dari hidupmu," ungkap Davis lagi.
"Tidak mungkin, itu tidak mungkin." Silva menyangkalnya.
"Kenapa tidak mungkin? Mungkin saja, sebab antara kamu dan aku, tidak ada ikatan darah. Kamu juga bukan adik sepersusuan kakak, karena sejak orok, kamu tidak pernah disusukan mama. Kamu harus paham akan hal satu itu," jelas Davis seraya meraih Silva, sayangnya Silva menghindar.
"Tapi, aku tidak mau menerima cinta Kak Davis sebagai kekasih, aku hanya ingin Kak Davis menyayangi aku sebagai adik," tegas Silva menolak ungkapan cinta Davis.
"Aku pastikan akan membuatmu jatuh cinta padaku Silva. Lihat saja nanti. Kamu akan mencintai kakak," tegas Davis tidak mau kalah. Silva tertegun, isaknya masih terdengar, ia masih belum percaya dengan dua fakta yang didengarnya saat ini.
"Ayo, sebaiknya kita pulang. Tempat kita bukan di sini." Davis menarik lengan kanan Silva dari bangku taman. Tapi Silva menahannya.
"Tidak, aku tidak mau."
"Kenapa tidak mau? Walaupun kamu sudah tahu bahwa kamu adalah anak angkat mama dan papaku, tapi mereka tetap orang tua kamu. Kamu adalah anak mereka secara hukum. Dan mereka begitu menyayangi kamu tulus. Untuk itu, jangan pernah berpikir kalau kami akan berubah terhadapmu. Harusnya kamu bisa menyikapinya dengan lapang dada, sebab mama dan papa begitu menyayangi kamu meskipun kamu tidak terlahir dari rahim mamaku," tegas Davis seraya menarik lengan Silva semakin kuat.
"Kakak, lepaskan. Aku masih mau di sini. Pergilah, aku hanya ingin sendiri beberapa saat lagi," ucap Silva pada akhirnya.
"Baiklah, silahkan kamu di sini sampai para preman itu memalakmu. Masih mending hanya memalak, tapi kalau kamu diculik lalu diperkosa, apakah kamu mau?" ujar Davis menakut-nakuti.
Silva terlihat takut, matanya bergulir melihat sekeliling. Benar juga apa yang dikatakan Davis, di ujung jalan itu ada preman. Bagaimana jika preman-preman itu menculik dan memperkosanya.
"Ayolah, jangan membahayakan diri kamu sendiri. Mengenai kamu anak angkat, nanti bisa kamu pikirkan di rumah. Kita harus segera pulang, di sini berbahaya," ajaknya tanpa mendapat bantahan lagi dari Silva, karena ia memang merasa takut dengan preman-preman itu.
Langkah kaki terpaksa dari Silva membuat langkahnya terasa berat. Davis tidak menyerah, dia harus berhasil membawa Silva ke rumah. Setelah di rumah, ia akan terus terang pada sang mama kalau Silva sudah mengetahui hal yang sebenarnya.
***
Setelah makan malam, atas permintaan Davis, mereka akhirnya berkumpul di ruang keluarga. Semua penasaran dengan permintaan Davis.
"Ada apa Davis, kenapa kamu tiba-tiba mengajak kita berkumpul di ruang keluarga? Apakah kamu akan menikah dan memperkenalkan perempuan yang akan kamu ajak nikah?" tanya Mama Verli, sebenarnya tidak jauh dari bahasan yang akan Davis ungkapkan di forum keluarga ini.
"Salah satunya itu, Ma," sahut Davis. Mama Verli dan Papa Vero terlihat kaget, tapi pada akhirnya Papa Vero tersenyum. Namun tidak untuk Mama Verli.
Jantung Silva sudah berdetak kencang, ia yakin Davis akan mengatakan kalau dia mencintai dirinya, untuk itu dia harus bisa menghalangi Davis membicarakan itu.
"Ma, Pa, benarkah Silva di dalam keluarga ini hanya anak angkat?" Tiba-tiba saja Silva lebih dulu bersuara, Davis terhenyak, tapi dia tidak bisa mencegah Silva.
Mama Verli dan Papa Vero saling lempar tatap, wajah mereka terlihat pias dan kaget.
"Benarkah, Ma? Mama dan Papa tidak perlu menyangkal lagi, sebab Kak Davis sudah menceritakan semua tadi sama Silva," lanjut Silva sambil berurai air mata.
"Euhh, itu tidak benar, Sayang. Davis sedang bercanda," sangkal Mama Verli terlihat gugup.
"Kenapa Mama harus menyembunyikan status Silva? Untuk apa, Ma, bukankah Silva harus tahu bahwa Silva di sini hanya anak angkat?" Silva menatap sang mama dengan berurai air mata.
Mama Verli sejenak terdiam, dia tidak sangka akhirnya Davis menceritakan semua pada Silva.
gak suka banget aku liatnya...
klo menurut ku ini gak cinta sih,nafsu namanya...agak lain gaya pacaran nya...klo cinta itu pasti dijaga,orang pacaran sehat aja gak mau tiap sebentar cap cip cup...
Bika Ambon dan lapis legit 👍👍👍👍
kk adek kandung mana ada begituan klo udah besar...aku aja dilarang masuk kamar Abg ku 😅😅😅