"Inikah wajah Siena tokoh figuran yang seharusnya mati bunuh diri karena minum racun! berarti sekarang aku berada di tubuh Siena? aku menjadi Siena sekarang?"
Karin yang awal nya panik langsung loncat bahagia karena dia berhasil mendapatkan kesempatan kehidupan kedua dan mendapatkan kesempatan masuk kedalam tubuh salah satu toko figuran yang sangat menyebalkan bagi nya yaitu Seina Cassius.
"Kenapa aku menjadi Siena? kenapa tidak Lucia saja? Siena kan hanya tokoh figuran yang bodoh," gumam Karin kesal.
"Yasudah tidak masalah masuk ke tokoh mana saja yang penting aku tidak mati mengenaskan, aku akan menjadi Siena yang baru dan tidak akan menjadi Siena seperti di Novel!" ujar Karin dengan bangga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bebekmanisnis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Mendengar jawaban Siena langsung membuat semua terkejut kecuali Damian yang malah menahan tawa, tingkah Siena sangat lucu di mata nya walau ngeselin di mata orang lain, nama nya juga jatuh cinta apa aja yang dia lakukan itu sempurna. Dari sisi Siena sendiri sangat puas dia menjawab dengan percaya diri kalau dia memberikan kesempatan itu saja saja memasukkan tikus dalam gudang penyimpanan makanan.
"Nyonya jika saya boleh tahu apa salah saya sampai anda tidak memberi saya kesempatan?" tanya Lucia masih dengan wajah sedih nya, terlihat Fina yang sudah tahan ingin menyeret Lucia dari sana namun Siena melirik nya tajam.
"Saya sudah memiliki cukup pelayan, lagi pula tujuan mu disini kan bukan untuk menjadi pelayan kami tapi ada tujuan lain yang di berikan oleh Ibu mertua. Saya tidak masalah jika kamu akan melaporkan saya kepada Ibu mertua karena saya memang tidak suka dengan kehadiran orang asing yang tidak saya pilih sendiri," tegas Siena dengan lantang menjelaskan tanpa kekurangan sedikit pun, setidak nya ini dapat membuat Lucia diam.
"Baik Nyonya maaf atas kekurangan saya," ucap Lucia bangkit lalu segera pergi dari sana dengan air mata nya, beberapa pelayan terlihat kesal dengan sikap Siena yang memperlakukan Lucia dengan kasar.
"Kalian kalau ingin memihak nya silahkan angkat kaki," tegas Damian yang sadar dengan sorot mata tajam yang menganggu pandangan istri tercinta nya.
"Maafkan kami Tuan!" ucap mereka serempak menundukkan kepala takut di pecat, di dunia ini dapat pekerjaan di kediaman bangsawan kelas tinggi sama saja memenangkan harta karun.
"Pergi dari sini." Semua pelayan langsung pergi dari ruang makan termasuk Fina yang malah cabut duluan karena seperti nya dia sangat geram dengan sikap Lucia.
Siena tersenyum tipis. "Suami ku ternyata sangat perhatian ya, padahal kamu sering mengabaikan ku dulu," cetus Siena dengan tatapan nya.
Damian hampir saja tersedak karena sindiran dari Siena. "Aku tidak ingat," balas Damian sengaja melupakan nya.
Siena hanya menghela nafas lalu melanjutkan makanan nya, jujur saja dia tidak mood makan tapi kalau perut nya kosong dia tidak akan bisa berpikir keras, seperti otak nya akan berhenti kalau perut nya kosong.
"Damian seperti nya kita akan dapat masalah karena aku. Mungkin Ibu akan mengamuk," ucap Siena menyadari nya walau belum tentu terjadi.
Damian menghela nafas panjang. "Aku tidak ada tugas kerja di luar selama sebulan ini, jika Ibu datang aku yang akan menghadapi nya jadi kamu tenang saja," balas Damian dengan santai walau dia juga sebenarnya takut dengan Ibu nya karena trauma yang mendalam tapi demi Siena apapun akan dia lakukan.
"Kau tau sikap mu yang berubah seperti ini adalah yang aku inginkan, aku selalu ingin memiliki suami yang tanpa dan bertanggung jawab atas masalah yang ku perbuat," jawab Siena dengan bangga.
...............
Di ruang kerja nya Damian terlihat sibuk mengerjakan pekerjaan nya yang terlihat banyak menumpuk, Siena datang membawakan teh hangat untuk Damian membuat Damian sangat senang karena melihat Siena itu seperti mengembalikan energinya yang terkuras.
"Teh buatan mu lebih enak dari yang lain nya," ucap Damian dengan senyuman menggoda nya.
"Tidak ada yang spesial saat aku membuat nya Damian," balas Siena sambil sesekali dia melirik berkas di meja Damian.
"Karena kamu yang membuat nya itu menjadi teh yang spesial," ungkap Damian dengan nada menggoda membuat hati Siena seperti ingin terbang ke surga.
"Seperti nya pekerjaan mu selalu bertambah bukan nya berkurang," seru Siena dengan mata nakal nya.
"Ya begitulah," balas Damian dengan wajah lelah.
Sebuah berkas terlihat menarik perhatian Siena, berkas itu berisi kan sebuah laporan dimana setiap bulan nya ada satu anak di bawah 5 tahun hilang tanpa jejak, jika mereka mati mayat nya akan di temukan tapi sayang nya tidak ada satupun mayat anak anak yang di hilang itu di temukan.
"Kamu tertarik dengan kasus anak hilang?" tanya Damian seperti membaca isi hati Siena.
"Ya aku seperti pernah melihat ini," jawab Siena yang sedikit teringat dengan bagian novel yang dia lupakan.
Ingatan nya Siena yang asli dan diri nya tumpang tindih banyak ingatan yang mulai hilang perlahan, entah mengapa Siena masih sulit mengingat nya namun kalau ada hubungan yang terhubung dengan ingatan nya saat membaca isi novel itu seperti sebuah pemancing.
"Damian Alios dan Varela punya anak?" tanya Siena langsung membuat Damian terkejut.
"Iya, bagaimana kamu tahu? aku tidak pernah menceritakan nya padamu karena ini sebuah rahasia sebab anak itu sudah hilang empat tahun lalu saat usia nya masih satu tahun," jawab Damian dengan rasa penasaran.
Siena langsung terdiam mematung ingatan nya mulai berputar di dalam kepala nya, ingatan itu seperti di tarik mundur dengan paksa membuat Siena mengingat sebuah masalah yang hampir saja dia lewat kan.
"A-aku sempat dengar saja dari mulut ke mulut dahulu, apakah benar anak nya perempuan?"
"Benar, sejak putri mereka hilang hingga saat ini mereka masih terus mencari nya dan tidak ingin memiliki anak lagi," jawab Damian dengan tegas namun dia seperti penasaran dengan isi kepala Siena yang seperti tahu apa saja saat menyentuh sebuah dokumen kasus laporan.
Siena duduk lemas di sofa sambil memijat kening nya yang berdenyut nyeri, kepala nya mulai pusing seperti ingatan itu menguras energi nya, Damian yang khawatir langsung menghampiri Siena.
"Siena kamu baik baik saja?" tanya Damian.
"Damian aku mohon izinkan aku pergi ke pasar kota lagi," ucap Siena dengan nada panik.
"Katakan dulu apa alasan nya?" tegas Damian tidak akan membiarkan Siena pergi tanpa alasan yang jelas.
"Damian Aku...." pandangan Siena gelap perlahan lalu kesadaran nya pun hilang.
"Siena? SIENA!" panggil Damian dengan panik menepuk pelan pipi Siena namun tidak ada respon dari Siena.
"Tidak...ALEX! CEPAT PANGGIL TABIB!"
gantung banget ceritanya😭
mau di rebus, di goreng, apa di bakar.😈😈😈
ikan maksudnya🤣
lanjutkan kehidupan mu disana. pepet terus si damian ampe ngesot.. ngesot..😂