Keiko Hartono punya rahasia.
Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.
Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.
Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.
Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.
Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.
Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.
"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."
Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6 - Hujan dan Payung
Setelah hari itu, Keiko tidak lagi bertanya soal rumor.
Kelvin juga tidak pernah menjelaskan.
Mereka kembali menjadi teman sebangku yang tampak tidak akrab. Di mata orang lain, Keiko hanya murid pindahan yang rajin mencatat, sedangkan Kelvin tetap cowok bermasalah yang sering menatap jendela seolah pelajaran di kelas tidak ada hubungannya dengan hidupnya.
Tetapi ada hal-hal kecil yang berubah.
Ketika Fajar tanpa sadar menutupi papan lagi, Kelvin mengetuk meja Keiko dengan ujung pulpen, menunjuk ruang kosong di sebelah kiri yang bisa dipakai untuk melihat. Ketika Keiko membuka botol air hangat, Kelvin tidak lagi bertanya panjang, hanya melirik sebentar untuk memastikan dia benar-benar minum. Ketika guru membagikan lembar latihan dan Keiko mendapat kertas yang robek di sudutnya, Kelvin menukar kertas itu dengan miliknya tanpa suara.
Tidak ada yang pantas disebut dekat.
Namun bagi Keiko, yang terbiasa menerima perhatian dalam bentuk instruksi dokter dan kecemasan Bu Tuti, perhatian diam seperti itu terasa asing.
Sore itu, langit Bandung berubah gelap sebelum jam terakhir selesai.
Awalnya hanya mendung tipis. Lalu angin naik, membawa aroma tanah basah dari lapangan. Saat bel pulang berbunyi, hujan sudah jatuh begitu deras sampai halaman sekolah tampak seperti ditutup tirai putih.
Murid-murid tertahan di koridor.
"Aduh, gue nggak bawa payung."
"Pesan ojol aja."
"Ojol mana mau masuk hujan begini?"
Keiko berdiri di depan kelas, menatap hujan dengan sedikit cemas. Hari ini Bu Tuti tidak bisa menjemput tepat waktu karena harus membeli obat di apotek. Keiko sudah berjanji akan menunggu di lobby utama, tetapi untuk sampai ke sana dia harus melewati halaman terbuka.
Dia membuka tas.
Tidak ada payung.
Botol air hangat ada. Obat ada. Jaket tipis ada. Tapi payung, tentu saja, tertinggal di mobil.
Keiko menghela napas.
Dia bisa menunggu.
Seharusnya dia menunggu.
Namun koridor semakin penuh, udara lembap membuat kepalanya agak pening, dan ponselnya bergetar dengan pesan dari Bu Tuti.
**Bu Tuti**: Nduk, tunggu di lobby ya. Bu Tuti agak terlambat.
Keiko membalas `iya`, lalu menatap hujan lagi.
Lobby utama tidak jauh.
Kalau berlari, mungkin hanya dua puluh detik.
Keiko merapatkan jaket, memasukkan buku ke tas, lalu mengambil ancang-ancang.
"Mau ke mana?"
Suara itu datang dari belakang.
Keiko menoleh. Kelvin berdiri di ambang pintu kelas, satu tangan memegang payung hitam.
"Lobby."
"Hujannya deras."
"Aku lari."
Kelvin menatapnya seperti dia baru saja mengatakan sesuatu yang sangat bodoh. "Kamu sakit sedikit saja bawa air hangat. Sekarang mau lari di hujan?"
Keiko terdiam.
Kalimat itu terlalu logis untuk dibantah.
"Aku harus menunggu Bu Tuti di lobby," katanya akhirnya.
Kelvin membuka payung. "Ayo."
Keiko berkedip. "Kamu juga ke lobby?"
"Sekarang iya."
Sebelum Keiko sempat menjawab, Kelvin sudah turun dari koridor ke halaman. Payung hitam itu terbuka di atas kepalanya, menahan hujan yang memukul keras permukaannya. Dia berhenti dua langkah di depan, menoleh karena Keiko belum bergerak.
"Nona Murid, kalau mau kehujanan, bilang dari tadi."
Panggilan itu membuat beberapa murid yang masih berteduh menoleh sambil tersenyum ingin tahu.
Keiko merasakan telinganya hangat. Dia buru-buru menyusul.
Payung itu tidak terlalu besar.
Untuk dua orang, mereka harus berdiri lebih dekat daripada yang biasa mereka lakukan di kelas. Keiko berusaha menjaga jarak, tetapi hujan dari sisi kanan langsung mengenai bahunya. Kelvin melihatnya, lalu tanpa berkata apa-apa memiringkan payung lebih banyak ke arahnya.
Akibatnya, bahu kiri Kelvin basah.
Keiko menyadarinya setelah beberapa langkah.
"Payungnya terlalu ke sini."
"Nggak."
"Bahu kamu basah."
"Seragam bisa kering."
"Kamu bisa sakit."
"Aku jarang sakit."
Keiko menatap profil wajahnya dari bawah payung. Air hujan jatuh dari ujung rambut Kelvin ke pelipisnya. Dia masih berjalan dengan ekspresi datar, seolah membiarkan setengah tubuhnya basah adalah hal paling wajar di dunia.
Di bawah kaki mereka, air memercik setiap kali sepatu menyentuh paving. Bau tanah basah bercampur dengan aroma sabun dari seragam Kelvin. Suara hujan begitu keras sampai percakapan harus dilakukan lebih dekat.
"Kelvin."
"Hm?"
"Kemarin kamu bilang sudah biasa."
Langkah Kelvin melambat sedikit.
Keiko tidak tahu kenapa dia mengatakannya sekarang. Mungkin karena hujan membuat dunia di sekitar mereka terdengar jauh. Mungkin karena di bawah payung sempit ini, kata-kata yang biasanya tidak berani keluar terasa punya tempat.
"Aku tidak tahu apa yang biasa untukmu," lanjut Keiko pelan. "Tapi kalau suatu hari kamu tidak mau biasa-biasa saja, kamu boleh bilang."
Kelvin menoleh.
Mata mereka bertemu sebentar.
Hujan memukul payung di atas kepala mereka, menutup semua suara lain.
Kelvin membuka mulut, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun lobby sudah dekat. Beberapa murid berdiri di sana, dan dunia kembali terlalu ramai.
Dia hanya berkata, "Masuk."
Keiko naik ke lantai lobby yang kering.
Kelvin menutup payung. Setengah lengan seragamnya basah, rambutnya juga. Keiko ingin menawarkan tisu, tetapi ponselnya kembali bergetar.
Sebelum dia sempat membaca pesan, seseorang memanggil dari belakang.
"Keiko."
Nadia berdiri di dekat vending machine, memegang dua botol minuman dingin. Wajahnya tenang, matanya tajam seperti selalu mengamati tanpa terlihat terlalu peduli.
"Kamu sekelas sama Kelvin, kan?"
Keiko mengangguk. "Iya."
Nadia menyerahkan satu botol kopi susu kemasan padanya. "Tolong kasih ini ke dia."
Keiko menerima botol itu, agak bingung. "Dari kamu?"
"Ya. Dia tadi bantu anak kelas X. Orang-orang berisik banget ngomongin dia. Anggap aja ucapan terima kasih karena dia nggak memperpanjang masalah."
Nada Nadia datar, tetapi Keiko menangkap sesuatu di baliknya. Bukan rasa suka. Lebih seperti pengakuan dari seseorang yang tidak gampang percaya rumor.
Keiko menoleh ke Kelvin.
Cowok itu sedang memeras ujung lengan seragamnya di dekat pintu lobby.
Keiko mendekat sambil membawa botol kopi susu dari Nadia dan satu kotak susu UHT hangat yang tadi dia beli di kantin tapi belum sempat diminum.
"Ini," katanya, menyerahkan kopi susu. "Dari Nadia."
Kelvin melirik botol itu. "Nggak usah."
"Dia bilang terima kasih."
"Bilang balik sama dia, nggak usah."
Keiko menatap botol itu, lalu menatap kotak susu di tangannya sendiri. "Kalau yang ini?"
Kelvin melihat kotak susu UHT yang permukaannya masih agak hangat karena Keiko simpan di dekat botol air hangat.
"Itu punya kamu."
"Aku belum minum. Kamu basah. Minum yang hangat."
Kelvin diam beberapa detik.
Lalu dia mengambil kotak susu itu.
Keiko menahan senyum. "Kenapa harus yang aku beli?"
Kelvin menusukkan sedotan, memalingkan wajah ke arah hujan.
"Nggak kenapa-kenapa."