Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.
Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.
Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.
Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
Kini, Harapan telah pergi. Yang tersisa hanyalah dirinya. Sendirian. Di tengah keluarga yang tak pernah benar-benar menganggapnya bagian dari mereka.
Hamida menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tangisnya pecah lagi, lebih keras dari sebelumnya. "Maafkan Ibu, Nak..." isaknya lirih. "Ibu tidak punya siapa-siapa untuk membelamu."
Di luar mobil, langit mendadak mendung. Angin berembus pelan, mengiringi perjalanan terakhir seorang anak yang kematiannya akan segera dianggap selesai oleh semua orang. Kecuali oleh ibunya.
***
Azan Asar baru saja selesai ketika tubuh kecil Harapan perlahan diturunkan ke dalam liang lahat. Dua orang lelaki menerima jenazah itu dengan hati-hati, lalu membaringkannya menghadap kiblat. Hamida berdiri di bibir makam. Matanya tak berkedip sedikit pun. Ia menyaksikan setiap gerakan itu seolah sedang melihat sebagian dari hidupnya ikut dikuburkan.
"Pelan-pelan..." bisiknya nyaris tak terdengar. Seolah Harapan masih bisa merasakan dinginnya tanah.
Seorang petugas mulai membuka ikatan kain kafan. Yang lain menyusun papan penutup liang lahat. Lalu segenggam demi segenggam tanah dijatuhkan. Buk... buk... buk... Suara tanah yang menghantam papan kayu terdengar begitu jelas.
Setiap bunyi itu seperti menghantam dada Hamida. Retak. Lalu hancur.
Tubuhnya masih berdiri, tetapi ia merasa seluruh isi dadanya telah runtuh. Napasnya semakin pendek. Lututnya bergetar. Rasanya seperti ada sesuatu yang perlahan ditarik keluar dari dalam dirinya. Bukan jantungnya. Bukan pula darahnya. Melainkan alasan mengapa ia masih ingin hidup.
Harapan adalah satu-satunya orang yang membuatnya bertahan setelah kematian kedua orang tuanya, setelah pernikahan yang gagal, setelah hari-hari panjang yang hanya diisi bekerja di pabrik tahu demi membeli buku, seragam, dan sepatu sekolah.
Kini Alasan itu ikut terkubur.
Hamida jatuh berlutut di depan makam yang masih basah. Tangannya menggenggam tanah merah yang baru saja menimbun tubuh putranya. Air matanya menetes tanpa suara. Konon, ada sebutan bagi anak yang kehilangan orang tua. Ada sebutan bagi seorang istri yang kehilangan suami. Ada pula sebutan bagi suami yang kehilangan istrinya. Namun, tak ada satu kata pun yang diciptakan untuk seorang ibu yang kehilangan anaknya. Mungkin karena rasa sakit itu terlalu besar untuk disimpan dalam sebuah nama. Atau mungkin karena tak ada bahasa yang sanggup menjelaskan bagaimana rasanya ketika seorang ibu harus menguburkan sebagian dari jiwanya sendiri.
Hamida mengusap gundukan tanah itu untuk terakhir kalinya. "Selamat tidur, Harapan..." bisiknya lirih. "Apa pun yang sebenarnya terjadi Ibu akan mencarinya." Meskipun saat itu, Hamida sendiri belum tahu bahwa janji sederhana itu akan membawanya melawan orang-orang yang paling berkuasa di kampungnya.
***
Menjelang Magrib, satu per satu warga mulai berdatangan untuk bertakziah. Sebagian membawa beras, gula, mi instan, dan telur. Sebagian lagi hanya datang dengan doa dan pelukan. Gubuk bambu yang selama ini terasa lengang mendadak dipenuhi suara orang-orang yang mengucapkan belasungkawa.
Namun belum lama para pelayat duduk, kakak tertua mantan suami Hamida berdiri di depan pintu. "Bapak-Ibu," ucapnya lantang. "Takziahnya pindah saja ke rumah kami. Di sana lebih luas. Di sini sempit, panas, nanti tamu tidak nyaman."
Beberapa orang mulai saling berpandangan. Ada yang perlahan berdiri, bersiap mengikuti arahan itu. Hamida hanya menunduk. Ia tak punya tenaga untuk membantah.
Saat itulah Dewi berdiri. "Tunggu dulu." Semua mata tertuju kepadanya. Kak Dewi melangkah ke tengah ruangan, menatap satu per satu keluarga mantan suami Hamida. "Selama delapan tahun Harapan tinggal di mana?" Tak ada yang menjawab. "Di rumah besar kalian?" tanyanya lagi. Suasana tetap hening. Kak Dewi menghela napas. "Harapan tinggal di gubuk sempit ini bersama ibunya." Tatapannya semakin tajam. "Kalau selama hidupnya kalian membiarkan dia tinggal di sini, kenapa setelah meninggal justru kalian ingin mengambil rumah dukanya?"
Seorang perempuan dari keluarga itu mendecak. "Kami cuma ingin menghormati tamu."
"Menghormati tamu?" ulang Kak Dewi. "Yang kehilangan anak itu Hamida, bukan kalian." Tak ada yang berani menyela. Kak Dewi lalu menoleh kepada para pelayat. "Silakan bertakziah di sini." Ia mengangkat tangannya, menunjuk dinding bambu yang mulai lapuk. "Rumah ini memang sempit. Tapi di sinilah Harapan dibesarkan. Di sinilah ia tidur, belajar, tertawa, dan memanggil ibunya setiap hari."
Suasana mendadak sunyi. Tak seorang pun lagi berdiri. Para pelayat kembali duduk di atas tikar yang digelar seadanya.
Di sudut ruangan, Hamida menatap Kak Dewi dengan mata berkaca-kaca. Sejak Harapan meninggal, baru kali itu ada seseorang yang benar-benar berdiri di pihaknya.
Tanpa banyak kata, Kak Dewi menghampiri Hamida, menggenggam tangannya erat. "Mulai hari ini," bisiknya pelan, "jangan biarkan siapa pun mengambil hakmu lagi, Mi." Kalimat itu sederhana. Namun kelak, Hamida akan mengingatnya sebagai awal dari keberaniannya melawan.
***
Malam semakin larut. Tamu yang datang tak pernah benar-benar sepi. Seusai mengaji dan memanjatkan doa, beberapa orang berpamitan sambil menyelipkan amplop putih ke tangan Hamida.
"Ini sedikit buat membantu, ya, Mi."
"Jangan dilihat isinya. Semoga bermanfaat."
Hamida hanya mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Amplop-amplop itu ia letakkan begitu saja di atas meja kecil di sudut ruangan. Bahkan ia belum sempat menghitungnya. Baginya, malam itu tak ada lagi yang lebih berharga daripada seorang anak yang kini telah berbaring sendirian di dalam tanah.
Saat tamu mulai berkurang, kakak mantan suaminya melangkah mendekati meja itu. Tangannya menunjuk tumpukan amplop. "Mida."
Hamida menoleh pelan.
"Nanti amplop takziahnya dihitung."
Hamida mengangguk tanpa banyak berpikir.
"Lalu dibagi dua."
Kening Hamida berkerut. "Dibagi dua?"
"Iya." Perempuan itu menjawab ringan seolah sedang membicarakan sesuatu yang biasa. "Di situ ada hak ayahnya Harapan juga."
Ruangan mendadak sunyi. Hamida menatap perempuan itu beberapa saat, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Ini..." suaranya lirih, "...orang-orang memberi karena Harapan meninggal."
"Makanya dibagi. Joni juga ayahnya Harapan."
Hamida menundukkan kepala. Dadanya kembali sesak. Belum genap beberapa jam anaknya dimakamkan. Belum sempat air matanya mengering. Kini, yang dipersoalkan justru amplop belasungkawa.
Dari arah dapur, Kak Dewi yang sejak tadi membantu mencuci gelas menghentikan kegiatannya. Ia menatap tajam ke arah perempuan itu. "Kalau selama Harapan hidup biaya sekolah, makan, baju, dan obatnya juga dibagi dua, saya tidak akan keberatan amplop itu dibagi dua." Tak seorang pun menjawab. Kak Dewi melanjutkan dengan nada yang tetap tenang, tetapi setiap katanya terdengar menusuk. "Selama delapan tahun saya hanya melihat Hamida yang bekerja dari pagi sampai sore demi membesarkan anak itu. Sekarang setelah Harapan meninggal, baru semua orang ingat kalau dia punya ayah?"
Ruangan kembali hening. Beberapa tamu saling berpandangan dengan wajah canggung. Tak ada lagi yang berani membahas amplop itu malam itu. Namun, bagi Hamida, kejadian tersebut menjadi satu lagi bukti bahwa setelah kehilangan putranya, ia masih harus menghadapi orang-orang yang lebih sibuk menghitung uang daripada menghormati duka seorang ibu.