Nana Ayunda adalah gadis cantik yang ceria dan selalu mengutamakan kebahagian orang terdekatnya. Terutama Mama dan Abangnya.
Ia juga selalu menyingkat nama orang sesuka hatinya.
Nana menyukai sahabat kakaknya yang hanya dianggap adik olehnya, akankah Nana bisa mendapatkan cintanya yang penuh perjuangan itu? Atau akan dianggap seorang adik untuk selamanya?
ikuti kisah Nana Ayunda dengan penuh canda dan air mata.
Selamat membaca Terima kasih
mohon dukungannya🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kak meyla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Rena seperti ingin menggeplak kepala sahabatnya ini, dia seperti benar-benar tak punya rasa malu sedikit pun. Karena tak mendapatkan jawaban dari Rena, Nana kemudian diam saja dia juga mengerti jika sahabatnya sedang sakit tapi dia malah bertanya sesuatu yang tidak berbobot sama sekali.
Tak lama setelah Arit selesai makan, dia kemudian mendekat kepada mereka berdua. "Kalian sedang ngomongin apa sih, tadi berisik banget sekarang kenapa malah diem-dieman." Tanyanya dengan bingung melihat ke dua orang itu. Tapi yang di tanya tak ada yang menjawab sedikit pun. Di tengah keterdiaman mereka berdua tiba-tiba ada yang membuka pintu yang ternyata adalah dokter untuk memeriksa keadaan Renata.
Dokter kemudian datang dan memeriksa keadaan Renata dan menyatakan besok sudah boleh pulang, tentu saja mereka semua bahagia karena Rena sudah sehat, apalagi Rena sebenarnya sudah tidak betah berada di rumah sakit, dia rasanya dari kemarin ingin pulang tapi malah di suruh menginap untuk mengecek keadaannya.
Saat malam hari ponsel Nana berdering menandakan ada yang sedang menghubunginya, dia kemudian mengambil tasnya yang berada di atas Nakas, setelah melihat ternyata itu adalah Abangnya sendiri yaitu Siapa lagi kalau bukan Keri.
"Halo Assalamualaikum Bang." Sapanya dengan mengangkat telpon seperti biasanya.
"Waalaikumsalam. Maaf besok Abang tak bisa menjemputmu, kamu pulang naik taxi saja yah, tiba-tiba Abang besok ada pekerjaan mendadak sehingga tak bisa di ganggu." Nana hanya menghela nafas kasar, dalam hati Nana juga tak perlu di jemput dia bisa pulang sendiri, tapi Keri yang malah memaksa untuk menjemput dirinya.
Nana memang mengirim pesan kepada Keri jika Rena akan pulang besok, tapi Nana tidak mengatakan jika dia di minta di jemput oleh Abangnya, dia lebih memilih pulang sendiri dari pada di jemput, tapi namanya Keri dia memaksa untuk menjemput adiknya, mungkin takut jika sampai Nana datang menemui Zaidan jika ada kesempatan.
"Ia BangKe ngak apa-apa, lagian kita naik mobil Arit ko, jadi setelah Arit mengantar Renata ke rumahnya dia bisa mengantarku pulang sekalian."
"Baiklah jika seperti itu. Hati-hati besok pulangnya, ingat setelah itu pulang, jangan keluyuran dulu, Abang percaya padamu jika kamu tak akan melanggar janjimu." Ucapnya setelah memberi petuah Keri kemudian menutup telponnya. "Siapa juga mau keluyuran, emang Nana wanita apaan." Gerutunya dengan begitu kesal dengan perkataan Abangnya.
Keesokan harinya, Nana dan Arit mereka berdua keluar untuk mengurus administrasi untuk Rena, setelah itu dia segera menuju apotik untuk mengambil obat sebelum Rena pulang. Tapi tanpa sengaja tiba-tiba ada yang menabrak dirinya sehingga obat itu jatuh berhamburan. Tapi orang itu tak membantunya sama sekali, mungkin karena buru-buru dia hanya meminta maaf kemudian berlalu begitu saja, makanya Arit berinisiatif membantu Nana untuk memungut obat yang berserakan di lantai itu. Tapi ternyata dari kejauhan ada yang melihatnya dengan menatap tajam ke arah mereka berdua.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah pengusiran yang di lakukan oleh Keri, akhirnya Zaidan pergi dari kediaman Mama Puspa, Keri benar-benar puas memaki sesuka hatinya dan ternyata Zaidan tak membalas sedikit pun, dia hanya diam saja menerima makian dari kakak iparnya itu, antara sadar atau hanya malas bertengkar entah lah, hanya Zaidan yang tau.
Keesokan harinya...
Zaidan melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat yang kebetulan tempat di mana Aisyah bekerja, Karena akhir-akhir ini Zaidan sering sakit kepala makanya dia ingin memeriksakan kesehatannya terlebih dahulu.
Tapi siapa sangka, saat Zaidan menunggu antrian dia malah melihat Nana dan Arit sedang saling tatap-tatapan dengan mengambil sebuah kantong keresek yang bisa Zaidan liat adalah resep obat. Karena tak kuat melihat mereka berdua, dia bermaksud untuk menghentikan itu, rasanya matanya sakit melihat mereka berdua bertatapan seperti di film romantis dan menurutnya sangat tidak etis jika Nana melakukan itu, apalagi dia sudah menikah.
Zaidan berdehem untuk membuat dua orang itu sadar akan kehadirannya, tapi malah tak di gubris sama sekali oleh dua orang itu, mereka malah saling tersenyum satu sama lain, karena merasa di abaikan oleh mereka, Zaidan menghempaskan tangan mereka berdua dengan kasar. "Lepaskan tangan istriku."
Sementara Nana yang melihat kehadiran Zaidan kemudian menoleh, dia tak menyangka akan bertemu Zaidan di sini.
Glek... Nana menelan ludahnya kasar.
🌹🌹 buat kakak author biar semakin semangat update 💪🥰🥳🥳
malah bakal bikin bang Keri tambah marah itu mah . 🤦♀️
maaf ya, Kaka author. ikut esmosi baca nya 🙏