Maharaya, sosok gadis yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibunya.
Tiap hari dia diharuskan mengalah pada Mira, adiknya. Hanya karena statusnya sebagai seorang kakak.
Bahkan ketika kekasihnya direbut oleh Mira dia tetap diam.
Arga, adalah pria yang telah dicampakkan oleh Mira, karena profesinya yang hanya seorang tukang ojek online. Arga mendekati Maharaya, dan keduanya pun menjalin hubungan.
Akan tetapi tanpa di sadarinya dia memiliki satu
rahasia yang bahkan dia sendiri pun tidak mengetahuinya. Dan tanpa diketahui siapapun, ternyata Arga juga menyimpan satu rahasia.
Rahasia apa yang sebenarnya dimiliki oleh MAHARAYA dan Arga. Dan apakah akhirnya keduanya benar-benar bersatu. Bagaimana reaksi Mira ketika rahasia mereka akhirnya terungkap?
Ikuti kelanjutan kisahnya dalam
Hanya Karena Aku Anak Pertama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maharaya Jordan ??
"Aku tidak menyangka, jika calon istriku ini adalah seorang pendekar!!" Arga bercanda untuk memecah ketegangan. Tangan dan kakinya sudah bersiap memasang kuda-kuda.
"Saya juga tidak menyangka, Nona Raya benar-benar sangat hebat!" Mukhlis ikut menimpali.
"Jangan memuji calon istriku!" sentak Arga.
"Saya tahu!" bantah Mukhlis.
"Sudah diam!! Apa kalian ingin mati konyol? Asal kalian tahu, aku sendiri saja bahkan tidak tahu, jika aku bisa melakukan hal seperti itu tadi!" ucap Raya, membuat Arga dan Mukhlis terpana tak percaya. Apakah hal seperti itu mungkin? Adakah orang yang tidak sadar jika dirinya memiliki kekuatan?
Raya memang tidak berbohong. Dia bahkan tidak menyangka bahwa dirinya bisa melakukannya seperti tadi. Dia hanya bergerak secara refleks, mengikuti hati nuraninya untuk menolong Arga. Dia sendiri bahkan bingung kekuatan dari mana yang dia dapatkan.
"Apa kalian sudah selesai berdiskusi?" Kepala dari rombongan yang baru datang maju mendekat. "Jika sudah, sekarang saatnya kalian mati!!" lanjutnya, dan langsung melakukan serangan ke arah Arga. Tentu saja dengan tak gentar Arga meladeninya. Begitu pun dengan Raya dan Mukhlis yang sudah mendapatkan lawan masing-masing.
"Serahkan Gadis itu, maka Aku akan melepaskanmu!" seru kepala gerombolan itu sambil masih menyerang ke arah Arga.
"Langkahi dulu mayatku!" bantah Arga sambil mendaratkan kaki ke rahang pria itu.
"Bangsat...!!" Kepala gerombolan itu menyikat darah yang keluar dari mulutnya.
"Kalian benar-benar tidak bisa dikasih hati. Maka matilah...!!" Kepala gerombolan bangkit sambil menghunus belati dari balik bajunya. Nyaris saja Arga terkena tusukan belati itu kalau dia tidak dengan cekatan menghindar.
Pertarungan sungguh tidak seimbang; tiga orang itu pun mulai keteteran. Hingga pada saat mereka hampir saja kalah, datang dua mobil Jeep, dan beberapa orang dengan tongkat pemukul datang membantu mereka. Arga bernapas lega, tapi dalam hati bertanya-tanya, siapa mereka? Karena Arga jelas melihat bahwa mereka itu bukanlah orang-orang pilihan ayahnya.
"Raya... Ayo pergi!!" Tiba-tiba saja Mas Bejo sudah berada di sana dan menarik tangan Raya.
"Tunggu, Mas... Bagaimana dengan Arga dan sopir taksi itu?!" Raya mencoba menghempaskan tangan Mas Bejo.
"Menurutilah, Maharaya! Arga pasti selamat. Orang-orang itu yang akan membereskan sisanya!!" jawab Mas Bejo sambil tetap menggenggam tangan Raya.
"Tunggu...!! Raya pergi denganku, dan Aku juga yang akan mengantarkannya pulang!" Arga menahan sebelah tangan Raya, membuat Mas Bejo menghentikan langkahnya.
"Lain kali jangan mengajaknya pergi, kalau kau tidak bisa menjaganya!!" bentak Mas Bejo dengan tatapan mata tajam.
"Aku pasti melindunginya, walau harus nyawaku yang menjadi taruhannya!" jawab Arga tak mau kalah.
"Betul, Mas... Lagi pula ini bukan salah Arga; kami juga tidak tahu jika kami akan diserang!" Tentu saja Maharaya membela Arga.
"Melindunginya katamu?! Bahkan sejak tadi yang Aku lihat, Maha Raya lah yang terus berusaha melindungimu!!" ucap Mas Bejo sambil tersenyum sinis ke arah Arga. Arga terdiam tak bisa membantah, karena memang itulah kenyataannya.
"Tapi, Mas...!"
"Maharaya Jordan...!" Mas Bejo membentak dan memotong ucapan Raya, karena Raya masih saja membantah untuk diajak pulang. Raya tersentak; dia tak pernah melihat Mas Bejo yang seperti ini. Sorot mata tajam penuh intimidasi membuat dia sama sekali tak bisa berkutik.
Begitu pun dengan Arga. Dia ingin menahan Raya, tapi melihat Raya kelelahan, dia juga tak ingin egois. Setidaknya dia tahu Bejo adalah orang baik, dan bala bantuan ini pasti dialah yang membawanya.
"Pulanglah dengannya! Aku akan menghubungimu nanti!" ucap Arga sambil mengusap puncak kepala Raya. Tak ada yang bisa Raya lakukan selain menurut. Hingga akhirnya dia pun hanya bisa menurut saja, saat Mas Bejo menuntunnya menuju mobilnya.
"Maharaya Jordan...?" Sedari tadi bentakan Mas Bejo itu bersahutan memenuhi ingatannya. Pikirannya berkecamuk. Apakah itu namanya? Bukankah nama Bapaknya adalah Hamid? Jadi benar-benar? Apakah yang pernah didengarnya malam itu benar? Bahwa dia bukan anak pertama dari Pak Hamid dan Bu Lusi? Lalu jika memang benar demikian, dari mana Mas Bejo mengetahui hal itu?
Sepanjang perjalanan pulang, Raya hanya terdiam. Sesekali diliriknya Mas Bejo yang wajahnya masih memerah, seperti menahan amarah. "Kenapa harus tahu? Aku yang diserang, kenapa dia yang marah?" Raya tak habis pikir.
"Sekarang turunlah! Masuk ke dalam, kemasi barang-barangmu, dan ayo kita pulang!!" ucap Mas Bejo begitu mereka sampai di depan rumah Raya.
"Ini sudah sampai di rumah Raya; kalau harus pulang, pulang ke mana lagi? Inilah rumah Raya?" ucap Raya tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Bejo.
"Ini bukan rumahmu; rumahmu ada di tempat yang lain!" bentak Bejo.
"Aku tidak mau, dan aku minta Mas Bejo tidak mengaturku, hanya karena Mas Bejo sesudah menolongku. Aku akan tetap di sini bersama dengan keluargaku. Mas Bejo itu bukan siapa-siapa; ingat itu!" Raya merasa tidak terima karena Mas Bejo yang sok mengaturnya.
"Terserah padamu. Kalau kau menolak hari ini, Aku akan datang kembali lagi besok bersama dengan Daddy. Dan besok mau atau tidak kau tetap harus pulang. Dan satu lagi yang harus kau ingat! Jangan sampai lengah, karena nyawamu masih dalam bahaya!" ucap Mas Bejo kemudian pergi.
Raya tidak peduli. Dia kemudian segera masuk ke dalam rumah, dengan disambut oleh Ayah dan Ibunya yang sudah duduk di kursi, mungkin sedang cemas menunggu, karena Raya pulang hingga larut malam.
"Ya Tuhan, Raya! Apa yang sudah terjadi padamu? Kenapa bajumu robek semua?!" seru Pak Hamid menyongsong kedatangan anaknya.
"Hanya sedikit kejadian tidak mengenakkan saja, Pak!" jawab Raya mencoba memberi penjelasan, agar Bapaknya tidak merasa cemas lagi. Akan tetapi, siapa yang tidak cemas melihat anaknya pulang dengan pakaian yang sudah robek compang-camping? Rok yang dikenakan oleh Maha Raya memang sudah tidak berbentuk lagi; mungkin tak sengaja robek saat kakinya refleks menendang musuh tadi. Untung saja di dalamnya dia menggunakan celana legging sebagai lapisan.
"Apa kau sudah tidur?!" Baru saja hendak memejamkan mata, ponselnya berbunyi. Ternyata pesan dari Arga.
"Baru mau...!" jawab Raya.
"Maharaya Jordan? Apakah itu nama lengkapmu? Jadi saat ijab kabul nanti Aku menyebut Jordan atau Hamid?!" tanya Arga.
"Ijab kabul apanya? Aku bahkan belum menerima lamaran darimu!"
"Lamaran itu pasti akan datang, secepatnya!!"
"Bodo amat... Aku capek, mau tidur...!" Raya langsung menutup teleponnya. Dia tak mau berlarut baper pada Arga. Calon istrinya apa? Ini saja baru pertama kalinya keluar makan berdua; tak bisa juga disebut kencan.
"Maharaya Jordan? Apakah benar itu namaku? Kenapa aku tidak bertanya pada Mas Bejo tadi...? Ahh... Gara-gara aku kesal dipaksa pulang tadi, sampai lupa mau tanya apa. Sudahlah. Kutanya besok saja kalau ketemu di tempat kerja!"