Bagi Azam, satu-satunya wanita yang berhak bersandar di bahunya hanyalah Aira Humaira, istri sekaligus sahabat sejatinya.Namun, sebuah kesalahan yang tak di sengaja.kini berubah menjadi hantu yang menuntut penebusan. Safira kini hidup sebatang kara dan hidup menderita akibat kelalaian Azam. Ketika uang tak lagi mampu membasuh rasa bersalah, Aira justru menyodorkan madu pernikahan sebagai jalan keluar."Aku ikhlas, Mas..." kata-kata Aira terdengar tegas, meski hatinya sendiri hancur.Terjebak di antara tuntutan istri yang dicintainya dan penolakan hatinya untuk mendua, keputusan apa yang akan diambil Azam? Siapkah Aira menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain, ketika ego dan rasa bersalah bertabrakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adiba Aza hra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Sambutan Hangat
Hari ini akhirnya Aira sudah diperbolehkan pulang.
"Kamu masih kepikiran kejadian kemarin pagi ya, Sayang?"
Tanya Azam yang sedang melipat baju ganti Aira.
Aira terdiam, lalu mengangguk pelan.
"Tante Tina memang mirip banget sama bundaku, Sayang,"
Kata Aira sembari memainkan ponselnya.
Azam mengangguk mengerti, lalu mengambil sisir yang ada di meja nakas.
"Apa kamu mau tes DNA?"
Tanya Azam tiba-tiba.
Aira menoleh sekilas, lalu kembali memainkan ponselnya.
"Gak boleh Mas, masa iya tiba-tiba mau tes DNA, kan gak sopan,"
Heran Aira.
"Oh, iya...?"
"Permisi, assalamualaikum Dek Aira, Mas Azam. Izin melepas jarum infusnya ya,"
Perawat Safira meminta izin untuk melepas jarum infus di tangan Aira.
"Mbaknya kok bisa secantik ini sih?"
Puji Aira jujur.
Safira tersenyum lembut, lalu mulai melepaskan jarum infus di punggung tangan Aira.
"Kamu jauh lebih cantik loh dari mbak, kamu hebat,"
Puji Safira tulus.
Aira tersipu malu mendengarnya.
"Mbak Fira udah nikah?"
Tanya Aira kepo.
Safira menggeleng pelan.
"Insyaallah bulan depan, Dek,"
Jawab Safira lembut.
Aira makin antusias mendengar jawaban Safira.
"Mbak mau nikah sama cowok yang waktu itu di kafe sama Mbak ya?"
Tanya Aira lagi.
Safira tersenyum lalu mengangguk,
"Insyaallah, Dek."
"Wah, Mbak cocok loh sama Mas-Mas yang kemarin! Yang satu cantik, yang satu ganteng, wuhhh!"
Heboh Aira.
Azam yang mendengarnya seketika langsung berdeham,
"Ehem."
Aira menoleh ke arah sang suami lalu tertawa kecil.
"Ah, maksud aku tuh Mas yang kemarin gantengnya enggak ada apa-apanya sama suami aku, hehe."
Safira tertawa ringan mendengar perkataan Aira yang berusaha membela dirinya di depan suaminya.
"Sudah selesai ya, Dek Aira. Nanti setelah sampai di rumah jangan sampai telat makan, istirahat yang cukup, jangan sampai stres, dan jangan kerjain kerjaan yang berat dulu ya."
Aira mengangguk antusias,
"Siap, Mbak cantik!"
"Ya sudah, aku permisi dulu..."
"Mbak, boleh enggak aku minta nomor WA-nya Mbak? Hehe, nanti kalau aku kangen Mbak biar bisa langsung video call,"
Sela Aira.
"Oh, boleh, boleh. Ini ya."
Setelah menyimpan dan memastikan nomor Safira benar, Aira berkata,
"Makasih ya, Mbak."
Setelah kepergian Safira, Azam langsung berdiri dari duduknya lalu mencubit gemas hidung Aira. Laki-laki itu ingin sekali mencubit kedua pipi tembam sang istri.
"Kamu dengerin enggak apa kata perawatnya tadi?"
Kata Azam lembut.
Aira mengangguk mengerti.
"Ya udah yuk, ganti baju dulu terus kita pulang,"
Ajak Azam.
Entah kenapa tiba-tiba Aira terdiam.
"Sayang, kamu...,"
"Ayah sama yang lain kok enggak ada yang jemput aku pulang ya? Apa mereka enggak sayang aku?"
Kata Aira sedih.
Azam tersenyum mendengarnya.
"Mungkin semuanya lagi sibuk, Sayang. Kan udah ada aku di sini,"
Kata Azam berusaha menenangkan sang istri.
Aira mengangguk,
"Ya udah yuk, aku mau ganti baju dulu."
Bukannya menurunkan Aira atau mendudukkan tubuh mungil Aira di kursi roda, Azam malah menggendongnya menuju ruang ganti.
Setelah mengganti pakaiannya, Aira kini sudah terlihat semakin segar dan cantik alami tanpa makeup. Dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, Azam mendorong kursi roda Aira menuju lobi rumah sakit. Meskipun jaraknya sangat jauh, adanya lift itu sangat memudahkan Azam untuk mendorong kursi roda sang istri.
"Mas, boneka pesanan aku sudah datang, kan? Oh ya, Momo sama Coco gimana, Mas? Siapa yang merawat mereka berdua?"
Tanya Aira yang teringat dengan anabulnya.
"Aman kok, sayang, aman. Kan di rumah ada Bi Nia,"
Jawab Azam santai.
"Ya sudah kalau mereka aman,"
Kata Aira lega.
Seluruh perjalanan melewati lorong-lorong rumah sakit, banyak sekali pasang mata yang menatap takjub ke arah mereka.
Azam mengendarai mobil mewah-nya meninggalkan lobi rumah sakit, sedangkan Aira sedang menikmati potongan buah mangga, apel, alpukat, dan buah naga.
"Alhamdulillah ya, sayang, akhirnya kamu sudah diperbolehkan pulang,"
Kata Azam lega.
Aira mengangguk kecil.
"Mas,"
Panggil Aira.
Azam menoleh sekilas.
"Apa, sayang?"
Tanya Azam lembut.
"Dua hari yang lalu..."
Aira menghentikan ucapannya sejenak. Tiba-tiba mata bulatnya berkaca-kaca. Perempuan cantik dengan gaun putih itu mengusap lembut perut ratanya. Azam yang menyadari suara Aira yang bergetar, sontak saja langsung menggenggam erat tangan sang istri dengan tangan kirinya.
Aira memaksakan dirinya untuk tersenyum.
"Aku bermimpi ada balita mungil, dia begitu cantik. Dia mengatakan, 'Mama jangan sedih ya, Mama hebat'."
Setelah mengatakan apa yang selama ini ia pendam sendiri, akhirnya Aira kembali menangis pilu jika mengingat kabar kalau dia keguguran. Azam yang khawatir langsung memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
"Sstt..."
Aira menangis sesengukan di dada bidang Azam, dan Azam mengusap lembut kepala Aira.
"Plis sayang, jangan salahin diri kamu terus,"
Kata Azam lembut.
Aira melepaskan pelukannya, lalu dengan cepat mengusap air matanya dengan kasar.
"Aku hanya merasa gagal, Mas. Aku gagal menjadi seorang ibu,"
Jawab Aira berusaha untuk tetap tegas.
Azam mengangguk mengerti.
"Kamu ngomong aja ya, Mas dengerin kamu ngomong sambil nyetir mobil."
Sepanjang perjalanan Aira tak henti-hentinya bercerita. Setibanya di rumah, Aira mengernyit bingung karena merasa rumahnya tidak berpenghuni.
"Ayo sayang, kita masuk,"
Ajak Azam, lalu disetujui oleh Aira.
"Momo, Coco, aku pulang...?"
Aira yang baru saja membuka pintu rumah dikagetkan dengan keramaian orang-orang yang disayanginya. Bu Nilta memegang nasi tumpeng, Hanum membawa kue berbentuk kucing. Di belakang mereka ada Ayah Fikri, Ayah Niko, Seno, dan Ardi.
"Assalamualaikum,"
Salam Azam, lalu dijawab mereka kompak. Azam menggandeng tangan kanan Aira dengan lembut.
"Aira, Ibu senang banget akhirnya kamu sudah pulang,"
Kata Ibu Nilta lembut.
"Asyik, asyik! Yang udah sembuh mah makin cantik aja yee, Bro! Hahaha."
"Akhirnya putri Ayah sudah sembuh. Ayah ada hadiah buat putri Ayah."
Ayah Fikri mengeluarkan kalung dengan liontin bunga sakura.
"Ini kalung yang sama yang dipakai bundamu sebelum penerbangan ke Indonesia. Kamu pakailah, Nak,"
Kata Ayah Fikri.
Semua orang melihat kesedihan yang begitu mendalam di wajah tegas Ayah Fikri.
"Makasih, Ayah,"
Kata Aira, lalu memeluk erat tubuh tegap sang ayah.
"Yah, nanti Azam mau ngomong sesuatu sama Ayah,"
Kata Azam, dan dibalas anggukan oleh Ayah Fikri.
"Ya sudah, yuk kita lanjutkan di ruang makan biar lebih nyaman,"
Ajak Ayah Niko dan disetujui yang lain.
Aira memilih duduk bersebelahan dengan sang ayah. Azam yang melihat tingkah laku istrinya yang begitu manja hanya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
pokok lanjut bro Apa lagi pas di suruh masak nasi ngakak. habis hahaa lanjutkan bos kuhh
gk kebayang aku punya suami kayak azam 🤣 😍