"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."
Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.
Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI BALIK BENINGNYA KACA KELAS
Pagi di SMA Garuda Bangsa selalu dimulai dengan ritme yang sama: deru mesin kendaraan mewah yang mengantarkan para murid, suara gelak tawa di sepanjang koridor, dan aroma kopi hangat yang menguar dari kantin utama. Sekolah swasta bertaraf internasional ini adalah tempat di mana anak-anak dari lingkaran elite ibu kota berkumpul, membawa nama besar keluarga masing-masing di balik seragam rapi yang mereka kenakan.
Nayla melepaskan pegangan tangannya dari tali tas saat melangkah menyusuri koridor lantai dua. Rok lipit berwarna abu-abu gelap dan blazer gelap bertumpuk kemeja putihnya tertata sempurna, tanpa lipatan yang salah. Dari arah luar, ia tampak bagaikan gambaran sempurna seorang siswi ideal, anggun, tenang, dan selalu memancarkan aura tenang yang sulit didekati.
Namun, di balik langkah kakinya yang teratur, benaknya masih dipenuhi sisa-sisa percakapan makan malam kemarin. Pertanyaan ayahnya tentang keluarga Mahendra terus berputar, menyisakan rasa sesak yang tertahan di dada.
"Nayla! Datar amat mukanya pagi-pagi," sebuah suara renyah menyapa dari balik punggungnya.
Nayla menoleh pelan dan menemukan Vanya, satu-satunya sahabat tempatnya biasa berbagi cerita sedang berjalan cepat menyusulnya sambil memegang kotak susu strawberi.
"Cuma agak mengantuk, Van," sahut Nayla tipis, menyunggingkan senyum kecil yang dipaksakan.
Vanya memutar matanya santai. "Mengantuk apa kepikiran seseorang? Itu tuh, si pangeran es baru saja lewat di lapangan basket bawah. Kulihat-lihat, kalian berdua ini seperti punya kesepakatan tidak tertulis untuk saling cuek, ya?"
Langkah Nayla sempat terhenti sesaat sebelum ia kembali berjalan normal. "Jangan mulai, Vanya. Kita cuma sebatas teman satu sekolah."
"Teman satu sekolah yang kalau berpapasan atmosfernya mendadak berubah dingin bagaikan kutub utara," goda Vanya lagi, tak menyadari betapa kalimat sederhana itu menyenggol sudut hati Nayla yang paling sensitif.
Ruang kelas XI IPA 1 sudah mulai terisi. Nayla berjalan menuju bangkunya di dekat jendela, posisi favoritnya karena ia bisa menatap ke arah luar tanpa harus berinteraksi dengan terlalu banyak orang. Ia meletakkan tasnya, lalu duduk perlahan sembari merapikan tumpukan buku pelajaran di atas meja.
Beberapa detik kemudian, pintu kelas terbuka kembali. Suasana kelas yang tadinya riuh mendadak mereda beberapa tingkat.
Zavier melangkah masuk.
Pria itu mengenakan seragam serupa, namun dengan dasi yang sedikit dilonggarkan dan kancing teratas kemejanya yang sengaja dibiarkan terbuka santai. Postur tubuhnya yang tinggi dan garis wajahnya yang tegas membuat siapapun secara otomatis mengalihkan perhatian padanya. Zavier berjalan melintasi barisan meja tanpa menatap siapapun di ruangan itu. Pandangannya lurus ke depan, dengan ekspresi yang sangat sulit dibaca.
Langkah Zavier berhenti persis di barisan meja sebelah kanan Nayla hanya terpisah oleh lorong sempit selebar satu meter. Ia menarik kursi kayu itu pelan, meletakkan tas hitamnya, lalu duduk.
Jarak mereka begitu dekat. Nayla bahkan bisa mencium wangi aroma citrus dan wood yang khas dari tubuh pria itu, aroma yang selalu menempel pada Zavier setiap kali mereka berada di dalam ruangan yang sama.
Nayla tetap menatap lurus ke depan, jemarinya menggenggam pulpen sedikit lebih erat dari biasanya. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Zavier meraih sebuah buku catatan bergaris dari dalam tas, membalik halamannya tanpa bersuara, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
Dekat sekali, batin Nayla perih. Tapi kenapa rasanya seperti ada dinding tebal yang tidak akan pernah bisa kutembus?
"Zav, pinjam catatan fisika yang kemarin dong!" panggil salah seorang teman sekelas dari barisan depan.
Zavier tidak langsung menjawab. Ia mengambil buku bersampul hitam dari mejanya lalu menyodorkannya tanpa bersuara, hanya dibalas anggukan singkat dari sang peminjam. Pria itu memang tidak banyak bicara, namun kehadirannya selalu mendominasi ruangan.
Nayla mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menatap ke arah lapangan yang mulai dipenuhi sinar matahari pagi. Ia menghela napas sangat pelan, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tak pernah mau bersikap kompromi setiap kali Zavier berada di dekatnya.
Tepat saat Nayla berpaling, Zavier perlahan menolehkan kepalanya.
Pandangan mata Zavier tertuju pada profil samping wajah Nayla pada bayangan bulu matanya yang lentik, helaian rambut kecokelatan yang terjatuh lembut di pipinya, dan binar mata yang selalu menyimpan rasa sepi yang tak pernah diungkapkan pada siapa pun.
Zavier menggerakkan jemarinya di atas meja, menahan dorongan kuat dalam dirinya untuk sekadar memanggil nama gadis itu. Ada begitu banyak kata yang ingin ia ucapkan, begitu banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan tentang mengapa mereka harus berpura-pura saling tak mengenal di depan dunia, sementara nama gadis itu selalu menjadi satu-satunya hal yang ia cari di antara keramaian.
Namun, Zavier tahu batasan itu. Ia tahu ikatan bisnis keluarga mereka, ekspektasi tinggi yang menekan bahu mereka masing-masing, dan benteng gengsi yang terlanjur terbangun terlalu tinggi di antara mereka berdua.
Zavier kembali mengalihkan pandangannya ke depan tepat saat guru pengajar melangkah masuk ke dalam kelas.
Keduanya duduk dalam satu ruangan yang sama, bernapas dalam udara yang sama, terpisah hanya oleh jarak beberapa jengkal. Namun di dalam hati masing-masing, ada samudera luas yang membuat mereka terasa begitu jauh, tapi tak terjangkau, tak tersentuh.
Bel sekolah berbunyi nyaring, menandakan jam pelajaran pertama telah usai dan masa istirahat dimulai. Dinding-dinding kelas XI IPA 1 mendadak penuh oleh riak percakapan para murid yang saling bersahut-sahutan. Sebagian besar mulai beranjak dari tempat duduk mereka, bersiap memburu menu favorit di kantin utama, sementara beberapa lainnya memilih untuk sekadar bersandar santai di meja masing-masing.
Nayla meletakkan pulpennya di atas meja, meluruskan jari-jarinya yang agak kaku setelah dua jam penuh mencatat formula fisika. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengurai rasa sesak yang bertengger di dadanya sejak pagi.
"Nay, ikut ke kantin yuk? Hari ini ada spageti panggang kesukaanmu di stan Pak Budi," ajak Vanya seraya berdiri di samping meja Nayla, sambil menepuk-nepuk tas kecil berisi dompetnya.
Nayla mendongak, menyunggingkan senyum tipis yang tampak sedikit lelah. "Kamu duluan saja, Van. Kepala aku sedikit agak pusing, mau tinggal di kelas sebentar untuk menghirup udara tenang."
Vanya menatap sahabatnya dengan raut khawatir, namun ia paham betul tabiat Nayla yang kadang butuh waktu untuk menyendiri. "Beneran tidak apa-apa? Mau kubelikan air mineral atau roti rasa cokelat?"
"Tidak usah, Van. Terima kasih ya. Nanti kalau pusingnya belum hilang, aku susul kamu ke UKS atau kantin," sahut Nayla lembut.
Setelah Vanya mengangguk dan berjalan keluar bersama murid-murid lainnya, ruang kelas bertahap menjadi lengang. Suara langkah kaki dan riuh tawa bertambah menjauh, menyisakan kesunyian yang tenang di dalam ruangan berpendingin udara tersebut. Nayla menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya pada senderan kursi. Matanya terpejam sejenak, menikmati keheningan yang amat langka di sekolah ini.
Namun, keheningan itu tak bertahan lama. Sebuah gesekan halus antara kaki kursi dan lantai marmer terdengar dari barisan sebelah.
Nayla membuka matanya pelan dan menoleh. Di sana, Zavier rupanya belum beranjak sama sekali. Pria itu masih duduk di bangkunya, bertopang dagu sembari menatap lurus ke arah luar jendela. Sinar matahari pagi yang menerobos kaca memantul di garis rahangnya yang tegas, menegaskan profil wajahnya yang selalu berhasil menyita perhatian siapa saja yang melihatnya.
Zavier tidak bergeming, namun jemarinya yang mengetuk-ngetuk permukaan meja secara teratur menandakan bahwa pikirannya sama sekali tidak sedang beristirahat.
Nayla ragu-ragu untuk bersuara, tetapi atmosfer di antara mereka terasa terlalu pekat jika hanya diisi oleh keheningan yang menekan. "Kamu... tidak ke kantin, Zav?" suara Nayla akhirnya terdengar, lirih dan halus, membelah kesunyian ruang kelas.
Ketukan jari Zavier terhenti seketika. Pria itu tidak langsung menjawab. Ia perlahan memutar kepalanya, mengalihkan pandangannya dari pemandangan di luar jendela tepat ke arah mata Nayla. Tatapan kelam itu mengunci pandangan Nayla, dingin namun menyimpan kehangatan samar yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
"Tidak," jawab Zavier singkat, suaranya yang berat dan tenang mengalun rendah. "Di luar terlalu bising."
Nayla mengangguk pelan, menyembunyikan tangannya yang saling bertautan di bawah meja untuk menutupi rasa gugup yang tiba-tiba menyerang. "Iya, memang selalu begitu kalau jam istirahat."
Zavier menegakkan posisi duduknya, menyandarkan siku di atas meja sembari terus memperhatikan raut wajah gadis di sampingnya. "Wajahmu pucat, Nayla. Kamu sakit?"
Pertanyaan sederhana itu meluncur datar dari bibir Zavier, tanpa nada berlebihan, namun efeknya sanggup membuat dada Nayla berdesir hebat. Perhatian-perhatian kecil yang selalu disampaikan secara terselubung seperti inilah yang kerap membuat Nayla kesulitan menentukan batas perasaannya.
"Hanya sedikit lelah," gumam Nayla sambil mengalihkan tatapannya ke buku catatan yang terbuka di depannya. "Kurang tidur semalam."
"Lain kali jangan membiasakan diri bergadang hanya untuk menuruti ekspektasi orang lain," balas Zavier. Kalimatnya terdengar bagaikan teguran, namun ada nada kepedulian yang mendalam di dalamnya. Zavier tahu betul seberapa keras tekanan yang dihadapi Nayla di kediaman Alveric, sebuah tekanan yang tidak berbeda jauh dari apa yang dialaminya sendiri di bawah naungan nama besar Mahendra.
Nayla tersenyum samar, ada kepahitan yang tersirat dari sudut bibirnya. "Kamu bicara seolah-olah kita punya pilihan untuk santai, Zav."
Kata-kata itu tergantung di udara selama beberapa saat. Zavier menatap Nayla lebih dalam, seolah berusaha membaca tiap jengkal beban yang tersembunyi di balik senyuman anggun gadis itu. Ia mengulurkan tangannya sedikit ke tepi meja, hanya berjarak beberapa sentimeter dari tangan Nayla, namun tidak pernah benar-benar menyeberangi garis tak terlihat yang memisahkan mereka.
"Pilihan itu selalu ada," bisik Zavier pelan, matanya menatap intens ke arah Nayla. "Hanya saja kita berdua terlalu penakut untuk mengambil risiko."
Nayla menahan napasnya. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia takut Zavier bisa mendengarnya di dalam kelas yang sepi ini. Keberadaan pria itu berada sangat dekat dengannya, namun pada saat yang sama, fakta bahwa mereka adalah bagian dari klan besar yang dipenuhi aturan dan takdir bisnis membuat kenyataan itu terasa amat jauh dari jangkauan.
Sebelum Nayla sempat merangkai kata untuk membalas, suara derap langkah kaki dari koridor menandakan beberapa siswa mulai kembali ke kelas, merusak momen berharga yang baru saja tercipta. Zavier menarik kembali tangannya dengan gerakan sangat tenang, memutus kontak mata mereka dan kembali bersandar di kursinya, seolah-olah percakapan hangat penuh makna tadi tidak pernah terjadi sama sekali.
kekny zavier ini tipe aku 🤭