NovelToon NovelToon
Mantan Suamiku Tak Tahu Aku CEO

Mantan Suamiku Tak Tahu Aku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.

Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.

Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: MALAM PESTA DAN TOPENG IDENTITAS

Satu minggu kemudian, Grup Arka menggelar pesta perayaan pencapaian sekaligus penandatanganan sejumlah kerja sama strategis di ballroom hotel paling bergengsi di kota Semarang. Acara itu dihadiri oleh pejabat tinggi, pengusaha ternama, hingga media massa yang sudah lama menantikan sosok pemimpin baru Grup Arka untuk tampil secara terbuka dan resmi. Malam itu, bukan hanya perayaan kesuksesan perusahaan—tapi juga malam di mana identitas Nadia Kirana Arka akan dikukuhkan sepenuhnya di hadapan publik, tanpa lagi ada keraguan atau gosip yang simpang siur.

Malam itu, Nadia tampil memukau. Ia mengenakan gaun panjang berwarna biru tua yang disulam benang emas halus, menonjolkan siluet anggunnya dengan kesederhanaan yang penuh wibawa. Di lehernya melingkar kalung mutiara biru peninggalan ibunya, perhiasan yang selama ini disimpan rapat dan baru kali ini ia pakai kembali setelah sekian lama. Rambut hitamnya disanggul rapi dengan beberapa helai yang terurai lembut di sisi wajahnya, menampakkan sorot mata yang tenang namun memancarkan kekuatan yang tak tergoyahkan. Saat ia melangkah masuk didampingi Pak Haris, suasana ballroom seketika hening sejenak sebelum riuh tepuk tangan menyambutnya. Semua mata tertuju padanya—kagum, takjub, dan banyak yang belum percaya bahwa wanita muda yang begitu anggun ini adalah pewaris tunggal sekaligus pemimpin perusahaan raksasa yang namanya disegani di seluruh negeri.

Di sudut ruangan yang agak jauh, Rian berdiri terpaku bersama Diana. Ia mengenakan setelan jas terbaik yang ia miliki, namun di tengah keramaian itu ia justru merasa begitu kecil dan tak berarti. Matanya tak sanggup beralih dari sosok Nadia yang kini dikelilingi orang-orang penting, disapa dengan penuh penghormatan, dan mendengarkan ucapan selamat yang tak henti-hentinya datang. Dulu, wanita yang ada di hadapannya ini hanya dikenalnya sebagai istri sederhana yang selalu menunggunya pulang dengan senyum hangat dan sepiring makanan sederhana. Dulu, ia pernah melihatnya hanya sebagai beban yang memperlambat langkahnya meraih ambisi. Dan malam ini, ia harus mengakui dengan perih yang tak terlukiskan: ia telah melepaskan permata paling berharga di dunia ini hanya demi kilauan kaca yang ternyata tak seberapa.

"Kenapa kau terus menatapnya?" tegur Diana dengan nada dingin, menyenggol pelan lengannya. "Ingat tujuan kita ke sini. Kita datang untuk membangun koneksi, bukan melamun memandang orang lain. Jika kau terus begini, orang-orang akan curiga ada sesuatu yang tidak beres antara kalian."

Rian menarik napas panjang, berusaha meredam gejolak di dadanya. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya... tak menyangka dia begitu hebat."

"Tentu saja dia hebat," sahut Diana dengan nada iri yang berusaha disembunyikan. "Dia lahir dengan sendok emas di mulutnya. Tidak seperti kita yang harus berjuang mati-matian. Tapi kau jangan minder. Kita punya kesempatan emas bekerja sama dengannya, dan itu sudah lebih dari cukup untuk mengangkat nama kita."

Kata-kata Diana justru semakin melukai hati Rian. Ia tahu betul bahwa kesuksesan Nadia bukan hanya karena warisan semata—ia tahu betul betapa cerdas, tekun, dan setianya wanita itu saat mereka berjuang bersama tanpa memiliki apa-apa. Kesuksesan yang ia miliki sekarang adalah buah dari kemampuannya sendiri, bukan sekadar nama besar keluarganya. Dan Rian tahu, dialah yang dulu membuang wanita yang jauh lebih berharga daripada semua koneksi dan kemewahan yang kini ia kejar.

Tak lama kemudian, pembawa acara memanggil Nadia naik ke panggung untuk menyampaikan pidato sambutan. Saat ia berdiri di sana, sorotan lampu menyorot sosoknya yang begitu memancarkan wibawa.

"Selamat malam semuanya," suaranya terdengar jernih dan tenang, bergema memenuhi seluruh ruangan lewat pengeras suara. "Terima kasih telah hadir di sini malam ini untuk merayakan pencapaian Grup Arka. Banyak orang bertanya bagaimana saya bisa memimpin perusahaan sebesar ini di usia yang masih terbilang muda. Sebenarnya jawabannya sederhana: saya belajar bahwa kesuksesan sejati bukanlah tentang seberapa tinggi kita bisa mendaki sendirian, melainkan tentang seberapa jujur kita menghargai orang yang pernah berjalan bersama kita saat kita belum memiliki apa-apa."

Nadia berhenti sejenak, matanya melirik sekilas ke arah kerumunan, dan tanpa sengaja bertemu pandang dengan Rian. Tatapan itu dingin namun menyimpan ribuan kisah yang tak terucap—kisah tentang kesetiaan yang dikhianati, tentang cinta yang diremehkan, dan tentang tekad yang bangkit dari kehancuran.

"Selama dua tahun terakhir," lanjutnya perlahan, "saya hidup sederhana, menyembunyikan identitas saya, hanya ingin dicintai apa adanya. Namun ternyata dunia sering kali menilai seseorang hanya dari apa yang tampak di luar, bukan dari apa yang ada di dalam hati. Dan saya pun akhirnya sadar: untuk dihargai, kadang kita harus menunjukkan siapa diri kita yang sebenarnya. Malam ini, saya berdiri di hadapan kalian bukan sebagai pewaris semata, melainkan sebagai Nadia Kirana Arka—wanita yang telah belajar bahwa rasa hormat tidak bisa diminta, melainkan harus diraih dengan kerja keras, ketulusan, dan harga diri yang tak boleh direndahkan oleh siapapun."

Tepuk tangan riuh kembali meledak menyambut ucapannya. Namun bagi Rian, pidato itu terdengar seperti tuduhan yang paling jujur dan menyakitkan yang pernah ia dengar. Setiap kata yang keluar dari bibir Nadia seolah menunjuk tepat ke wajahnya, mengingatkan pada setiap kesalahan yang pernah ia perbuat.

Setelah pidato selesai, banyak orang berbondong-bondong menghampiri Nadia untuk memberi selamat dan mengajak berfoto bersama. Rian mencoba mendekat, namun selalu terhalang oleh kerumunan orang penting yang ingin berbicara dengannya. Di kejauhan, ia melihat beberapa rekan bisnis yang dulu pernah meremehkan dirinya—kini mereka justru merendahkan diri di hadapan Nadia, memuji-muji kecerdasan dan keberaniannya.

Saat akhirnya ia mendapatkan celah untuk mendekat, ia melihat seorang pengusaha tua yang sangat disegani sedang menepuk bahu Nadia dengan kagum. "Kau jauh lebih hebat daripada ayahmu di usia yang sama, Nak Arka. Tidak ada yang menyangka gadis yang dulu sempat hilang itu akan kembali dengan kekuatan sebesar ini."

Nadia tersenyum tipis. "Terima kasih, Paman. Semua ini tidak akan mungkin terjadi tanpa dukungan orang-orang yang tulus mendukung saya."

Saat pengusaha itu pergi, Rian berdiri di hadapan Nadia. Jarak antara mereka hanya beberapa langkah, namun rasanya seperti terpisah oleh dunia yang berbeda.

"Pidato Anda sangat indah," ucap Rian dengan suara yang bergetar. "Dan sangat jujur."

Nadia menatapnya tenang, tanpa sedikit pun keraguan atau kelembutan yang dulu pernah ia berikan. "Kebenaran memang sering kali menyakitkan, Tuan Rian. Tapi itu satu-satunya hal yang bisa membuat kita melangkah maju tanpa beban masa lalu."

"Aku tahu aku sudah terlambat untuk mengatakan ini," ucap Rian memberanikan diri, matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi aku sungguh menyesal. Aku buta karena ambisi, aku salah menilai segalanya. Aku baru sadar betapa berharganya apa yang aku miliki saat semuanya sudah hilang dari genggamanku."

Nadia diam sejenak, menatapnya lekat-lekat seolah ingin melihat ketulusan di balik penyesalannya. Namun kemudian ia menggeleng pelan.

"Penyesalan tidak bisa mengembalikan waktu yang sudah berlalu, Tuan Rian. Dulu kau tidak melihat kebaikan yang ada di hadapanmu, dan sekarang kau baru melihat kehebatanku karena nama besar yang melekat padaku. Kau belum benar-benar mengenal aku, kau hanya baru mengenal sosok yang ingin kau lihat sekarang."

Belum sempat Rian membalas, Diana tiba-tiba datang menarik lengannya dengan kasar. "Maaf mengganggu, Ibu Nadia. Kami harus menyapa rekan bisnis lain. Terima kasih atas waktunya."

Diana menarik Rian pergi menjauh, namun mata Rian tak pernah lepas dari sosok Nadia yang perlahan kembali disapa oleh orang lain. Malam itu, Rian akhirnya sadar sepenuhnya: topeng kesederhanaan yang dipakai Nadia dulu sudah lepas, dan bersamaan dengan itu, kesempatan baginya untuk kembali menjadi bagian dari hidup wanita itu juga telah hilang—terbawa pergi oleh keputusan yang pernah ia ambil dengan seenaknya dua tahun lalu.

 

(Lanjut ke Bab 13 kapanpun kamu siap)

1
Reni Anjarwani
lanjut thor
Ayu Gerimis: Siap, akan dilanjutkan segera ya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!